Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Mata Batin
Popularitas:77k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.

Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.

Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Sang Pembunuh

Refleks Dadan menolehkan kepalanya. Pandangannya tertuju pada smartphone di tangan Yuni, anak Nengsih.

Nilan yang menyaksikan itu menjadi tegang sendiri. Dia takut Dadan menyalakan ponsel dan menemukan sejumlah foto dan video dirinya bersama Rama.

Dadan mengambil ponsel tersebut dari tangan Yuni. Dadan berusaha menghidupkan ponsel itu. Namun karena ponsel kehabisan daya, sehingga tidak bisa dihidupkan. Dengan cepat Nino dan Asep mendekat.

“Apa bisa kita bicara, Pak Dadan.”

“Oh iya.”

Setelah Nengsih dan anaknya mengeluarkan semua baju di dalam koper, Dadan segera kembali ke rumahnya dengan membawa koper kosong. Nino dan Asep mengikutinya dari belakang.

Dadan membuka pintu rumah lalu mempersilakan Nino dan Asep untuk duduk. Pria itu kemudian mengambil charger. Dia bermaksud mengecas ponsel tersebut agar mereka bisa mengetahui siapa pemiliknya.

“Sebenarnya kedatangan kami untuk mengambil ponsel itu,” ujar Nino membuka pembicaraan.

“Ponsel ini? Tapi ini ponsel siapa?” tanya Dadan bingung.

“Itu ponsel Nilan. Menurut salah satu temannya, Nilan memang punya dua ponsel. Kami perlu tahu apa isinya. Siapa tahu kami bisa menemukan pelakunya dari ponsel itu.”

“Kenapa kalian berkesimpulan begitu?”

“Dari hasil autopsi, korban dipukul berkali-kali menggunakan benda tumpul. Banyaknya luka yang ditemukan, kami menduga pelaku memiliki kemarahan atau kebencian terhadap korban.

Karena itu, kami perlu mencari tahu siapa saja orang yang memilki masalah dengan Nilan. Ponsel ini siapa tahu bisa menjadi petunjuk untuk kami.”

Jawaban yang diberikan Nino terdengar masuk akal di telinga Dadan. Pria itu mencabut kembali kabel charger lalu memberikan ponsel itu pada Nino.

“Terima kasih, Pak Dadan.”

“Sama-sama, Pak. Saya mohon, tolong temukan pelakunya.”

“Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan menangkap pelakunya.”

“Terima kasih, Pak.”

Setelah berhasil mendapatkan barang yang dicari, Nino dan Asep meninggalkan kediaman Dadan. Keduanya tidak kembali ke kantor, melainkan menemui Pradipta. Mereka harus segera tahu apa yang ada di ponsel itu.

Sesampainya di unit apartemen Pradipta, tanpa berlama-lama, Nino meminta Pradipta membuka ponsel dan melihat isinya.

Lebih dulu Pradipta menyambungkan ponsel itu ke charger. Setelah beberapa menit, ponsel sudah bisa dihidupkan. “Ini ada passwordnya,” ujar Pradipta setelah berhasil menghidupkan ponsel.

“Passwordnya tanggal ulang tahunku,” celetuk Nilan yang juga ikut ke tempat Pradipta.

“Coba masukkan tanggal lahir Nilan!” seru Asep. Pria itu kemudian menyebutkan enam angka tanggal ulang tahun Nilan.

Ponsel langsung terbuka setelah kode angka dimasukkan. Pradipta segera memeriksa isi ponsel. Di dalamnya hanya terdapat satu nomor, yakni nomor Rama.

Di galeri ponsel banyak terdapat foto dan video kebersamaan Nilan dan Rama, sama seperti yang diunggah ke media sosial.

Pradipta membuka aplikasi Whatsapp lalu memeriksa pesan di dalamnya. Ada sejumlah pesan yang dikirimkan Rama. Pesan-pesan itu hanya dibaca saja oleh Nilan. Hanya ada satu pesan yang dibalasnya.

[Angkat teleponku, Nilan.]

[Tolong jangan begini, Nilan. Aku sangat mencintaimu.]

[Bukankah kamu sudah berjanji akan menikah denganku?]

[Kedua orang tuaku sudah menanyakanmu terus.]

[Balas pesanku, sayang. Aku merindukanmu.]

[Kalau kamu masih mengabaikanku, aku akan membongkar hubungan kita!]

Pesan yang dikirimkan Rama akhirnya membuat Nilan membalas.

[Tolong jangan ganggu aku lagi. Apa yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan. Lupakan aku. Anggap saja hubungan kita hanya mimpi di siang bolong. Carilah perempuan lain yang tulus mencintaimu. Aku memilih tetap bersama Kang Dadan.]

Setelah pesan tersebut terkirim dan dibaca Rama, pria itu langsung menghubungi Nilan berkali-kali. Ada puluhan panggilan dari pria itu, tetapi tidak satu pun yang dijawab oleh Nilan. Sampai akhirnya Rama mengirimkan pesan terakhir.

[Jika memang itu keputusanmu, baiklah. Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka Dadan juga tidak!]

“Menurutmu, apa pesan ini bisa membuat Rama dijadikan tersangka?” tanya Asep pada Nino.

“Sebaiknya besok kita panggil Rama lagi.”

Asep mengangguk setuju. Mereka sudah mendapatkan satu motif jika benar Rama pembunuh Nilan. Namun mereka juga tidak bisa mengabaikan motif Rama terhadap Riri karena pola pembunuhan keduanya begitu mirip.

“Selidiki semua tentang Rama. Apa saja aktivitasnya belakangan ini. Siapa saja orang yang ditemuinya. Aku tidak mau ada yang terlewat.”

“Baik.”

Nino mengernyitkan keningnya. Tidak biasanya Pradipta langsung mengiyakan perkataannya. Apalagi pria itu juga tampak bersemangat melakukan tugas yang diberikan. Tak mau ambil pusing, Nino segera meninggalkan unit apartemen Pradipta bersama Asep.

“Tumben Dipta langsung bilang iya, pas aku suruh. Biasanya harus berdebat dulu,” Nino mengungkapkan keanehannya saat mereka berada dalam lift.

“Iya. Agak curiga sih.”

“Sebenarnya Dipta juga masuk salah satu tersangka. Saat pembunuhan Riri, dia keluar dari unit apartemen. Pelaku pembunuhan juga menguasai keahlian di bidang IT. Bahkan aku lihat drone. Sekilas itu mirip punya Dipta.”

Tadi Nino sempat melihat drone milik Pradipta yang tergeletak di atas meja. Bentuk dan warna dronenya hampir mirip seperti yang dilihatnya saat masuk ke ingatan Riri.

“Yakin dronenya mirip?”

“Kayaknya sih. Aku keburu keluar pas lagi lihat dronenya. Tapi kemungkinan besar sama.”

“Tapi wajar aja ada kalau kesamaan dari bentuk, warna, dan merek drone. Belum tentu juga Dipta pelakunya hanya karena sama-sama punya drone dan ahli di bidang IT.”

“Iya, kamu benar. Makanya untuk melunturkan kecurigaan, lebih baik kita cek dulu lokasi terakhir yang dia sebutkan pada kita.”

“Ya, kamu benar. Tapi baiknya kita ke kantor dulu. Lapor sama Bang Miko dan kasih tahu juga undangan dari dokter Bagas.”

“Oh iya, mana acaranya lusa lagi ya.”

Nino segera menyalakan mesin mobil. Kali ini kedua anggota Tim Dua Jatanras itu hendak kembali ke kantor untuk melaporkan hasil penyelidikannya pada Miko.

Dari ketinggian di lantai dua belas, tampak seseorang sedang mengamati Nino dan Asep yang baru saja masuk ke dalam mobil. Matanya terus mengikuti kendaraan roda empat yang membawa keduanya pergi.

Perlahan sudut bibir pria itu terangkat ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis. Sang pria beranjak dari tempatnya. Dia kembali ke depan laptopnya. Dia melanjutkan tontonannya yang sempat terhenti.

Layar di depannya sedang memutar tayangan berita kasus pembunuhan Riri. Sang reporter menyebutkan bahwa ada kesamaan luka-luka yang diderita korban yang ditemukan di bangunan dan yang berada di kebun jagung. Kemungkinan pelakunya adalah orang yang sama.

Pihak kepolisian saat ini masih bekerja mengungkap pelaku dan motif apa yang melatarbelakangi pembunuhan.

“Kita lihat saja, apa kalian bisa menangkapku, Nino … Asep,” gumamnya pelan seraya menyunggingkan senyum miring.

“Kita lihat apa jin yang mendampingi kalian bisa membantu menemukan diriku,” lanjutnya.

Pria itu menarik laptop ke dekatnya. Jarinya bergerak lincah di atas keyboard. Kali ini dia membuka akun media sosial.

“Haruskah aku memberi kalian petunjuk lain?”

Mata pria itu menatap lurus ke layar ponsel laptop Satu per satu dia membuka akun media sosial secara acak. Sepertinya dia sedang memilih siapa yang akan menjadi korban berikutnya.

“Haruskah aku membunuhnya?” gumam pria itu sambil menatap foto wanita cantik yang sedang tersenyum di layar laptopnya.

***

Siapa sih kamu?

1
Wardah Saiful
seruuu ceritanya
Febri Nayu
R A inisial nya garasi inget ramaa
tehNci
Harus kebongkar doong
tehNci
Ladalah....tambah 1 lagi yg harus dijaga Gilang si penjaga arwah. 5 arwah jadi anak asuh gilang😅😅😅
Humaira
kebongkar kayaknya 🤔
Ani
kebongkar lah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
takajutlah Ramli denger karyawan yg kerja dgn nya yg jadi korban ke sadisan si pelaku....apalagi bila tau korbannya itu selingkuhan WIL-nya....wah pasti langsung kena shock terapi dia.. apakah bakal lanjut dinas ke Singapura nya apa di cancel ya 🤔🫣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
ahahahahhaha kamu mah wayahe Lang jd bulan² Asep... selalu di bikin jengkel olehnya 😂
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
mungkin saja laptop nya Dipta ada lebih dari satu........ laptop khusus eksekusi sama laptop buat tugas dr Nino dan Asep terpisah biar gk di curigai....namanya juga orang jahat yg pintar ....jd udah di perhitungkan semuanya....cara eksekusi korban juga rapih dan teliti dia ngerjainnya.... jangan sampe meninggalkan jejak biar gk terendus polisi....dia tuu pintar dan licin 🫣
Ria alia
Stlh denger inisial apakah pa ramli trkjut lgsg inget sama selingkuhan’y 🤔
Munas Tuti
nahh ketar ketir tu Ramli, takut terbongkar sesuatunya 😄😄
yula
💪💪💪💪💪thor
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Nambah lagi anak asuh Gilang 🤭
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Pasti terbongkar
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Setelah mendengar berita dari anaknya, cangkir kopi yang dipegangnya langsung terlepas, pecah tak terarah 🤭 dia langsung membelalakan matanya sambil berteriak "apa !!!" sehingga membuat istri dan anaknya kaget. hehehe.... imajinasiku tentang lanjutan cerita ini 🤭😄😄😄
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Pasti si Ramli panas dingin tuh🤭
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Jadi hantusitter kedatangan anak asuh baru lagi? 😏🤣🤣🤣🤣
Humaira
asiaap 💪
tehNci
Apakah Yuniar akan mengikuti jejak para arwah para korban pembunuhan topeng Rahwana yg sudah mati dan ngumpul jadi anak asuh Gilang? Lumayan tuh Gilang, bisa konsultasi masalah tugas kuliahnya sama arwah Bu yuniar🤣🤣🤣
Febri Nayu
ikut kami.. eh langsung melok dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!