Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Kabut tebal membungkus lereng perbatasan timur desa bagaikan tirai hitam. udara dingin mengigit tulang, namun bagi empat anggota The apex Hunters yang bersembunyi dibalik jajaran pohon pinus rasa dingin itu teralih oleh gairah memburu imbalan.

Diatas bukit kecil, senapan berkaliber tinggi dengan peredam suara sudah terpasang rapi diatas kaki tiga, moncongnya mengarah tepat ke arah rumah panggung dilembah bawah.

"Kalu kita bisa dapetin kepalanya, kita bakalan jadi orang terkaya di dunia nih" seringai orang yang memegang senapan itu. "Target utama utama dan istrinya ada didalam rumah"

"Tunggu sampai dia keluar dari rumah.Satu peluru untuk mantan bos The Black Dragon dan satu peluru, satu peluru lagi untuk istrinya, seratus juta dolar milik kita"Bisik pemimpin lapangan lewat lewat radio komunikasi Internal.

"Mengerti, Kapten" Sahut penembakan jitu kedua dari balik semak-semak, jemarinya siap menambahkan sniper di atas pemicu.

Namun, penembak jitu kedua sama sekali tidak menyadari, bahwa dibalik punggungnya, bayangan pohon pinus mendadak bergerak perlahan.

Krak

Tada teriakannya atau hembusan napas panjang, leher penembak jitu kedua itu patah. Tubuhnya mendadak tak bernyawa ditangkap dengan sangat halus oleh Arka sebelum sempat menyentuh tanah. tidak ada bunyi gesekan daun dedaunan kering. Pria berkaos oblong yang tadi menumbuk bumbu kacang sambil tersenyum manis ke istrinya itu, kini berdiri tegak di tengah kegelapan. Matanya memancarkan aura kematian yang dingin, pekat dan tak bersuara.

Arka melangkah tampa jejak, Gerakannya sehalus embun malam, meliuk diantara batang-batang pohon pinus tanpa menghasilkan getaran sedikit pun.

Penembak jitu yang beradal lima meter disebelah kanan mendadak merasakan hawa dingin yang janggal merayap dilehernya. Sebelumnya jemarinya sebelum jemarinya sempat menarik pemicu senjata atau berteriak memanggil rekan-rekannya, sebuah belati perak yang terbuat dari logam menembus di persendian leher. Arka menarik tubuh pria itu kedalam semak-semak tanpa sedikitpun suara, mencabut belatinya, lalu menyapu darah yang masih menempel dibilah logam menggunakan

yang biasa ia kantongi didalam celemek.

"Alpa tiga, laporkan posisimu." suara pemimpin lapangan terdengar samar dari earpiece milik mayat dibawah kaki Arka.

Keheningan malam menjadi satu satunya jawaban.

Sang kapten mendadak membeku. Insting bertahannya ada hal yang mengerikan yang sedang terjadi.Ia mencoba memutar badannya dengan cepat sambil menarik pistol taktis dipinggangnya. Namun, ujung laras dingin sudah menempel tepat di pelipisnya.

Arka berdiri disana, menatap pria itu tanpa ekpresi sedikitpun. Tatapan matanya yang tadi siang begitu lembut dan penuh pengabdian pada Kinanti, kini telah sepenuhnya menjelma menjadi tatapan iblis pencabutan nyawa yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun.

"Siapa... siapa kau? "bisik sang kapten dengan bibir gemeteran hebat. Keringat dingin membasahi dahi dan matanya. pemindai suhunya bahkan tidak sempat menangkap pergerakan sosok didepannya.

"Pria yang rumahnya baru saja kamu bidik "sahut Arka datar, suaranya bak vonis langsung dari dasar neraka. " Kamu melanggar aturan didunia bawah"

"B-Bounty itu..seratus juta dolar kami hanya menjalankan tugas... "

Bruak

Arka tidak membiarkan pria itu melanjutkan kalimatnya, Dengan satu cengkraman cepat dan hantaman fatal dititik vital tenggorokan, pimpinan lapangan The apex Hunters itu ambruk tak bernyawa.

"Pastikan ngga ada jejak darah yang tersisa, Aku harus pulang sebelum istriku bangun"Perintah Arka dingin pada anak buah Lingga yang muncul dari bali bayangan.

Satu jam kemudian matahari sudah muncul dari arah timur, Cahaya keemasan menerobos masuk

menembus celah jendela kamar rumah panggung. Kinanti menggeliat pelan. perlahan membuka matanya, rasa hangat merayap di seluruh tumbuhnya.

Saat memutar badan, Ia melihat Arka sudah berbaring tepat disampingnya. Suaminya tertidur lelap dengan wajah tampak begitu polos, damai dan tanpa dosa. Tangan Arka yang posesif melingkar dipinggangnya, memelukkunya rapat seolah takut kehilangan wanita tercantik didunia.

Kinanti tersenyum manis. Ia mengusap lembut pipi Arka, menghirup aroma tubuh suaminya yang masih tercium wangi sabun beraroma mangga yang wangi.

"Mas Arka..."bisik Kinanti pelan, mengecup pipi suaminya penuh kasih sayang"Makasih ya udah selalu ada nemenin Kinanti"

Arka perlahan membuka kedua bola matanya, menatap Kinanti dengan binar hangat yang meluluhkan hati, senyum manis nan lugu kembali dibibirnya. menyembunyikan sepenuhnya soso monster pembuat pertumpahan darah yang baru saja kembali dari hutan satu jam yang lalu.

"Selamat pagii ,Sayang"usap Arka pada rambut Kinanti, mengecup keningnya lama"Mas Arka Ngga akan pergi kemana-mana, Mas akan selalu disini nemenin Kinanti"

Pagi bergerak semakin tinggi diperbukitan, Setelah momen hangat diatas tempat tidur rumah panggung, Kinanti beranjak kedapur untuk menyeduh teh hangat dan merapikan pakaian.

Sementara itu, Arka mengamati setiap sudut rumah dari teras samping, Indra tempurnya yang sangat tajam masih menangkap sisa-sisa hawa ketenangan malam tadi, meski pemandangan didepan hanyalah kebun cabai dan pepohonan hijau yang diterpa hembusan angin.

"Mas Arka! Hari ini jadi kan kita ke pasar kota? "suara Kinanti melengking riang dari dalam rumah, memecah lamunan Arka.

Arka dengan cepat menutupi tatapan tajamnya, membalik badannya dengan ulasan senyum polos yang meluluhkan hati.

"Jadi dong sayang, Mas udah siapin keranjang belanjaannya dideket pintu, Nanti mas yang bawa barang barangnya ya, Kinanti tinggal pilih aja apa yang mau dibeli"

Kinanti keluar sambil membawa cangkir teh hangat dengan uang masih menghiasi diatas , diatas lingkaran cangkir, lalu menyerahkannya kepada Arka. "Mas Arka tuh baik banget, kadang Kin suka merasa bersalah, Mas selalu turutin kemauan Kin tanpa pernah ngeluh sedikit pun"

"Bahagianya Kinanti itu tugas utamanya Mas Arka"Balas Arka sambil menyesap teh panas tersebut, Tatapannya menatap lekat ke dalam manik mata istrinya,Menyembunyikan rapat-rapat kenyataan bahwa beberapa jam yang lalu jemarinya telah mematahkan leher para pemburu bayaran yang mengincar Kepalanya dan istrinya, sebab kini kepalanya dihargai seratus dolar. oleh karna itu kemungkinan besar akan ada banyak pemburu bayaran lainnya yang juga mengincar kepalanya.

Di saat yang sama, tidak jauh dari area pasar kota, sebuah gubuk penyimpanan kayu tua menjadi saksi bisu pergerakan sel pengintai The White Dragon. Lingga berdiri di samping jendela yang terbuka sedikit, mengamati suasana jalanan desa yang mulai ramai oleh warga lokal. Bahunya yang terbebat masih terasa agak nyeri, tetapi ekspresi wajahnya tetap terlihat santai.

​"Kamu yakin Bos Arka membereskan semuanya sendirian di hutan timur semalam?" tanya Sarah yang sibuk merapikan kantong obat taktisnya di meja kayu. Suara Sarah terdengar ketus namun ada nada cemas yang tersembunyi. "Empat orang penembak jitu dari The Apex Hunters bukan prajurit amatir, Lingga! Kalau sampai ada yang lolos dan mendekati permukiman warga, bagaimana?!"

​Lingga terkekeh pelan, mengambil buah jambu air dari piring tanah liat dan menggigitnya santai. "Sarah, Sarah... kamu ini seperti baru kenal Bos Arka kemarin sore. Jangankan empat orang penembak jitu, satu batalyon pasukan elit pun tidak akan pernah bisa melangkah melewati ring pertahanan kalau Bos udah masang mode melindungi Nyonya Kinanti. Kamu terlalu banyak mengomel, nanti cepat tua."

​"Lingga!" Sarah mendelik tajam, melemparkan gulungan perban ke arah dada Lingga. "Aku ini mengkhawatirkan keselamatan benteng desa kita! Galuh itu pemimpin yang licik. Laporan intelijen menyebutkan kalau Galuh bertubuh kurus itu nggak akan bertarung secara kasar, tapi pake intrik dan manipulasi psikologis!"

​Lingga menangkap gulungan perban itu dengan tangan kanannya yang sehat, lalu tersenyum tipis. "Justru karena Galuh itu licik, kita harus lebih tenang. Semakin dia mencoba memakai cara halus untuk mendekati Nyonya Kinanti, semakin cepat dia menggali kuburannya sendiri. Bos Arka mungkin terlihat seperti pria penurut kalau di depan istrinya, tapi kalau ada yang mencoba menyentuh ujung rambut Nyonya Kinanti... Galuh bakal paham kenapa nama The Black Dragon diasingkan dan ditakuti di seluruh jaringan dunia bawah."

​Sarah menghela napas panjang, menghentakkan kakinya kesal sebelum akhirnya duduk di kursi kayu. "Terserah kamu deh, Yang penting tim intai selatan tetap harus waspada. aku tidak mau ada celah sekecil apa pun."

​Sementara itu, di persimpangan jalan menuju pasar desa, Galuh berjalan pelan menyusuri trotoar. Pakaian hitam lusuhnya tampak kebesaran di tubuhnya yang kurus dan agak bungkuk. Dari balik topi kupluknya yang terpasang agak rendah, matanya yang tajam mengamati sosok Arka yang sedang mendorong gerobak cilok dengan sabar, berjalan berdampingan bersama Kinanti yang tertawa riang.

​Galuh menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin. "Jadi ini sang Raja Kegelapan yang diagungkan itu? Rela berpura-pura menjadi pria dungu demi seorang wanita?" batin Galuh dengan nada meremehkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!