Indonesia
NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Macet di KM 90

Tol Cipularang macet total di kilometer sembilan puluh, dan sopir yang membawa rombongan kecil itu sudah tiga kali minta maaf tanpa ada yang benar-benar mendengarkan.

"Kayaknya ada kecelakaan di depan, Pak," katanya, menatap deretan mobil yang tidak bergerak sejauh mata memandang. "Estimasi bisa satu sampai dua jam lagi baru lancar."

Mobil rombongan terbagi dua—satu berisi Reza, Bas, dan tiga anggota tim lain, satu lagi cuma berisi Madoc, Gwen, dan sopir, karena urutan keberangkatan yang kebetulan membuat mereka satu mobil sejak dari kantor. Gwen sudah menyiapkan laptopnya sejak awal perjalanan, berencana memakai waktu di jalan untuk menyelesaikan revisi materi presentasinya, tapi begitu tahu perjalanan bakal molor jauh lebih lama dari perkiraan, dia menutup laptopnya dan menyandarkan kepala ke jendela.

"Ini bakal lama banget kayaknya," katanya, lebih ke diri sendiri.

Madoc, yang duduk di sisi lain mobil dengan jarak yang cukup wajar untuk dua rekan kerja, melirik jamnya. "Dua jam macet dari total lima jam perjalanan. Masih dalam batas wajar."

"Bapak selalu setenang ini soal segala hal?"

"Enggak selalu," katanya, singkat, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Gwen tidak mendesak lebih jauh, membiarkan mobil bergerak perlahan dalam antrean yang nyaris tidak bergerak, sampai akhirnya keduanya sama-sama diam cukup lama untuk membuat suasana di dalam mobil terasa lebih sunyi dari yang seharusnya nyaman.

---

Sopir menyalakan radio, mencoba mengisi keheningan dengan lagu-lagu lama yang diputar di frekuensi yang setengah berisik karena sinyal yang buruk di tengah kemacetan.

"Boleh matiin?" tanya Madoc, akhirnya, setelah lima menit lagu yang sama diulang dengan kualitas suara yang tidak membaik.

"Boleh, Pak," kata sopir, mematikan radio dengan segera.

Keheningan yang tersisa terasa lebih besar dari sebelumnya, hanya diisi suara klakson jauh dan mesin mobil-mobil di sekitar yang idle tanpa tujuan.

"Kalau macet gini," kata Gwen, mencoba mencairkan suasana, "biasanya saya suka main tebak-tebakan sendiri di kepala. Kira-kira ada berapa mobil yang keliatan dari sini."

Madoc menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Serius?"

"Serius. Kebiasaan dari kecil. Bapak saya sopir bus antarkota, jadi saya sering ikut kalau lagi libur sekolah, dan macet itu udah jadi bagian normal dari hidup saya." Dia tersenyum kecil, mengenang. "Daripada bosan, saya suka ngitung-ngitung random. Warna mobil paling banyak, plat nomor paling unik, apa aja."

"Sekarang ada berapa?"

Gwen menatap keluar jendela, menghitung serius. "Sekitar tiga puluh dua yang keliatan dari sisi ini."

Madoc tertawa pelan, satu tawa singkat yang jarang keluar darinya di luar konteks rapat formal. "Itu spesifik banget."

"Ya kebiasaan lama."

---

Ada sesuatu tentang kesederhanaan cerita itu yang membuat Madoc terdiam sebentar, memikirkan sesuatu yang biasanya tidak pernah dia bagikan ke orang lain.

"Bapak saya," katanya, tiba-tiba, sebelum sempat berpikir ulang, "dulu suka bawa saya ke kantor pusat pas saya masih SD. Duduk di sudut ruang rapat, disuruh diem, gak boleh ganggu."

Gwen menoleh, memperhatikan dengan serius, tidak menyela.

"Awalnya saya benci itu," lanjutnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, seolah dia sedang mengeluarkan sesuatu yang sudah lama dia simpan. "Duduk berjam-jam, denger orang dewasa ngomongin angka yang saya gak ngerti. Tapi lama-lama, saya mulai notice pola—cara bapak saya negosiasi, cara dia diem pas orang lain marah, cara dia nunggu waktu yang tepat buat ngomong."

"Belajar dari situ?"

"Iya. Cuma bapak saya gak pernah ngasih tau saya belajar apa. Dia gak pernah bilang 'ini pelajaran hidup' atau apa. Dia cuma bawa saya, terus saya yang harus nyari sendiri artinya."

Gwen berpikir sebentar, mencerna cerita itu dengan serius. "Itu berat juga, ya. Diajarin tanpa diajarin."

Madoc menatapnya, agak kaget dengan respons itu—bukan simpati berlebihan, bukan juga pujian kosong soal betapa hebatnya dia bisa belajar sendiri sejak kecil. Cuma satu kalimat yang tepat sasaran, yang langsung menangkap inti dari apa yang sebenarnya dia rasakan tanpa dia perlu menjelaskan lebih jauh.

"Iya," katanya, pelan. "Berat."

---

"Bapak saya beda," kata Gwen, setelah jeda singkat, seolah merasa perlu membalas cerita itu dengan sesuatu yang setara. "Dia gak pernah nuntut saya belajar apa-apa dari kerjaannya. Malah kalau saya nanya soal jalur mana yang paling cepet, dia jelasin detail—macet di mana, kenapa harus lewat situ, gimana caranya baca kondisi jalan dari jauh."

"Dari situ lo belajar analisis?"

"Mungkin," katanya, tersenyum kecil. "Atau mungkin emang dari situ saya belajar kalau setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, cuma perlu dicari dari sudut yang tepat. Kayak macet ini." Dia menunjuk ke luar jendela. "Kelihatannya stuck total, tapi kalau ditelusurin, pasti ada satu titik di depan sana yang jadi sumbernya, dan begitu itu kelar, semuanya bakal ngalir lagi."

Madoc mendengarkan, memperhatikan cara dia bicara soal hal sesederhana kemacetan dengan filosofi yang terdengar jauh lebih dalam dari sekadar obrolan pengisi waktu.

"Bapak lo masih sopir bus?" tanyanya.

"Udah pensiun. Sekarang di rumah aja sama ibu saya."

"Sering pulang?"

"Sebulan sekali, biasanya. Kadang lebih jarang kalau lagi sibuk." Dia menghela napas pelan. "Saya juga kadang ngerasa bersalah, sih. Udah kerja jauh dari rumah, jarang punya waktu buat mereka."

"Mereka tau kamu kerja keras."

"Iya, tau. Tapi tau sama cukup itu beda."

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Gwen, jujur, tidak dipoles untuk terdengar lebih ringan dari yang sebenarnya. Madoc menatapnya lama, merasakan sesuatu yang aneh menjalar di dadanya—rasa familiar yang datang dari mendengar seseorang mengucapkan hal yang selama ini dia rasakan sendiri, tapi tidak pernah dia ucapkan lantang ke siapa pun.

---

Mobil mulai bergerak perlahan, macet mulai terurai sedikit demi sedikit, tapi keduanya masih diam sejenak, membiarkan percakapan tadi mengendap tanpa perlu buru-buru diisi topik baru.

"Makasih udah cerita," kata Gwen akhirnya, memecah diam itu dengan nada yang tulus, bukan sekadar basa-basi. "Soal bapaknya Bapak."

Madoc menoleh, sedikit kaget dengan ucapan terima kasih itu—dia jarang mendapat respons seperti itu setelah membagikan sesuatu yang personal. Biasanya, orang-orang di sekitarnya cenderung merespons cerita semacam itu dengan pujian berlebihan tentang bagaimana dia bisa jadi CEO sukses meski dibesarkan dengan cara begitu, atau malah dengan simpati yang terasa dipaksakan.

Gwen tidak melakukan itu. Dia hanya mendengarkan, memberikan satu tanggapan yang jujur dan tepat sasaran, lalu berterima kasih seolah cerita itu sendiri adalah sesuatu yang berharga, bukan sekadar informasi yang perlu direspons dengan basa-basi sopan.

"Sama-sama," katanya, singkat, tidak tahu harus menambahkan apa lagi.

Mobil terus melaju, kemacetan sudah mulai terurai sepenuhnya, dan sisa perjalanan ke Bandung dilalui dalam diam yang berbeda dari diam sebelumnya—diam yang nyaman, bukan diam yang canggung, jenis keheningan yang hanya bisa terbentuk setelah dua orang saling membagikan sesuatu yang jujur tanpa perlu banyak kata untuk menjelaskannya lagi.

Madoc menatap keluar jendela, memikirkan betapa jarangnya dia merasa seperti barusan—bukan dihormati karena jabatannya, bukan didengar karena orang takut membantahnya, tapi benar-benar didengar, dengan seseorang yang merespons kata-katanya bukan karena siapa dia, melainkan karena apa yang dia katakan.

Dia tidak tahu kapan terakhir kali itu terjadi, dan dia tidak yakin ingin memikirkannya lebih jauh—takut menemukan jawaban bahwa ini memang yang pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!