Indonesia
NovelToon NovelToon
Qin Yuchen : Seni Dewa Naga

Qin Yuchen : Seni Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Di Tanah Soul Martial, hukum rimba adalah segalanya — hanya kekuatan yang menentukan hidup dan mati. Para kultivator menembus langit, para raksasa mengguncang bumi, dan setiap jiwa bermimpi meraih matahari serta bintang.

Namun, takdir berputar.Qin Yuchen, Raja Dewa yang pernah menguasai Alam Atas, jatuh ke jurang kehancuran. Dari abu kehancuran itu, ia bangkit kembali dalam tubuh seorang pemuda biasa di perbatasan barat, membawa rahasia terlarang: Seni Dewa Naga Kekacauan

Dengan seni ilahi itu, ia menapaki jalan berdarah — menantang langit, menundukkan bumi, dan menyingkirkan segala jenius yang berani menghalangi. Perjalanan menuju takhta tertinggi pun dimulai, sebuah kisah tentang kebangkitan yang akan mengguncang seluruh jagat raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Membasmi Keluarga Yan

Beruang grizzly itu menerkam. Tubuh Qin Yuchen melesat menghindar, tapi cakar tajam lawan sempat menyapu, merobek pakaiannya dan menoreh beberapa tetes darah.

Gerakannya cukup cepat, tapi belum sempurna menghindar.

"Awal yang buruk. Mari lihat bagaimana aku akan menghabisi mu."

Ia mundur dua langkah, melirik luka dangkal di dadanya. Ini akibat kesadaran dan tubuh yang belum sepenuhnya menyatu—sederhananya, fisiknya masih terlalu lemah.

*Trang!* Ia menghunus Pedang Awan Mengalir dari punggungnya. Namun sedetik kemudian—*trang!*—ia menyarungkan nya kembali. Ia ingin bertarung jarak dekat; hanya dengan cara itu ia bisa berlatih dengan maksimal.

Menghadapi beruang yang kembali menerkam, Qin Yuchen malah bertepuk tangan—memancing amarahnya semakin membara.

Beruang itu meraung dan menerjang. Alih-alih mundur, Qin Yuchen justru merendahkan tubuh dan maju. Kedua tinjunya melesat secepat kilat—satu mengenai dagu, satu lagi mengenai leher beruang itu.

Auman kesakitan menggema, tubuh besar itu terlempar ke belakang. Setelah berjuang bangkit, ia kembali menerjang.

Senyum tipis terukir di bibir Qin Yuchen. Dengan Sembilan Langkah Istana, ia dengan mudah menghindar dan berputar ke samping, lalu—*buk, buk, buk!*—melayangkan tiga pukulan berat berturut-turut ke pinggang dan perut beruang. Tubuh raksasa itu terguncang dua kali sebelum akhirnya ambruk.

Tanpa membuang kesempatan, Qin Yuchen melompat tinggi, menekuk kaki, lalu menghantamkan jurus Seribu Kati ke leher beruang yang tumbang.

*KRAK!*

Mata beruang itu meredup, darah mengalir deras dari hidung dan mulutnya—napas terakhirnya keluar tapi tak pernah masuk lagi.

Qin Yuchen mencabut Pedang Awan Mengalir dan menusuknya sekali lagi untuk memastikan. Empedu berwarna hijau kehitaman muncul di tangannya—bahan alkimia yang sangat berharga, sayang untuk disia-siakan. Ia memotong keempat cakar beruang itu, memasukkannya ke tas, lalu bersiap pergi.

*Prok, prok, prok!*

Tepuk tangan tiba-tiba terdengar. Tiga pemuda melangkah keluar dari semak-semak.

"Tak kusangka si sampah terkenal itu benar-benar berubah jadi jenius. Sekarang bahkan bisa membunuh beruang."

"Siapa kau?" Alis Qin Yuchen sedikit berkerut. Ia terlalu fokus melawan beruang tadi hingga tidak menyadari kedatangan mereka—kelemahan serius dari kekuatannya yang masih rendah.

"Hmph, kau melumpuhkan adikku, dan kau bahkan tidak tahu dia punya kakak. Hari ini aku datang untuk melumpuhkanmu."

"Aku tidak kenal kau."

"Yan Hua, kakak Yan Bo. Sekarang kau sudah tahu, kau bisa mati dengan tenang!" ucapnya dengan wajah garang.

"Oh, jadi bukan melumpuhkan, tapi membunuh," ejek Qin Yuchen.

"Pertama kulumpuhkan, kubiarkan kau menderita tanpa henti, baru kubunuh!"

Tatapan Qin Yuchen seketika mendingin.

"Lumpuhkan dia!" perintah Yan Hua. Dua pemuda berusia enam belas-tujuh belas tahun di sampingnya langsung menghunus pedang, menyerang serentak.

Qin Yuchen menggerakkan kaki, tubuhnya bergoyang lentur seperti dahan willow. Kedua pedang itu meleset total. Sebelum mereka sempat bereaksi, Pedang Awan Mengalir sudah melesat.

*Cras, cras!* Dua kepala terlempar ke udara sekaligus.

Mati seketika—dua nyawa dalam satu gerakan.

Mulut Yan Hua membentuk huruf O besar, cukup untuk memuat telur bebek. Ia pernah dengar Qin Yuchen membunuh Lu Chen dan mengalahkan Wei Shan, tapi belum pernah menyaksikannya langsung. Apalagi kali ini ia membawa dua pembantu—seharusnya cukup untuk membunuh Qin Yuchen dengan kekuatan gabungan. Tapi kenyataannya, kedua rekannya langsung tewas tanpa perlawanan.

Sialan. Si sampah ini benar-benar sudah melambung jadi jenius yang tak tertandingi.

"Bicara, siapa yang menyuruhmu kemari? Sebut tuanmu, mungkin akan kuampuni nyawamu," ucap Qin Yuchen datar sambil meniup noda darah dari pedangnya.

"Ti-tidak ada!" Yan Hua tergagap.

"Kuberi kesempatan hidup, kau tolak sendiri. Jangan salahkan aku." Qin Yuchen memang tak pernah berniat membiarkannya hidup. Siapa pun dalang di balik Yan Hua tidak penting—selama musuh, ia tidak akan berbelas kasih.

Ia mendorong tubuh dengan kedua kaki, melesat seperti macan tutul yang menerkam. Cahaya pedang bagai pelangi menembus lurus ke arah Yan Hua.

Pandangan Yan Hua kabur seketika—ujung pedang yang masih berlumur darah sudah berada tepat di depan matanya. Cepat sekali!

Keringat dingin membasahi dahinya. Ia mundur cepat sambil menebaskan Pedang Qingfeng-nya—Yan Hua berada di Alam Kesembilan dengan pengalaman tempur yang cukup kaya, ia tahu menghindar mustahil, jadi satu-satunya cara adalah bertaruh nyawa, memaksa Qin Yuchen mengubah arah serangan.

Dan ia berhasil.

Tapi hasilnya jauh berbeda dari perkiraannya. Qin Yuchen memang mengubah gerakan—pedang yang tadinya lurus menusuk tiba-tiba berbelok tajam, melesat melewati pergelangan tangannya.

*Trang!*

Tangan Yan Hua terputus, jatuh bersama pedangnya.

"Ampun—" Permohonannya terputus di tengah jalan.

Cahaya pedang menyambar. Sebuah kepala melayang ke udara.

Qin Yuchen mengibaskan darah dari bilahnya. "Kau memohon terlalu terlambat."

"Ketiga orang ini ternyata miskin," gumamnya sambil menggeledah jasad mereka. Hasilnya hanya seribu enam ratus tael uang perak, lima lembar emas, dan beberapa pil pemurnian tubuh biasa yang bahkan tak ia sentuh.

Ia tak repot mengurus ketiga mayat itu—di hutan pegunungan ini, aroma darah akan segera mengundang binatang buas untuk melahapnya habis dalam waktu singkat.

---

Tiga hari berlalu sejak Qin Yuchen memasuki Pegunungan Liar Barat.

Ia bergerak lincah seperti musang di antara pepohonan. Tiba-tiba Pedang Awan Mengalir yang tergantung di tangannya berayun, tepat memotong setengah kepala ular piton hitam sebesar mangkuk yang melata turun dari pohon.

Beberapa kilatan pedang susulan langsung membelah tubuh ular itu jadi beberapa bagian.

Ia menyimpan empedu ular itu, tanpa menyadari jejak Qi berwarna ungu yang melayang keluar dari sisa tubuhnya—langsung tersedot masuk ke Cincin Penyimpanan di jari tengah kirinya.

Di dalam cincin itu, potongan kecil Tulang Metatarsal Naga Purba pemberian Ji Tianyun melayang diam. Perlahan ia menyerap setiap tetes Qi ungu yang masuk, berkilau sebentar, lalu jatuh kembali ke dasar ruang penyimpanan.

Qin Yuchen memetik beberapa tanaman obat berkualitas dan buah liar di sepanjang jalan, lalu melanjutkan perjalanan lebih dalam ke pegunungan.

Tiba-tiba, sebuah teriakan nyaring menarik perhatiannya.

Raungan binatang buas memang terdengar terus sepanjang perjalanan, tapi biasanya dari kejauhan. Teriakan ini terasa sangat dekat—dan entah kenapa, terasa akrab.

Tanpa sadar, langkahnya menyimpang dari rute semula, mengikuti arah suara itu.

Setelah menerobos semak lebat, ia melihat puncak gunung aneh menjulang di depannya, menyerupai tiga jari raksasa yang menembus langit. Di bawah cekungan tiga puncak itu, terdapat sebuah kolam kecil dengan air sebening kristal.

Setelah memastikan tidak ada bahaya di sekitar, ia melangkah cepat ke tepi kolam. Ia membasuh wajahnya, lalu menangkupkan tangan untuk minum. Saat hendak mengambil tegukan ketiga, ia terkejut melihat pantulan sosok raksasa di permukaan air yang jernih.

Seekor elang raksasa.

1
Ardi ansyah
saling support ka The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny. bantu saling berkembang
Pecinta Gratisan
bunuhlah
nanonano
mantap
Friska trisna
Semangat thor💪
Ardi ansyah: saling support kak The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!