Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
⚠️Hanya untuk pembaca berusia 17 tahun ke atas.⚠️
...****************...
Matahari pagi di Verona Heights masih bersembunyi di balik hamparan kabut putih tebal yang bergulung rendah dari arah Pegunungan.
Udara dingin menusuk hingga ke celah-celah jendela, namun di dalam kabin SUV Maybach berlapis baja yang meluncur mulus membelah jalanan perbukitan sepi itu, pendingin udara disetel pada kehangatan yang pas.
Dominic sendiri yang memegang kemudi pagi ini. Pria itu meliburkan iring-iringan pengawal ketat yang biasanya mengekor di belakangnya. Di dalam mobil mewah yang kedap suara itu, hanya ada dirinya dan Eva.
Dominic yang biasanya berwajah dingin dan penuh perhitungan kini tampak berbeda. Tatapan matanya yang kelam sesekali teralih dari jalanan berkabut tipis menuju sosok wanita di kursi penumpang di sebelahnya.
Eva mengenakan baju terusan sutra berwarna hijau yang sedikit longgar menutupi balutan luka di bahu kanannya. Kukunya yang dipoles warna merah burgundy oleh Dominic kemarin berkilat halus saat diterpa pendar cahaya pagi.
"Kita benar-benar pergi tanpa Viktor dan penjaga?" tanya Eva pelan, memutar kepalanya menatap Dominic.
Ada rasa heran yang terselip dalam intonasinya, seorang pimpinan Blackwood Syndicate yang sedang diburu oleh musuh berinisial G.B., sengaja memotong jalur pengawalan hanya untuk sebuah perjalanan pribadi.
Dominic mengulurkan tangan kanannya dari roda kemudi, meraup jemari lentik Eva dan menggenggamnya erat di atas konsol tengah.
"Hari ini adalah peringatan Tragedi St. Jude, Evie," suara Dominic meluncur rendah namun dalam.
"Sebelum perjamuan doa malam nanti di manor bersama Nenek, aku selalu mengunjungi pondok peristirahatan tua milik mendiang Ibuku di puncak Silent Oak. Dan hari ini... aku ingin membawamu ke sana."
Dominic mengecup punggung tangan Eva lama, membiarkan kehangatan bibirnya menempel di kulit halus wanita itu.
Sejak penyatuan panas mereka semalam, Dominic benar-benar seperti pria yang dimabuk cinta. Kehadiran Eva di sisinya bukan lagi sekadar seorang istri, melainkan candu yang melumpuhkan sebagian rasa curiga dan naluri waspadanya sebagai penguasa dunia bawah.
Dominic percaya sepenuhnya bahwa 'Evie Thorne' adalah takdir terindah yang dikirimkan untuk menyembuhkan luka masa lalunya.
Eva menatap profil samping rahang tegas Dominic. Di dalam hatinya, gejolak Ghost Rose terus beradu dengan kehangatan perasaan yang tak lagi bisa ia pungkiri.
"Dominic benar-benar membutakan naluri bahayanya demi aku," batin Eva.
Dia tidak tahu bahwa malam ini, saat perjamuan doa berlangsung, aku akan menggunakan kesempatan itu untuk mengambil kotak rahasia milik Ibu di dalam Brankas Besi Kelabu.
Mobil Maybach hitam itu makin dalam melaju menyusuri jalanan bukit yang membelah hutan cemara kian sepi.
Pepohonan tinggi yang diselimuti kabut tipis menyelimuti kiri dan kanan jalan. Tidak ada kendaraan lain yang melintas di jalur privat milik keluarga Blackwood ini.
Dominic menghentikan mobilnya di sebuah area pemberhentian terasing, sebuah sudut tebing batu yang menghadap langsung ke lembah kabut Verona Heights.
Mesin mobil tetap menyala halus, menjaga suhu kabin tetap hangat di tengah dinginnya udara bukit yang menggigit.
"Mengapa kita berhenti di sini, Dominic?" tanya Eva halus, memandang ke luar jendela yang dipenuhi bulir-bulir embun air.
Dominic melepaskan sabuk pengamannya. Tanpa menjawab, pria itu memajukan tubuhnya menghadap Eva, mengikis jarak di antara mereka. Pandangan matanya tidak lagi memancarkan ketenangan, ada nyala gairah yang liar, lapar, dan mendesak yang membakar di balik manik matanya.
Sejak terbangun pagi tadi, ingatan tentang penyatuan mendalam mereka semalam terus membakar pikiran Dominic. Rasa memiliki yang membuat kebersamaan mereka di ruang tertutup ini memicu insting liarnya.
"Dominic?" bisik Eva, sedikit tertahan saat melihat tatapan pria itu.
"Aku tidak bisa menunggu sampai kita tiba di pondok, Evie," desah Dominic serak.
Sebelum Eva sempat merespons, tangan besar Dominic sudah meraup tengkuk leher wanita itu, menariknya mendekat dan membungkam bibir Eva dengan sebuah ciuman yang liar.
"Mmmph..."
Ciuman Dominic kali ini dipenuhi oleh desakan gairah yang tak sabar. Lidahnya menerobos masuk, melumat bibir lembut Eva dengan dominasi.
Tangan kanan Dominic menyusuri pinggang Eva, menarik tubuh mungil wanita itu melintasi konsol tengah, hingga Eva kini duduk secara melintang di pangkuan Dominic.
Rintihan halus meluncur dari tenggorokan Eva saat dadanya menempel pada dada bidang Dominic.
Sentuhan tubuh mereka di dalam kabin mobil yang sempit dan sepi ini menciptakan atmosfer yang sangat erotis dan intens. Aroma kulit kemeja Dominic dan wangi vanila dari tubuh Eva, memicu hawa panas yang membakar dinginnya kabut di luar.
"Dominic... ini di dalam mobil..." bisik Eva terbata-bata di antara ciuman mereka yang terputus sejenak.
Tangannya meremas bahu kemeja Dominic, matanya yang berkabut gairah menatap pria yang sedang dimabuk cinta itu. "Seseorang bisa saja melintas..." ujar Eva.
"Ini jalan pribadi keluarga Blackwood, sayang," desah Dominic rendah di leher Eva, gigitan-gigitan kecilnya di kulit mulus leher Eva membuat wanita itu merinding hebat. "Tidak ada seorang pun yang berani melintas di sini. Hanya ada kita berdua."
Jemari Dominic yang terampil dan tak sabar langsung menyusuri bagian dalam bawah Eva. Tangannya yang hangat merayap naik menyingkap baju Eva, mengusap paha Eva yang terasa mulus dan hangat di bawah sentuhannya.
"Ah... Dominic!" Eva refleks menengadahkan kepalanya saat jemari Dominic menyentuh area sensitif di balik pakaian dalamnya.
Gairah Dominic benar-benar telah membutakan seluruh batasan logisnya. Pria yang biasanya dipenuhi kalkulasi dingin itu kini dikuasai sepenuhnya oleh nafsu dan rasa cinta yang posesif terhadap istrinya. Ia ingin meresapi setiap inci tubuh Eva di mana pun mereka berada.
Dengan gerakan cepat dan bertenaga, Dominic menurunkan sandaran kursi pengemudi sedikit ke belakang untuk memberikan ruang. Pria itu membuka ritsleting celananya sendiri, memperlihatkan ketegangannya yang sudah mencapai puncak desakan.
"Dominic..." desah Eva serak, matanya menatap intensitas yang menyala di wajah pria di bawahnya.
"Tatap mataku, Evie... biarkan aku merasakanmu lagi," bisik Dominic penuh tuntutan erotis.
Dominic meraih pinggul Eva dengan kedua tangan besarnya, mengangkat tubuh wanita itu sedikit, lalu menyatukan tubuh mereka dengan satu dorongan yang dalam.
"Nnnngh!"
Eva membelalakkan matanya, menghembuskan napas tertahan saat rasa yang luar biasa itu kembali menghantam pusat kewanitaannya. Dinding-dinding kabin mobil yang sempit seolah menyerap rasa panas dan rintihan yang meluncur dari bibirnya.
Dominic menggeram rendah, membiarkan mereka menyatu sempurna sejenak sebelum ia mulai menggerakkan pinggulnya dari bawah.
Tempo gerakan Dominic di dalam mobil ini terasa jauh lebih liar dan impulsif daripada semalam. Setiap hujaman naik yang diberikannya menghantam bagian terdalam Eva membuat tubuh mungil Eva berguncang lembut di atas pangkuannya.
"Dominic... pelan-pelan..." rintih Eva pasrah, kedua tangannya mencengkeram kencang bahu kemeja Dominic untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Namun Dominic yang sedang dibutakan gairah tidak bisa memperlambat temponya. Kehangatan dan jepitan ketat dari dalam diri Eva seolah melumpuhkan seluruh akal sehatnya.
Pria itu memacu pinggulnya kian cepat, mengangkat dan menurunkan pinggul Eva dalam ritme yang teramat panas dan intens.
Kabin Maybach berlapis baja itu kini menjadi saksi bisu dari pergumulan erotis mereka. Bulir-bulir uap air mulai terbentuk di bagian dalam kaca mobil yang tertutup rapat, menghalangi pemandangan dari luar dan mengurung keintiman membara mereka di dalam.
Rintihan nikmat Eva yang meluncur tanpa tahanan kian membakar naluri Dominic. Tangan kanan Dominic meremas lembut dada Eva di balik baju tipisnya, sementara mulutnya menyapu dan melumat puncak dada Eva yang menegang di bagian lain.
Setiap hujaman dalam yang diberikan Dominic mengirimkan gelombang kenikmatan elektrik yang membuat paha Eva bergetar hebat di sekeliling pinggang Dominic.
Sentuhan fisik yang begitu dalam ini mengikis seluruh pertahanan mental Eva, menyatukan jiwanya dengan pria yang sedang memeluknya erat ini.
"Kau milikku, Evie..." erang Dominic serak di leher Eva, napas yang memburu membakar kulit wanita itu. "Hanya milikku..."
Puncak pelepasan itu merayap cepat, membakar perut bawah Eva hingga mencapai titik ketegangan yang tak tertahankan.
"Dominic... aku... aku mau..." desah Eva terbata-bata, jepitan kewanitaannya mengencang hebat di sekeliling ketegangan Dominic.
"Bersamaku, Evie!" desah Dominic rendah.
Dengan beberapa dorongan pinggul terakhir yang sangat dalam dan bertenaga, Dominic memacu puncaknya.
Sensasi itu meledak secara dahsyat di dalam kabin mobil yang sepi.
Eva merintih keras seraya meremas punggung Dominic kencang-kencang saat orgasme hebat melingkupi seluruh tubuhnya. Dinding kewanitaannya mencengkeram erat ketegangan Dominic dalam jepitan yang bertubi-tubi, membuat Dominic menggeram panjang dari kedalaman tenggorokannya.
Dominic melepaskan pelepasannya jauh di dalam diri Eva, menyemprotkan cairan hangatnya yang melimpah, menyegel kepemilikannya secara utuh di tengah keheningan bukit yang berselimut kabut.
Beberapa menit berlalu.
Suara napas memburu dari kedua insan itu perlahan-lahan mulai teratur kembali. Dominic memeluk tubuh polos Eva yang masih bersandar di dadanya, menutupi tubuh wanita itu dengan mantel wol miliknya untuk melindunginya dari dingin yang mulai terasa.
Bulir-bulir embun di luar kaca jendela makin tebal, menyembunyikan mobil mereka sepenuhnya di balik kabut putih Bukit Silent Oak.
Dominic mengusap lembut rambut cokelat Eva yang sedikit basah oleh peluh, mengecup kening wanita itu berulang kali dengan rasa ketagihan dan cinta yang teramat pekat.
"Maafkan aku jika aku terlalu kasar padamu, Evie," bisik Dominic lembut di telinga Eva, tangannya menyusuri punggung halus wanita itu di dalam mantel.
Eva menyandarkan dagunya di dada bidang Dominic, menatap mata tajam pria itu yang kini kembali teduh dan dipenuhi kasih sayang. Eva menyunggingkan senyum tipis yang hangat, menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak apa-apa, Dominic," sahut Eva halus, membiarkan kehangatan dekapan pria itu menyelimuti tubuhnya.
Dominic mengecup bibir Eva sekali lagi, lalu merapikan pakaian mereka berdua. Pria itu mengembalikan posisi kursi pengemudi ke keadaan semula, lalu memangku Eva dengan penuh kehati-hatian sebelum mendudukkannya kembali di kursi penumpang.
"Kita akan melanjutkan perjalanan ke pondok," kata Dominic seraya menyalakan kembali pemanas kabin dan mengusap uap air di kaca depan. "Di sana ada perapian hangat dan teh herbal untukmu."
Eva mengangguk pelan, merapikan bajunya.
...Bersambung......