Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Tiga preman itu secara reflek terpaksa menyingkir mundur dari jalan Akbar karena entah mengapa mereka tiba-tiba merasa ketakutan.
Ting!
Suara mekanis sistem kembali bergema jernih di dalam kepala Akbar begitu dia melangkah keluar dari halaman minimarket.
[Selamat, Misi Utama Pertama berhasil diselesaikan dengan hasil sangat sempurna!]
[Hadiah Penyelesaian Misi telah ditambahkan secara otomatis ke dalam inventaris sistem ruang Tuan.]
[Tuan mendapatkan imbalan: 50 Poin Hoki.]
[Tuan mendapatkan imbalan: Satu Kotak Item Misteri Kelas Perunggu.]
[Apakah Tuan ingin membuka Kotak Item Misteri Kelas Perunggu tersebut sekarang juga?]
"Jangan dibuka sekarang sistem, aku akan membukanya saat sudah sampai dengan aman di kamarku saja," batin Akbar menjawab perintah itu.
[Permintaan diterima. Kotak Item Misteri akan disimpan dengan aman di dalam inventaris spasial rahasia Tuan.]
Akbar tersenyum sangat puas sambil menenggak teh manis dari botol yang baru saja memberinya keajaiban motor baru tersebut.
Malam ini adalah malam yang paling tidak masuk akal sekaligus malam terbaik dalam sembilan belas tahun hidupnya.
Dia berjalan sangat santai menyusuri jalanan kampung yang sepi dan minim penerangan menuju rumah kontrakannya yang reyot.
Di kejauhan ujung desa, suara gonggongan anjing liar terdengar menyahut-nyahut memecah kesunyian di tengah gerimis sisa hujan.
Sementara itu di dalam area minimarket, Tono buru-buru mengeluarkan ponsel mahalnya dan menelepon seseorang dengan tangan gemetar.
"Halo Bos Dion, gawat Bos!" teriak Tono sangat panik begitu panggilan teleponnya tersambung.
"Ada masalah apa sih malam-malam begini telepon segala? Kalian semua mengganggu waktu tidurku saja," jawab suara Dion di seberang sana dengan nada sangat malas.
"Bos, ini beneran gawat luar biasa Bos! Si anak kutukan Akbar itu ternyata belum mati!"
"Apa kau bilang barusan? Mustahil, aku sendiri yang melihat dengan mata kepalaku dia terjun ke sungai berarus deras gila itu."
"Benaran Bos sumpah demi Tuhan, dia baru saja keluar dari Indomaret sini bajunya kotor bau lumpur sungai semua!"
"Dan yang lebih gila lagi Bos..." suara Tono mendadak sedikit bergetar pelan karena ragu mau melanjutkan kalimatnya.
"Lebih gila soal apa lagi? Cepat katakan bodoh jangan bertele-tele!" bentak Dion mulai marah dari balik telepon.
"Si Akbar baru saja beli teh promo eceran satu botol dan dia langsung menang hadiah motor Scoopy yang Bos incar dari bulan lalu itu!"
Hening seketika. Tidak ada suara jawaban apa pun dari mulut Dion selama beberapa belas detik berlalu.
Prang!
Suara barang kaca pecah dibanting ke tembok terdengar sangat keras menyakitkan telinga dari dalam sambungan telepon.
"Anak keparat sialan tidak tahu diri!" teriak Dion mengamuk sejadi-jadinya dari seberang panggilan telepon itu.
"Besok pagi-pagi sekali seret anak anjing itu ke hadapanku, akan kubuat dia menyesal masih hidup bernafas di kampung kekuasaanku ini!"
Tut tut tut.
Panggilan telepon langsung diputus secara sepihak dan penuh amarah oleh Dion.
Tono, Riki, dan Yanto saling berpandangan satu sama lain dengan wajah yang sangat tegang.
Mereka bertiga sangat tahu kalau besok pagi kampung ini akan digemparkan oleh sebuah keributan besar.
Bukan sekadar karena anak pembawa sial yang selamat dari maut sungai.
Tapi karena anak pembawa sial itu baru saja merebut rezeki besar yang mati-matian diincar oleh anak kepala desa yang kejam.
Akbar akhirnya sampai di depan rumah kontrakannya yang berada di ujung jalan kampung paling sepi.
Bangunan kayu itu sebenarnya lebih pantas disebut sebagai gubuk derita daripada sebuah rumah layak huni.
Dindingnya terbuat dari anyaman bambu kusam yang sudah berlubang di sana-sini dimakan rayap.
Atap seng karatan di atasnya dipastikan akan selalu bocor parah kalau hujan deras sedang turun mengguyur.
Akbar mendorong pintu kayu lapuk itu yang memang sejak awal tidak memiliki lubang kunci pengaman sama sekali.
Krieet.
Suara engsel besi berkarat berbunyi nyaring memecah keheningan malam kamarnya.
Dia melangkah masuk ke dalam dan langsung menarik sakelar menyalakan lampu kuning pijar yang sinarnya sudah sangat redup.
Ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu adalah tempat satu-satunya baginya untuk tidur, makan, dan meratapi nasib.
Akbar bergegas melepas jaketnya yang basah kuyup dan celana jeansnya yang penuh sisa lumpur bau dari dasar sungai.
Dia lalu berjalan ke belakang menuju kamar mandi luar umum untuk membersihkan dirinya secepat mungkin.
Air sumur timba yang sangat dingin menyentuh pori-pori kulitnya, tapi anehnya Akbar malah merasa sangat segar luar biasa.
Atribut fisiknya yang baru saja meningkat drastis itu benar-benar membuat daya tahan tubuhnya kebal terhadap cuaca dingin ekstrem.
Selesai mandi bersih, Akbar memakai kaos oblong putih andalannya yang bersih dan celana pendek selutut yang nyaman.
Dia kembali ke kamar dan duduk bersila tenang di atas kasur lantai lipatnya yang sudah menipis.
"Sistem, aku sudah siap dengan tenang sekarang," ucap Akbar memecah keheningan di kamarnya sendiri.
"Keluarkan dan buka Kotak Item Misteri Kelas Perunggu itu untukku sekarang juga."
Ding!
Layar biru holografik kembali muncul dengan animasi peti kotak perunggu yang perlahan terbuka memancarkan cahaya menyilaukan.
[Kotak Item Misteri Kelas Perunggu berhasil dibuka oleh Tuan!]
[Selamat! Tuan beruntung mendapatkan item gaib: Jimat Pengalih Kesialan Sekali Pakai.]
[Fungsi Utama: Mampu menyerap satu serangan kesialan fatal yang ditujukan kepada Tuan, lalu memantulkannya kembali seratus persen kepada orang yang berniat jahat tersebut.]
Mata Akbar berbinar terang membaca deskripsi ajaib dari item yang baru saja didapatkannya itu.
"Item ini benar-benar tidak masuk akal, ini bukan sekadar keberuntungan pasif semata, tapi ini murni senjata untuk menyerang balik," guman Akbar takjub.
"Kalau si keparat Dion besok pagi berniat mencelakaiku, aku tinggal memakai jimat pemantul ini padanya."
"Biar dia sendiri yang merasakan pahitnya karma instan dari perbuatannya yang busuk itu."
[Peringatan: Item ini adalah barang fisik gaib transparan, akan langsung otomatis muncul terpakai di saku Tuan saat bahaya dibutuhkan.]
Akbar mengangguk sangat paham dan merasa jauh lebih aman sekaligus tenang dari sebelum-sebelumnya.
Dia lalu merebahkan tubuh atletis barunya di atas kasur tipis yang terasa agak keras menekan punggungnya.
Tapi malam ini sangat berbeda, dia sama sekali tidak merasa sedih atau ingin menangis meratapi nasib seperti malam-malam sebelumnya.
Pikirannya terus berputar liar memikirkan masa depan barunya yang tampak sangat cerah menanti.
"Ayah, Ibu, anak tunggal kalian ini tidak jadi menyusul kalian malam ini," bisik Akbar perlahan sambil menatap kosong ke langit-langit kamarnya yang bocor.
"Akbar berjanji di atas nyawa Akbar sendiri, akan mencari tahu siapa dalang sebenarnya di balik kecelakaan kalian waktu itu."
"Dan Akbar berjanji, mulai detik ini tidak akan ada lagi orang yang bisa menginjak-injak harga diri keluarga kita dengan mudah."
Rasa kantuk yang amat berat perlahan mulai menyerang kedua matanya yang sudah sangat kelelahan seharian ini.
Hari ini adalah hari paling panjang sekaligus gila dalam hidupnya yang penuh dengan kejutan tak masuk akal ini.
Hujan di luar sana akhirnya sudah benar-benar berhenti menyisakan paduan suara jangkrik malam yang bersahutan.
Akbar pun perlahan terlelap dalam tidurnya dengan sebuah senyuman kecil yang belum pernah menghiasi wajahnya selama lima tahun terakhir.