Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Ibu Tiri Datang Menagih
Yuliana tiba di gerbang kediaman Adiningrat dengan tiga koper.
Ia mengenakan kacamata besar, membawa kotak beludru merah, dan berbicara cukup keras agar semua penjaga mendengar.
"Saya ibu Nyai Ratri. Buka gerbang. Saya mau tinggal bersama anak saya."
Penjaga menelepon Pak Ganda. Pak Ganda menelepon Wira. Wira akhirnya menatap Ratri yang sedang sarapan.
"Tante Yuli membawa koper," katanya.
Ratri meletakkan cangkir. "Masukkan dia ke ruang tamu. Kopernya tetap di luar."
Yuliana masuk sambil mengeluh bahwa keluarga kaya memperlakukannya seperti pencuri. Begitu melihat Baskara, ia langsung mengubah wajah.
Sebelum duduk, ia memeriksa sofa, tirai, dan lukisan di dinding seperti sedang memilih barang yang kelak menjadi miliknya. Ia meminta seorang pelayan membawa kopernya ke kamar terbaik, lalu tersinggung ketika pelayan itu menunggu instruksi Ratri.
"Aku tidak suka kamar dekat dapur," katanya. "Punggungku juga sakit kalau kasurnya murah."
"Anda belum diizinkan tinggal," jawab Ratri.
"Ibu tidak perlu izin anak."
"Tamu perlu izin pemilik ruang."
Yuliana duduk dengan dengusan keras dan sengaja merekam bagian ruang tamu untuk dikirim kepada kelompok arisannya. Wira mengulurkan tangan.
"Tidak ada rekaman interior rumah."
"Ini ponsel saya."
"Dan ini rumah pribadi. Hapus videonya atau pertemuan selesai."
Yuliana menghapus sambil memaki pelan.
"Mas Baskara, lihat istrimu. Setelah terkenal, dia lupa siapa yang membesarkannya."
Baskara tetap duduk. "Saya ingat siapa yang membesarkan Ratri. Bukan Anda."
Senyum Yuliana membeku.
Anin datang dari lorong membawa dokumen untuk Mbak Lia. Melihat ibunya, ia berhenti.
"Mama sedang apa di sini?"
"Mengambil hakku. Kalian berdua hidup enak, sementara aku dikejar utang."
"Utang yang Mama buat dengan memakai nama Mbak Ratri."
Yuliana menepuk pahanya dan mulai menangis. "Anak kandungku sendiri menuduhku! Aku menyuapimu sejak kecil. Aku mengurus rumah, memasak, mencuci, bahkan mengurus pemakaman ibu perempuan itu. Sekarang setelah dia masuk keluarga Adiningrat, aku tidak boleh menikmati sedikit hasil?"
Bibi Sari yang berdiri dekat pintu hampir menjatuhkan nampan karena terkejut pada keberaniannya.
Ratri menyandarkan tubuh. "Berapa yang Anda minta?"
Tangis Yuliana berhenti seketika. "Tidak banyak. Dua puluh miliar untuk melunasi utang dan uang bulanan. Lalu satu kamar di rumah ini."
Anin menutup wajah.
"Anda menyebutnya sedikit?"
"Untuk keluarga Adiningrat, itu uang receh. Lagi pula, aku punya hak sebagai ibu."
"Anda bukan ibu saya."
"Kalau dua puluh terlalu besar, beri sepuluh sekarang dan sisanya bulan depan. Aku juga butuh mobil. Tidak perlu baru, yang penting sopirnya tersedia."
"Mama datang meminta uang atau menyusun daftar belanja?" tanya Anin.
"Kau tidak mengerti kebutuhan orang tua."
"Mama belum enam puluh."
"Stres membuatku tua lebih cepat."
Bibi Sari menunduk di balik nampan, bahunya bergetar menahan tawa.
Yuliana mengangkat kotak beludru merah. "Tapi barang ibumu ada padaku. Benda ini yang menyelamatkanmu di rumah sakit. Kau pikir hidupmu gratis?"
"Empat miliar yang masuk ke rekening Anda belum cukup?"
"Itu harga darah dan bantuan pertama. Bukan harga pusaka."
Ratri menatap kotak tersebut. Ia sudah tahu benda di dalamnya palsu. Namun, Yuliana tampaknya percaya kebohongan yang diulang cukup lama dapat berubah menjadi kepemilikan.
"Buka," katanya.
Yuliana memeluk kotak. "Tidak boleh sembarangan. Kekuatannya bisa hilang."
"Di rumah sakit Anda membukanya di depan Wira."
"Saat itu berbeda."
"Tentu."
Anin berdiri di antara ibunya dan Ratri. "Berhenti memakai orang mati dan penyakit Mbak untuk meminta uang."
"Kau diam!" Yuliana menunjuknya. "Sejak ikut dia, kau jadi anak durhaka. Semua yang kau punya berasal dariku."
"Semua masalahku juga berasal dari Mama."
Mata Anin memerah, tetapi ia tidak mundur.
Yuliana mencoba mengubah arah. Ia menurunkan suara dan tersenyum licik kepada Ratri.
"Baik. Kalau pusaka ini tidak cukup, aku punya jalan lain. Aku kenal orang yang bisa menyambung umur. Dukun biasa tidak sanggup menangani garis takdirmu, tapi orang ini punya akses ke laku dan pusaka langka."
"Orang yang fotonya Anda curi dari acara umum?"
Yuliana tersentak.
Ratri menggeser tablet. Di layar ada bantahan dari dua tokoh kejawen yang tidak pernah mengenal Yuliana, daftar korban yang membayar uang muka, serta pesan-pesan tawaran palsu.
Wira menambahkan selembar daftar. "Tujuh orang sudah mengonfirmasi menerima pesan. Tiga mentransfer uang muka ke rekening yang sama. Nama penerima sesuai rekening Bu Yuliana."
"Itu sumbangan sukarela," kata Yuliana cepat.
"Pesannya menyebut biaya membuka jalan kepada ahli," jawab Wira. "Ada nominal dan tenggat."
"Aku hanya membantu mereka."
"Dengan foto orang yang tidak mengenal Anda?" tanya Ratri.
Yuliana memeluk kotak merah lebih erat. "Kalian semua bersekongkol."
"Saya sudah menyimpan semua. Kalau Anda menerima satu rupiah lagi dengan memakai nama saya, laporan penipuan akan ditambahkan ke perhitungan warisan."
"Kau mengancam ibu sendiri!"
"Saya memberi kesempatan berhenti."
Yuliana kembali menangis, kali ini benar-benar panik. Ia mengaku hanya ingin bertahan hidup, menyebut gotong royong keluarga, lalu meminta setidaknya uang ongkos dan biaya makan.
Ratri menulis satu nominal kecil pada kertas.
"Mbak!" protes Anin.
"Ini bukan hadiah." Ratri menatap Yuliana. "Tanda tangani bahwa uang ini adalah bantuan sementara, tidak mengakui utang atau hak apa pun, dan semua penggunaan nama saya harus berhenti hari ini."
Mbak Lia telah menyiapkan surat singkat. Isinya juga menyatakan koper tidak pernah diterima sebagai barang pindahan dan Yuliana datang atas kehendak sendiri. Dua staf rumah menjadi saksi. Setiap lembar diparaf agar tidak ada halaman yang bisa diganti.
"Kenapa seperti urusan pengadilan?" keluh Yuliana.
"Karena Anda mengubah setiap percakapan menjadi tagihan."
Yuliana membaca nominalnya. Jauh dari dua puluh miliar, tetapi cukup untuk membuatnya mengambil pena.
Ia menandatangani, menyambar bukti transfer, lalu berdiri dengan wajah masam.
"Kau akan menyesal memperlakukanku begini," katanya. "Kau kira garis takdir itu bisa disembunyikan? Seluruh Jakarta mulai tahu darahmu tidak normal."
Baskara meletakkan sendok.
Yuliana melihat reaksinya dan tersenyum lebih lebar.
"Ada orang yang tidak peduli harga, berkeliling mencari pusaka dan laku untuk menyambung hidupmu. Katanya dia bahkan menawarkan darah dan umurnya sendiri. Orang-orang kejawen sedang membicarakannya."
Kalimat itu membuat ruang tamu sunyi. Anin tidak memahami mengapa Wira langsung menatap Baskara. Bibi Sari berhenti bergerak di dekat pintu. Ratri teringat luka-luka di lengan suaminya, pil pemulih tenaga, serta pusaka yang selalu menghangat tepat ketika wajah pria itu memucat.
Baskara tidak lagi memainkan wajah suami miskin yang lugu. Untuk satu detik, tatapannya kepada Yuliana begitu dingin hingga perempuan itu mundur setengah langkah.
Ratri menoleh kepada Baskara.
Warna menghilang dari wajah pria itu.
Yuliana mengangkat dagu, puas telah meninggalkan luka terakhir.
"Kau tebak sendiri siapa orangnya."