Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Pesona Sang Penguasa
Keheningan yang mencekam menyelimuti Ruang Pertemuan Utama di lantai empat puluh dua gedung Grand Wijaya Group. Atmosfer di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa membeku seiring dengan pandangan mata Ziko yang tak berkedip, terkunci sepenuhnya pada sosok wanita di ujung meja utama.
Ziko masih berdiri membisu dengan tubuh kaku. Otaknya seolah menolak memproses kenyataan yang membentang di depan matanya. Wanita yang kini duduk di atas kursi kebesaran Komisaris Utama, kursi yang mengendalikan takdir ratusan perusahaan di kota ini, adalah Mahira. Istrinya. Wanita yang dua hari lalu baru saja diusirnya dari rumah dengan hanya membawa koper tua dan daster lusuh.
Namun, tidak ada satu pun jejak "Mahira si wanita penurut" yang tersisa dari sosok di depannya saat ini.
Mahira tampak teramat menawan sekaligus mengintimidasi dalam balutan blazer sutra biru tua yang memeluk tubuh anggunnya dengan sempurna. Potongan busana kelas atas itu mempertegas garis bahunya yang tegap dan postur tubuhnya yang begitu jenjang.
Rambut hitam pekatnya yang tebal tergerai bebas dengan gelombang alami di bagian ujungnya, berkilau sehat tersiram cahaya matahari pagi dari balik dinding kaca raksasa. Wajahnya yang biasa kusam tanpa riasan, kini dihiasi oleh sentuhan make-up natural yang sangat halus namun tegas, menonjolkan tulang pipinya yang tirus dan bibirnya yang terpoles warna pastel yang elegan.
Di telinganya, sepasang anting mutiara hitam kecil memantulkan pendar samar setiap kali ia bergerak pelan. Sepatu hak tinggi hitam yang membalut kakinya terlihat berkilau di atas marmer. Penampilan Mahira memancarkan kelas, kekayaan, dan kekuasaan mutlak yang selama ini bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Ziko maupun Clarissa.
Ziko menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa teramat kering. Ada rasa takjub bercampur kaget luar biasa yang mendadak melumpuhkan seluruh harga dirinya. Tiga tahun lamanya ia hidup dalam satu atap dengan Mahira, namun ia tidak pernah menyadari betapa cantiknya wanita itu jika melepaskan pakaian lusuh dan beban pekerjaan rumah tangga yang selama ini ditumpukkan padanya. Wibawa yang dipancarkan Mahira saat ini begitu pekat hingga membuat Ziko merasa teramat kecil dan tidak ada apa-apanya di dalam ruangan tersebut.
"Ziko... ini tidak mungkin, kan?" bisik Clarissa dengan suara yang gemetar hebat di samping Ziko. Jemari Clarissa yang mencengkeram lengan jas Ziko makin mengencang, sementara matanya menatap Mahira dengan tatapan penuh kepanikan yang teramat sangat. "Dia... dia kan cuma mantan istrimu yang tidak punya apa-apa? Kenapa orang-orang ini memanggilnya Komisaris Utama?!"
Ziko tidak sanggup menjawab. Lidahnya terasa kelu.
Di ujung meja, Mahira memperbaiki posisi duduknya dengan gerakan yang sangat halus. Ia menyilangkan kakinya dengan anggun, membiarkan jemari tangannya yang lentik bertaut di atas meja jati yang mengilap. Pandangan matanya yang tajam menyapu wajah Ziko dan Clarissa secara bergantian. Tidak ada riak kebencian, tidak ada amarah, dan tidak ada sedikit pun kejutan di matanya. Tatapan Mahira begitu datar, lempeng, dan dingin—sebuah tatapan profesional dari seorang petinggi bisnis yang sedang menatap pihak pembawa masalah.
"Silakan duduk, Tuan Ziko, Nona Clarissa," ucap Mahira.
Suaranya mengudara dengan nada tenang, rendah, namun memiliki gema berwibawa yang begitu dominan di dalam ruangan. Tidak ada lagi intonasi lembut atau ragu-ragu yang biasa ia gunakan saat melayani Ziko di rumah. Suara itu adalah suara seorang penguasa yang terbiasa memberi perintah dan dipatuhi.
Ziko ditarik paksa kembali ke realita oleh suara itu. Dengan langkah kaki yang terasa berat dan goyah bagaikan tidak bertulang, ia berjalan mendekati kursi tamu di seberang meja rapat. Clarissa mengekor di belakangnya dengan wajah yang sudah pucat bagaikan mayat, kehilangan seluruh keangkuhan yang biasanya ia pamerkan.
Begitu duduk, Ziko berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia membasahi bibirnya yang kering, lalu menatap lurus ke arah Mahira. "Hira... apa-apaan semua ini? Kenapa kamu ada di sini? Kenapa mereka memanggilmu...."
Brak.
Jessi mengetukkan ujung penanya di atas meja rapat dengan nada yang sangat tegas, memotong ucapan Ziko tanpa ampun.
"Jaga sikap dan tata krama Anda, Tuan Ziko," tegur Jessi dengan pandangan mata yang menembus tajam. "Anda sedang berada di dalam rapat resmi jajaran direksi Grand Wijaya Group. Panggil pimpinan kami dengan sebutan yang layak, Ibu Komisaris Utama atau Ibu Mahira."
Ziko terperanjat. Tatapan tegas dari Jessi dan beberapa pengacara perusahaan di sekeliling meja membuat Ziko sadar bahwa tempat ini bukanlah ruang tamu rumahnya di mana ia bisa seenaknya membentak atau memerintah Mahira.
Mahira mengangkat tangan kanannya sedikit, memberi isyarat pelan pada Jessi agar tidak memperpanjang teguran tersebut. Gerakan kecil itu begitu penuh kendali.
"Tidak apa-apa, Jessi," sahut Mahira lempeng, matanya tak lepas menatap Ziko yang tampak canggung dan kebingungan. "Saya paham jika Tuan Ziko membutuhkan waktu untuk mencerna situasi ini. Namun, waktu saya teramat berharga untuk dihabiskan membahas hal-hal di luar urusan profesional."
Mahira membuka map kulit di depannya, lalu menatap Ziko dengan sorot mata yang dingin bagaikan es di lautan utara.
"Tuan Ziko dari Adhi Jaya Perkasa," panggil Mahira dengan penekanan pada nama perusahaan Ziko. "Anda hadir di sini untuk mengajukan permohonan peninjauan ulang atas pembatalan pasokan bahan baku dan alokasi dana proyek dari perusahaan kami, bukan?"
Ziko tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk cepat. Rasa panik dan kebingungannya mendadak berbenturan dengan urgensi krisis bisnisnya yang di ujung tanduk. "I-iya, betul... Bu Mahira. Perusahaan kami mengalami kendala besar akibat pemutusan sepihak ini. Kami ingin menyerahkan draf analisis baru dan memohon pertimbangan~"
"Tolong presentasikan proposal dan berkas analisis risiko yang Anda bawa," potong Mahira tenang, memajukan tubuhnya sedikit dan meletakkan kedua siku tangannya di atas meja. "Saya ingin melihat sejauh mana kualitas manajemen Adhi Jaya Perkasa hingga berani meminta pengampunan bisnis dari Grand Wijaya Group."
Mendengar tantangan terbuka dari wanita yang dulu dipandangnya sebelah mata itu, jantung Ziko berdegup kencang. Penampilan Mahira yang sangat berkelas, sikapnya yang begitu berwibawa, dan dominasi mutlak yang ia tunjukkan di dalam ruangan ini benar-benar meruntuhkan ego Ziko hingga ke titik terendah.
Pria itu kini tersadar, wanita yang dicampakkannya bukan sekadar pergi dari rumahnya, melainkan kembali ke atas takhta yang sebenarnya.