Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:142
Nilai: 5
Nama Author: Lobelia

Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.

Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.

Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.

Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.

Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Petang di kediaman Moretti tersapu warna jingga yang menyala saat matahari bersembunyi di balik hutan-hutan Westchester. Suasana di sayap keamanan terasa berat, sebuah tekanan tak kasatmata yang membuat udara mengganjal di paru-paru. Dante, terbungkus amarah yang dingin setelah menemukan sebuah celah kecil dalam inventaris senjata, melangkah mondar-mandir di halaman latihan.

Victoria mencari anak-anak untuk makan malam, berjalan menyusuri lorong berdinding kaca yang menghadap ke halaman bawah. Ia menemukan mereka di sana, bersandar pada pagar batu, memandang ke bawah. Sebelum sempat memanggil, pemandangan di halaman itu membuatnya membisu.

Dante berdiri di hadapan salah satu pengawalnya yang paling muda. Pria itu berlutut, wajahnya bermandi keringat dan bibirnya gemetar. Ia telah melakukan kesalahan dengan membiarkan sebuah pintu servis tanpa pengawasan selama pergantian giliran jaga. Bagi orang biasa, itu kelalaian. Bagi seorang Moretti, itu undangan untuk pembunuhan.

"Kesetiaan bukan sekadar tidak berkhianat, Nak," suara Dante adalah bisikan yang mengiris bagai pisau bedah. "Kesetiaan adalah kewaspadaan yang mutlak. Kelalaianmu membahayakan istri dan anak-anakku."

Dante tidak berteriak. Dengan gerakan mengalir tanpa emosi, ia mencabut senjatanya dan memukul pelipis pria itu dengan gagangnya. Bunyi logam beradu dengan tulang menggema di halaman yang kosong. Sang pengawal jatuh miring, merintih, sementara Dante mencengkeram kerah bajunya untuk memaksanya menatap.

Dua reaksi, satu sumber yang sama

Victoria, terpaku di lorong atas, tak memandang Dante. Ia memandang anak-anaknya.

Di sisi kanannya, Cristo mundur selangkah, membentur dinding kaca. Wajahnya, yang biasanya pucat, kini berubah putih tembus pandang. Kedua tangan mungilnya meraba-raba tepi tabletnya, seolah butuh berlindung dalam angka dan peta untuk melarikan diri dari kebrutalan fisik itu. Matanya membelalak, terpaku pada noda darah yang mulai mengotori semen. Cristo melihat kekerasan sebagai sebuah cacat dalam sistem, sebuah galat logika yang menimbulkan penderitaan yang tak perlu. Ia ngeri oleh ketakterdugaan kuasa ayahnya.

Namun di sisi kirinya, León tak bergeser satu sentimeter pun.

León mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangannya menumpu kokoh pada batu yang dingin. Tak ada rasa takut di wajahnya. Tak ada rasa jijik. Mata kelabunya menyipit, melahap setiap gerak Dante, menganalisis efisiensi pukulan itu, postur dominasi ayahnya, dan ketundukan mutlak pria di lantai itu. Ada rasa ingin tahu yang analitis, nyaris klinis, dalam tatapannya. Itu tatapan seekor pemangsa yang akhirnya memahami untuk apa cakar-cakarnya berguna.

Victoria merasa darahnya membeku. Ekspresi León bukanlah kejahatan. Itu sesuatu yang jauh lebih menakutkan: itu adalah pengenalan diri.

Dante, tak tahu bahwa anak-anaknya mengamati, melepaskan pengawal itu dengan gestur penghinaan dan memerintahkan Marco membawanya pergi untuk "pelatihan ulang". Ketika mengangkat pandangan, matanya bertemu mata León di galeri atas.

Dante menegang sesaat, penyesalan sekilas melintasi rautnya karena telah membiarkan mereka menyaksikan sisi gelap imperium itu. Tetapi reaksi León menghentikannya. Bocah itu tak lari. León balas menatapnya dan, nyaris tak kentara, mengangguk, seolah baru saja mencatat sebuah pelajaran berharga.

Victoria tersadar dari kekakuannya dan berlari ke arah mereka. Ia meraih Cristo, yang gemetar, dan mendekapnya ke dada, tetapi ketika hendak meraih León, bocah itu menolak dengan lembut.

"Mama lihat itu?" bisik León, tanpa mengalihkan pandangan dari halaman tempat Dante membersihkan tangannya dengan saputangan sutra. "Dia tidak pakai senjata untuk menembak. Dia pakai rasa takut. Orang itu sudah mati bahkan sebelum Papa menyentuhnya."

"León, cukup!" seru Victoria, suaranya retak oleh kengerian. "Itu bukan sesuatu yang boleh kamu kagumi. Itu kekejaman. Itulah yang menghancurkan kita."

"Bukan, Mama," jawab León, berpaling ke arahnya dengan kematangan yang membekukan jiwa Victoria. "Itulah yang melindungi kita. Kalau orang itu takut, dia tidak akan lagi membiarkan pintu terbuka. Kalau dia tidak takut, Enzo akan masuk."

Malam itu, makan malam bagai sebuah pemakaman. Dante mencoba bersikap seolah tak terjadi apa-apa, tetapi keretakan itu tak lagi bisa dijembatani. Victoria tak sanggup berhenti memandang León, yang makan dengan ketenangan tak tergoyahkan, sementara Cristo bahkan hampir tak mampu memegang sendoknya.

Belakangan, Dante menghampiri Victoria di dapur, berusaha menyentuh bahunya.

"Aku tidak ingin mereka melihat itu, Victoria. Itu kesalahan perhitungan."

"Kesalahan perhitungannya karena mereka melihatnya, atau karena salah satu dari mereka menikmati melihatnya?" Victoria berbalik, matanya menyala oleh air mata dan amarah. "Cristo mimpi buruk, Dante. Tapi León… León mempelajarimu. Dia memandangmu seolah kau sebuah buku petunjuk."

Dante membisu, menyandarkan tubuh ke meja dapur. Satu bagian dari dirinya, bagian yang ingin menyelamatkan Victoria, merasa mual. Tetapi bagian sang Capo, bagian yang tahu bahwa anak-anaknya akan mewarisi sebuah perang, merasakan kebanggaan yang liar dan terlarang.

"Cristo mewarisi hatimu, Victoria," kata Dante dengan suara rendah. "Tapi León mewarisi bajaku. Dan di dunia tempat kita hidup, hati hanya bertahan jika baja itu cukup tajam."

Victoria menjauh darinya, menyadari bahwa kediaman itu telah memenangkan satu pertempuran lagi. Dante tak hanya menghukum seorang pengawal. Ia tanpa sengaja telah menyalakan sakelar terakhir di dalam benak putra sulungnya.

León di kamarnya, berlatih di depan cermin gestur rahang menegang yang sama seperti yang ia lihat pada ayahnya, sementara Cristo, di sisi lain dinding, menangis tanpa suara di bawah selimut. Kesatuan si kembar telah retak: yang satu menemukan bahwa rasa takut adalah sebuah alat, dan yang lain menemukan bahwa rasa takut adalah kenyataan barunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!