Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Ardi menatap layar ponselnya dengan senyum sinis yang mengembang lebar.
"Beli sekarang juga," ucap Ardi dengan nada dingin dan penuh perhitungan.
Jari telunjuknya langsung menekan tombol konfirmasi di layar ponsel tanpa keraguan sedikit pun.
[Memproses transaksi khusus...]
[Pembelian saham mayoritas PT. Teknologi Nusantara berhasil.]
[Saldo Anda terpotong Rp1.]
[Selamat, Anda kini adalah pemegang saham mayoritas sebesar 85 persen.]
Ardi tertawa pelan melihat deretan pemberitahuan dari antarmuka emas itu.
"Hanya dengan koin satu rupiah, aku menjadi pemilik tempatmu mencari makan, Bagas," gumam Ardi.
Tidak lama setelah notifikasi itu muncul, ponsel Ardi mendadak berdering menampilkan nomor telepon nomor rumah yang tidak dikenal.
"Halo, dengan Tuan Ardi?" sapa suara pria paruh baya yang terdengar sangat gugup dari seberang telepon.
"Ya, ini aku sendiri," jawab Ardi santai sambil bersandar di jok kulit mobilnya.
"Hormat saya Tuan Ardi, saya Herman, Direktur Utama PT. Teknologi Nusantara."
"Oh, Pak Herman ya," balas Ardi tersenyum puas karena sistem kerjanya sangat cepat.
"Kami baru saja menerima pemberitahuan mendadak dari bursa saham tentang pemindahan kepemilikan mayoritas secara instan."
"Saya dan seluruh jajaran direksi siap menerima perintah Anda Tuan," lanjut Herman dengan nada sangat hormat hingga nyaris bergetar.
"Bagus, aku akan datang ke kantor kalian sekarang juga," ucap Ardi tanpa basa-basi.
"Apakah Anda ingin kami menyiapkan karpet merah dan upacara penyambutan Tuan?" tanya Herman panik dari seberang telepon.
"Tidak perlu berlebihan, aku hanya ingin melakukan inspeksi mendadak hari ini," jawab Ardi melarang keras.
"Terutama di divisi pemasaran," tambah Ardi dengan nada yang mendadak berubah menjadi sangat dingin.
"Baik Tuan, kami akan segera menyiapkan ruangan dan seluruh laporan untuk Anda."
Tut.
Ardi mematikan sambungan telepon itu secara sepihak dan melempar ponselnya ke dasbor.
Vroom!
Suara raungan mesin V8 Ferrari SF90 kembali memecah keheningan jalanan.
Ardi memacu mobil hiper mewahnya itu membelah jalanan menuju kawasan pusat bisnis Jakarta.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Ardi untuk sampai di depan gedung perkantoran megah berlantai tiga puluh itu.
Gedung berlapis kaca yang menjulang tinggi itu adalah markas besar PT. Teknologi Nusantara.
Cittt!
Ardi memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk lobi utama gedung secara sembarangan.
Kedatangan mobil seharga belasan miliar itu tentu saja langsung membuat heboh para karyawan yang sedang berlalu lalang untuk istirahat.
Dua orang satpam berseragam rapi langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri mobil Ardi.
"Maaf Tuan, area depan lobi ini dilarang untuk parkir," ucap salah satu satpam bertubuh tinggi sambil membungkuk hormat.
Pintu mobil terbuka ke atas secara hidrolik dan Ardi melangkah keluar dengan setelan jas biru dongkernya yang mewah.
"Tolong parkirkan mobilku di area VIP khusus direktur," perintah Ardi sambil melemparkan kunci pintarnya ke arah satpam itu.
Hap!
Satpam itu menangkap kunci dengan tangan gemetar dan langsung mengangguk patuh melihat aura dominan Ardi.
"Baik Tuan, laksanakan segera!" jawab satpam itu tanpa berani membantah sama sekali.
Ardi merapikan kerah jasnya dan berjalan santai memasuki lobi utama yang sangat luas dan berlapis pualam.
Dia langsung menuju meja resepsionis panjang yang dijaga oleh dua wanita cantik berseragam biru muda.
"Selamat siang Tuan yang tampan, ada yang bisa kami bantu hari ini?" sapa salah satu resepsionis bernama Sinta dengan senyum sangat manis.
"Lantai berapa divisi pemasaran berada?" tanya Ardi tanpa membalas senyuman wanita itu.
"Divisi pemasaran ada di lantai lima belas Tuan," jawab Sinta sopan sambil menunduk.
"Apakah Tuan sudah membuat janji temu sebelumnya dengan manajer pemasaran kami?" tanya rekan Sinta di sebelahnya dengan nada menyelidik.
"Aku tidak butuh janji temu dengan manajer rendahan di perusahaan ini," jawab Ardi sinis dan tajam.
Ardi langsung berbalik badan dan melangkah mantap menuju lorong lift khusus petinggi perusahaan.
"Eh Tuan tunggu dulu, Anda tidak boleh memakai lift VIP itu!" panggil Sinta dengan nada panik mengejar Ardi.
Namun Ardi sama sekali tidak mempedulikan teguran itu dan terus melangkah masuk ke dalam lift yang pintunya terbuka.
Ting!
Pintu lift berdenting dan terbuka perlahan di lantai lima belas.
Ardi melangkah keluar dan langsung disambut oleh kesibukan luar biasa dari puluhan karyawan divisi pemasaran.
Suara ketikan papan tik komputer dan dering telepon terdengar bersahut-sahutan memenuhi ruangan ber-AC itu.
Namun, ada satu suara lantang yang sangat mendominasi ruangan besar itu dan membuat Ardi tersenyum sinis.
"Kalian semua ini sebenarnya orang bodoh atau memang malas hah!" bentak sebuah suara pria yang sangat familiar di telinga Ardi.
Ardi menghentikan langkahnya sejenak dan melipat tangannya di dada melihat pemandangan di ujung ruangan.