Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:176.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35 Tak Ada Hubungan Keluarga

Kirana mengaduk perlahan coffe latte di hadapannya. menyesakkan dadanya. Tatapannya lurus menembus kaca jendela. Di luar sana, orang-orang berlalu-lalang menembus sibuknya ibu kota, sama sekali tak menyadari bahwa di balik wajah tenang dan anggun wanita yang duduk di sudut kafe ini, sebuah rencana besar sedang disusun. Rencana untuk menghancurkan kebohongan yang selama ini mengelilinginya.

Tristan, yang duduk di hadapannya membuka sebuah map tipis berwarna hitam.

"Sudah dapat informasi terbarunya, Tris?" tanya Kirana pelan, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di luar.

"Sudah, Nona." Tristan mendorong perlahan map itu ke arah Kirana. "Sesuai dugaan anda. Saya berhasil melacak beberapa transaksi keuangan dari rekening pribadi Siska."

Mendengar itu, Kirana menoleh. Ia langsung menarik map tersebut dan membuka lembar demi lembar dokumen mutasi rekening di dalamnya. Alisnya perlahan bertaut.

"Transfer?" tanyanya, menunjuk deretan angka yang ditandai dengan stabilo kuning. "Maksudmu, dia rutin mengirimkan uang?"

"Iya, Nona. Dia rutin mengirim uang ke rekening atas nama Tony," jelas Tristan, mencondongkan tubuhnya sedikit.

"Nominalnya memang tidak terlalu besar untuk memancing kecurigaan bank, tetapi dilakukan hampir setiap minggu. Polanya sangat teratur, seolah itu adalah jatah bulanan."

Kirana kembali membolak-balik halaman berikutnya dengan kening berkerut. Ia mengangkat wajahnya menatap Tristan.

"Logikanya, kalau memang Tony itu sepupunya yang sedang kesusahan, kenapa harus dikirim diam-diam dengan nominal terpecah seperti ini? Kenapa tidak minta langsung pada mas Ardy?"

"Itu persis yang membuat saya curiga sejak awal." Tristan merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan satu lembar foto cetak. "Ini hasil tangkapan kamera anak buah saya tadi malam. Penyelidikan sementara."

Kirana mengambil foto itu. Terlihat sosok Tony dengan pakaian kasual sedang berjalan keluar dari sebuah lobi apartemen yang tampak lumayan mewah, bukan apartemen sederhana atau kos-kosan murah seperti cerita Siska.

"Apartemen ini lumayan mahal untuk ukuran pengangguran yang ibunya sedang sakit keras," gumam Kirana sinis. "Lalu, bagaimana dengan data kependudukannya?"

"Tidak ada satu pun dokumen negara yang menunjukkan mereka memiliki hubungan darah. Saya juga sudah mencoba menelusuri silsilah keluarga Siska dari pihak ayah maupun ibu kandungnya sampai dua generasi ke atas," jawab Tristan mantap.

"Dan hasilnya?"

"Nihil. Tidak ditemukan satupun nama Tony di keluarga mereka."

Kirana mendengus pelan, lalu tersenyum tipis. "Berarti wanita itu benar-benar berbohong di depan mas Ardy."

"Sepertinya begitu, Nona. Tapi saya belum bisa memastikan apa hubungan mereka yang sebenarnya," ujar Tristan hati-hati. "Kemungkinan besar, mereka sudah saling mengenal jauh sebelum Siska masuk ke rumah anda dan tuan Ardy."

Kirana menutup map hitam itu perlahan, merapikan ujungnya.

"Terus awasi laki-laki itu, Tris. Pastikan anak buahmu bermain rapi. Jangan sampai Tony sadar kalau dia sedang diikuti."

Tristan mengangguk mantap. "Anak buah saya sudah mulai bekerja menyamar di perusahaan tuan Ardy. Kami akan mengawasi setiap pergerakan Tony, sekecil apa pun itu."

"Bagus." Kirana menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, merasa sedikit lega. "Kalau memang Tony adalah kelemahan dan kartu rahasia Siska, maka cepat atau lambat, dia sendiri yang akan melakukan blunder dan membuka semuanya di depan kita."

Tristan tersenyum kecil. "Persis seperti teori yang Nona katakan dulu. Manusia paling mudah melakukan kesalahan fatal ketika mereka sedang panik atau terlalu percaya diri. Dan saya yakin, momen itu akan segera datang."

Percakapan serius mereka terhenti saat seorang pelayan kafe menghampiri meja, membawa nampan berisi dua potong kue red velvet.

"Permisi. Pesanannya. Silakan dinikmati," ucap pelayan itu ramah.

"Terima kasih, Mbak," balas Kirana dengan senyum manis.

Setelah pelayan itu pergi, ketegangan di udara perlahan memudar, digantikan oleh suasana yang jauh lebih santai dan hangat. Tristan menarik piring salah satu kue, lalu memotong kue lembut itu menjadi dua bagian yang lebih kecil dengan garpu.

"Nona belum sarapan, kan?" tembak Tristan tiba-tiba.

Kirana sedikit tersentak, lalu menggeleng pelan dengan raut wajah polos bersalah. "Tadi pagi di rumah terlalu banyak drama. Aku tidak sempat."

"Saya sudah menduga." Tristan menggeser piring kecil berisi potongan kue itu ke depan Kirana. "Kalau begitu, makanlah sedikit yang manis-manis. Setidaknya untuk mengisi perut. Nanti maag Nona kambuh lagi seperti minggu lalu."

Kirana terkekeh pelan melihat tingkah asistennya. "Tris, lama-lama kamu ini cerewet sekali, ya. Kamu ini asisten pribadi atau ahli gizi?"

"Kalau saya tidak cerewet, siapa lagi yang akan mengingatkan Nona untuk makan?" balas Tristan santai, sambil menyesap kopi hitamnya.

"Kan ada Vanessa."

"Nona Vanessa itu beda."

Kirana tertawa kecil, suara tawanya renyah dan lepas. Sudah lama rasanya ia tidak tertawa setulus dan sesantai ini tanpa harus berpura-pura di depan keluarga suaminya.

"Memangnya apa bedanya?" pancing Kirana.

"Vanessa mengingatkan anda sebagai seorang sahabat. Kalau saya...," Tristan menghentikan ucapannya, lalu beralih menatap Kirana.

"Karyawan?" tebak Kirana dengan senyum menggoda.

Tristan ikut tersenyum. "Iya. Sebagai bawahan yang kebetulan peduli."

"Tapi bawahan yang satu ini sepertinya terlalu banyak mengatur bosnya," goda Kirana lagi.

"Itu terpaksa saya lakukan, karena atasan saya luar biasa keras kepala," balas Tristan tak mau kalah.

"Cih." Kirana mendengus pura-pura sebal, lalu mengambil sendok kecil dan mulai menyuapkan potongan kue itu ke mulutnya.

Krim keju yang manis langsung lumer di lidah. Namun, tanpa ia sadari, sedikit krim putih menempel di sudut bibir kirinya. Beberapa detik kemudian, Tristan yang sejak tadi memperhatikannya dengan saksama tiba-tiba mencondongkan tubuh.

"Sebentar, Nona."

"Hm? Kenapa?"

Tanpa berpikir panjang dan seolah digerakkan oleh insting murni, Tristan mengulurkan tangan kanannya melintasi meja. Ibu jarinya menyentuh pelan sudut bibir Kirana, mengusap noda krim itu dengan gerakan yang sangat lembut.

"Ada krim di bibir anda."

Kirana spontan membeku. Sendok di tangannya nyaris terjatuh. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik yang terasa seperti melambat. Jarak keduanya tiba-tiba terasa begitu dekat hingga Kirana dapat melihat dengan jelas kedalaman sorot mata hitam milik pria di hadapannya. Sorot mata yang memancarkan kehangatan, perlindungan dan sesuatu yang sulit ia artikan.

Jantung Kirana berdegup aneh.

"Nah, sudah bersih." Tristan, yang sepertinya baru menyadari kelancangannya, segera menarik tangannya kembali.

1
Cicih Sophiana
cerita nya bagus thor... bintang lima untuk mu...
Senja: Makasih kakak, jangam lupa mampir k novel gabutku yg lain yaa🤭
total 1 replies
Cicih Sophiana
udah End thor... tapi gapapa yg penting Kirana Tristan jg kakek bahagia
Cicih Sophiana
aq setuju dgn pemikiran kakak kakak reader yg lain... emang anak tdk bersalah tp ibu nya dulu yg mencelakakan Kirana... enak bener yah siapa dia? temen bukan saudara jg bukan...nanti anak nya udah gede di ambil biar dapat warisan...
Cicih Sophiana
cie cemburu nih yeh...🫢
nur diani
happy ending ❤️
kirain bakal sampe anak anak Kirana dewasa thor
Senja: iya jarang sampai ratusan bab kk,
total 1 replies
sunaryati jarum
Terimakasih Thoor cerita bagus endingnya juga menyentuh hati , yang menyakiti sadar dan menyesal yang disakiti memaafkan.
🇦 🇵 🇷 🇾👎
lho kok tamat
🇦 🇵 🇷 🇾👎: pd hl seru kk
total 2 replies
sunaryati jarum
Selamat atas kehamilannya Kirana Hati mu dan Tristan begitu mulia mau merawat anak yang pernah mencelaimu.
🇦 🇵 🇷 🇾👎
slmt nara
Reni Setia
makasih ya thor untuk novelnya
⍥⃝⃝꩗ᴜᥱ֟፝ᥱɴ_𝔅𝔢𝔢𖹭.ᐟ🐝
maaf thor, rasanya kurang setuju jika Tristan & Kirana menerima putra dri Siska meskipun itu bayi & d adopsi secara legal. Khawatir nantinya malah lebih dri parasit anaknya Siska di keluarga Tristan.
Senja: Wkwkw enggak, tp gak tau nanti🤣
total 5 replies
Shee_👚
aku jadi nangis
Shee_👚
hasil USG di bilang rongsen sakit batu ginjal, astaghfirullah kakek🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
Alhamdulillah akhirnya kirana hamil juga. selamat kirana dan Tristan
Shee_👚
dih gak tau diri amat siska😩
Shee_👚
jangan sampai minta anaknya di rawat kirana. duh gak tau diri amat😔
Esther
happy ending.
Esther
Sudah membunuh calon bayi Kirana sekarang anaknya lahir malah diserahkan ke Kirana untuk dirawat. Gak tahu malu banget tuh Siska.

Selamat ya Kirana, akhirnya kamu positif juga
Sri Rahayu
Terima kasih Thorr cerita nya bagus berakhir dgn happy ending 😘😘😘
Margaretha Indrayani
makasih ya thor cerita ya bagus sekali. ditunggu cerita lainnya dan tetap semangat😀😀😀😀😀👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!