Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Ruangan kamar tidur itu kini benar-benar telah berubah menjadi pusaran hawa mistis dan g*ir*h yang teramat pekat. Suhu udara di dalam kamar drop begitu drastis hingga setiap helaan napas Cindy yang memburu mengeluarkan uap putih tipis di udara, sementara tubuh Damian tetap konstan memancarkan hawa sedingin es yang membekukan sprei di bawah mereka. Namun, rasa dingin itu justru menjadi bahan bakar yang membakar habis seluruh sisa kesadaran Cindy, menenggelamkannya ke dalam lautan kenikm*t*n yang belum pernah ia bayangkan seumur hidupnya.
Damian bergerak semakin dalam, menuntut, dan tanpa ampun. Setiap hant*m*n tubuh besarnya yang kaku menciptakan bunyi beritme di atas ranjang kayu jati kuno peninggalan orang tua Cindy.
"Ahhhh! D-Damian... nggghhh! ahhh, jangan berhenti, emmmhh!" rintih Cindy dengan suara parau yang mendominasi keheningan malam. Kedua tangannya bergerak liar, mencengkeram bahu kokoh Damian yang sekeras batu, kuku-kukunya menggores kulit pucat pria itu tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun.
Damian menundukkan kepalanya, membiarkan rambut hitam lebatnya jatuh berantakan menyentuh dahi Cindy yang basah oleh keringat hangat. Ia mengecup dahi, kelopak mata, hingga turun ke hidung milik Cindy yang mendengus pasrah.
"Kamu begitu sempit dan hangat, Cindy... mijn liefde... nggghhh," geram Damian, suara seraknya yang berat bergetar langsung di ceruk leher Cindy, mengirimkan gelombang getaran yang membuat r*him gadis itu berkedut hebat. "Kehangatanmu ini... menyiksa saya sekaligus membuat saya gila. Katakan lagi... katakan kamu hanya menginginkan saya!"
"I-Iya... ahhh! Cuma kamu, Damian... nggghhh! Emmhh... l-lebih cepat... ku mohon, ahhhh!" seru Cindy pasrah, pinggulnya bergerak naik secara instingtif, mencoba menyambut setiap jengkal ke-j*nt*n*n Damian yang dingin namun terasa membakar di dalam dirinya.
Mendengar pinta manja dari bibir kekasihnya, Damian mempercepat temponya. Gerakannya kini berubah menjadi lebih agresif dan posesif, mencerminkan seluruh jiwa iblisnya yang telah lama mengunci obsesi pada keturunan abdi dalem ini. Telapak tangan besarnya mencengkeram pinggang mungil Cindy dengan kuat, mengangkatnya sedikit hingga membuat penyatu*n mereka terasa semakin int*m dan tak menyisakan celah.
"Ahhh! Ahhh! D-Damian... nggghhh, t-terlalu dalam... emmmhh! Ahhh... s-sesak... tapi... ahhh, enak banget... nggghhh!" desah Cindy beruntung-turun, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri di atas bantal, matanya mendelik sayu dengan air mata kenikm*t*n yang mengalir di sudut matanya. Kabut g*ir*h telah sepenuhnya menjajah otaknya.
Damian tidak membiarkan Cindy berpaling. Ia menangkap dagu gadis itu, memalingkan wajahnya agar kembali menatap langsung ke dalam manik mata birunya yang kini telah berubah menjadi segelap malam tanpa bintang. Ia membungkam mulut Cindy yang terbuka dengan cium*n yang kasar dan menuntut, menyesap habis setiap lenguh*n dan des*h*n mes*m yang keluar dari sela bibir tipis yang basah itu.
"Emmmphhh... nggghhh... mmmph!" Cindy melenguh dalam sela cium,n mereka, dadanya yang kencang naik turun dengan cepat, bergesekan langsung dengan dada bidang Damian yang kaku dan sedingin salju. Kombinasi panas dan dingin yang ekstrem itu membuat seluruh saraf di tubuh Cindy menegang.
Ketika Damian melepaskan tautan bibir mereka, air liur yang tipis terbentang di antara keduanya. Damian terengah-engah tanpa benar-benar membutuhkan oksigen, matanya menatap lapar pada kulit leher dan dada Cindy yang kini telah dipenuhi oleh bercak-bercak kemerahan akibat gigitan dan kecupan intens yang ia tinggalkan.
"Kamu sangat indah saat memohon seperti ini, Cindy," bisik Damian, suaranya terdengar begitu mes*m dan rendah di telinga Cindy, sementara bagian bawahnya terus mengh*nt*m tanpa jeda sedikit pun. "Des*h*nmu... membuat seluruh makhluk di luar sana tahu bahwa kamu sudah disegel menjadi milik saya. Milik Iblis Belanda yang tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
"Ahhhh! Nggghhh... k-kamu... ahhh! Damian... aku mau... aku mau sampai... ahhh!" pekik Cindy dengan suara yang melengking tinggi, tubuhnya menegang kaku, jemari kakinya menekuk erat di dalam sandal berbulu yang sudah terlempar ke ujung ruangan.
"Mari sampai bersama saya, Cindy... mijn liefde... ahhh," geram Damian untuk terakhir kalinya. Ia memberikan beberapa kali hent,k*n terdalam dan tercepat, mengunci tubuh mungil Cindy di bawah dekapannya yang luar biasa posesif, hingga akhirnya jeritan pelepas*n Cindy berpadu dengan geram*n rendah Damian yang mengguncang seluruh pondasi kamar kuno itu.
Cair*n dingin yang asing menyembur di dalam rah*m Cindy, mengirimkan sensasi membekukan yang sekaligus membuat tubuh Cindy lemas sepenuhnya, ambruk pasrah di bawah kungkungan takdir gaib sang kekasih.
Sementara di dalam kamar kolonial itu di penuhi oleh riuh des*h g*ir*h yang memabukkan, atmosfer di luar berubah menjadi pemandangan neraka jahanam yang mencekam. Suhu udara di sekitar halaman belakang drop ekstrem hingga menyentuh titik beku. Rumput-rumput gajah mini dan tanaman hias keladi milik Cindy seketika layu, menghitam, dan mengerut mati seolah saripati kehidupan mereka baru saja disedot habis oleh kekuatan gaib yang luar biasa masif.
Pohon beringin tua yang berdiri kokoh di tanah milik Cindy dan Damian sama-sama bergerak hebat. Dedaunan rimbunnya bergesekan kasar menciptakan suara srek-srek-srek yang konstan dan memekakkan telinga akibat hantaman angin barat yang mendadak berputar laksana puting beliung kecil.
Di atas permukaan rawa-rawa yang tertutup kangkung liar dan eceng gondok, air yang biasanya tenang kini bergolak lambat, memunculkan gelembung-gelembung gas rawa yang berbau busuk laksana bangkai. Bersamaan dengan itu, kabut tebal berwarna kelabu pekat merayap naik, memunculkan puluhan….bukan…bahkan ratusan sosok mengerikan dari balik kegelapan. Mereka adalah arwah-arwah penasaran, tumbal masa lalu, dan lelembut penunggu rawa yang selama ini mengincar jiwa murni Cindy.
Wajah-wajah mereka cacat, sebagian hancur karena pembusukan, dengan mata melotot kelabu tanpa pupil. Mereka merayap di atas lumpur, menempel pada tiang-tiang pagar pembatas, sambil menatap ke arah jendela kamar Cindy yang memancarkan pendar lampu kuning remang-remang.
"Sudah terlambat! Semuanya sudah terlambat!" lolong sesosok hantu wanita dengan gaun robek-robek, tubuhnya melayang di atas air rawa sementara tangannya yang tinggal tulang kurus menunjuk-nunjuk ke arah rumah Cindy. "Cahaya itu... cahaya murni itu sudah redup! Sudah ternoda oleh hawa es!"
"Damian! Iblis Belanda itu telah mengklaimnya!" sahut suara berat yang mengerikan dari balik rumpun bambu liar. Sesosok makhluk tinggi besar berbulu hitam dengan mata merah menyala yang adalah sosok genderuwo penunggu rawa menggeram frustrasi hingga mematahkan dahan bambu di dekatnya. "Dia mengunci jiwa anak manusia itu! Kita tidak bisa lagi menyentuhnya! Sialan! Sialan!"
Jeritan-jeritan tanpa suara yang berfrekuensi tinggi itu saling bersahutan, memecah kesunyian malam di luar kompleks. Mereka meratap marah, sekaligus ketakutan setengah mati.
"Darah abdi dalem itu... harusnya menjadi santapan kita malam ini! Kehangatannya bisa membebaskan kita dari kutukan rawa!" teriak hantu berkepala miring yang merayap di pagar pembatas besi. Ia mencoba menerobos masuk ke halaman Cindy, namun tepat ketika ujung jarinya yang membusuk menyentuh garis pembatas tanah, sebuah percikan api gaib berwarna biru kehitaman meledak, membakar tangannya hingga sosok itu menjerit melengking kesakitan. "Aaahhh! Sakit! Segelnya sudah aktif! Rumah itu sudah menjadi wilayah kekuasaannya!"
"Dia telah memberikan cairannya... jiwanya dan jiwa gadis itu telah terikat jalinan mati!" lolong segerombolan anak-anak kecil berkulit pucat yang bersembunyi di bawah akar beringin. Mereka menangis tersedu-sedu, mencakar-cakar tanah lumpur dengan kuku mereka yang patah. "Sang cahaya telah memilih kegelapan! Kita tidak punya kesempatan lagi! Kita akan kelaparan di rawa ini selamanya!"
Di sudut halaman yang paling gelap, dekat pasak gaib terakhir yang ditanam, Ki Renggo berdiri mematung di bawah guyuran angin kencang. Tubuh rentanya bergetar hebat menahan hantaman energi hitam yang menguar dari arah kamar Cindy. Mulut dukun tua itu komat-kamit merapalkan mantra pelindung diri, sementara keris di pinggangnya bergetar hebat seolah ingin lepas dari warangkanya.
"Gusti Allah..." bisik Ki Renggo dengan bibir pucat, matanya yang mulai rabun menatap gumpalan uap hitam pekat yang kini menyelimuti seluruh atap rumah kolonial milik Cindy. "Anak itu... cahayanya benar-benar telah padam. Dia sudah menyerahkan dirinya seutuhnya pada Iblis Belanda itu. Takdir kutukan ratusan tahun lalu... akhirnya terulang kembali malam ini."
"Pergi! Pergi dari sini sebelum dia memburu kita!" teriak arwah-arwah rawa itu mulai kocar-kacir, ketakutan saat merasakan aura kepemilikan Damian yang semakin meluas dan menekan keberadaan mereka hingga ke dasar lumpur terdalam. Mereka menyelam kembali ke dalam air rawa yang hitam, meninggalkan halaman belakang rumah Cindy dalam keheningan mati yang membeku, terkunci rapat di bawah perlindungan mutlak sang Iblis yang sedang memadu kasih di dalam sana.