Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Puncak Ujian Pertama
Waktu berlalu. Tekanan di setiap anak tangga semakin berat sejak mereka melewati undakan kelima puluh. Setelah berjuang keras, Su Yu baru mampu mencapai anak tangga ketujuh puluh, sementara Xioutian tertinggal di anak tangga keenam puluh lima.
"Sial, ini sangat menguras tenaga," keluh Xioutian dengan napas tersengal.
Su Yu melangkah dengan susah payah ke anak tangga ketujuh puluh satu. Setiap gerakan terasa seperti mengangkat batu raksasa dari dasar sungai. Keringat telah membasahi seluruh tubuhnya, menetes dari ujung rambut hingga ke pijakan batu di bawahnya.
"Semangat, Xioutian. Kita hampir sampai," ucap Su Yu tanpa menoleh ke belakang. Suaranya berat, tetapi masih menyimpan keteguhan.
Mereka kemudian terus naik perlahan-lahan, memanfaatkan batas waktu dua puluh tarikan napas untuk beristirahat, sepuluh tarikan napas lagi untuk melanjutkan perjalanan. Setiap jeda terasa singkat, tetapi cukup untuk mengembalikan sedikit tenaga yang tersisa.
Waktu berlalu dalam perjuangan berat.
Su Yu akhirnya tiba di anak tangga kesembilan puluh sembilan. Tubuhnya sudah menunduk dalam, kedua lututnya gemetar menahan tekanan yang luar biasa.
"Arggghh..."
Desahannya begitu berat, keluar dari kedalaman dadanya seperti suara batu yang bergeser. Ia berusaha mengangkat kaki kanannya untuk naik ke altar, namun gerakan itu terasa sangat sulit, seolah ada rantai tak terlihat yang mengikat pergelangan kakinya.
Sama halnya di tangga kesembilan puluh, Xioutian tidak lagi mampu terbang tinggi. Burung kecil itu menapak di atas pijakan batu, mengumpulkan tenaga sejenak, lalu terbang rendah dengan susah payah untuk naik ke tangga kesembilan puluh satu. Sayapnya mengepak pelan, hampir tidak mampu mengangkat tubuhnya sendiri.
Kembali ke Su Yu. Kini kaki kanannya sudah terangkat tinggi, lalu dengan gerakan pelan dan bergetar, ia memindahkannya ke atas altar.
Tap!
Begitu telapak kakinya menapaki lantai altar, tekanan yang selama ini menghimpit tubuhnya langsung menghilang begitu saja. Su Yu segera menaikkan kaki kirinya, lalu terhuyung ke depan hingga akhirnya berlutut dengan kepala tertunduk.
"B... berhasil... Berhasil..." ucapnya pelan, napasnya masih memburu.
Su Yu berhasil, namun sesosok dibelakang belum.
"Ahhkk... aku tidak kuat lagi!"
Suara Xioutian terdengar dari arah tangga. Su Yu menoleh dengan susah payah, dan begitu pandangannya tertuju ke belakang, ia melihat Xioutian sudah berada di anak tangga kesembilan puluh tiga.
"Xioutian, jangan menyerah! Kau akan mati jika terlalu lama berhenti di sana!" seru Su Yu dengan suara yang berusaha ia keraskan.
Mendengar peringatan itu, burung kecil tersebut menggerakkan sayapnya dengan putus asa. Ia terbang ke tangga kesembilan puluh empat, lalu ke sembilan puluh lima, hingga akhirnya mencapai tangga kesembilan puluh sembilan. Begitu tiba di sana, Xioutian langsung terbaring dengan napas yang nyaris terputus.
"Ayo, Xioutian!" Su Yu mengepalkan tangannya, jantungnya berdebar kencang melihat kondisi burung kontraknya itu. "Cepat bangkit sekarang! Tekanannya akan semakin bertambah jika kau semakin lama di sana!"
"Baik... tuan..." jawab burung itu dengan suara bergetar.
Xioutian bangkit dengan gerakan putus asa, mengumpulkan seluruh sisa tenaganya, lalu terbang perlahan ke arah altar. Tubuhnya bergerak maju sedikit demi sedikit, melawan tekanan yang mencoba menekannya ke bawah.
Dengan gerakan terakhir, ia melewati batas energi emas penekanan.
Bruk!
Xioutian langsung terjatuh lemas di atas altar. Namun di balik kelelahannya, terlihat jelas kepuasan di matanya.
"Bagus, Xioutian. Kau tidak mengecewakan," seru Su Yu sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih, Tuan. Ini berkat dukungan semangatmu," jawab Xioutian dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Su Yu tersenyum tipis, dan pada saat itulah altar bergetar hebat.
BRRRZZT!
Xioutian langsung terbang dengan susah payah karena waspada, dan Su Yu juga bangkit, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
"Apa yang terjadi?!" seru Xioutian dengan bulu-bulu yang berdiri tegak.
Tiba-tiba, di sekeliling mereka yang semula kosong, muncul sepuluh kitab yang melayang di sisi kiri altar. Tidak sampai di situ. Di sisi kanan altar, muncul sepuluh senjata berupa pedang dan tombak yang memancarkan cahaya keemasan.
"Selamat telah berhasil melewati ujian pertama." Suara pria tua itu terdengar menggema dari segala arah. "Yang kalian lihat itu merupakan hadiah dari ujian, peninggalan kota suci puluhan ribu tahun yang lalu. Kalian hanya boleh memilih salah satu. Kitab atau senjata."
"Kami mengerti." Su Yu mengangguk, kemudian menangkupkan kedua tangannya ke depan dada. "Tapi Senior, bisakah saya beristirahat sebelum melanjutkan ke ujian kedua nanti?"
Wush!
Pria tua itu tiba-tiba muncul di samping Su Yu, tubuhnya terbentuk dari cahaya putih yang perlahan memadat.
"Bisa saja, bahkan tanpa batas waktu."
"Terima kasih, Senior," jawab Su Yu dengan nada lega.
Xioutian menggelengkan kepalanya pelan. "Sepertinya aku tidak akan melanjutkan lagi, Tuan. Aku lebih memilih menunggumu di sini saja."
"Pilihan yang bijak," jawab pria tua itu sambil mengangguk.
Su Yu menoleh ke arah Xioutian, lalu menatapnya dengan pandangan pengertian. "Baiklah, aku paham. Tapi apa kau yakin melewatkan kesempatan begitu saja?"
"Aku yakin, Tuan. Bahkan jika pulih kembali setelah beristirahat, itu percuma saja. Ujian pertama saja aku hampir gagal, apalagi ujian kedua nanti," jawab Xioutian dengan senyum yang dipaksakan.
"Baiklah. Ada benarnya juga."
Su Yu mengangguk pelan.
Ia kemudian berjalan mendekati kitab-kitab yang melayang di sisi kiri altar. Setiap kitab terbungkus cahaya keemasan yang berdenyut pelan, seolah menyimpan kehidupan di dalamnya. Ketika sampai, Su Yu menyapukan pandangannya dari satu kitab ke kitab lainnya, mencoba merasakan aura yang paling cocok dengan energi di dalam tubuhnya.
"Ini tidak mudah..."
Xioutian mendekati dan terbang di samping tuannya. "Tuan, pilih saja yang paling menarik perhatianmu. Biasanya naluri pertama tidak pernah salah."
"Hmm."
Su Yu mengangguk tanpa menoleh. Setelah beberapa saat mengamati, matanya berhenti pada kitab yang terletak di urutan keempat dari kiri. Aura yang dipancarkannya terasa berbeda, seperti aliran air yang tenang namun menyimpan kedalaman tak terbatas.
Su Yu menunjuk kitab tersebut dengan jari telunjuk. "Saya memilih yang ini, Senior."
Pria tua itu tersenyum tipis. "Pilihan yang menarik. Itu adalah Kitab Telapak Arus Dalam. Teknik menyerang tingkat emas yang sangat cocok dengan karakteristikmu."
Kitab itu melayang mendekat ke arah Su Yu, lalu berhenti tepat di depan dadanya. Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya, menyentuh permukaan kitab dengan ujung jari.
Cahaya keemasan langsung mengalir masuk ke dalam tubuhnya, menyebar melalui meridian dan dantian seperti air yang menemukan jalannya sendiri. Su Yu merasakan sesuatu yang baru tertanam di dalam kesadarannya, berupa rangkaian pengetahuan tentang teknik tersebut.
"Ini..." bisiknya dengan mata yang sedikit melebar.
Pria tua itu kembali berbicara. "Sekarang, lanjutkan ujian berikutnya jika kau sudah siap. Atau beristirahatlah dulu dan pahami kitab yang kau terima."
Su Yu menangkupkan kedua tangannya. "Saya akan beristirahat sebentar, Senior. Tubuh saya belum pulih sepenuhnya."
"Silakan."
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔