Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Para Kakak
Baru kali ini Aghasa kembali mendengar kalimat yang begitu panjang keluar dari mulut sang kakak sekaligus.
Itu artinya, kakaknya tidak sekadar bercanda, melihat netra merah dari mata Alcaluna yang sedikit menghitam tadi bertandakan seorang Luelle yang sudah terbutakan oleh dendam.
"Aku juga tidak akan membiarkannya hidup kali ini."
Aghasa mengalihkan pandangannya dari pintu yang tertutup ke arah kakak iparnya yang terlihat sudah membulatkan tekad.
"Sudah cukup satu kesempatan yang kuberikan. Dia menyentuh buah hatiku, menghilangkan senyum orang yang kucintai. Aku bukan seseorang yang sangat bermurah hati."
Merasakan hawa panas di sekitarnya, Aghasa mulai merasakan sedikit rasa ketakutan akan kekuatan Archmage di depannya saat ini.
'Sepertinya Astra akan kembali mendapati perang besar. Kali ini, entah siapa musuh utama kami, aku tidak yakin,' batin Aghasa sedikit bingung dengan apa yang dipikirkan musuh mereka saat ini.
Sebenarnya apa yang direncanakan oleh pihak musuh saat ini? Dan apa yang berada di belakang mereka sehingga Reis saja tidak bisa mencium darahnya sendiri?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alcaluna terhenti beberapa langkah dari pintu kamarnya. Ia melihat ketiga putranya, para pangeran, yang tengah mengintip kedalam kamar lewat celah pintu yang mereka buka sedikit.
Wanita itu mengernyit bingung sebelum kemudian menghampiri ketiga putranya. "Apa yang kalian sedang lakukan? Kenapa tidak beristirahat?"
Abellona, Asterion, dan Atala sontak terkejut kala mendengar suara sang ibu yang menegur mereka dari arah belakang dengan nada mengintrogasi yang datar seperti biasa.
Ketiga pangeran itu sontak berbalik dan berbaris sejajar, menunduk kecil ke arah sang ibu. "Ka-kami, ingin melihat adik. Tapi sepertinya ia sedang istirahat. Jadi kami tidak ingin mengganggu adik," ucap Abellona sebagai kakak tertua mewakili.
Asterion yang terkenal acuh pun ikut angkat bicara jika dihadapan sang ibu. "Kami juga sudah berganti pakaian tidur. Setelah melihat adik, kami akan kembali ke kamar untuk istirahat."
"A-aku juga sudah bersih-bersih! Aku sudah menyikat gigi, mandi agar tidak bau dan mengganggu adik," ujar Atala mengatakan sesuatu dengan gelagat anehnya seperti biasa.
Sebelah alis Alcaluna naik menatap bingung serta gemas kepada ketiga putranya.
Perlu diketahui bahwa ketiga pangeran kekaisaran Reis ini memiliki sifat sombong sama seperti sang kaisar, ayahnya, mereka sebenarnya sedikit takut pada permaisuri yang tegas.
Namun saat ini mereka tetap memberanikan diri untuk datang di waktu yang seharusnya mereka tidur karena ingin melihat adik kecil mereka yang telah lama hilang.
"Aku tidak akan memarahi kalian. Angkatlah pandangan kalian, para pangeran Reis tidak boleh menunduk pada siapapun."
"Tapi kami akan menunduk jika itu untuk ibu," seru Abellona yang sontak diangguki kedua adiknya.
Alcaluna tanpa sadar kembali tersenyum. Para pangeran sontak sedikit terkejut saat menatap sang ibu.
'Ibu sudah bisa tersenyum lagi! Apakah suasana hati ibu kembali seperti dulu karena adik kecil telah ditemukan dan kembali?'
Melihat raut terkejut dari ketiga putranya, Alcaluna berusaha menenangkan perasaannya saat ini. "Kembalilah dan tidur. Kalian harus beristirahat karena kemarin sudah lelah membantu persiapan."
Mengusap surai putranya satu persatu dengan lembut sebelum kembali memanggil para pelayan yang mendampingi para pangeran.
"Ibu akan memberitahu pada Arcangella besok, bahwa para kakak hebatnya sudah ingin kembali memeluk dirinya," bujuk Alcaluna.
Senyum lebar terbit di wajah ketiga pangeran, bahkan seorang Asterion kini tersenyum jika itu menyangkut adik perempuan kecilnya. Hal tersebut membuat hati Alcaluna menghangat. Ia menyadari, kembalinya Arcangella bukan hanya mengubah suasana hatinya, tetapi suasana istana Reis yang suram.
"Baik Ibu!"
Ketiga putranya yang biasanya selalu bereaksi biasa saja terhadap semua hal yang menakjubkan, akan terlihat sangat bersemangat ketika dulu Arcangella menumbuhkan satu giginya, mereka yang tidak segan merelakan waktu istirahat ditengah padatnya kelas para pangeran untuk menjaga adik perempuannya sepanjang malam yang demam ketika baru tumbuh gigi.
Alcaluna memandangi ketiga putranya yang akhirnya berjalan sukarela untuk kembali ke kamar mereka dengan tatapan lembut.
Wanita itu mengalihkan pandangannya, menatap langit malam lewat jendela besar di sebelah kanannya. Bulan purnama bersinar cerah di tengah suramnya hitam pekat langit malam.
Senyumnya perlahan menghilang kala melihat kabut hitam yang datang tersapu angin. Pandangannya kembali dingin.
"Tidak bisa menyingkirkanku dan akhirnya menyentuh putriku? Obsesimu itu memang harus mati ... serta dirimu juga harus ikut mati bersamanya," ujar Alcaluna datar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kira-kira putriku akan menyukai yang mana ya, Malla?"
Alcaluna terlihat kebingungan memilih set aksesoris yang di desain khusus anak-anak berdasarkan permata ternama yang dimaksudkan kepada anak-anak kelas bangsawan atas.
Malla tersenyum, permaisurinya ini menghabiskan waktu sedari pagi buta untuk memilih mulai dari peralatan mandi, sabun, pakaian, hingga detail kecil seperti jepit rambut apa yang akan di pakai oleh tuan putri.
Persis seperti 5 tahun lalu.
"Menurut saya semua aksesoris yang indah, akan disukai oleh tuan putri kecil."
Alcaluna mengangguk setuju. Putrinya itu menyukai semua barang yang terlihat berkilau, bahkan dulu sendok yang mengkilap saja ia akan menatapnya lama seolah melihat harta karun.
Wanita itu terkekeh kecil. "Aku pilih aksesoris mutiara dari Timur ini. Tolong bantu aku simpan yang satunya ya."
Malla mengangguk dan segera membantu untuk menyimpan kota perhiasan yang satunya kembali ke tempatnya. 'Aku harap, kali ini tidak ada yang mengganggu kebahagiaan permaisuri dan keluarga istana ini.'
"Eungh ... -"
Lenguhan Arcangella yang mulai terbangun akibat cahaya matahari yang menyerobot masuk dari celah tirai jendela dan menyorot pada wajahnya, membuat Alcaluna sontak berdiri dari meja rias dan berjalan ke arah ranjang.
"Putriku, kamu sudah bangun ya?"
Ella mengedipkan matanya pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk. Melihat wanita cantik dengan rambut merah panjang yang tersanggul senada dengan warna rambutnya itu, membuat Ella tersenyum lebar menampakkan gigi depannya dengan mata yang setengah tertutup.
"Mama," Ella menyodorkan kedua tangannya, tanda ia ingin mendapatkan kembali pelukan hangat sang ibu untuk meyakinkan bahwa semua yang terjadi belakangan ini bukanlah mimpi saja seperti biasanya.
Alcaluna tersenyum dan lantas memeluk putrinya yang setengah mengantuk itu. "Ayo bangun sayang. Kita harus bersiap-siap untuk sarapan pagi dan bertemu dengan ayah dan para kakak mu yang sudah sangat merindukanmu juga seperti mama."
Ella berpikir sejenak dalam pelukan sang ibu. Benar, sejak mereka kembali bertemu, Ella belum memeluk ayah dan kakak-kakaknya.
Gadis kecil itu langsung tertidur setelah merasa sangat kelelahan selepas menangis di pelukan ibunya.
Arcangella melepas pelukannya pelan dan menatap wajah sang ibu dengan antusias, ia mengangguk. "A-ayah, dan Ka-kak!"
Alcaluna tersenyum, ia sudah mengetahui kondisi putrinya yang tidak lancar saat berbicara dari sang adik.
Bukan hanya itu, ia juga mengetahui fakta bahwa dulu putri kecilnya harus berjuang hanya untuk makan satu kali dalam sehari di usianya yang masih belia.
Hal itu semakin menyulut emosi Alcaluna terhadap mereka yang sudah membuat putri kecilnya jauh dari dirinya.
Wanita itu mengusap lembut surai putrinya. Ia bersumpah akan membuat hidup mereka yang melakukan ini pada putri kecilnya akan jauh berkali-kali lipat lebih menderita sepanjang hidup dibanding dengan penderitaan yang sudah dialami Arcangella.
...****************...
Pintu ruang makan keluarga kerajaan terbuka. Arcangella dapat melihat 4 pria dengan rambut pirang dimana 2 dari mereka memiliki surai yang panjang. Mungkin salah satunya adalah ...
"Putriku."
Calliope lantas bangkit dari kursinya yang berada di ujung meja makan untuk segera memeluk malaikat kecilnya yang terlihat manis dengan gaun putih tulang yang dipadukan dengan mutiara.
"A-yah!"
Ella lantas kembali memeluk tubuh besar yang terlihat kuat, namum nyatanya pria iti sering menyalahkan dirinya sendiri akibat tidak bisa untuk melindungi putri kecilnya ini.