Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Menjemput Takdir
Pukul 06:00 pagi hari. Reno akhirnya keluar dari dalam kamar dengan sebuah wujud transformasi penampilan baru yang dijamin bakal bikin siapa saja pangling melihatnya.
Ia tampak gagah mengenakan setelan jas formal berwarna hitam pekat, sejenis pakaian mahal yang biasanya cuma keluar dari lemari saat ada acara kondangan nikahan mantan atau kalau dirinya mau pergi mengajukan pinjaman duit ke Bank. Rambut hitamnya disisir sangat klimis menggunakan sisa minyak rambut kemarin sore yang aroma wanginya mirip cairan pengharum mobil rasa jeruk.
Ia melangkah menuruni anak tangga rumah dengan gaya yang sengaja dibuat angkuh, bagian dagu terangkat tinggi, dan tatapan mata tajam nan dingin, persis mirip karakter CEO muda di dalam drakor populer yang perusahaannya hampir dinyatakan bangkrut.
‘Dunia harus tahu dan menyaksikan! Biarpun status gue saat ini adalah pengangguran Jakbar dan baru saja kehilangan kolor Doraemon sakti, tingkat harga diri gue tetep harus berdiri tegak setinggi langit ketujuh!’ batinnya sombong sambil jemarinya membetulkan posisi kerah jas yang agak terasa gatal di leher.
Namun, tepat di undakan anak tangga terakhir, Reno terpaksa melakukan aksi rem mendadak sampai bagian bawah sepatunya mengeluarkan bunyi mencicit keras.
Tepat di hadapannya, sudah berdiri kokoh sosok Rika—sang Mama kandung—dengan posisi memasang kuda-kuda kokoh pembunuh naga. Tangan kanan Rika sudah memegang sebuah gayung merah muda penuh air dingin, bersiap penuh untuk melakukan ritual "Pembaptisan Subuh" yang biasanya sukses membuat Reno melompat tinggi layaknya seekor lumba-lumba sirkus.
Rika seketika melongo sempurna. Posisi gayungnya mendadak miring hingga air di dalamnya menetes-netes mengotori lantai. Ia menatap tajam ke arah anak semata wayangnya dari ujung sepatu hitam yang (agak) mengkilap, naik sampai ke bagian tatanan rambut yang terlalu rapi untuk ukuran seorang pengangguran abadi.
"Tumben kamu sudah bangun jam segini? Biasanya harus Mama guyur air dulu satu ember baru nyawa malas kamu bisa kumpul semua," tanya Rika penuh rasa curiga, kedua matanya menyipit tajam mirip agen rahasia yang sedang melihat alien menyamar jadi manusia.
Reno berdecak kesal, ia memutar bola matanya malas sambil tetap memasang ekspresi wajah sok keren ala Yeonjun TXT versi saset. "Ck. Mama tuh gimana sih? Reno telat bangun pagi, Mama langsung ngamuk satu komplek sampai denger. Sekarang giliran Reno bangun pagi-pagi dalam kondisi wangi, malah dituduh yang aneh-aneh."
Ia melangkah santai melewati posisi ibunya dengan gerakan slow motion yang dramatis. "Ya bagus dong, Ma. Ini namanya adalah sebuah awal transformasi Reno untuk menjadi sesosok pria mandiri masa depan. Mama sekarang nggak perlu repot-repot lagi mengangkut air dari kamar mandi. Hemat air, Ma. Kasihan populasi beruang kutub di kutub utara sana."
Rika perlahan menurunkan posisi gayungnya, namun matanya masih terpana menatap sang anak yang tiba-tiba terlihat seperti sesosok bos mafia kelas teri yang baru saja gagal mendapatkan proyek bangunan.
"Iya juga sih... tapi masalahnya, kamu mau pergi ke mana pagi-pagi buta dengan dandanan rapi begini? Mau ikut audisi boyband Korea atau mau jadi saksi nikahan orang di KUA?"
Reno menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik badan dengan senyuman tipis yang sengaja dipaksakan agar terlihat misterius di mata ibunya (padahal sebenarnya perutnya sedang mules dan menahan kentut).
"Reno mau pergi main ke kantornya Adit, Ma. Mau menjemput takdir. Siapa tahu di sana ada lowongan posisi CEO cadangan yang tawaran gajinya sudah mencapai dua digit."
Rika menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Sejak sang suami resmi mendekam di penjara, ia memang harus berjuang ekstra keras sendirian demi menopang ekonomi keluarga. Asisten Rumah Tangga (ART) bahkan sudah lama dipecat dari rumah demi menghemat anggaran pengeluaran nasi goreng nasional.
"Ya sudah atuh. Mama kebetulan sudah bikin menu sarapan nasi goreng 'spesial' di meja—maksudnya nasi putih diaduk pake kecap manis doang. Buruan dimakan sana buat modal gaya kamu di jalan."
Reno melahap habis menu sarapan nasi goreng kecap itu secepat kecepatan cahaya. Ia kemudian berdiri tegak, sambil merapikan bagian jas hitamnya yang terasa sedikit kesempitan di area ketiak.
"Reno pamit berangkat dulu ya, Ma. Doain anak tampanmu ini biar minimal bisa keterima jadi CEO... atau posisi CEO cadangan juga juga boleh lah kalau posisi utamanya sudah penuh," ucap Reno penuh rasa percaya diri yang tinggi sambil meraih tangan kanan Rika untuk bersalaman salim.
Rika menepuk-nepuk pelan pundak Reno yang tingginya sudah setinggi gapura batas kabupaten itu. "Iya, Mama selalu doain yang terbaik buat kamu. Tapi Reno, tolong ya... kalau punya impian itu jangan menaruh harapan ketinggian, nanti kalau kenyataannya jatuh, sakitnya bisa merembet sampai ke ginjal," ujar Rika dengan ekspresi wajah datar namun penuh dengan petuah bermakna.
"Kamu bisa keterima jadi petugas Office Boy (OB) di sana aja, Mama itu sudah bakal sujud syukur banget sampai bikin acara tumpengan komplek, apalagi kalau sampai jadi CEO. Sudah, yang penting sekarang kamu kerja halal, jangan cuma bisa jadi pajangan lemari kaca di rumah ini."
Reno langsung meringis pasrah. "Duh, Mama... profesi OB itu bisa merusak nilai estetika dari jas mahal yang sedang Reno pakai ini!"
"Nilai estetika nggak bakal bisa dipakai buat membayar tagihan listrik rumah yang nunggak, Reno! Sudah, cepat berangkat!" balas Rika telak meruntuhkan argumen anaknya.
Reno segera menyambar helm full face berwarna hitam miliknya, lalu memakainya dengan satu gerakan tangan yang diusahakan se-cool mungkin seolah-olah dirinya adalah pembalap profesional yang mau berlaga di ajang MotoGP. Ia menaiki motor sport berwarna merah menyala miliknya—satu-satunya aset berharga keluarga yang sengaja belum digadaikan ke tempat pegadaian.
Dengan sekali hentakan gas, deru suara mesin motor sport-nya langsung membelah kesunyian komplek pagi itu, sukses membuat kawanan burung gereja yang sedang nongkrong di pagar rumah tetangga langsung kena mental dan terbang berhamburan.
Reno menutup kaca helm hitamnya rapat-rapat, memberikan acungan jempol keren kepada Mamanya, lalu memacu motornya melesat keluar dari gerbang rumah dengan gaya pengambilan gambar sinematik.
Di dalam hatinya yang paling dalam, ia membatin dengan penuh ambisi, "Adit, siap-siap lo ya. Penguasa baru di dunia korporat Jakarta Barat mau segera datang!"
Namun tentu saja, di tengah segala gaya elitnya itu, Reno lupa akan satu hal yang luar biasa krusial: ia sama sekali belum mengecek indikator bensin motornya, apakah isinya masih cukup untuk menempuh perjalanan sampai ke kantor Adit, atau sebenarnya cuma cukup untuk sampai di depan warung sate ayam di ujung gang komplek rumahnya.