"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 18
"Apa seperti ini, Pak? Rangkap dua berkas, satu dengan Bahasa Indonesia dan satu dengan Bahasa Prancis?"
Rhea menggeser laptop yang dipakainya, menunjukkan hasil kerjanya kepada Nayaka. Kedatangannya hari ini adalah untuk merapikan hasil rapat kerjasama dengan pihak Raphael.
Laporan itu harus di susun karena harus di sampaikan pada rapat internal LT nanti agar seluruh bagian bersiap untuk melakukan pengiriman.
"Sebentar aku lihat."
Nayaka mengambil laptop tersebut, dia membaca secara seksama. Jari-jarinya juga tak berhenti mengetuk meja selama ia membaca.
Ia lalu menunjuk ke layar, sambil menggeser laptop itu kembali kepada Rhea.
"Coba kamu lebih paparkan di bagian garansi ini. Kemarin kamu dengar semuanya kan, jadi paparkan seperti itu. Biar orang-orang nggak banyak nanya."
"Baik Pak."
Rhea kembali fokus dengan pekerjaannya. Pun dengan Nayaka dan juga Tono. Pulang Ke Indonesia setelah mendapatkan kerja sama, bukan berarti pekerjaan selesai. Mereka harus menyelesaikan laporan agar tindakan selanjutnya bisa dikerjakan.
"Sudah Pak," ucap Rhea.
Nayaka mengangguk, dia lalu meminta Tono untuk mencetaknya. Pekerjaan Rhea belum selesai, karena dia harus membuat laporan pertemuannya dengan Mr. Yixing. Meski pertemuan itu berlabel ramah tamah namun tetap ada pembicaraan bisnis di dalamnya. Salah satunya tentang kelangsungan kerja sama LT dan perusahaan dari Tiongkok tersebut.
"Lanjutkan."
"Baik."
Rhea larut dalam pekerjaannya, sampai adzan ashar terlewat dari pendengarannya. Jika tidak diingatkan Tono, Rhea pasti terlambat menjalankan kewajibannya itu.
"Kalau begitu saya cari masjid dulu ya Pak."
"Nggak perlu, di belakang ada ruangan yang bias aku pakai. Jadi sholat di situ aja. Ton, cari mukena."
Tono langsung melenggang pergi. Tak membutuhkan waktu lama, ia sudah kembali dengan mukena di tangannya.
"Nah Mbak Rhea, silakan."
"Ah oh ya, makasih Pak Tono."
Rhea masuk ke kamar mandi, lalu menuju ke ruang yang ditunjukkan oleh Nayaka. Dia memindai ruangan tersebut. Tampilannya seperti sebuah kamar. Ada tempat tidur dengan kasur single bad, ada rak buku kecil yang penuh dengan berbagai jenis buku. Rhea mengunci pandangannya pada sebuah sudut ruangan, ada sebuah karpet yang di atasnya terbentang sebuah sajadah juga.
"Di situ," ucap Rhea. Ia kemudian berjalan menuju ke tempat tersebut, mengenakan mukena lalu memulai ibadahnya.
Empat rakaat dijalankannya. Selepas salam, Rhea tak segera beranjak dari duduk bersimpuhnya. Ia terlebih dulu memanjatkan doa.
"Ya Allah, kok ngantuk banget ya," ucapnya lirih. "Selonjoran bentar nggak apa-apa kan?"
Gadis 25 tahun itu menggeser duduknya hingga mentok ke dinding. Dia lantas menjulurkan kakinya, mukena yang dikenakan belum juga dilepas, dan hanya dalam hitungan detik, mata Rhea terpejam. Sadarnya hilang, saat ini gadis itu sudah berada di alam tidur.
Di luar Nayaka mengerutkan alisnya ketika melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia juga melihat ke arah belakang, tempat dimana ruang istirahat miliknya berada.
"Udah berapa lama sejak bocah itu masuk ke sana?" tanya Nayaka.
"Eh, iya juga," jawab Tono. "Sekitar 20 menitan kayaknya sih Pak Bos," imbuhnya.
Nayaka menggerakkan kepalanya, dan Tono langsung paham makna dari gerakan kepala tersebut. Tono beranjak dari kursinya lalu berjalan cepat menuju ruang pribadi milik sang CEO.
Tono mengetuk pintu, namun tak ada reaksi dari dalam. Ia lantas memanggil nama Rhea, tapi sama saja, tak ada jawaban.
"Mbak, aku masuk ya."
Akhirnya Tono membuat keputusan untuk masuk meski tanpa izin dari Rhea. Mata Tono membelalak saat melihat Rhea dengan mata terpejam dan tubuhnya bersandar di dinding.
"Mbak, Mbak Rhea!" panggil Tono. Ia menepuk bahu Rhea dan menggoyangkannya pelan.
"Mbak, Mbak Rhea," panggilnya lagi.
Eughhh
Rhea melenguh lalu menggeliat.
Melihat reaksi Rhea yang demikian membuat Tono bernafas lega.
"Mbak Rhea capek ya?"
"Astagfirullah, Pak Tono aku ketiduran?"
Rhea menegakkan tubuhnya. Ia melihat ke arah Tono dengan mata yang terbuka sangat lebar.
Tono tersenyum, dia kembali menepuk bahu Rhea sambil berkata, "Nggak apa-apa Mbak. Mbak Rhea pasti capek banget. Dan bisa merem sebentar itu, bikin kita jadi lebih seger."
Ucapan Tono membuat wajah Rhea memerah. Ia segera melepas mukenanya, dan merapikannya kembali.
"Maaf Pak Tono," ucap Rhea dengan begitu malunya.
"Hahaha, udah dibilang nggak apa-apa Mbak. Tenang aja, itu maklum kok. Aku malah takutnya Mbak pingsan kayak waktu itu. Ya udah kalau emang udah seger lagi, balik yuk. Masih ada yang harus dikerjakan."
Rhea selintas membeku, kata-kata Tono yanh baru saja terdengar janggal di telinganya.
"Pingsan kayak waktu itu? Emangnya aku pernah pingsan di depan Pak Tono? Kapan? Kok aku nggak inget? Apa Pak Tono salah ngomong kali ya?"
Rhea berdiri, lalu bergegas menyusul Tono. Ia mengusir pemikiran yang baru saja muncul dan meyakinkan dirinya bahwa semuanya hanya hal yang tidak perlu.
Rhea lantas meminta maaf kepada Nayaka karena dirinya ketiduran sebentar. Nayaka tak berkata apapun, dia hanya meminta Rhea untuk melanjutkan pekerjaannya.
Awalnya Rhea merasa canggung karena rasa bersalahnya, tapi dia akhirnya bisa kembali bekerja seperti sebelumnya. Waktu bergulir, jam pulang LT pun tiba, yakni tepat pada pukul 17.00.
"Mbak Rhea, waktunya untuk pulang," ucap Tono.
"Oh ... Ah ya ... Tidak kerasa sudah jam 5. Tapi ini kurang sedikit lagi," jawab Rhea sambil memperlihatkan laptopnya.
"Aman Mbak, nanti aku akan bereskan sisanya," jawab Tono.
Rhea mengangguk, dia kemudian membereskan tasnya.
"Kalau begitu, saya pulang dulu. Permisi Pak Nayaka, Pak Tono."
"Oke Mbak sampai ketemu lusa. Makasih ya," sahut Tono. Sedangkan Nayaka, pria berusia 35 tahun itu hanya menganggukkan kepala. Tapi saat Rhea sudah berada di depan pintu, Nayaka berkata, "kerja bagus."
Rhea tersenyum cerah, ia membungkukkan tubuhnya lalu keluar dari ruangan sambil menutup pintunya perlahan.
"Yeah, aku bisa. Aku beneran bisa," sorak Rhea senang.
Gadis itu bersenandung kecil saat dirinya berada di dalam lift. Ia bahkan juga menggoyangkan kepalanya mengikuti irama lagu yang ia nyanyikan.
Tring
Lift terbuka, senandung yang sedari tadi menghiasi bibir Rhea seketika senyap saat ia melihat dua orang yang dikenalnya dari balim kaca. Tubuhnya yang baru saja keluar dari lift, dan hendak melangkah ke lobi tiba-tiba terasa berat.
"Iiih sweet sekali sih Pak Oza sama istrinya. Tiap hari ku lihat selalu begitu. Bukain pintu buat Trisna."
"Iya ih, amalan apa ya yang dilakuin Trisna sampai bisa dapetin suami kayak Pak Oza gitu. Ganteng, husband material lagi."
Beberapa karyawan wanita yang berdiri di lobi mengarahkan pandangannya ke luar. Di sana ada Oza yang tengah membukakan pintu mobil untuk Trisna. Trisna membalas perlakuan Oza itu dengan ucapan terimakasih, dan senyum yang begitu lebarnya.
Degh!
Dada Rhea berdesir, aliran darahnya seolah menjadi sangat dingin melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya.
"Mereka bener-bener bahagia ya?" ucap Rhea dengan satu sudut bibir yang terangkat.
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭