Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI YANG TERABAIKAN

Malam minggu di pusat kota selalu dipenuhi cahaya lampu neon yang berkilau dan riuk pikuk manusia. Di balik kaca besar sebuah restoran dekat stasiun, aku duduk memandang jalanan kota dari lantai dua.

Di seberang mejaku, Haruto tampak sangat keren dengan kemeja hitamnya. Ia sedang asyik memotret hidangan makan malam kami, lalu mengunggahnya ke akun media sosialnya.

Aku tersenyum manis, memegang gelas minumanku. Ini adalah pengalaman pertama bagiku mendatangi tempat seindah ini. Namun, ketika hidangan penutup tiba, aku baru menyadari sebuah masalah kecil.

Pramusaji salah membawakan pesananku. Aku yang memesan puding vanila, justru diberi kue cokelat tebal yang mengandung kacang makanan yang sangat membuatku alergi.

Aku panik pelan. Aku mengetuk meja, lalu mencoba memberi isyarat tangan kepada pramusaji yang berdiri di dekat meja kami. [Maaf, ini salah pesanan,] jemariku bergerak refleks.

Pramusaji itu mematung bingung. "Maaf, Mbak? Bicara apa ya?"

Haruto yang melihat interaksi itu mendadak menghentikan aktivitas ponselnya. Wajahnya yang tadinya cerah berubah sedikit cemberut. Dengan hembusan napas kasar yang agak tertahan, ia meraih ponselnya dan mengetik kasar untukku:

‘Hana, jangan pakai bahasa tangan ke pelayan. Mereka tidak paham dan jadi bingung. Ketik saja di ponselmu atau biar aku yang bicara.’

Rasa hangat di dadaku mendadak surut. Ada sengatan canggung yang mengaliri perasaanku.

Haruto kemudian mengibaskan tangannya dipenuhi nada ketidak sabaran pada pramusaji. "Mas, ini salah. Dia pesan puding vanila, bukan ini. Tolong ganti ya."

Pramusaji itu mengangguk cepat seraya meminta maaf lalu membawa kembali piringnya. Haruto menghela napas panjang, lalu kembali bersandar di kursinya. Ia tidak menatap mataku, melainkan kembali menyalakan layar ponselnya yang terus berdering oleh notifikasi pesan dari teman-teman grupnya.

Di dalam kesunyianku, aku menunduk menatap jemariku sendiri di atas pangkuan.

Untuk pertama kalinya malam itu, sebuah ingatan tentang Kaito mendadak melintas di benakku.

Jika aku bersama Kaito... hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Kaito tidak akan pernah membuatku merasa bersalah atau malu karena menggunakan bahasa isyarat di tempat umum. Kaito selalu menjadi jembatanku. Bila ada pelayan yang bingung, Kaito akan menerjemahkan isyaratku dengan tenang, bangga, dan tersenyum lembut seolah bahasa tanganku adalah bahasa terindah di dunia.

Kaito tidak pernah merasa terbebani oleh keterbatasanku.

[Kamu tidak apa-apa?]

Sebuah pesan dari Haruto masuk ke ponselku, memecahkan lamunanku. Haruto tersenyum tipis di seberang meja. Aku buru-buru mengangguk dan mengulas senyum terbaikku, berusaha mengusir bayangan Kaito dari pikiranku. Aku membesarkan hatiku sendiri: Haruto kan belum terbiasa. Nanti kalau sudah lama, dia pasti paham.

Sekitar jam sembilan malam, kami menyusuri trotoar menuju stasiun kereta . Tiba-tiba, hujan deras secara turun mengguyur kota. Gemuruh angin mengocok pepohonan di sepanjang jalan.

Kami berlari kecil memasuki area Stasiun Kereta. Suasana stasiun lumayan ramai oleh lalu lalang penumpang yang membawa payung basah.

Saat kami berjalan menuju peron jalur rumahku, Haruto mengetik pesan di ponselnya: ‘Hana, maaf ya aku tidak bisa menemanimu naik kereta sampai rumah. Keretaku ke arah rumah ku beda jalur dan akan tiba lima menit lagi. Kamu berani pulang sendirian naik kereta?’

Aku mengangguk, mengetik balasan: ‘Iya, aku biasa naik kereta sendirian kok. Terima kasih untuk malam ini ya, Haruto! Hati-hati di jalan.’

Haruto tersenyum, menepuk bahuku pelan, lalu berbalik melangkah menuju peron jalurnya.

Setelah Haruto pergi, aku berjalan menyusuri koridor peron menuju jalur kereta arah rumah ku. Udara malam terasa makin dingin dan basah.

Saat aku berjalan mendekati area tempat duduk peron, mataku menangkap sosok seorang pria yang berdiri kaku di balik pilar stasiun.

Pria itu mengenakan jaket tebal yang agak basah di bagian bahunya. Ia memegang sebuah kantong plastik putih dari apotek di tangan kirinya, dan sebuah payung lipat berukuran besar di tangan kanannya.

Jantungku serasa berhenti berdetak sejenak.

Itu Kaito.

Kaito berdiri membisu di sana. Di balik kacamata tipisnya yang agak berembun, sepasang matanya yang teduh sedang menatap lurus ke arahku atau lebih tepatnya, menatap ke arah Haruto yang baru saja berjalan menjauh di peron sebelah.

Aku mematung di tempatku berdiri. [Kaito?] jemariku bergerak memegang tali tas, membalas tatapannya dengan rasa terkejut. [Kenapa kamu ada di stasiun ini? Malam-malam begini di tengah hujan?]

Kaito tersentak pelan. Ia seolah baru tersadar dari lamunannya.

Secara refleks, Kaito buru-buru menyembunyikan payung besar tambahan di tangan kanannya ke belakang tubuhnya, lalu menyusupkan kantong plastik apotek itu ke dalam saku jaket tebalnya.

Ia melangkah mendekat sedikit dari pilar, menyunggingkan sebuah senyuman—senyuman yang terasa sangat dipaksakan dan rapuh.

Tangannya terangkat ke udara, membentuk bahasa isyarat yang agak gemetar karena dinginnya malam. [Ah, Hana. Aku... aku baru saja selesai membeli beberapa buku di dekat sini. Tidak sengaja terjebak hujan di stasiun.]

Aku menatap Kaito heran. [Lalu kenapa tidak langsung naik kereta duluan? Rumah kita kan searah?] tanganku bergerak bertanya.

Kaito menatap mataku lama. Ada keheningan yang begitu dalam menyelimuti kami di tengah deru suara hujan yang membentur atap stasiun.

Sebenarnya, Kaito sudah berdiri di peron dingin itu selama lebih dari satu jam. Ia tahu aku alergi udara dingin dan sering lupa membawa obat flu. Kaito sengaja membelikan obat itu dan membawa payung yang lebih besar dari rumah untuk menjemputku di stasiun pusat kota karena tahu hujan turun deras. Ia hanya ingin memastikan aku berjalan pulang bersama dari stasiun ke kompleks rumah kami dengan aman.

Namun, saat melihat aku berjalan bersama Haruto seraya tersenyum bahagia, seluruh keberanian Kaito runtuh seketika. Ia merasa kehadirannya hanya akan menjadi pengganggu.

Kaito mengusap kacamata tipisnya yang basah oleh bintik air, lalu jemarinya kembali menari perlahan.

[Aku baru ingat ada barang yang tertinggal di kampus, aku harus kembali ke sana dulu,] Kaito berbohong melalui isyarat tangannya. [Lagipula... kelihatannya kamu baru saja bersenang-senang dengan Haruto. Senang melihatmu tersenyum bahagia.]

Aku tertegun. Kata-kata isyarat Kaito tidak mengandung amarah, tetapi nadanya terasa sangat... jauh. Seolah-olah ada tembok kaca tak terlihat yang baru saja ia dirikan di antara kami berdua.

[Kaito, aku—]

Belum sempat aku membalas isyaratnya, suara gemuruh kereta api yang masuk ke peron memecahkan keheningan. Kereta menuju arah rumah kami telah tiba dan pintunya terbuka lebar.

Kaito berbalik. Ia sengaja tidak ikut naik ke dalam kereta bersamaku.

[Keretamu sudah datang. Pulanglah dan segera mandi air hangat, Hana. Jangan sampai sakit,] Kaito membentuk isyarat itu untuk terakhir kalinya tanpa menatap mataku lagi, lalu melangkah berjalan berlawanan arah menembus kerumunan orang.

Aku melangkah masuk ke dalam gerbong kereta seorang diri. Melalui jendela kaca kereta yang perlahan melaju, aku bisa melihat bayangan Kaito berdiri sendirian di peron seraya menundukkan kepala. Bahunya tampak bergetar pelan di balik jaket tebalnya.

Kereta melaju makin cepat, meninggalkan stasiun dan bayangan Kaito di belakangku.

Aku duduk di bangku gerbong yang sepi. Di dalam genggaman tanganku, tali tas terasa sangat dingin. Ada rasa sesak yang aneh dan menusuk di dalam dadaku sebuah perasaan asing bahwa malam ini, aku baru saja membiarkan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku terlepas begitu saja dari genggamanku.

Dan kebodohanku... terus berjalan tanpa bisa kuhentikan.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!