[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Sosok Misterius
Cedric Valerius adalah seorang pria matang berusia 25 tahun, sesosok figur bos yang teramat baik, bijaksana, dan penuh pengertian di mata Elisa.
Kompleks kediaman mewahnya kebetulan hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari lokasi panti asuhan lama tempat Elisa tumbuh besar.
Elisa sendiri pertama kali mendapatkan penawaran bekerja paruh waktu di restoran mewah milik Cedric semenjak ia masih duduk di bangku kelas satu SMA.
Hampir tiga tahun lamanya ia menghabiskan waktu bekerja di bawah naungan pria itu, dan Cedric selalu menjadi satu-satunya tempat bersandar yang aman di tengah segala pahitnya kenyataan hidup sebagai seorang gadis yatim piatu.
"Mereka bertiga bukan sekadar segerombolan orang gila biasa yang bisa kau sepelekan, Elisa," gumam Cedric dengan nada suara yang memberat.
Sepasang manik mata hijau zamrudnya menatap tajam ke arah tikungan jalan raya tempat bersaudara Salvatore tadi menghilang tanpa jejak.
"Mereka adalah jenis masalah supranatural besar yang... seharusnya sejak awal tidak pernah kau sentuh atau kau dekati di kota ini."
"Mereka bertiga bukan sekadar segerombolan orang gila biasa, Elisa," gumam Cedric Valerius dengan nada suara yang memberat, sarat akan misteri yang tak teraba.
Sepasang manik mata hijau zamrudnya menatap tajam ke arah tikungan jalan raya tempat bersaudara Salvatore baru saja menghilang tanpa jejak.
"Mereka adalah jenis masalah supranatural besar yang... seharusnya sejak awal tidak pernah kau sentuh atau kau dekati di kota ini."
Suara bariton Cedric terdengar sangat dalam, bergaung mistis di indra pendengaran Elisa. Kalimat itu seketika membuat batin Elisa dilingkupi keyakinan mutlak bahwa ketiga pemuda kembar berjaket kulit tadi memang menyimpan ancaman bahaya yang teramat besar bagi jiwanya.
Namun, tepat di saat ia mencoba merangkai kembali kronologi kejadian di kepalanya, rasa pening yang luar biasa dahsyat mendadak menghantam pelipis Elisa.
Rasa sakitnya begitu ekstrem, membuat penglihatan manusianya berputar hebat bak dihantam badai tak kasat mata. Ia refleks mencengkeram kepalanya kuat-kuat, merintih pelan saat gelombang amnesia merayap di sela-sela memori otaknya.
Anehnya, bayangan wajah ketiga pria tadi mendadak mengabur. Visual pria angkuh bermotor hitam, pria dingin bermata safir di hutan, hingga seringai jahil si pemuda di atas perutnya perlahan-lahan memudar dari ingatan jangka pendeknya.
Tunggu... siapa... siapa nama mereka bertiga tadi? batin Elisa dirundung kepanikan yang luar biasa.
Ia mencoba memanggil rentetan nama yang beberapa menit lalu ia teriakkan, namun gagal total. Memorinya tentang identitas spesifik ketiga pria itu mendadak menguap hampa, laksana deretan tulisan kapur yang dihapus paksa dari papan tulis mentalnya oleh kekuatan gaib yang kejam.
"Elisa?!"
Cedric dengan sigap melangkah maju, menangkap kedua bahu kecil gadis itu tepat satu detik sebelum tubuh manusianya limbung dan terjatuh ke atas aspal.
"Aku... aku merasa ada yang sangat aneh dengan tubuhku sendiri, Tuan Cedric," bisik Elisa parau dengan napas yang memburu kaku. "Kenapa... kenapa setiap kali sepasang mataku melihat wujud mereka, aku merasa seluruh tubuhku mendadak dipenuhi oleh letupan energi yang masif, tapi di saat yang bersamaan... aku justru merasa ada sebagian dari jiwaku yang hilang dan menguap?"
Di tengah rasa peningnya, Elisa mulai menyadari sebuah pola aneh yang melingkupi eksistensi hidupnya. Setiap kali ia mencoba melepaskan kekuatan "hipnotis" manipulasi pikirannya—seperti saat pria bermata safir menyerangnya di tengah kegelapan hutan cemara, atau saat ia mencoba memengaruhi pria angkuh di atas motor sport tadi—tubuhnya akan merasa segar dan berenergi untuk sesaat. Namun, sebagai gantinya, memorinya akan langsung terpotong paksa dan menyisakan ruang kosong yang hampa.
Tetapi, ada satu anomali ganjil. Memori dan ingatannya tentang sosok Cedric Valerius dari awal pertemuan hingga detik ini selalu terjaga utuh tanpa cacat sedikit pun. Elisa berpikir, mungkin hal itu terjadi karena ia sama sekali tidak pernah sekalipun mencoba menggunakan gelombang kekuatan anehnya pada pria pirang itu.
Bagi Elisa, Cedric adalah sosok cinta pada pandangan pertamanya; sebuah perasaan fana yang teramat suci yang selama tiga tahun ini ia simpan rapat-rapat di dalam lubuk hatinya.
Meskipun terkadang dorongan rasa "haus" liar untuk merampas dan memakan ingatan Cedric sempat muncul di benaknya, Elisa selalu mati-matian menahan insting primitif tersebut. Ia tidak akan pernah mau melupakan barang satu detik pun momen kebersamaannya dengan pria itu di dunia ini.
Cedric terdiam seribu bahasa mendengar penuturan jujur sang gadis. Manik mata hijau zamrudnya menyiratkan rahasia kuno yang teramat dalam dan kelam.
Sebagai sesosok abadi dari ras Elf, indra magis Cedric bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa ada sesuatu yang purba, masif, dan berbahaya yang saat ini sedang bangkit secara perlahan di dalam inti jiwa gadis fana di hadapannya.
"Ayo ikut aku masuk ke dalam, El. Kau membutuhkan segelas air hangat dan istirahat total untuk memulihkan energimu," ajak Cedric lembut, sengaja tidak menjawab rentetan pertanyaan membingungkan dari Elisa demi melindunginya.
Mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju ke sebuah bangunan rumah berlantai dua bergaya elegan minimalis, yang letaknya hanya berjarak sekitar dua puluh meter saja dari kompleks panti asuhan lama yang reyot.
Namun, tepat sebelum langkah kakinya melewati ambang pintu rumah Cedric, Elisa sempat memutar kepalanya, menoleh ke arah belakang.
Di area jalanan aspal tempat motor sport hitam tadi sempat terparkir, Elisa mendadak merasakan sebuah tarikan tak kasat mata yang teramat kuat memanggil jiwanya. Ia tahu secara instingtif bahwa ada sesuatu yang teramat penting di titik itu, namun memori berharganya telah terbang jauh, dicuri oleh takdir kutukannya sendiri.
Di dalam dimensi benak Elisa yang terdalam, sebuah ilusi jam pasir raksasa kuno tampak terus mengalirkan butiran-butiran pasir terakhirnya secara konstan.
Elisa sama sekali tidak tahu apa arti dari visual gaib tersebut, namun dadanya selalu dilingkupi rasa urgensi yang menyesakkan. Ada sebuah intuisi purba yang membisikkan bahwa jika ia mampu bertahan sedikit lagi saja—beberapa tahun lagi di dunia fana ini—maka kabut kegelapan yang menyelimuti identitas aslinya akan tersingkap sepenuhnya.
Namun, setiap kali ia mencoba memaksa otaknya untuk mengingat masa lalu, rasa haus liar itu kembali datang menyerang tenggorokannya. Sebuah rasa haus yang memaksanya untuk terus mencuri, merampas memori makhluk lain, dan pada akhirnya... melupakan jati dirinya sendiri.
Sementara itu, tepat di atas struktur atap panti asuhan lama yang senyap dan tak berpenghuni, sesosok anak laki-laki kecil misterius tampak sedang duduk dengan sepasang kaki yang menjuntai ke bawah.
Kulitnya pucat transparan, dan ia sama sekali tidak terpengaruh oleh embusan angin malam pegunungan yang menggigit tulang. Jemari mungilnya justru sedang sibuk menggoreskan sebatang pena bertinta perak berkilau di atas permukaan lembaran buku usang tebal yang berselimut sihir abadi.
"Tahun ke-995. Siklus ke-40. Sang Dewi kembali dipertemukan dengan faksi The Triumvirate. Energi purba berhasil terserap sebanyak dua belas persen. Status ingatan jangka pendek Sang Dewi mengenai identitas kuno mereka: Terhapus total."