Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengejaran yang Terhambat dan Bayang Kebahagiaan
Pagi itu, langit di atas Jakarta tampak bersih tanpa awan, namun di dalam mobil sedan hitam milik Dean, atmosfer terasa begitu mencekam. Genggaman tangan Dean pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Salinan draf laporan forensik digital dari firma independen yang dia baca semalam tergeletak di kursi penumpang sebelah kiri—kursi yang dulu selalu diisi oleh tawa riuh Valerie, kursi yang kini menjadi saksi bisu dari kebodohan logikanya sendiri.
Dean melajukan mobilnya membelah kemacetan menuju kawasan kampus fakultas biologi. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, sebuah anomali fisik yang belum pernah dia rasakan sepanjang dua puluh enam tahun hidupnya. Rasa bersalah yang teramat sangat besar dan kerinduan yang membakar habis sisa egonya menuntut satu hal: dia harus menemui Valerie sekarang juga, merendahkan dirinya di depan kaki gadis itu, dan memohon ampun atas vonis kejam yang telah dia jatuhkan sebulan lalu.
Begitu mobilnya terparkir di area halaman kampus, Dean segera turun dengan langkah besar dan terburu-buru. Penampilannya masih seformal biasanya dengan kemeja kerja yang rapi, namun sorot matanya yang tajam bak elang kini dipenuhi oleh kecemasan yang pekat. Dia berjalan menyusuri koridor lobi utama fakultas, mengabaikan tatapan heran dari beberapa mahasiswa yang mengenali sosoknya sebagai pengusaha sukses yang kaku.
"Di mana Valerie?" bisik Dean pada dirinya sendiri, matanya menyapu setiap sudut selasar koridor yang ramai oleh hilir mudik mahasiswa baru yang membawa diktat perkuliahan.
Langkah kaki Dean mendadak terhenti sempurna di dekat belokan menuju taman dalam fakultas. Tubuhnya membeku, dan seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis dalam sekilas pandang.
Di sana, di bawah naungan pohon peneduh yang rindang di tepi taman, Valerie sedang duduk di sebuah kursi taman besi. Gadis itu mengenakan gaun kasual berwarna pastel yang lembut, rambutnya yang hitam dibiarkan terurai bebas ditiup angin sepoi-sepoi. Namun, yang membuat jantung Dean mencelos adalah binar di wajah Valerie. Gadis itu sedang tertawa lepas—sebuah tawa ekspresif, renyah, dan penuh dengan keceriaan murni yang sudah satu bulan penuh ini hilang dari memori Dean.
Dan Valerie tidak sedang tertawa sendirian.
Di sampingnya, duduk seorang pria bertubuh jangkung dengan jaket denim yang tampak begitu kasual namun gagah. Carlo. Pria itu sedang memegang sebotol air mineral, menatap wajah Valerie dengan sepasang mata cokelat yang memancarkan kehangatan dan validasi tulus yang teramat pekat. Tangan kanan Carlo bergerak dengan sangat lembut, merapikan beberapa helai rambut Valerie yang terbang menutupi pipinya akibat hembusan angin. Gestur itu begitu penuh inisiatif, begitu protektif, dan Valerie... gadis itu tidak menolak perlakuan tersebut. Dia justru menundukkan kepalanya dengan semburat merah muda yang kian menebal di kedua belah pipinya, menyiratkan rasa nyaman yang luar biasa aman di samping pria itu.
Dean terpaku di tempatnya berdiri, bersandar pada pilar beton koridor yang dingin agar tubuhnya tidak limbung. Logika kaku yang selama ini dia agungkan dalam hidup mendadak mengalami kelumpuhan total menghadapi pemandangan nyata di depannya. Di tempat yang sunyi ini, Dean menyadari satu hal yang menampar egonya dengan sangat keras: senyuman seindah itu, tawa selepas itu, adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dia berikan kepada Valerie selama dua tahun kebersamaan mereka.
Saat bersama dirinya dulu, Valerie harus selalu menahan diri, mengalah pada aturan waktunya yang kaku, dan menangis mengemis perhatian di bawah bayang-bayang robot es yang pasif. Namun di samping pria asing berjaket denim itu, Valerie terlihat begitu dihargai, begitu diinginkan, dan begitu dicintai sebagai seorang wanita seutuhnya. Masa pendekatan tulus yang dilakukan oleh Carlo tanpa melibatkan rumus logika terbukti telah berhasil menghidupkan kembali cahaya yang sempat Dean padamkan secara kejam di ruang kerja CEO tempo hari.
Dari kejauhan, Tiara yang baru saja keluar dari ruang laboratorium biokimia berjalan mendekati taman. Langkah kaki adik kandung Dean itu terhenti saat matanya menangkap sosok kakaknya sedang berdiri mematung di balik pilar koridor dengan wajah pucat pasi dan tatapan mata yang hancur.
Tiara menghela napas panjang, berjalan menghampiri Dean dengan raut wajah yang dingin tanpa rasa iba sedikit pun. "Untuk apa Kakak ke sini?" tanya Tiara, suaranya pelan namun sarat akan penekanan yang menusuk.
Dean menoleh lambat, menatap adiknya dengan sisa-sisa kewarasannya yang tersisa. "Tiara... laporan forensik independen semalam... Valerie tidak salah. Dania yang memfitnahnya. Saya ke sini untuk—"
"Untuk apa, Kak? Untuk menjatuhkan vonis baru menggunakan rumus matematikamu?" potong Tiara ketus, melipat kedua tangannya di depan dada. Dia melirik ke arah taman di mana Valerie dan Carlo sedang berjalan beriringan menuju perpustakaan pusat kampus [local]. "Penyesalan Kakak itu sudah terlambat. Sangat terlambat. Satu bulan ini, saat Kakak sibuk mengubur diri dalam pekerjaan dan percaya pada air mata buaya si ular Dania, Valerie hancur hancur-hancuran di apartemennya sendirian. Dia merasa tidak berharga, merasa dibuang oleh keluarganya dan oleh pacarnya sendiri."
Tiara menatap lekat-lekat mata elang Dean yang kini tampak meredup layu. "Tapi sekarang, lihat ke sana, Kak. Kak Carlo sudah mendampingi Valerie setiap hari selama satu bulan ini tanpa menuntut alasan logis atau bukti fisik apa pun. Dia menyembuhkan luka Valerie dengan kehangatan yang tidak pernah Kakak punya. Di mata Kak Carlo, Valerie adalah prioritas utama, bukan variabel pengganggu seperti yang sering Kakak katakan dulu."
Kata-kata Tiara bagai palu godam yang menghantam sisa pertahanan mental Dean malam itu. Logikanya yang dingin terpaksa mengakui setiap kebenaran dari kalimat adiknya. Kehadiran dirinya sekarang di depan Valerie tidak akan memperbaiki apa pun; kehadirannya justru hanya akan mengusik proses penyembuhan luka batin gadis itu yang baru saja dimulai.
Dean kembali mengalihkan pandangannya ke arah taman, menatap punggung Valerie yang kian menjauh di samping Carlo di bawah siraman cahaya matahari pagi yang hangat. Rasa bersalah yang teramat sangat pekat meremas dadanya hingga membuatnya sesak napas.
Bagi seorang pria perfeksionis seperti Dean, ini adalah hukuman mati yang paling adil bagi seluruh kebodohan, ketakutan, dan sikap kakunya selama ini. Logikanya membuat keputusan yang teramat menyakitkan demi kebahagiaan wanita yang sangat dicintainya: dia harus memilih mundur dan memberikan jalan bagi Valerie untuk bahagia bersama pria lain yang jauh lebih layak menjaganya.
Dean membalikkan tubuhnya dengan langkah yang terasa begitu berat dan kaku, berjalan kembali menuju area parkir mobil tanpa pernah sempat menyapa atau memanggil nama Valerie hari itu. Setibanya di dalam mobil, dia memukul kemudi dengan kepalan tangannya sekali, membiarkan setitik air mata penyesalan yang langka lolos membasahi pipinya yang mengeras.
Ponsel kerjanya di dalam saku bergetar pelan. Sebuah panggilan masuk dari nomor kantor tertera di layar. Dean menggeser tombol hijau, suaranya kembali berubah drastis menjadi sedingin es di kutub utara, penuh dengan aura kemarahan yang tenang namun mematikan yang siap dia luapkan sepenuhnya pada dalang di balik kehancuran hidupnya.
"Ya, Dania?" jawab Dean kaku.
"Pak Dean, ini ada perwakilan dari divisi logistik yang menanyakan berkas kontrak final yang kemarin—"
"Persiapkan seluruh berkas audit internal dan log data komputermu di atas meja saya dalam waktu tiga puluh menit, Dania," potong Dean tanpa intonasi, nadanya begitu rendah namun sarat akan ancaman hukum yang mutlak. "Dan panggil Timoty untuk ikut masuk ke ruangan saya begitu saya tiba. Topengmu sudah selesai, dan hari ini saya sendiri yang akan menghancurkan kariermu di kota ini sampai tidak bersisa."
Klik. Sambungan telepon diputus sepihak.
Mobil sedan hitam milik Dean melesat pergi meninggalkan kawasan kampus dengan kecepatan tinggi menuju pusat kota, bersiap untuk mengeksekusi konfrontasi terbesar dan memberikan konsekuensi hitam yang tak terampuni bagi Dania di ruang kerja CEO esok hari, sementara di duniakah kampus yang damai, Valerie terus melangkah menyusuri koridor perpustakaan bersama Carlo dengan seulas senyuman manis yang kian merekah indah, seolah badai dingin yang bernama Dean telah benar-benar berlalu dari lembaran takdir hidupnya.