Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31_Neraka Bernama Penthouse

...BAB 31_Neraka Bernama Penthouse...

Perjalanan kembali dari Hotel Grand Capital menuju penthouse dilalui dalam keheningan yang jauh lebih mematikan daripada badai.

Di dalam mobil sport mewah yang melaju dengan kecepatan tinggi di atas rata-rata, tidak ada satu pun suara yang keluar. Lea duduk terpaku di kursi penumpang, jemarinya saling meremas erat di atas pangkuannya, sementara tatapannya kosong menatap jalanan kota Jakarta yang mulai bermandikan lampu malam.

Di dalam kepalanya, badai pikiran berkecamuk hebat, saling berkejaran tanpa henti.

`Bagaimana bisa Julian tahu aku berada di kafe itu? Bagaimana bisa dia melacakku sampai ke kamar hotel dengan begitu tepat?` batin Lea berteriak histeris, rasa panik dan frustrasi bergemuruh di dadanya.

Selama ini ia merasa begitu cerdik, merasa selangkah lebih maju dari siapa pun dengan menyamar menjadi Alia dan mempermainkan Teo Ozawa. Namun, malam ini kenyataan menamparnya dengan begitu keras. Di hadapan Julian, ia hanyalah seekor burung kecil yang terbang di dalam sangkar transparan—terlihat bebas, padahal setiap kepakan sayapnya selalu diawasi dari jauh.

`Sial... bodoh sekali aku,` rutuk Lea pada dirinya sendiri, menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. `Aku terlalu fokus pada Teo dan pelarian Ethan, sampai aku melupakan monster paling berbahaya yang justru memeliharaku di rumahnya sendiri. Kalau Julian benar-benar mengurungku di penthouse, bagaimana dengan rencanaku? Bagaimana nasib keluarga Ozawa? Semua usahaku menyamar, mendekati Teo, mencuri dokumen-dokumen itu... semuanya akan sia-sia!`

Di sampingnya, Julian menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kanannya menggenggam kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Aura gelap dan dingin menguar dari tubuh pria itu, memenuhi seluruh kabin mobil dan membuat udara terasa berat untuk dihirup, seolah oksigen di sekitar mereka telah habis terkuras oleh kemarahan sang milyarder.

Begitu mobil mereka tiba di basement privat penthouse, Julian sama sekali tidak berkata-kata. Ia turun dengan gerakan mekanis yang menakutkan, membukakan pintu untuk Lea, lalu mencengkeram pergelangan tangan gadis itu cukup erat—tidak menyakiti secara fisik, namun cukup tegas dan mutlak untuk memastikan Lea tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk melarikan diri atau sekadar berteriak meminta pertolongan.

`Ting!`

Pintu lift pribadi terbuka langsung menuju ruang utama penthouse yang megah namun kini terasa bagaikan ruang eksekusi.

Begitu mereka masuk dan pintu tertutup rapat, pertahanan Lea yang sejak tadi ia bangun akhirnya runtuh berkeping-keping. Julian melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Lea, lalu melangkah pelan mondar-mandir di hadapan gadis itu sebelum akhirnya berhenti mendadak. Pria itu menatap Lea dengan sorot mata yang menyiratkan kekecewaan yang sangat dalam, bercampur dengan kemusnahan posesif yang siap meledak kapan saja.

`"Urusan keluarga?"` suara Julian memecah keheningan, terdengar begitu tenang namun justru jauh lebih mengerikan daripada sebuah bentakan keras. Ia melangkah mendekat, langkah kakinya bagaikan predator yang mendekati mangsa, memaksa Lea mundur langkah demi langkah hingga punggungnya kembali membentur dinding marmer dingin. `"Sepupu dari Melbourne yang berambut pirang itu... sejak kapan dia menjadi bagian dari keluargamu, sweetheart?"`

Lea menelan ludah susah payah. Tenggorokannya terasa kering kerontang, seolah disiram serbuk cabai. Ia tahu betul, menyembunyikan kebenaran darinya sekarang adalah sebuah kesia-siaan mutlak. Julian memiliki segalanya—kekuasaan tanpa batas, teknologi pelacak canggih, dan mata-mata yang tersebar di setiap sudut kota. Berbohong hanya akan memperburuk keadaan dan memancing singa yang sedang kelaparan untuk menerkamnya.

`Tahan, Lea. Jangan tunjukkan ketakutanmu di depannya,` batin Lea mencoba menyemangati dirinya sendiri, berusaha menegakkan dagunya meski lututnya terasa lemas. `Kalau aku terlihat lemah, dia akan semakin mengurungku.`

`"Dia... dia hanya masa lalu, Julian,"` jawab Lea dengan suara bergetar tipis, berusaha keras mempertahankan sisa-sisa keberaniannya di balik topeng dingin. `"Dia datang ke Jakarta tanpa aku undang. Aku menemuinya bukan karena aku ingin bernostalgia, melainkan untuk mengakhiri semuanya secara permanen agar dia tidak mengganggu kehidupanku di sini, di sisimu."`

`"Mengakhiri semuanya?"` Julian tertawa kecil, sebuah tawa dingin tanpa ada secercah rasa humor pun di dalamnya. Suara itu menggema di dalam ruangan yang sunyi. Ia mengangkat satu tangannya, menyentuh helaian rambut Lea lalu menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu dengan sangat pelan, kontras dengan kemarahan di matanya. `"Kamu pikir aku bodoh, Lea? Kamu pikir aku tidak tahu bagaimana pria itu menarik rahangmu dan menciummu di kafe sore tadi?"`

Mata Lea membelalak lebar, napasnya tercekat. `Jadi... Julian benar-benar melihat kejadian di kafe itu juga?`

`"Aku memantau semuanya, Lea,"` lanjut Julian, mendekatkan wajahnya hingga napas hangat mereka nyaris bersentuhan. Manis di luar, namun beracun dan mematikan di dalam. `"Setiap detik kamu bergerak, setiap tempat yang kamu datangi, setiap tarikan napasmu... aku tahu. Aku membiarkanmu bermain-main dengan balas dendam konyolmu ke keluarga Ozawa karena aku pikir kamu butuh pelampiasan atas masa lalumu. Aku bersabar. Aku memberikan kelonggaran. Tapi bermesraan dengan pria lain di tempat umum dan menemuinya di hotel? Itu adalah batas garis merah yang tidak boleh kamu lewati."`

Cengkeraman tangan Julian beralih mencengkeram rahang Lea dengan lembut namun penuh tekanan absolut, memaksa gadis itu mendongak dan menatap lurus ke dalam manik matanya yang berkilat tajam bagai belati.

Di dalam hatinya, Lea merasakan gelombang keputusasaan yang luar biasa. Semua rencana yang telah ia susun berbulan-bulan, identitas palsu yang ia jaga dengan pertumpahan keringat, serta target utamanya untuk menghancurkan Teo Ozawa kini terancam musnah dalam satu malam karena kecerobohannya sendiri—dan karena sifat posesif pria gila di hadapannya ini.

`"Mulai hari ini..."` bisik Julian tepat di bibir Lea, suaranya berubah menjadi titah mutlak yang tidak bisa ditolak, dibantah, atau dinegosiasikan oleh siapa pun di dunia ini. `"...kamu tidak akan pernah menginjakkan kaki keluar dari penthouse ini sendirian. Tidak ada sekolah, tidak ada permainan balas dendam pada keluarga Ozawa, dan tidak ada pria lain di dunia ini selain aku. Kamu sepenuhnya milikku, di sini, di bawah pengawasanku dua puluh empat jam penuh."`

Mendengar keputusan mutlak itu, darah Lea mendadak mendidih seketika. Larangan untuk keluar, larangan untuk melanjutkan sekolah, dan penghentian total atas rencana balas dendamnya sama saja dengan mengurung seekor singa di dalam sangkar emas kecil, membiarkan dendam kesumat di hatinya membusuk begitu saja tanpa pernah terbalaskan. Harga diri dan rasa sakit masa lalunya berteriak menolak.

`"Tidak! Julian, kamu tidak bisa mengurungku seperti ini!"` protes Lea dengan suara meninggi, rasa takutnya kini sepenuhnya dikalahkan oleh amarah yang membakar dada. Ia mendorong dada bidang pria itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. `"Rencanaku belum selesai! Aku sudah sejauh ini! Aku harus menyelesaikan perhitungan dengan Teo Ozawa dan keluarganya!"`

Julian sama sekali tidak bergeming atas dorongan itu. Ia justru semakin menempelkan tubuhnya, menenggelamkan Lea dalam pelukan posesif yang sangat erat, tidak memberikan celah sedikit pun bagi gadis itu untuk bernapas atau melarikan diri.

`"Permainanmu dengan keluarga Ozawa sudah selesai, sweetheart,"` bisik Julian dingin tepat di daun telinga Lea, suaranya mengandung ancaman mutlak yang membuat bulu kuduk merinding. `"Mulai sekarang, duniamu hanya ada di dalam dinding-dinding penthouse ini bersamaku. Dan percayalah... aku jauh lebih berbahaya daripada siapa pun yang ingin kamu hancurkan di luar sana."`

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!