Olivia Kania Smith mati dengan tragis ditangan adik angkatnya.
Olivia tidak tahu selama ini, kenapa keluarga kandungnya begitu sangat membencinya, dan bahkan juga teman-temannya sangat membencinya.
Mereka lebih percaya, dan perhatian kepada adik angkat Olivia.
Hingga pada detik terakhir Olivia akan mati, barulah ia tahu kenapa semua orang sangat membencinya.
Suara hati adik angkatnya dapat didengar semua orang, kecuali dia!
Siapa sangka, setelah kematian tragisnya, ia dapat mengulang kembali kehidupannya, dan dapat mendengar suara hati adik angkatnya.
Bagaimana sikap Olivia menghadapi keluarga kandungnya, setelah kehidupan ke duanya untuk membalas sakit hatinya pada kehidupan sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25.
Vincent melirik ke arah anak buahnya, lalu menggerakkan tangannya memberi kode kepada mereka.
Anak buah Vincent dengan cepat bergerak menangkap Hans, beserta teman-teman Hans, dan juga dengan Lydia.
"Hah?!!" Lydia terkejut tangannya di cengkraman ke balik punggungnya, lalu kemudian bahunya ditekan, sehingga tubuhnya pun menunduk.
"Lepaskan aku!!!" Hans berontak melepaskan diri dari cengkraman anak buah Vincent.
Usahanya sia-sia, karena tenaga anak buah Vincent lebih kuat darinya.
"Bawa mereka ke kantor Polisi!!" perintah Vincent.
Lydia dengan kuat menarik tangannya begitu mendengar apa yang perintahkan Vincent.
Ia menghambur ke arah Hans, begitu ia dapat melepaskan diri, lalu memasang badan melindungi untuk Hans.
Lydia merentangkan ke dua lengannya, agar Hans tidak di bawa pergi ke kantor Polisi.
Hans menjadi terharu melihat Lydia melindunginya.
"Tunggu sebentar! Hans memukul, semuanya karena aku! aku tidak tahu salahku di mana, sampai kak Olivia marah!!"
Olivia lekat memandang Lydia, mendengar nada sedih Lydia yang berpura-pura kasihan, membuatnya menghela nafas.
Ia menjadi sangat kesal, dan emosi mendengar Lydia masih saja tidak mengakui, kalau Lydia sudah memprovokasi teman-teman sekelas mereka agar ribut dengannya.
"Kak Vincent, kalau kamu tidak suka, kamu bisa suruh aku apa saja, aku mau kok!" seperti biasa suara Lydia terdengar begitu sedih, dan juga lembut untuk memikat Vincent.
Hal yang biasa ia lakukan kepada para mahasiswa, agar mereka tersentuh dengan keadaannya, dan merasa kasihan kepadanya.
Lalu akhirnya akan membela, serta berpihak padanya, dan kemudian memusuhi Olivia.
Wajah datar dan dingin Vincent menjadi semakin dingin mendengar suara Lydia, yang terdengar begitu kasihan.
Olivia tidak percaya melihat cara Lydia memikat Vincent, agar Vincent tidak mempermasalahkan lagi apa yang sudah terjadi.
"Laki-laki sangat suka perempuan yang lemah lembut, aku tidak percaya, kalau Vincent tidak tahan dengan godaan perempuan lembut sepertiku" bisik Lydia bergumam pada dirinya sendiri.
Ia diam-diam tersenyum penuh kemenangan melirik ke arah Vincent, dengan gestur tubuh memikat Vincent.
Vincent menoleh ke arah Lydia, "Ngapain saja, boleh?" tanya Vincent dengan tatapan matanya, yang selalu dingin dan datar memandang Lydia.
Mulut Olivia sampai terbuka tidak percaya mendengar Vincent menanggapi perkataan Lydia.
Ia tidak menyangka, Vincent sama juga dengan yang lainnya, begitu mudahnya terpengaruh dengan perkataan memikat Lydia.
Lydia terlihat begitu senang mendengar pertanyaan Vincent.
Akhirnya Vincent berhasil ia dapatkan, hanya dengan cara ia bicara lemah lembut, dan terdengar sangat kasihan.
Lydia dengan cepat menganggukkan kepalanya menjawab Vincent, dengan tatapan mata berbinar memandang Vincent.
"Iya!"
"Kalau begitu, pergi lah mati sana!" suara Vincent terdengar begitu tenang memberi jawaban kepada Lydia.
"Hah?!!" mata Lydia membulat mendengar apa yang diinginkan Vincent.
Hans sampai terkejut menoleh, memandang Lydia yang terkejut mendengar jawaban Vincent.
Olivia nyaris tertawa dengan ngakak mendengar apa yang dikatakan Vincent.
Ternyata Vincent sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap pura-pura lemah lembut Lydia.
Pertengkaran, dan pemukulan yang sudah berada dalam kendali Vincent, Dosen mereka baru sampai menaiki anak tangga ke pelataran balkon.
"Berhenti! berhenti! cepat berhenti!!!"
Dosen itu tanpa melihat keadaan yang sudah terkendali, berteriak melerai sembari mengulurkan tangannya.
Vincent memutar tubuhnya melihat ke arah Dosen Olivia, yang terdengar langsung menegur Olivia.
"Olivia! kau sudah gila, ya?!!"
Olivia terperangah memadang Dosennya, yang seketika mengarahkan permasalahan yang ada, kalau ia lah penyebab utamanya, tanpa menanyakan apa yang sebenarnya yang sudah terjadi.
"Kau berani-beraninya mau membunuh temanmu! Hah?! apa kau tidak tahu ini ada di mana??!"
"Sudah tanya alasannya, belum?" tanya Olivia memandang Dosennya dengan tatapan tajam.
Dosen yang sama juga sama dengan temannya yang lain, lebih mendengarkan pada satu pihak saja.
Bersambung........
..