"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 31, 30 Tahun
Pukul sembilan pagi, matahari sudah menggantung cukup tinggi di langit Jakarta, menumpahkan cahaya keemasan yang memantul di kaca gedung-gedung dan kap mobil yang berlalu-lalang. Jalanan mulai padat, seolah seluruh kota sedang berlomba mengejar sesuatu yang tak pernah benar-benar berhenti.
Anna berjalan di antara keramaian itu seorang diri.
Sejak meninggalkan apartemen dan memutuskan tinggal sementara bersama Sherly, perempuan itu menyadari satu hal sederhana yang selama ini luput dari pikirannya: hidup tetap berjalan, bahkan ketika seseorang merasa dunianya runtuh.
Ia tidak bisa terus berdiam diri di kamar.
Ia membutuhkan pekerjaan.
Bukan semata-mata untuk mendapatkan uang, tetapi untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia masih mampu berdiri dengan kedua kaki tanpa harus bergantung pada siapa pun.
Pagi itu, Anna mengenakan kemeja putih sederhana yang dipadukan dengan celana bahan hitam. Rambut panjangnya diikat rendah agar tidak menggangu aktivitasnya. Ia membawa sebuah map berisi beberapa lembar fotokopi ijazah dan daftar riwayat hidup yang telah dicetak semalam selepas pulang dari makan sate.
Pekerjaan apa saja ia akan coba.
Kafe, minimarket, toko pakaian, bahkan pekerjaan sebagai kasir sekali pun.
Tidak ada lagi gengsi.
Setelah bertahun-tahun hidup sebagai seorang istri dan meninggalkan pekerjaannya sendiri, Anna merasa seperti seseorang yang baru saja dilempar kembali ke garis awal. Hanya saja, kali ini ia tidak membawa semangat seorang gadis dua puluh tahunan.
Di usia tiga puluh ini, ia membawa luka, pengalaman, dan penyesalan. Penyesalan yang dulu ia lakukan tanpa berpikir panjang, seharusnya ia dulu bisa bertahan dan menyelesaikan masalah itu tanpa menghindarinya. Bukankah ia tidak salah? Seharusnya ia tidak kalah dengan rasa traumanya itu? Namun ternyata, trauma itu malah menetap lama. Saking lamanya, semuanya menumpuk dalam satu kata depresi.
Langkahnya terhenti di depan sebuah kafe bergaya modern yang berdiri di sudut jalan. Dinding kaca memperlihatkan interior dengan lampu-lampu hangat, meja kayu berwarna cokelat muda, serta tanaman hijau yang ditempatkan di beberapa sudut ruangan.
Anna menarik napas. "Coba masuk."
Ia masuk.
Setelah bertanya kepada salah seorang pelayan mengenai lowongan pekerjaan, Anna diarahkan menuju sebuah ruangan kecil di belakang kafe. Di sana, seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun duduk dibalik meja kerja.
Perempuan itu tersenyum ramah.
"Silahkan duduk, Mbak."
Anna membalas tersenyum gugup. "Terima kasih, Bu."
Anna duduk di kursi yang tersedia. Tangannya meletakkan map di atas meja.
"Saya sudah membaca CV Mbak Anna," ujar sang manajer sambil membuka beberapa lembar dokumen. "Pendidikan terakhirnya sungguh sangat bagus."
Anna tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu."
Manajer itu terdiam sebentar. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, seperti sedang mencari kalimat yang paling halus untuk disampaikan.
"Boleh saya jujur?"
Anna tersenyum mengangguk. "Tentu saja."
"Sebenarnya, posisi yang kami buka sekarang untuk bagian kasir dan pelayanan memang tidak terlalu membutuhkan pendidikan tinggi. Jadi, soal ijazah sebenarnya bukan masalah."
Anna mengangguk pelan.
Namun, dari cara perempuan itu berbicara, ia sudah bisa menebak bahwa ada sesuatu yang lain.
"Saya justru agak kaget melihat usia Mbak Anna."
Anna mengangkat alis. "Usia saya?"
Manajer itu tertawa kecil. "Iya. Kalau melihat wajah mbak, saya kira Mbak Anna masih mahasiswa magang. Wajahnya masih muda sekali."
Anna ikut terkekeh kecil, meskipun kekehan itu terdengar getir. Namun Anna berusaha mencairkan suasananya.
"Banyak yang bilang begitu sama saya, Bu."
"Saya bahkan sempat mengira Mbak baru sekitar dua puluh dua atau dua puluh tiga."
Kali ini Anna tertawa kecil. "Sayangnya, sudah tiga puluh tahun."
Manajer itu tampak salah tingkah.
"Nah, itu sebenarnya yang membuat saya agak tidak enak."
Anna terdiam, ia tahu kemungkinan terbesarnya adalah penolakan.
"Kafe kami sedang mencari karyawan yang usianya masih sekitar dua puluhan. Bukan karena kami menganggap orang yang lebih tua tidak mampu bekerja, ya. Sama sekali bukan begitu. Hanya saja, kebijakan dari pemilik memang menginginkan tim yang masih muda."
Anna menghela napas pelan.
Ia tidak tersinggung.
Justru ia sudah menduga percakapan seperti ini akan muncul cepat atau lambat.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti." Kata Anna.
"Saya benar-benar minta maaf."
Anna menggerakkan tangannya. "Tidak perlu minta maaf. Ibu sudah menyampaikannya dengan baik."
Anna mengambil map-nya kembali.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya." Ucap Anna.
Perempuan itu tersenyum. "Semoga Mbak Anna segera mendapatkan pekerjaan yang cocok."
"Aamiin. Kalau begitu, saya pamit."
Anna berdiri, lalu menjabat tangan manajer tersebut sebelum meninggalkan ruangan.
Begitu pintu kafe tertutup dibelakangnya, senyum yang tadi bertahan di wajahnya perlahan menghilang.
"Memangnya kenapa dengan usia tiga puluh? Apakah skill bisa di sandingkan dengan usia muda? Padahal, untuk mengangkat galon pun aku masih bisa dan kuat." Umpatnya pelan seraya meninggalkan kafe tersebut.
Ia kembali berjalan menyusuri trotoar.
Jakarta memang memiliki banyak kesempatan, tetapi kesempatan itu terkadang datang bersama syarat-syarat yang terasa seperti pagar tinggi. Salah satunya adalah usia.
Di Indonesia, Anna tahu banyak usaha menyukai karyawan muda. Tenaga yang dianggap lebih fleksibel, mudah dibentuk, dan sanggup mengikuti ritme kerja yang panjang.
Namun, usia tiga puluh ternyata sudah cukup untuk membuat seseorang dianggap melewati batas tertentu.
Padahal, ia belum merasa tua--sama sekali belum. Anna kembali menatap kedua tangannya.
"Baru tiga puluh," gumamnya lirih.
Angka itu terasa terlalu kecil untuk disebut tua, tetapi terlalu besar ketika tercetak di atas lembar lamaran kerja.
Ia terus melanjutkan perjalanan.
Beberapa tempat sudah ia datangi. Ada yang tidak membuka lowongan pekerjaan, ada pula yang meminta pengalaman berbeda. Satu per satu pintu tertutup sebelum sempat ia ketuk lebih jauh.
Tenggorokannya mulai terasa kering. Anna akhirnya memutuskan masuk ke sebuah minimarket untuk membeli air minum.
Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya begitu pintu di dorong terbuka. Ia berjalan menelusuri beberapa rak dan akhirnya sampai di deretan air mineral dalam botol. Ia mengambil sebotol air mineral dari rak minuman, kemudian berjalan menuju kasir.
Saat menunggu antrean, matanya tak sengaja menangkap sebuah kertas yang ditempel di dekat meja kasir.
DIBUTUHKAN KARYAWAN.
Anna langsung memperhatikan tulisan kecil di bawahnya.
Tidak membatasi usia.
Jantungnya seakan mendapatkan percikan listrik.
"Mas..." panggil Anna sedikit ragu.
Kasir yang sedang merapikan barang menoleh.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanyanya sopan.
"Minimarket ini...masih membuka lowongan?" tanya Anna.
"Oh, masih Mbak. Mbak mau lamar?"
Anna hampir tertawa karena pertanyaan itu terasa seperti menemukan pintu setelah berjalan di lorong tanpa ujung.
"Memangnya bisa? Saya sudah tiga puluh tahun, Mas." Ucap Anna jujur.
...🌴🌴🌴...
Apakah Anna akan mendapatkan pekerjaan itu?
Tunggu kelanjutannya 🫶
...BERSAMBUNG ...