Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kalimat itu menusuk hati Sebastian. Ia berhenti melangkah, namun suaranya tetap lembut dan tegas. "Aku berjanji akan menceritakan semuanya. Semua yang aku ketahui."
Elena menatapnya ragu. "Benar-benar semua?"
"Semua yang bisa kupastikan kebenarannya." Sebastian menarik napas dalam. "Dua belas tahun lalu, keluarga Arvienne sedang menghadapi masalah besar. Bukan sekadar masalah keuangan."
"Apa maksudmu?"
"Seseorang berusaha mengambil alih perusahaan keluargamu. Victor Armand."
Elena terdiam. Nama itu kembali muncul. "Victor?"
"Ya. Ayahmu menolak menjual sebagian saham perusahaan kepadanya, sehingga Victor mulai menekan keluargamu dengan berbagai cara. Termasuk ancaman."
Elena membeku. "Ancaman?"
"Ancaman terhadap adikmu."
Darah Elena seakan berhenti mengalir. "Adikku?"
"Victor mengetahui bahwa adikmu memiliki kondisi kesehatan yang membutuhkan biaya perawatan yang sangat mahal."
Elena mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Lalu apa hubungannya dengan keluargamu?"
"Keluarga Hale membantu keluarga Arvienne. Memberikan perlindungan dan dukungan keuangan."
"Dengan syarat pernikahan?"
"Itu salah satu syaratnya."
Elena memejamkan mata. Semuanya terasa semakin rumit dan berat. "Jadi keluargaku berutang pada keluargamu, dan pernikahan ini adalah jaminannya?"
"Kurang lebih begitu. Tapi Elena..." Sebastian menatapnya dalam. "Aku tidak menikahimu untuk menagih utang itu."
Elena membuka matanya. "Lalu kenapa kau memilihku? Saat itu kita bahkan tidak saling kenal."
Sebastian terdiam cukup lama, seolah sedang memutuskan sesuatu yang berat untuk diucapkan. "Karena sebelum pertemuan itu berakhir, aku pernah melihatmu."
"Melihatku?"
"Di rumah keluarga Arvienne. Dua belas tahun lalu."
Elena mengerutkan kening, berusaha mengingat. "Aku tidak ingat pernah bertemu denganmu."
"Kau tidak perlu mengingatnya. Saat itu kau sedang menangis tersedu-sedu."
"Menangis? Kenapa?"
"Kau kehilangan seekor kucing kesayanganmu. Semua orang sudah menyerah mencarinya, tapi kau tetap mencari sampai menemukannya di gudang rumah." Sebastian tersenyum tipis, seolah masih bisa melihat pemandangan itu di hadapannya. "Saat itu aku berpikir, gadis kecil itu tidak mudah menyerah. Dan sejak saat itu, aku mengingatmu."
Elena terpaku. Bukan tentang harta, bukan tentang status, bukan tentang perjanjian. Hanya seekor kucing dan seorang gadis kecil yang tak mau menyerah. Itulah alasannya?
"Itu satu alasan," lanjut Sebastian pelan. "Bukan satu-satunya, tapi itu awalnya."
Elena menatapnya, jantungnya berdebar tak menentu. "Sebastian... apakah kau sebenarnya sudah menyukaiku sejak dulu?"
Sebastian membeku sesaat. "Aku tidak menyukaimu sejak dulu."
Elena menghela napas lega, namun entah kenapa ada rasa kecewa yang samar. Namun Sebastian melanjutkan dengan lembut, "Tapi aku selalu memperhatikanmu. Dan sekarang... sekarang berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Sekarang kau adalah istriku. Dan aku tidak akan melepaskanmu, apa pun yang terjadi."
Elena menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Aku tetap menikahimu karena uang, kau tahu."
"Aku tahu."
"Aku akan menghabiskan uangmu, membeli banyak barang, dan memborong toko-toko."
Sebastian tersenyum hangat. "Silakan. Selama kau tidak pergi dariku."
Elena tertawa kecil, namun tawa itu perlahan mati saat ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Ia membukanya. Hanya satu kalimat singkat yang membuat darahnya membeku kembali.
Sebastian tidak memberitahumu bahwa malam itu ayahmu tidak hanya menandatangani satu perjanjian.
Senyum Elena lenyap seketika. Ia menatap Sebastian dan menyerahkan ponselnya. Sebastian membaca pesan itu, dan wajahnya seketika mengeras.
"Kau tahu soal itu," ucap Elena pelan namun pasti.
Sebastian menatapnya, lalu mengangguk pelan. "Ya."
Elena merasakan dadanya semakin sesak. "Ada perjanjian kedua, bukan?"
Sebastian tidak menjawab. Namun keheningannya sudah cukup menjadi jawaban. Ada perjanjian lain yang bahkan ia sendiri berusaha menyembunyikannya dari Elena.
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘