"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Langkah Reyhan menyusuri koridor berbatu ndalem utama terasa begitu tergesa. Jubah hitam yang melingkupi tubuhnya berkibar tertiup angin dingin yang berembus deras dari puncak Welirang. Di sepanjang lorong, beberapa santri putra menunduk hormat sewaktu ia melintas, namun pikiran Reyhan sama sekali tidak berada di sana. Dadanya bergemuruh hebat sejak kabar itu sampai di telinganya—Naya ada di pondok.
Naya kembali.
Pria itu menghentikan langkahnya tepat di balik pilar jati ukir yang menyangga teras samping ndalem. Dari jarak sepuluh meter, pandangannya terkunci pada sosok wanita yang berdiri anggun di dekat pintu kaca ruang makan keluarga.
Naya sedang membetulkan letak selendang di bahu Bu Nyai Khadijah. Jemarinya telaten, gerakannya teratur tanpa ketergesaan. Ada senyum tipis—senyuman tulus yang amat langka Reyhan lihat selama tiga ratus enam puluh lima hari mereka berbagi atap—terulas manis di bibir wanita itu sewaktu mendengarkan gurauan Kyai Ahmad.
Reyhan terpaku. Matanya tak sanggup berpaling dari paras ayu yang selama setahun ini ia sisihkan begitu saja. Naya tidak mengenakan perhiasan mencolok, hanya gamis kain polos dan jilbab senada yang menjuntai rapi. Namun, ketenangan jiwanya memancarkan aura kelas atas yang amat bersahaja. Sebuah keanggunan alami yang tak bisa dibeli dengan sanjungan semu.
Penyesalan itu tidak datang menghantam bagai badai seketika, melainkan merayap pelan bagai racun yang menetes satu demi satu. Rasa kehilangan itu mulai mematuk dada Reyhan dari hal-hal kecil. Ia teringat bagaimana dua hari belakangan ini meja kerjanya terasa berantakan tanpa ada yang merapikan kitab-kitabnya. Ia teringat cangkir kopi arabika dengan kadar gula yang selalu pas, yang biasa sudah tersaji saban subuh tanpa pernah diminta. Lebih dari itu, bisik-bisik pujian santriwati tentang betapa cekatannya Naya membereskan administrasi pesantren tanpa cela kini terasa bagai tamparan keras di wajahnya.
"Naya, nduk... makan siang dulu ya di sini sama Umi dan Abi. Tadi Umi minta Mbak Zaenab masak lodeh terong kesukaanmu," suara Bu Nyai Khadijah terdengar hangat, menyusup ke telinga Reyhan yang masih terdiam di balik pilar.
Naya tampak ragu sejenak. Manik matanya menatap lembut ke arah ibu mertuanya. "Naya sebenarnya mau langsung balik ke kontrakan, Umi. Berkas di pondok putri sudah selesai semua..."
"Sebentar saja, Naya. Nanti Abi yang minta Kang Ma'ruf antar kamu pulang," potong Kyai Ahmad tegas namun teduh. "Menghormati tuan rumah itu bagian dari adab, kan?"
Naya menyunggingkan senyum tipis yang penuh pengertian. Ia tahu, menolak ajakan kedua orang tua berhati mulia ini hanya akan melukai perasaan mereka.
"Inggih, Abi. Naya ikut makan siang."
Reyhan menghela napas panjang, mencoba menata detak jantungnya yang tak beraturan sebelum memberanikan diri melangkah menembus batas pintu utama.
Tap. Tap.
Langkah kaki Reyhan membuat kehangatan di ruang makan itu surut dalam hitungan detik. Suasana yang tadinya diwarnai tawa pelan Kyai Ahmad berubah kaku dan dingin.
Naya tidak menoleh. Ia tetap menunduk khidmat, menarikkan kursi kayu untuk Bu Nyai sebelum akhirnya duduk di sebelah kiri mertua wanitanya. Sikapnya begitu tenang, seolah keberadaan Reyhan di ruangan itu tak lebih dari embun pagi yang menempel di kaca jendela.
"Assalamu’alaikum," panggil Reyhan lirih. Suaranya serak, kehilangan seluruh wibawa yang biasa ia pamerkan di atas mimbar ceramah.
"Wa’alaikumussalam," jawab Kyai Ahmad datar, tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya. Bu Nyai Khadijah hanya mengangguk tipis, sementara Naya menyahut dalam hati tanpa bersuara.
"Duduk, Reyhan. Kita makan," perintah Kyai Ahmad dingin.
Reyhan mengambil posisi duduk tepat di seberang Naya. Meja makan jati berukir itu terasa begitu lebar, membentangkan jarak geografis dan emosional yang amat jauh di antara mereka.
Naya mengambilkan nasi untuk Bu Nyai, lalu memindahkan sendok sayur dengan gerakan yang amat santun dan tertata. Setiap lekuk gerak jemarinya menunjukkan pendidikan serta tata krama kelas atas. Reyhan memperhatikan setiap inci pergerakan itu secara diam-diam. Manik mata bahagianya yang dulu sering mengabaikan Naya, kini rakus merekam ketenangan wanita di hadapannya.
Tidak ada percakapan berlebihan selama makan siang berlangsung. Hanya denting halus sendok yang beradu dengan piring porselen. Namun di balik keheningan itu, dada Reyhan bergemuruh hebat. Pria itu beberapa kali sengaja menghentikan kunyahannya, berharap Naya akan mendongak atau sekadar menawarkan air minum padanya seperti yang biasa seorang istri lakukan.
Namun Naya tetap pada pendiriannya. Wanita itu fokus menikmati suapannya dengan tenang. Kehadiran Reyhan tidak lagi memicu rasa marah, benci, ataupun cinta di matanya. Yang tersisa hanyalah kepastian bahwa pria di hadapannya adalah masa lalu yang sudah selesai.
Sementara itu, di balik tirai jendela kaca koridor luar yang menghubungkan ndalem utama dengan asrama, seorang wanita muda berdiri mematung.
Rani baru saja kembali dari area asrama putri. Ia bermaksud mencari Reyhan untuk menanyakan kejelasan nasibnya. Namun, langkah kakinya terhenti tepat sebelum melewati pintu teras samping.
Dari balik keremangan koridor, mata Rani menangkap pemandangan di dalam ruang makan.
Pemandangan itu terlihat begitu sempurna, elegan, dan utuh. Di sana, Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah duduk berdampingan dengan Naya yang tampak amat menyatu dalam lingkaran keluarga terpandang tersebut. Keanggunan Naya yang terpancar tanpa usaha, cara duduknya yang tegap namun santun, serta perlakuan hangat kedua pimpinan pesantren pada wanita itu membuat Rani mendadak merasa seperti orang asing yang kotor.
Rani meremas ujung jilbab lusuhnya. Jemarinya gemetar.
Selama ini, Rani membayangkan bahwa jika ia berhasil masuk ke ndalem utama dan mendampingi Gus Reyhan, ia akan disambut sebagai sosok wanita salihah yang disayangi. Ia mengira kepolosannya dan sikap pasrahnya akan membuat keluarga ini luluh. Namun menatap bagaimana Naya berdiri anggun di atas martabatnya sendiri, Rani sadar betapa dangkalnya ilusi yang selama ini ia bangun.
Sorot mata Rani yang menatap Naya dari kejauhan dipenuhi perpaduan rasa bersalah yang menggerogoti jiwa dan ketakutan luar biasa. Ia melihat bagaimana mata Gus Reyhan tak pernah sekalipun lepas memandangi Naya—sebuah tatapan penuh kerinduan dan penyesalan mendalam yang tak pernah pria itu layangkan padanya sewaktu mereka berada di kamar siri di Kediri.
Gus Reyhan tidak pernah benar-benar mencintaiku, bisik batin Rani, getir. Dia hanya menggunakan kepasrahanku untuk melarikan diri dari kehebatan Ning Naya.
Perasaan bersalah yang berbaur dengan ketakutan yang mulai mengintainya membuat lutut Rani terasa lemas. Perempuan muda itu mundur beberapa langkah, berniat pergi sebelum ada yang menyadari keberadaannya.
**
Suara denting piring di ruang makan ndalem utama lamat-lamat hilang, tergantikan oleh desir angin dingin yang membelah pepohonan pinus di sekitar komplek pesantren. Rani berjalan setengah berlari menuju taman belakang pondok putri—satu-satunya sudut yang cukup sepi untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah pucat bagai kehilangan darah.
Udaranya membeku, tipikal lereng Pacet ketika kabut siang mulai turun. Namun telapak tangan Rani justru basah oleh keringat dingin. Perempuan dua puluh tahun itu mendaratkan tubuhnya di atas bangku semen di bawah naungan pohon kanopi yang rindang. Dibukanya jemari yang sejak tadi mengepal erat, memperlihatkan lipatan kain jilbabnya yang kusut.
Di tempat inilah dulu ia sering duduk menyendiri, memikirkan almarhum ayahnya yang terus-terusan terbaring sakit di Kediri. Rani memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan garis wajah Naya saat duduk di samping Bu Nyai Khadijah tadi terus berputar di kepalanya bagai rekaman usang yang enggan berhenti. Begitu anggun, begitu bersahaja, dan tak sedikit pun memancarkan keputusasaan meski rumah tangganya dihantam badai.
Apakah aku sejahat itu? bisik nuraninya, pelan dan menyakitkan.
Rani menunduk, menatap ujung sepatunya yang berdebu. Dulu, ia tidak pernah bercita-cita menjadi benalu di dalam rumah tangga orang lain. Ia hanya seorang santriwati biasa dari keluarga serba kekurangan yang berusaha menyelesaikan hukum-hukum fiqih dan hafalan ayatnya. Ketika ayahnya terbaring sekarat dan dunia seolah meremukkan punggungnya, kehadiran Gus Reyhan—pria berwibawa, berilmu tinggi, dan dihormati ribuan orang—terasa seperti uluran tangan Tuhan yang menyelamatkannya dari jurang keputusasaan.
Kala itu, ucapan Reyhan yang berjanji akan menjaganya atas nama rasa iba dan amanah sang ayah, terasa bagai pegangan hidup satu-satunya. Rani melarikan diri pada perlindungan pria itu karena takut sebatang kara di dunia yang kejam ini. Ia rela menerima status pernikahan siri, bahkan rela menerima takdir menjadi yang kedua, sebab di kepalanya yang polos dan naif, "cinta karena Allah" dan kepatuhan mutlak adalah satu-satunya cara membalas budi.
Namun siang ini, matanya terbuka lebar. Melihat bagaimana Reyhan memandang Naya dengan binar penyesalan yang dalam, Rani menyadari satu hal yang amat menyengat: dirinya bukanlah wanita yang dicintai, melainkan sekadar pelarian sementara untuk memanjakan ego seorang pria yang merasa tertekan oleh kesempurnaan istri sahnya.
Isakan pelan akhirnya lolos dari bibir Rani. Katup dadanya naik turun menahan rasa sesak. Ia takut. Sungguh, ia amat takut pada masa depannya sendiri. Jika pernikahan siri ini terbongkar sepenuhnya dan Naya benar-benar pergi, akankah Reyhan tetap mempertahankannya? Atau pria itu justru akan menyalahkannya atas runtuhnya kehormatan ndalem, lalu mendepaknya begitu saja kembali ke jalanan?
Ia merasa terjebak di tengah pusaran arus yang tak sanggup ia kendalikan.
**
Sementara itu, di dalam ndalem utama, jam dinding kuno berdetik lambat. Makan siang yang hening itu akhirnya selesai. Naya berdiri dari kursinya, membantu Mbak Zaenab merapikan piring-piring kotor dengan gerakan yang tenang dan sigap, menolak dengan halus ketika mertuanya menyuruhnya tetap duduk.
Kyai Ahmad mengamati menantunya itu dengan tatapan penuh rasa bangga yang bercampur dengan kepedihan mendalam. Beliau lalu berdeham pelan, memecah keheningan ruangan.
"Reyhan," panggil Kyai Ahmad, suaranya berat dan berwibawa.
Reyhan yang sedang memegang cangkir tehnya seketika mendongak. "Inggih, Abi?"
"Selesaikan urusanmu di kantor sekretariat putra. Nanti sore, selepas asar, Abi tunggu kamu di ruang kerja," tegas Kyai Ahmad. Tidak ada bentakan, namun nada bicaranya menyimpan ketegasan yang tak bisa ditawar. "Ada hal besar yang harus kita putuskan bersama."
Reyhan menelan ludah, memandangi wajah ayahnya yang kaku sebelum matanya kembali melirik pada Naya yang sedang membelakangi mereka di dekat wastafel.
"Inggih, Abi..."
Naya mengelap tangannya hingga kering dengan kain bersih. Ia memutar badan, lalu mengumbar senyum tipis yang amat menenangkan ke arah Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah.
"Abi, Umi... Naya mohon izin pamit kembali ke rumah sekarang," pamit Naya halus. "Semua draf pelimpahan tugas di pondok putri sudah selesai Naya serahkan ke Ustadzah Fatimah. Kalau ada berkas yang kurang paham, Ustadzah Fatimah bisa langsung menghubungi Naya."
Bu Nyai Khadijah bangkit dari duduknya, melangkah mendekat lalu merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukan hangat. Air mata wanita paruh baya itu menetes basah di bahu gamis Naya.
"Maafkan Umi ya, Naya... Maafkan keluarga ini yang belum bisa menjaga kebahagiaanmu," bisik Bu Nyai dengan suara gemetar.
Naya mengusap punggung ibu mertuanya dengan lembut. "Umi tidak salah sama sekali. Kasih sayang Umi dan Abi selama ini adalah anugerah terbesar buat Naya. Jangan menyalahkan diri sendiri, Umi."
Reyhan berdiri mematung di samping meja. Jemarinya mengepal di dalam saku jubahnya. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk melangkah maju, memegang tangan Naya, dan memohon agar wanita itu tidak melangkah keluar dari pintu rumah ini. Namun, tatapan mata Naya yang begitu tenang dan netral saat tak sengaja beradu pandang dengannya, seolah membangun benteng tinggi tak kasat mata yang meruntuhkan seluruh keberaniannya.
Kamu benar-benar sudah menganggapku tak ada, Nay? batin Reyhan meringis.
Naya mencium tangan kedua mertuanya dengan penuh rasa hormat, lalu membalikkan badan. Langkah kakinya terdengar teratur menapaki ubin dingin ndalem, bergerak mantap menuju pintu keluar tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah