Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:67.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Bekerja Tanpa Nama Besar

"Pak Gunadi?"

"Nyonya Muda?"

Keduanya sama-sama terkejut.

Gunadi segera keluar dari lift, sementara Aynara masih berdiri di depan pintu lift yang terbuka.

"Nyonya, ada apa mencari saya?" tanya Gunadi dengan nada khawatir. "Apa terjadi sesuatu? Atau Nyonya membutuhkan bantuan?"

Aynara justru mengernyit. "Bapak bekerja di sini?"

Gunadi mengangguk. "Benar. Saya bekerja di sini. Ini adalah perusahaan milik Tuan Wicaksono."

"Bapak gak pernah bilang."

Gunadi tersenyum tipis. "Saya pernah memberikan kartu nama saya kepada Nyonya."

Aynara terdiam sesaat. Ia baru teringat bahwa pria itu memang pernah memberikan kartu namanya. Dan biasanya, kartu nama mencantumkan tempat seseorang bekerja.

Namun sayangnya, ia tidak pernah membacanya. Kartu itu hanya dimasukkannya ke dalam tas begitu saja.

"Ah, iya..." Aynara tersipu malu. "Saya memang gak pernah membacanya."

Bibir Gunadi melengkung tipis. "Kalau begitu, Nyonya datang ke sini bukan untuk mencari saya?"

"Tidak." Aynara menggeleng. "Saya datang untuk melamar pekerjaan."

Ekspresi Gunadi yang sejak tadi tampak khawatir perlahan berubah. "Melamar pekerjaan?"

"Iya. Saya baru saja selesai interview."

"Oh." Gunadi mengangguk. "Kalau begitu, Nyonya bisa memberikan CV kepada saya. Nanti saya bantu mencarikan posisi yang paling sesuai."

Aynara tersenyum kecil. "Gak perlu, Pak. Saya sudah diterima."

Mata Gunadi sedikit melebar. "Diterima?"

"Iya. Saya diterima sebagai sekretaris manajemen." Aynara tersenyum puas. "Saya juga sudah menandatangani kontraknya."

Untuk beberapa saat Gunadi hanya menatapnya. Ia tidak menyangka Aynara akan mencari pekerjaan sendiri, terlebih ternyata sudah berhasil mendapatkan posisi di perusahaan milik Tuan Wicaksono tanpa bantuan siapa pun.

"Selamat, Nyonya," ucap Gunadi akhirnya. "Saya ikut senang mendengarnya."

"Terima kasih, Pak." Aynara hendak pamit pergi, tetapi kemudian tidak jadi. "Oh iya, Pak."

"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Gunadi tampak siap menerima perintah.

Aynara menyapukan pandangan ke sekitarnya, lalu bicara sedikit pelan. "Jangan panggil saya Nyonya Muda kalau sedang di sini."

Gunadi mengangkat alis. "Kenapa?"

"Saya gak mau karyawan di sini tahu kalau saya cucu menantu Kakek Wicaksono." Aynara menatap Gunadi serius. "Saya ingin bekerja karena kemampuan saya sendiri. Bukan karena hubungan keluarga."

Gunadi terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. "Saya mengerti."

Ia justru merasa keputusan Aynara itu tepat. Jika identitasnya diketahui, orang-orang mungkin akan memperlakukannya berbeda. Terlebih sekarang Aynara baru saja bergabung sebagai karyawan. Lebih baik ia diberi kesempatan membuktikan kemampuannya tanpa bayang-bayang nama besar keluarga Wicaksono.

"Baik. Mulai sekarang saya akan memanggil Anda Nona Aynara."

Aynara tersenyum lega. "Terima kasih, Pak."

Gunadi kembali mengangguk. "Kalau begitu, selamat bekerja."

Aynara melirik jam di pergelangan tangannya. "Saya pamit, Pak."

"Silakan, Nyo—eh, Nona." Gunadi buru-buru mengoreksi ucapannya sambil menekan tombol lift untuk Aynara.

Aynara hampir tertawa mendengarnya. Ia hanya menunduk sopan, lalu melangkah masuk ke dalam lift.

Gunadi memandang punggungnya yang semakin menjauh. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Nyonya Muda ternyata benar-benar ingin memulai semuanya dari bawah."

Ia menghela napas pelan. "Entah bagaimana reaksi Tuan Besar kalau tahu cucu menantunya sekarang bekerja di perusahaan ini."

 

Di dalam lift, Aynara masih mengingat percakapannya dengan Gunadi. "Jadi aku bekerja di perusahaan Kakek?"

Sesaat keningnya berkerut. Namun beberapa detik kemudian, sebuah pikiran melintas di benaknya.

"Tunggu..."

Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift.

"Ini perusahaan Kakek. Apa Merak Rimba itu juga kerja di sini?"

Perkataan Aksa kembali terngiang di telinganya. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana pria itu merendahkan dirinya dan keluarganya. Luka akibat perkataan tersebut memang belum sepenuhnya hilang.

Aynara akhirnya merogoh tasnya dan mengambil kartu nama yang diberikan Gunadi. Ia segera mencari nomor pria tersebut, lalu menghubunginya.

 

Di tempat lain, Gunadi yang kebetulan masih berada di salah satu sudut lorong langsung menyipitkan mata ketika melihat nama Aynara muncul di layar ponselnya.

Ia berhenti di dekat meja seorang karyawan sebelum mengangkat panggilan. "Ya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"

"Pak, saya mau tanya sesuatu." Aynara terdengar sedikit ragu. "Aksa juga bekerja di sini?"

"Benar, Nyonya," jawab Gunadi. "Tuan Muda bekerja di sini."

Aynara mengembuskan napas pelan. "Kalau begitu, tolong jangan bilang kepadanya kalau saya bekerja di sini."

Gunadi terdiam beberapa detik. Ia tidak menyangka permintaan Aynara akan seperti itu. Namun setelah mengingat sikap Aksa terhadap Aynara, ia bisa memahami alasannya.

"Baik, Nyonya. Saya akan merahasiakannya."

"Terima kasih, Pak." Suara Aynara terdengar lebih ringan.

"Sama-sama, Nyonya."

Panggilan berakhir. Gunadi menurunkan ponselnya perlahan, matanya menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap.

"Nyonya Muda ternyata benar-benar ingin menghindari Tuan Muda."

Ia menghela napas pelan. "Kalau itu yang membuat Nyonya merasa lebih nyaman, aku akan membantu."

 

Sementara itu, di dalam lift, Aynara mengembuskan napas lega setelah mendengar jawaban Gunadi.

"Syukurlah..."

Namun ketenangannya hanya bertahan beberapa detik. Aynara kembali teringat sesuatu.

"Tunggu..." Alisnya bertaut. "Waktu itu aku 'kan alergi."

Ia terdiam sambil menatap pintu lift. "Mama Asti gak mengenaliku. Tapi Pak Gunadi langsung mengenaliku."

Aynara mengusap dagunya. "Mereka bertiga sama-sama melihatku waktu wajahku masih merah dan sembap."

Matanya perlahan melebar. "Jangan-jangan Aksa juga bisa mengenali aku?"

Aynara menelan ludah. "Kalau dia sampai tahu aku bekerja di sini..."

Ia menghela napas panjang. "Celaka."

Ting!

Pintu lift terbuka.

Aynara yang hendak melangkah keluar mendadak membeku.

Matanya membulat saat melihat siapa yang berdiri tepat di hadapannya.

Dan kali ini, ia tidak mungkin bisa menghindar.

 

...🔸🔸🔸...

...“Jangan takut memulai dari bawah hanya karena kita memiliki kesempatan untuk mendapatkan jalan yang lebih mudah. Sebab sesuatu yang diraih dengan kemampuan sendiri akan mengajarkan kita arti percaya diri, harga diri, dan perjuangan.”...

...“Nilai seseorang tidak ditentukan oleh nama keluarga yang ia bawa, jabatan yang ia miliki, atau harta yang ada di sekelilingnya. Nilai seseorang terlihat dari kemampuannya untuk tetap berdiri dan berusaha, bahkan ketika tidak ada siapa pun yang memberinya jalan.”...

...“Ia hanya ingin memulai hidup baru dengan kemampuannya sendiri. Namun terkadang, semakin keras kita berusaha menjauh dari masa lalu, semakin dekat takdir membawa kita kembali kepadanya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Kadek Sri
syukurlah Aynara selamat
Hanima
😍😍😍😍👍
Puji Hastuti
trus gimana nanti,kalau Nara sadar
Eka Burjo
syukurlah selamat. jangan kasih ampun tuh si Doni
tse
waduh sayang sekali.....
mereka jadinya melakukan zina ya....
Regan ga kuat iman nya..
Eka Burjo
harus nikah ulang ijab qobul lagi si, biar jadi halal hubungannya 😁✌️, tanya ahlinya
Puji Hastuti
ayolah regan, selamatkan ay
Sugiharti Rusli
semoga saja Regan masih keburu menolongnya yah, karena kalo sampai Aynara dilecehkan oleh Doni, itu akan jadi malapetaka sih😔😔😔
Sugiharti Rusli
mana kondisi Aynara sedang tidak baik" saja karena obat yang diminum saat tadi di ballroom,,,
Sugiharti Rusli
pada akhirnya si Doni malah berhasil membawa Aynara kan jadinya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia belum tahu kalo orang yang mencegat dirinya suruhan si Doni, dia seharusnya ga usah meladeni,,,
Sugiharti Rusli
waduh si Aksa kemakan umpan si Doni lagi dia yah,,,
Cicih Sophiana
ya Allah Nara... semoga Regan cepat menemukan Nara dan menolong nya...
Siti Jumiati
semoga regan cepat datang dan menolong Aynara
Siti Jumiati
semoga regan cepat datang dan menolong Aynara
Eka Burjo
aakh gubrak 👊😡
Wardi's
aahh... tidaaak...
Anitha
semoga Regan datang tepat waktu..biar Regan saja yang membantu Aynara menghilangkan panas di badannya efek pengaruh obat dosis tinggi
Anonim
Aynara pamit pulang sama kakek, walaupun kakek tidak bisa menjawab, mungkin bawah sadar kakek merasa kali ya.

Aynara tidak jadi pulang ketika melihat perawat mau membersihkan tubuh pasien. Ia minta izin sama perawat untuk membantu membersihkan kakek.

Lebih baik Aynara cari kontrakan di dekat rumah sakit, jadi bisa sering datang menjenguk kakek.

Tinggal di rumah sendiri malah makan hati. Lebih baik segera cari kontrakan

Siapa yang berheti di hadapan Aynara ?
Anonim
Ternyata Gunadi yang datang tapi mengurungkan niatnya untuk masuk.

Gunadi menghubungi seseorang lewat sambungan telepon untuk minta dikirimi foto Aynara. Dan menyuruhnya menyelidiki kegiatan Aynara beberapa hari terakhir.

Foto-foto Aynara sudah dikirim. Gunadi melihat foto-foto Aynara. Cantik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!