Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU
Mobil hitam yang kukendarai berhenti tepat di depan gerbang kayu berukir klasik milik rumah orang tuaku. Rumah berarsitektur hangat dengan pekarangan asri ini adalah tempat di mana aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang sangat berbeda dengan rumah Aris dulu yang selalu terasa dingin dan menekan.
Sejak Aris dijebloskan ke penjara dan rumah tanggaku resmi berakhir, aku memang memilih tinggal di apartemen pribadiku untuk menenangkan diri. Namun sore ini, aku sengaja pulang ke rumah Papi dan Mami untuk membicarakan rencana keberangkatan kami ke Singapura minggu depan.
Aku melangkah turun sembari menghirup udara sore yang sejuk. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melangkah masuk ke rumah ini tanpa membawa beban pikiran, rasa cemas, atau air mata.
Klek.
"Tita pulang..." panggilku pelan saat menggeser pintu jati utama.
Aroma harum masakan rumahan langsung menyambut indra penciumanku. Dari arah dapur bersih, Mami melangkah keluar dengan mengoleskan kedua tangannya ke celemek batik. Begitu melihatku, senyum wanita paruh baya itu merekah lebar, pancaran matanya hangat dan penuh rasa syukur.
"Anak Mami..." panggil Mami lembut. Ia memelukku erat, mengusap punggungku lama seolah ingin menyalurkan seluruh ketenangan yang selama ini hilang dari hidupku. "Akhirnya kamu sempat pulang ke rumah, Nak."
"Iya, Mi. Tita kangen masakan Mami," jawabku dengan mata berbinar, membalas pelukan wanita yang paling mencintaiku itu.
Di sofa ruang keluarga, Papi yang sedang membaca koran sore menurunkan kacamata bacanya. Raut wajahnya yang tegas mendadak melunak. Papi berdiri, berjalan mendekat dan mengusap puncak kepalaku dengan lembut sebuah gestur pelindung dari seorang ayah yang lega melihat putri tunggalnya telah terbebas dari cengkeraman keluarga penipu.
"Masuk, Tita. Makanan sudah siap," kata Papi dengan suara beratnya yang menenangkan. "Kakakmu dan Felix sudah di dalam dari tadi."
Aku tersenyum tipis. Sejak pertama kali terbang dari luar negeri ke Indonesia untuk mengurus kasus hukumku, Ko Felix memang ditempatkan Papi untuk tinggal di rumah ini. Bagi Papi dan Mami, Ko Felix bukan sekadar sahabat Kak Olan, tapi sudah dianggap seperti anak kandung sendiri sejak kami masih kecil.
Begitu kami melangkah ke ruang makan, tampak Kak Olan sedang tertawa lepas sembari mengambil sepotong ayam goreng. Di sampingnya, Ko Felix duduk rapi mengenakan kaos kerah santai berwarna abu-abu penampilan kasual yang membuat sosoknya yang biasa kaku dan dingin tampak jauh lebih manusiawi dan hangat.
"Wah, adik kecil Kakak yang baru resmi jadi single akhirnya datang juga dari apartemennya," goda Kak Olan dengan cengiran khasnya saat melihatku masuk.
"Kak Olan!" tegurku sembari melotot manja, mendudukkan diri di kursi kosong di seberang Ko Felix.
Ko Felix menatapku dengan sudut lips yang tertarik membentuk senyuman tipis. "Sudah selesai semua urusan di kantor, Tita?"
"Sudah, Ko. Semua berkas ekspansi sudah aku serahkan ke Siska," jawabku pelan.
Di meja makan yang dipenuhi hidangan favorit keluarga, kami makan malam bersama. Suasana terasa begitu hangat, diwarnai gelak tawa Kak Olan yang tak berhenti menjahili Papi atau melemparkan lelucon ringan.
Aku memperhatikan Kak Olan. Wajah kakak kandungku itu kini tampak sangat lega dan lepas. Selama lima tahun ini, aku tahu Kak Olan selalu menahan amarah setiap melihatku dimanfaatkan oleh keluarga Aris. Dan malam ini, melihatku tersenyum lebar tanpa beban, beban berat di pundak Kak Olan seolah menguap tak berbekas.
Sesekali, pandanganku beradu dengan Ko Felix. Pria itu tidak banyak bicara tipikal dirinya yang tenang namun perhatian kecilnya tak pernah absen. Ia dengan sigap menggeser mangkuk sup hangat ke arahku atau menyodorkan gelas air sebelum aku menyuruhnya.
Selesai makan malam, kami semua berkumpul di ruang keluarga. Mami menyajikan cangkir-cangkir teh chamomile hangat dan camilan kue tradisional di atas meja kayu.
"Jadi, bagaimana rencananya untuk keberangkatan ke Singapura minggu depan?" buka Papi sembari menyesap tehnya, menatap kami bertiga.
"Semua tiket penerbangan dan paspor sudah siap, Pi," jawab Kak Olan sembari bersandar santai di sofa. "Aku sama Tita rencana mau berangkat tiga hari sebelum acara pernikahan Valerie. Biar Tita ada waktu buat healing, jalan-jalan, dan istirahat total dari suasana Jakarta."
Mami mengangguk setuju dengan raut wajah berbinar. "Bagus itu. Tita butuh suasana baru. Apalagi mamanya Felix kemarin telepon Mami, katanya dia sudah menyiapkan kamar khusus di rumah mereka di Singapura buat Tita."
"Iya, Tita," sambung Ko Felix dengan suara beratnya yang tenang. "Mama dan Papa sangat menunggu kedatanganmu. Mama bahkan sudah menyusun daftar tempat makan dan butik yang mau dia kunjungi bersamamu nanti."
Aku tersenyum haru mendengarnya. "Mamanya Ko Felix terlalu baik..."
"Bukan terlalu baik, Ta," potong Kak Olan cepat sembari menyenggol lengan Ko Felix dengan sikunya, membuat pria kaku itu sedikit terperanjat. "Mamanya Felix itu memang sudah menganggap kamu kayak calon... eh, maksudnya anak sendiri dari dulu!"
"Olan," tegur Ko Felix pendek dengan nada mengancam yang tertahan, walau daun telinganya perlahan merona merah akibat godaan sahabatnya itu.
Mami dan Papi tertawa kecil melihat tingkah dua pria dewasa itu. Papi menatap Ko Felix dengan tatapan penuh rasa percaya dan rasa terima kasih yang mendalam.
"Felix..." panggil Papi tenang.
"Iya, Om?" jawab Felix, membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegap dan sopan.
"Om dan Tante titip Tita sama Olan selama di Singapura ya," ucap Papi tulus. "Terima kasih banyak juga karena kamu dan tim hukummu sudah berdiri paling depan membela Tita sampai kasus penggelapan itu tuntas. Kalau tidak ada kamu, mungkin prosesnya tidak akan secepat dan sebersih ini."
Felix menggeleng pelan dengan raut wajah yang sangat serius dan penuh rasa hormat. "Itu sudah jadi kewajiban saya, Om. Saya janji akan menjaga Tita dan memastikan dia aman serta nyaman selama di sana."
Kata-kata Felix yang singkat namun mantap itu membuat dadaku berdesir hangat. Cara pria itu berjanji di depan orang tuaku menunjukkan betapa ia selalu bersungguh-sungguh dengan setiap ucapannya.
Malam makin larut. Papi dan Mami sudah lebih dulu masuk ke kamar utama untuk beristirahat. Kak Olan juga sudah pamit ke kamarnya di lantai dua untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan lewat laptop.
Tersisa aku dan Ko Felix di area balkon samping rumah yang menghadap ke taman kecil. Udara malam berembus pelan, membawa wangi bunga melati yang bermekaran.
Aku berdiri menyandarkan lengan di pagar balkon, memandangi dedaunan yang bergoyang ditiup angin. Ko Felix melangkah mendekat, berdiri di sampingku dengan jarak yang sangat sopan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Tidak dingin?" tanya Felix pelan.
"Sedikit, tapi segar, Ko," jawabku menoleh padanya, menyunggingkan senyuman tulus. "Aku sudah lama sekali tidak merasakan ketenangan seperti ini. Dulu, setiap malam rasanya cuma ada kepanikan, rasa bersalah dan tuntutan dari Aris atau keluarga nya."
Felix terdiam sejenak, matanya yang tajam menatap lurus ke arah taman sebelum beralih menatap wajahku dari samping.
"Masa-masa kelam itu sudah mati, Tita," ucap Felix dengan nada lembut yang menenangkan. "Mulai hari ini dan seterusnya, tidak akan ada lagi orang yang boleh menyakitimu atau memanfaatkan kebaikanmu."
Aku menatap mata Ko Felix yang pekat di bawah temaram lampu balkon. Di dalam matanya yang biasanya kaku dan dingin, aku melihat ketulusan dan kedalaman rasa yang begitu murni rasa aman yang tak pernah kudapatkan dari Aris selama lima tahun pernikahan kami.
"Terima kasih ya, Ko Felix..." bisikku pelan. "Untuk selalu ada di saat semuanya terasa runtuh."
Felix tersenyum tipis senyuman langka yang sangat menawan yang selalu sanggup membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
"Sama-sama, Tita," jawabnya hangat. "Sekarang masuklah, istirahat malam ini kamu akan menginap di sini kan?." Tanya ko Felix.
"Iya ko." Jawab Tita.
" Kita punya perjalanan panjang minggu depan." Ucap Lo Felix lagi.
Aku mengangguk, melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan membuncah penuh harapan. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa meninggalkan masa lalu bukan lagi tentang melarikan diri dari luka, melainkan tentang menyambut masa depan yang jauh lebih indah bersama orang-orang yang tulus mencintaiku.
boleh laa bonchap ny kak ,,
aku sll merasa dapat kejutan tamat 😥
ko udh tmat aja....krain msh puanjanggg crtanya....tp msih ada bonchap kn kk???
untng d sbelah ga ada orang....🤭🤭🤭
pepet trs ko,jgn smp d tkung cwok lain lg....😁😁😁