Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumpukan Prospektus, Kopi Pahit, dan Janji di Bawah Payung Hitam
Tiga bulan. Sembilan puluh hari sejak malam Lin Xiao mencetuskan ide gila untuk membawa Campus Relay melantai di bursa saham. Dan selama sembilan puluh hari itu pula, kehidupan di lantai 18 gedung perusahaan berubah menjadi medan perang tanpa jeda.
Proses "Initial Public Offering" atau IPO adalah monster yang memakan waktu, tenaga, dan kewarasan.
Pukul dua dini hari di hari Rabu, ruang kaca Kepala Legal masih menyala terang benderang. Meja kebesaran Lin Xiao yang biasanya rapi kini tertutup sepenuhnya oleh tumpukan map berlabel "Legal Due Diligence", laporan audit keuangan, dan ratusan halaman prospektus perusahaan yang harus ia periksa kata demi kata.
Lin Xiao duduk dengan rambut yang disepit asal-asalan. Kemeja putihnya sudah kusut. Ia melepas kacamata anti-radiasinya, memijat kelopak matanya yang terasa perih terbakar. Di sampingnya, tiga cangkir kopi hitam yang sudah dingin berserakan.
Pintu ruangannya bergeser terbuka.
Lu Feng melangkah masuk. Keadaan sang CEO tidak jauh lebih baik. Jasnya entah tertinggal di mana, dasinya sudah dibuang sejak siang tadi, dan lengan kemejanya digulung asal. Kantung mata yang menghitam terlihat jelas di wajah tampannya, bukti nyata dari maraton "roadshow" ke belasan bank investasi selama sepekan terakhir.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lu Feng berjalan menghampiri kursi Lin Xiao. Ia memutar kursi beroda itu, lalu berlutut di hadapan Lin Xiao, mengabaikan celana mahalnya yang menyentuh karpet.
Lu Feng meraih kedua tangan Lin Xiao yang terasa dingin, lalu mengecup buku-buku jarinya cukup lama.
"Lo pucet banget, Yang," gumam Lu Feng parau, suaranya dipenuhi rasa bersalah yang luar biasa. "Udah jam dua pagi. Berhenti dulu. Kita pulang ya?"
Lin Xiao menarik napas panjang, menatap Lu Feng dengan pandangan sayu. "Aku tidak bisa, Lu Feng. Pihak otoritas bursa meminta revisi dokumen keterbukaan informasi soal struktur kontrak kurir kita. Besok pagi jam delapan dokumen ini harus sudah ada di meja mereka. Kalau telat, jadwal persetujuan IPO kita bisa mundur bulan depan."
"Persetan sama jadwal bursa," Lu Feng mengusap pipi Lin Xiao dengan ibu jarinya. "Gue rela IPO ini batal kalau bayarannya harus ngorbanin kesehatan lo. Sejak minggu lalu berat badan lo turun drastis, Xiao. Kalau nyokap lo tau gue bikin lo kerja rodi kayak gini, gue pasti dipenggal."
Mendengar nada frustrasi dan putus asa dari Lu Feng, Lin Xiao justru tersenyum tipis. Ia menangkup wajah lelah pria di hadapannya itu.
"Ini bukan kerja rodi, Lu Feng. Ini pertempuran kita," bisik Lin Xiao lembut namun tegas. "Titan Freight menyewa "buzzer" bayaran minggu lalu untuk menyebarkan rumor bahwa kita mengeksploitasi pekerja mahasiswa secara ilegal. Mereka ingin membuat reputasi kita hancur sebelum IPO. Aku harus menyusun dokumen legal ini se-transparan mungkin untuk menampar wajah Wei Jian di depan publik."
Lu Feng memejamkan matanya, menikmati usapan tangan Lin Xiao di wajahnya. Beban di pundaknya sebagai CEO memang gila, tapi menyadari bahwa wanita ini menanggung beban pelindung hukum sendirian membuatnya merasa seperti pria paling brengsek.
"Gue baru aja dapet konfirmasi dari Bank Investasi Morgan," ucap Lu Feng, membuka matanya kembali. "Mereka setuju buat jadi "lead underwriter" kita. Angka penjaminan mereka cukup buat nutup valuasi yang kita targetin."
Mata Lin Xiao sedikit membulat, sisa kantuknya seketika hilang. "Benarkah?! Morgan setuju?!"
Lu Feng mengangguk, senyum miringnya sedikit terbentuk meski sangat tipis karena kelelahan. "Gue debat sama dewan direksi mereka selama empat jam tadi sore. Gue paksa mereka liat data proyeksi pertumbuhan kita. Akhirnya mereka nyerah."
"Ya Tuhan, Lu Feng... itu berita luar biasa!" Lin Xiao nyaris melompat dari kursinya saking senangnya. Morgan adalah salah satu institusi keuangan terbesar. Dengan mereka sebagai penjamin, IPO Campus Relay sudah berada di atas angin.
Lin Xiao langsung memeluk leher Lu Feng, menubruk pria yang sedang berlutut itu hingga Lu Feng harus menyeimbangkan tubuhnya agar mereka tidak terjatuh.
Lu Feng tertawa pelan, membalas pelukan itu dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di dada Lin Xiao, menghirup aroma wanita itu yang selalu berhasil menjadi obat penenang terbaiknya.
"Tinggal satu langkah lagi, Xiao. Begitu bel bursa saham bunyi, kita resmi jadi naga yang nggak bisa disentuh sama Titan," bisik Lu Feng di pelukan Lin Xiao.
Lin Xiao melepaskan pelukannya, menatap Lu Feng dengan semangat yang baru terisi penuh. "Kalau begitu, aku harus menyelesaikan revisi ini sekarang juga! Bangunlah, Presiden Kang. Jangan menghalangi Kepala Legal-mu bekerja."
"Nggak," Lu Feng menolak berdiri. Pria itu justru menyandarkan kepalanya di pangkuan Lin Xiao. "Gue mau tidur di sini aja lima belas menit. Pangkuan lo lebih empuk dari kasur penthouse."
Lin Xiao mendengus pelan, namun ia membiarkan Lu Feng memejamkan mata di pangkuannya. Sambil sebelah tangannya memegang tetikus untuk merevisi dokumen di layar komputer, tangan kirinya bergerak lembut mengusap dan menyisir rambut hitam Lu Feng.
Suasana ruang kaca itu kembali hening, hanya terdengar suara klik "mouse" dan napas Lu Feng yang mulai teratur. Di tengah badai korporat yang kejam, kehangatan sederhana ini adalah jangkar yang membuat mereka tetap waras.
***
Pukul empat pagi, revisi dokumen akhirnya selesai dikirim.
Mereka berdua berjalan keluar dari gedung kantor yang kosong melompong. Langit Beijing masih gelap gulita, dan hujan turun dengan cukup deras. Udara musim gugur di jam segini terasa menusuk hingga ke tulang.
Mobil Lu Feng diparkir cukup jauh di pelataran luar karena area "basement" sedang dalam perbaikan pipa.
Lu Feng membuka bagasi tasnya, mengambil sebuah payung hitam besar. Ia membukanya, lalu menarik Lin Xiao agar merapat ke tubuhnya. Lu Feng merangkul bahu Lin Xiao dengan erat, memastikan tubuh wanita itu sepenuhnya terlindungi dari rintik hujan, meski sebelah bahunya sendiri dibiarkan basah.
Mereka berjalan menembus hujan dalam keheningan yang nyaman. Bunyi rintik air yang menghantam payung menjadi melodi yang damai.
"Lu Feng," panggil Lin Xiao pelan, suaranya sedikit teredam oleh suara hujan.
"Hm?"
"Setelah IPO ini selesai... setelah semuanya stabil..." Lin Xiao ragu sejenak, namun ia memberanikan diri menatap wajah pria di sebelahnya. "Apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya?"
Langkah Lu Feng terhenti. Ia menoleh menatap Lin Xiao di bawah naungan payung hitam itu. Cipratan air hujan mengenai ujung sepatu mereka, namun tatapan Lu Feng terasa sangat hangat.
"Gue mau libur," jawab Lu Feng tanpa ragu. "Gue mau matiin ponsel gue sebulan. Gue mau bawa lo ke pulau yang pantainya sepi, yang nggak ada sinyal internet, nggak ada investor, dan nggak ada tumpukan kontrak."
Lin Xiao tersenyum membayangkan hal itu. "Hanya itu?"
Lu Feng memajukan wajahnya, menempelkan keningnya di kening Lin Xiao yang dingin.
"Dan gue mau beli cincin yang beneran," bisik Lu Feng, suaranya terdengar sangat dalam berbaur dengan derai hujan. "Bukan cincin perak janji kayak waktu kuliah dulu. Tapi cincin berlian yang paling mahal yang bisa gue beli. Terus gue bakal lamar lo di depan bokap nyokap lo pakai cara yang paling berlebihan, biar semua orang tau kalau mantan berandal ini udah ngunci satu-satunya wanita yang bisa bikin dia tunduk."
Jantung Lin Xiao berdegup brutal. Kalimat itu diucapkan tanpa perencanaan, sangat spontan, di tengah hujan lebat di pelataran parkir pada pukul empat pagi. Namun justru kesederhanaan dan kejujuran di dalamnya membuat dada Lin Xiao terasa mau meledak.
"Aku akan menagih janji itu, Tuan CEO," bisik Lin Xiao parau, air mata haru bercampur dengan hawa dingin malam.
"Pegang kata-kata gue," Lu Feng tersenyum, mengecup bibir Lin Xiao dengan lembut namun penuh kepastian di bawah guyuran hujan Beijing.
Badai di dunia bisnis belum sepenuhnya berakhir, tetapi bagi Lu Feng dan Lin Xiao, selama mereka berbagi payung yang sama, tidak ada hujan sederas apa pun yang bisa menenggelamkan masa depan mereka.