Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 KEDOK DAN KEBENARAN

Undangan itu datang dalam amplop kertas kasar berwarna gading, dengan monogram Yayasan Amal Cendana tercetak timbul dengan tinta emas. Maya memegangnya di antara jari-jarinya dan merasakan sebuah getar dingin.

Ia mengenal yayasan itu. Ibunya pernah bertahun-tahun menjadi anggota komite pengurus. Ia dulu menggelar jamuan makan malam, lelang amal, gala. Dan kini, ia akan hadir bukan sebagai Maya Adiwangsa, putri Bramantyo, melainkan sebagai Maya Prakoso, istri sang mafioso.

"Saya tidak bisa datang," katanya, meletakkan amplop itu di meja seolah benda itu membakar.

Bara, yang duduk di seberang meja kerja di perpustakaan, mengangkat pandang dari berkas-berkasnya.

"Anda bisa dan Anda akan datang."

"Anda tidak mengerti?" Maya bangkit dari kursi, mondar-mandir gelisah di ruangan. "Orang-orang itu mengenal saya. Mereka melihat saya tumbuh besar. Mereka teman orang tua saya. Sekarang saya akan muncul di sana, menggandeng lengan Anda, dan semua orang akan berbisik di belakang saya. Mereka akan bilang saya menjual diri, saya menikah demi uang, saya perempuan pemburu kesempatan."

"Dan Anda peduli pada omongan mereka?"

Maya berhenti seketika.

"Tentu saja saya peduli."

Bara menutup map yang sedang ia baca dan menatapnya lekat-lekat. Tatapan kelabu yang menembus itu, yang seakan melihat menembus segala penampilan.

"Di dunia Anda, penampilan adalah segalanya. Aku tahu itu. Karena itulah aku membutuhkan Anda. Karena itulah aku menikahi Anda. Karena Anda tahu cara dunia itu bekerja. Anda tahu cara berpakaian, cara berbicara, cara tersenyum ketika sebenarnya ingin menggigit. Hal itu tak dipelajari di jalanan. Itu diwariskan. Dan Anda mewarisinya."

Maya membuka mulut hendak membantah, tapi Bara melanjutkan.

"Aku tak meminta Anda ingin datang. Aku meminta Anda datang. Kenakan gaun termahal yang Anda beli dengan tiga miliar dariku, tata rambut Anda, poles bibir Anda, lalu melangkahlah di sisiku seolah seluruh dunia adalah milik Anda. Karena selama beberapa jam, memang akan begitu. Dunia akan menjadi milik keluarga Prakoso. Atau Anda lebih suka terus bersembunyi di kediaman ini, menjilati luka sendiri, sementara paman Anda menikmati semua yang ia rampas dari ayah Anda?"

Sebutan tentang Om Mahendra bagai sebuah cambukan.

Maya mengatupkan rahang.

"Baiklah. Saya akan datang."

"Bagus," kata Bara, kembali ke berkas-berkasnya. "Pukul delapan aku menunggu di bawah. Jangan terlambat."

* * *

Gaun itu terbuat dari sutra warna sampanye, rancangan Italia yang dibelikan Bu Marta di sebuah butik eksklusif di kawasan utara kota. Pas benar di tubuhnya, seolah dijahit khusus untuknya.

Sepatu haknya Manolo Blahnik, tinggi menjulang, dan tas clutch-nya berpadu sempurna. Maya menatap dirinya di cermin sebadan penuh di kamarnya, dan nyaris tak mengenali bayangannya sendiri.

Warna pirang rambutnya berkilau di bawah cahaya lampu gantung. Matanya, dirias dengan kehalusan yang diawasi Bu Marta, tampak lebih besar, lebih bening, lebih tajam.

Kalung mutiara yang dipinjamkan Bara kepadanya (dipinjamkan, bukan diberikan, begitu ia menegaskan) melingkari tulang selangkanya bagai sebuah belaian yang membeku.

"Nyonya cantik sekali," kata Bu Marta dari ambang pintu, dan untuk pertama kalinya tak ada nada curiga dalam suaranya. Hanya semacam kebanggaan, seolah ia telah mendandani Maya untuk sebuah pertempuran dan tahu bahwa Maya akan memenangkannya.

"Terima kasih, Bu Marta," jawab Maya, tanpa mengalihkan pandangan dari bayangannya sendiri. "Apa dia sudah siap?"

"Tuan Prakoso selalu siap."

Maya menuruni tangga dengan napas tertahan. Setiap langkah adalah sebuah pernyataan niat. Aku di sini, seakan begitu bunyi hak sepatunya di atas marmer. Aku tidak bersembunyi. Aku tidak malu. Aku tidak menyesal.

Bara sudah menunggunya di ruang penerima tamu.

Setelan hitam, tanpa cela. Rambut disisir ke belakang, memperlihatkan bekas luka di alisnya. Di kerah jasnya tersemat pin emas berbentuk singa, lambang keluarga Prakoso. Maya tak pernah tahu ada lambang keluarga Prakoso. Kini ia tahu.

Ketika melihat Maya menuruni tangga, ada sesuatu dalam raut wajah Bara yang berubah. Amat halus, sekejap kedipan mata, sedikit kerutan di dahi. Tapi Maya menangkapnya.

"Ada apa?" tanyanya, berhenti di anak tangga terakhir.

Bara menggeleng.

"Tidak ada. Ayo."

Ia menawarkan lengannya. Maya menyambutnya. Sentuhan itu, bahkan melalui kain setelan, mengalirkan getar hangat menjalari lengannya.

Mereka keluar bersama, suami dan istri, menuju mobil yang sudah menanti.

"Anda akan baik-baik saja," kata Bara pelan, sementara Maserati itu meluncur di jalan setapak berbatu.

Maya menatapnya, terkejut.

"Anda sedang menghibur saya?"

"Bukan. Aku hanya menyatakan sebuah fakta. Anda seorang Adiwangsa. Anda terlahir untuk ini. Aku hanya pelengkap."

Maya nyaris tersenyum.

Nyaris.

* * *

Gala itu digelar di Hotel Majestic, yang termewah di kota. Pintu masuknya adalah karpet merah yang diapit para fotografer, wartawan gaya hidup, dan orang-orang yang penasaran. Maya sudah puluhan kali melangkah di karpet itu, selalu menggandeng lengan ayah atau ibunya. Tak pernah menggandeng lengan Bara Prakoso.

"Tersenyum," bisik Bara sewaktu mereka turun dari mobil.

Maya tersenyum.

Senyum sempurna, terlatih, senyum yang telah ia pelajari di ruang-ruang pertemuan ibunya. Gigi putih, bibir merah ceri, mata berbinar. Bisa jadi foto sampul majalah.

Kilatan blitz meledak di sekeliling mereka.

"Tuan Prakoso! Nyonya Prakoso! Ke sini! Satu foto!"

Nyonya Prakoso. Nama itu terdengar seperti pengkhianatan di telinganya. Tapi ia mempertahankan senyumnya. Sambil terus menggandeng lengan Bara, ia melangkah di karpet merah itu seolah karpet itu miliknya.

Seolah kediaman Prakoso selalu menjadi bagian dari hidupnya. Seolah pernikahan itu adalah akhir wajar sebuah dongeng, dan bukan pakta putus asa seorang perempuan yang telah kehilangan segalanya.

Di dalam, ruang pesta adalah ledakan cahaya, bunga, dan permata. Meja-meja berselimut taplak linen putih, dan di tengah tiap meja tertata rangkaian anggrek dan lilin.

Sampanye mengalir bagai air. Para pelayan berbusana pesta menyodorkan nampan berisi kanape yang tampak seperti karya seni.

Maya mengenali hampir semua tamu. Di sana ada Bu Damayanti, ketua yayasan, dengan gaun merah dan untaian mutiara besarnya.

Di sana ada dokter Handoko, ahli bedah plastik para selebritas, bersama istrinya yang dua puluh tahun lebih muda. Di sana ada keluarga Danuwijaya, pemilik jaringan supermarket, bersama ketiga putri mereka yang siap dinikahkan.

Dan semua mata memandang ke arahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!