Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Sarapan dari Om Gio

...#...

...Tidak ada yang bergerak. Dari balik pagar, suara itu terdengar lagi, ramah dan santai, seperti tetangga yang datang membawa kue dan tidak ingin mengganggu....

..."Wartini? Aku tahu kalian di dalam. Ini bubur ayam dari tempat langgananmu di ujung gang. Masih panas."...

...Wartini berdiri pelan. Wajahnya putih, tapi tangannya tidak gemetar. Ia menatap Bima, lalu Alessia, lalu pintu....

..."Dia tahu langganan Ibu," bisiknya....

..."Dia tahu semuanya," kata Alessia. Ia sudah menarik pistol dari balik mantel dan memeriksanya dengan satu gerakan, lalu menyelipkannya kembali, tidak jadi dipegang. "Rico. Belakang. Dimas, masuk kamar."...

..."Aku nggak mau..."...

..."Dimas." Itu suara Bima, bukan Alessia. Pendek, tanpa tinggi. Dimas menutup mulutnya, menatap kakaknya sebentar, lalu masuk dan menutup pintu tanpa dibanting....

...Rico menghilang ke arah dapur. Alessia berdiri di samping pintu, punggung menempel dinding, dan memberi isyarat dengan dagu ke Bima....

..."Buka. Pelan. Bicara dengannya."...

..."Saya?"...

..."Kamu yang dia cari. Kalau aku yang membuka, dia akan tahu kita sudah membaca surat itu." Matanya turun ke kertas di tangan Bima. "Simpan. Jangan sampai terlihat."...

...Bima melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku celana, bukan jaket. Ia mengusap telapak tangan ke baju. Tinta biru di sela jarinya masih ada. Ia membuka pintu....

... ...

...Om Gio berdiri di depan pagar dengan jas abu-abu yang sama, rambut putih disisir rapi, dan kantong plastik putih di tangan kanan. Di belakangnya, mobil abu-abu terparkir miring di gang. Tidak ada orang lain di dalamnya. Atau tidak terlihat....

..."Nah, itu dia," katanya hangat. "Wajahmu kurang tidur, Nak. Dan lenganmu, astaga. Siapa yang menjahitnya?"...

..."Belum dijahit."...

..."Itu harus. Jangan sok kuat seperti bapakmu." Ia mengangkat kantong plastik. "Boleh masuk? Aku tidak mau berdiri di gang seperti penagih utang."...

...Bima tidak minggir. Ia berdiri di ambang pintu dengan satu tangan di kusen, tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk menutup jalan....

..."Mau apa, Om?"...

..."Sarapan." Om Gio tersenyum. Ia tidak tersinggung. Ia tidak pernah tersinggung, dan baru sekarang Bima menyadari itu bukan sifat orang baik. Itu sifat orang yang tahu ia tidak perlu. "Dan bicara. Kamu pasti punya pertanyaan. Aku punya jawaban, lebih banyak dari yang diberikan nenek Nona Alessia."...

..."Dari mana Om tahu saya di sini?"...

..."Wartini bilang ke tukang bubur, tukang bubur bilang ke aku." Ia mengangkat bahu. "Dunia ini kecil kalau kamu sudah lama di pelabuhan."...

...Bohong. Bima tahu itu karena Wartini tidak pernah bilang apa-apa ke tukang bubur sejak pagi, dan karena tukang bubur ujung gang tidak berjualan hari Selasa. Ibunya pernah mengeluh soal itu, tiap Selasa, tiap minggu, bertahun-tahun....

...Hari ini Selasa....

...Bima tidak berkomentar. Ia hanya mengangguk pelan, seperti orang yang percaya, dan membuka pintu lebih lebar....

..."Masuk, Om."...

...Dari sudut matanya, ia melihat Alessia di balik pintu, menatapnya dengan alis sedikit terangkat. Bima tidak menoleh....

... ...

...Om Gio duduk di kursi plastik tempat Hendar tadi duduk. Ia meletakkan kantong di meja, dan mulai mengeluarkan mangkuk styrofoam satu per satu dengan gerakan tenang, seperti kepala keluarga yang menata meja makan. Uapnya naik dengan bau kaldu dan bawang goreng. Perut Bima berbunyi sebelum ia sempat menahannya....

..."Nah," kata Om Gio, tersenyum. "Makan."...

..."Saya belum lapar."...

..."Perutmu berkata lain. Dan Wartini, duduklah. Aku tidak akan menggigit."...

...Wartini duduk di kursi paling jauh, punggung tegak, tangan di pangkuan. Ia tidak menyentuh mangkuk yang disodorkan....

..."Om Gio," katanya pelan. "Saya nggak pernah bilang apa-apa ke tukang bubur."...

..."Oh?"...

..."Tukang bubur nggak jualan hari Selasa."...

...Om Gio berhenti mengaduk. Hanya sedetik. Lalu ia tertawa, rendah dan hangat, dan menepuk meja dengan telapak tangan....

..."Kamu masih tajam, Wa. Sama seperti dulu." Ia menyandarkan punggung, dan senyumnya tidak hilang, tapi sesuatu di baliknya berubah, seperti lampu yang diturunkan. "Baiklah. Aku beli di tempat lain. Aku cuma tidak mau Bima mengira aku datang tanpa membawa apa-apa."...

...Wa. Bima melihat ibunya mengeraskan rahang. Orang itu memanggilnya dengan nama yang sama dengan di surat. Nama yang hanya dipakai suaminya....

..."Siapa yang boleh memanggil Ibu saya begitu?" tanya Bima....

...Om Gio menoleh. Matanya, yang tadi ramah, kini memperhatikan Bima dengan tenang yang aneh, tenang orang yang sedang membaca ulang sesuatu yang sudah ia hafal....

..."Ayahmu yang mengajariku," katanya. "Kami berteman lama. Sampai ia memutuskan menulis sesuatu yang tidak seharusnya."...

..."Di buku resep."...

..."Di buku resep." Om Gio mengangguk, tanpa berusaha menyangkal. "Dan sekarang buku itu ada padaku. Aku ingin kamu tahu itu dari mulutku sendiri, bukan dari Hendar yang suka bicara terlalu manis."...

...Tidak ada yang bersuara. Di balik pintu dapur, Bima merasakan Rico menahan napas....

..."Ransel itu," kata Bima....

..."Ransel itu. Dan isinya." Om Gio mengambil sendok plastik, mencicipi buburnya satu kali, lalu meletakkannya kembali. "Dua belas tahun aku mencari buku itu. Kamu pikir aku akan membiarkannya tergeletak di mobil Rico?"...

..."Om yang..."...

..."Aku bilang akan jujur." Ia mengangkat tangan, tenang. "Yang membuka pintu mobil itu bukan aku. Tapi aku yang memintanya."...

..."Siapa?"...

...Om Gio tidak menjawab. Ia menatap pintu depan yang masih terbuka, ke arah Alessia yang berdiri di sisi dinding dan kini sudah tidak bersembunyi lagi. Ia melangkah masuk ke garis pandang, tangan di sisi tubuh, wajah kosong....

..."Selamat pagi, Om," katanya....

..."Nona."...

..."Kita sudah sering sarapan bersama. Di meja makan Nenek." Suaranya datar, setiap kata diletakkan satu per satu seperti kartu. "Om selalu menaruh gula dua sendok di teh Ayah. Aku ingat itu. Waktu itu aku pikir Om perhatian."...

..."Aku memang perhatian."...

..."Ya." Alessia melangkah mendekat. "Aku ingat juga, malam Ayah meninggal, Om yang pertama kali menelepon Nenek. Sebelum polisi. Sebelum aku."...

...Om Gio tidak membalas. Matanya tidak lepas dari wajah Alessia, dan untuk pertama kalinya Bima melihat sesuatu di sana yang bukan tenang dan bukan hangat. Rasa ingin tahu. Seperti orang yang sedang menunggu apakah anak didiknya akan melompat atau tidak....

..."Kamu sudah pintar," katanya pelan. "Aku mengajarimu dengan baik."...

..."Om mengajari saya berhitung," kata Alessia. "Tapi tidak pernah mengajari saya apa yang terjadi kalau jumlahnya tidak cocok."...

...Hening. Bima memegang sandaran kursinya sampai buku jarinya putih....

...Om Gio akhirnya berdiri. Ia merapikan jas, menepuk lipatannya dua kali, dan mengambil satu mangkuk bubur dari meja....

..."Makan sarapanmu, Wartini. Dan kamu, Bima, jangan terlalu keras kepala." Ia berjalan ke pintu, melewati Alessia dengan jarak satu lengan, tidak lebih dekat, tidak lebih jauh. "Aku tidak datang untuk menyakiti siapa pun hari ini. Aku datang untuk memberi tahu bahwa buku itu sudah di tempat yang aman. Dan bahwa halaman empat belas ke atas..." Ia berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Sudah tidak lagi bisa diselamatkan."...

..."Apa maksud Om?"...

..."Yang masih bisa diselamatkan sudah selesai kuselamatkan." Ia tersenyum pada Bima, dan senyum itu, untuk pertama kalinya, benar-benar tampak seperti kesedihan. "Kamu akan mengerti kalau sudah membaca daftar namanya. Hari ini juga, kalau Nona mengizinkan."...

...Ia menyeberangi pagar. Mobil abu-abu menyala, lalu pergi pelan, tanpa terburu-buru....

... ...

...Bima baru sadar ia menahan napas ketika Wartini menjatuhkan sendok dan bunyinya memantul di lantai semen. Rico muncul dari dapur dengan pistol di tangan, wajah yang belum pernah Bima lihat, marah dan bingung....

..."Kenapa dibiarkan pergi, Mbak?"...

..."Karena dia benar-benar membawa buku itu," kata Alessia. "Dan karena kalau kamu menembaknya di gang ini, Dimas ada di rumah ini."...

...Rico menurunkan senjatanya. Tangannya gemetar....

...Alessia berjalan ke meja. Ia mengambil mangkuk bubur yang tersisa, mengangkatnya ke hidung, dan menciumnya lama. Lalu ia meletakkannya lagi dengan hati-hati....

..."Jangan dimakan," katanya. "Bukan karena racun. Tapi dia terlalu tahu bumbu yang Wartini suka."...

...Wartini menatap bubur itu, lalu menatap Alessia, dan untuk pertama kalinya sejak pagi ia terlihat benar-benar takut. Bukan pada Om Gio. Pada sesuatu di dalam mangkuk....

...Bima mendekat. Di sela kuah bening dan ayam suwir, di bawah taburan bawang goreng, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di bubur ayam....

...Selembar kertas kecil, dilipat dua, direndam kuah sampai tintanya mulai melebar. Alessia mengangkatnya dengan sendok, meniriskannya di atas serbet, dan membukanya pelan....

...Tulisan tangan, miring, naik sedikit ke kanan. Tinta biru....

...*Halaman 14: Matteo Vieri. Dilepas jam dua. Bukan oleh Rinaldi.*...

...Dan di bawahnya, ditambahkan dengan pensil, dengan tulisan yang jauh lebih rapi dan jauh lebih baru....

...*Tanya Alessia siapa yang ia kirimi jadwal malam itu.*...

...Bima mengangkat kepala. Alessia sudah membaca baris itu lebih dulu darinya. Wajahnya tidak berubah, tidak sedikit pun, dan justru itu yang membuat Bima tahu, dari cara tangan perempuan itu perlahan menutup di sekitar sendok plastik sampai retak, bahwa baris terakhir itu benar....

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!