Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian yang sia-sia
Jauh dari Jakarta, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Laras dan keluarganya mulai membangun kembali kehidupan dari nol. Uang yang diberikan sebagai "kompensasi" oleh Bu Marlina digunakan Bapak Slamet untuk membuka usaha bengkel kecil-kecilan, sementara Ibu Laras melanjutkan usaha kue basahnya di pasar tradisional setempat.
Namun bagi Laras sendiri, kepindahan itu terasa seperti hidup di dunia yang berbeda—dunia tanpa warna, tanpa semangat yang dulu selalu ia rasakan setiap kali memikirkan Raka.
"Kamu belum makan dari pagi," tegur ibunya suatu sore, mendapati Laras hanya duduk termenung di teras rumah kontrakan baru mereka yang sederhana. "Badan kamu makin kurus aja."
"Nggak lapar, Bu," jawab Laras pelan, matanya menerawang jauh ke arah jalanan yang sepi.
Ibu Laras duduk di sebelahnya, menggenggam tangan putrinya dengan lembut. "Ibu tau ini berat buat kamu, Nak. Tapi kamu harus mulai bangkit. Hidup harus jalan terus."
"Aku tau, Bu. Tapi susah rasanya."
"Ibu ngerti. Tapi coba pikirkan, keputusan yang kamu ambil itu demi kebaikan kita semua. Kamu udah berkorban banyak buat keluarga ini."
Laras mengangguk lemah, meski di dalam hatinya, ia tidak pernah benar-benar merasa keputusan itu sepenuhnya benar. Setiap malam, ia masih memikirkan Raka—bagaimana keadaannya sekarang, apakah ia baik-baik saja, apakah ia sempat mencarinya sebelum akhirnya menyerah.
Ia ingin sekali menghubungi Raka, menjelaskan semuanya, namun ancaman yang diberikan Bu Marlina masih terngiang jelas di kepalanya—ancaman yang menyangkut keselamatan pekerjaan ayahnya, bahkan reputasi keluarga mereka jika ia berani melanggar kesepakatan itu.
"Kalau kamu berani menghubungi dia lagi," kata Bu Marlina saat itu, sebelum mereka pergi, "anggap saja semua kesepakatan ini batal. Dan kamu tau sendiri apa konsekuensinya."
Kata-kata itu menjadi rantai tak kasat mata yang mengikat Laras, memaksanya untuk menahan diri meski hatinya menjerit ingin kembali, ingin menjelaskan semuanya kepada Raka.
Di Jakarta, pencarian Raka terhadap Laras berlangsung selama beberapa bulan pertama dengan penuh keputusasaan. Ia menyewa jasa pencari orang, menghubungi berbagai kenalan, bahkan sempat mendatangi kampus tempat Laras kuliah untuk mencari petunjuk dari dosen-dosen atau teman sekelasnya.
"Larasati Riyadi?" salah satu dosen yang ditemuinya mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Setau saya, dia mengundurkan diri dari kuliah beberapa bulan lalu. Alasannya keperluan keluarga mendadak."
"Bapak tau dia pindah ke mana?"
Dosen itu menggeleng. "Maaf, saya tidak tahu. Dia hanya mengurus surat pengunduran diri lewat staf administrasi, tidak sempat berpamitan langsung."
Setiap jalan yang ditempuh Raka selalu berakhir dengan jawaban yang sama—tidak ada yang tahu, tidak ada jejak yang bisa diikuti. Seolah Laras benar-benar menghilang ditelan bumi, meninggalkan hanya kenangan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawaban.
Jasa pencari orang yang disewanya pun akhirnya angkat tangan setelah tiga bulan pencarian tanpa hasil.
"Kami sudah coba semua cara, Pak," kata salah satu penyidik swasta yang ditemuinya di sebuah kafe. "Tapi sepertinya keluarga yang Anda cari ini sengaja menghilangkan jejak mereka dengan sangat rapi. Bahkan nomor KTP dan data kependudukan mereka sulit dilacak, seolah ada yang sengaja membantu mereka menghilang."
Kalimat itu membuat Raka terdiam, sebuah kecurigaan mulai muncul di benaknya. Namun setiap kali ia mencoba mengonfrontasi ibunya soal kemungkinan keterlibatan yang lebih jauh, Ibu Retno selalu berhasil mengalihkan pembicaraan atau menyangkalnya dengan tenang, membuat Raka semakin frustrasi karena tidak memiliki bukti kuat untuk mendukung kecurigaannya.
"Kalau emang Ibu nggak terlibat," desak Raka suatu malam, "kenapa jejak mereka bisa hilang serapi ini? Ini bukan kebetulan, Ma."
"Ibu nggak tau soal itu, Raka," jawab Ibu Retno tenang, meski matanya sedikit menghindar dari tatapan putranya. "Mungkin keluarga itu memang punya alasan sendiri untuk menghilang serapi itu. Ibu nggak bisa jelasin apa yang Ibu sendiri nggak tau."
Raka menatap ibunya lama, mencoba mencari kebohongan di balik kata-kata itu, namun ketenangan Ibu Retno terlalu sempurna untuk ditembus, membuat Raka akhirnya menyerah untuk terus mendesak, meski kecurigaan itu tidak pernah benar-benar hilang dari benaknya.
Setelah enam bulan pencarian yang sia-sia, Raka akhirnya memutuskan untuk berhenti mencari, meski bukan karena ia sudah ikhlas, melainkan karena rasa lelah yang sudah mencapai puncaknya. Setiap jalan buntu yang ia temui semakin memperkuat keyakinannya bahwa Laras memang sengaja menghilang, sengaja memutuskan semua kontak tanpa niat untuk kembali atau menjelaskan apa pun.
Kalau dia emang masih peduli, pikirnya pahit suatu malam, menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya, dia pasti udah cari cara buat ngasih kabar. Enam bulan itu waktu yang cukup lama buat orang yang bener-bener sayang.
Keyakinan itu, meski keliru, perlahan menjadi fondasi baru bagi kepribadian Raka yang terus berubah menjadi semakin dingin dan tertutup. Ia mulai membangun tembok pertahanan yang kokoh, bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah lagi membiarkan dirinya jatuh cinta sedalam itu, tidak akan pernah lagi memberikan kepercayaan penuh kepada siapa pun yang bisa menghancurkannya seperti yang dilakukan Laras—setidaknya, begitu yang ia yakini.
Ironisnya, di saat yang sama, di kota kecil yang jauh dari Jakarta, Laras juga menghadapi pergulatan batin yang sama beratnya. Setiap malam, ia menatap ponsel lamanya yang sudah tidak aktif, tersimpan rapi di dalam laci, sebagai satu-satunya kenangan yang tersisa dari kehidupan yang harus ia tinggalkan.
Raka pasti benci aku sekarang, pikirnya suatu malam, air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Dia pasti mikir aku ninggalin dia tanpa alasan, tanpa peduli sama perasaannya. Tapi aku nggak punya pilihan lain waktu itu. Aku cuma... aku cuma pengen ngelindungin keluarga aku.
Ia berharap suatu hari nanti, entah bagaimana caranya, Raka bisa mengetahui kebenaran di balik kepergiannya—bahwa itu bukan pengkhianatan, melainkan pengorbanan yang lahir dari rasa cinta yang begitu dalam, cinta yang rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi melindungi orang-orang yang ia sayangi.
Namun harapan itu semakin lama semakin memudar, tergantikan oleh kenyataan pahit bahwa waktu terus berjalan, jarak semakin melebar, dan kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepada Raka tampaknya semakin mustahil untuk terwujud.
Di dua tempat yang berjauhan, dua hati yang dulu begitu dekat kini terpisah oleh kesalahpahaman besar yang terus tumbuh subur, dipupuk oleh rasa sakit, kemarahan, dan ketidaktahuan—sebuah kesalahpahaman yang baru akan terungkap bertahun-tahun kemudian, dalam keadaan yang jauh lebih rumit dan menyakitkan dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.