Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024 - Pisau yang Tak Turun

Aku tidak memaafkan Arkana di rumah sakit.

Aku hanya tidak pergi.

Selama tiga hari berikutnya, aku datang membawa makanan, memastikan obatnya diminum, lalu duduk di dekat jendela sambil mengisi formulir beasiswa London. Kami berbicara tentang hal-hal kecil karena kebenaran besar di antara kami terlalu berat disentuh setiap jam.

Pada hari keempat, dia diperbolehkan pulang.

Di dalam mobil, Arkana mengeluarkan kotak beludru dari sakunya. Cincin spider lily berada di dalamnya, batu merahnya menangkap cahaya sore.

"Aku tidak berhak memasangkannya lagi," katanya. "Tapi aku juga tidak akan memberikannya kepada siapa pun."

Aku menatap cincin itu. "Apakah benar kau membelinya untuk Puspita?"

"Aku memilih desainnya ketika dia masih hidup. Tidak pernah sempat dibuat. Bertahun-tahun kemudian, aku memesan cincin itu untukmu karena kau menyukai bunga yang sama."

"Karena kau membuatku menyukainya."

"Mungkin." Dia tidak menghindar. "Kalau kau ingin bunga lain, aku akan menggantinya. Kalau kau ingin nama lain, aku akan mengurusnya."

"Aku tidak ingin mengganti namaku."

Arkana menatapku.

"Puspita pernah memilikinya," lanjutku, "tetapi akulah yang hidup dengan nama itu. Akulah yang mengubahnya menjadi musik, nilai kuliah, dan semua kesalahan yang kubuat. Nama ini milikku sekarang."

Sesuatu yang tegang di wajahnya melunak.

"Kalau begitu cincin ini?"

Aku mengambilnya sendiri dan memasangkannya ke jari. "Juga milikku. Jangan pernah menyebutnya milik orang lain lagi."

"Tidak akan."

Itu bukan pengampunan. Hanya kesepakatan untuk berhenti membiarkan orang mati mengambil keputusan bagi kami.

Sesampainya di vila, Arkana memindahkan barang-barangnya ke kamar tamu. Ia tidak masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Ia juga menyerahkan satu map berisi rekening atas namaku, surat kepemilikan piano, dan dokumen yang menyatakan biaya kuliahku tidak bergantung pada hubungan kami.

"Apa ini?" tanyaku.

"Jalan keluar."

"Kau membeli kebebasanku?"

"Tidak. Aku memastikan kebebasanmu tidak perlu dibeli. Jika kau pergi, tidak ada satu pun kebutuhanmu yang bisa kupakai untuk memaksamu kembali."

Aku membalik setiap lembar. Semuanya sudah ditandatangani sebelum ia sakit.

"Kau menyiapkan ini setelah ulang tahunku."

"Ya."

"Lalu kenapa membiarkanku melihatmu dengan perempuan lain?"

Wajahnya mengeras. "Karena aku pengecut. Lebih mudah membuatmu jijik daripada melihatmu pergi sambil masih mencintaiku."

Aku ingin marah. Yang muncul justru kelelahan.

"Jangan pernah membuat keputusan seperti itu untukku lagi."

"Baik."

"Dan jangan menyuruh orang mengikutiku tanpa memberi tahu."

"Itu lebih sulit."

"Arkana."

"Baik," ulangnya, kali ini dengan enggan.

Malam pertama setelah pulang, kami tidur di kamar terpisah. Malam kedua, aku menemukan dia tertidur di sofa depan pintuku karena demamnya kembali sedikit. Malam ketiga, aku membiarkannya masuk, tetapi menaruh bantal panjang di antara kami.

Dia tidak melewati batas itu.

Pada pagi keempat, aku terbangun dengan tanganku berada di atas tangannya. Bantal pembatas sudah jatuh ke lantai, tetapi pakaian kami tetap rapi. Arkana membuka mata dan bertanya, seperti orang yang takut berbicara terlalu keras, "Bolehkah aku tinggal?"

Aku menjawab, "Hari ini."

Hari itu berubah menjadi hari berikutnya.

Arkana membatalkan pesta besar yang sempat direncanakannya. Kami sepakat datang ke Catatan Sipil pada Jumat pagi, menandatangani pernikahan sederhana, lalu makan siang bersama Bayu, Pak Suryo, dan Bi Sum. Tidak ada gaun putih. Tidak ada wartawan. Tidak ada kebohongan tentang siapa kami sebelumnya.

"Kau masih bisa berubah pikiran," katanya malam sebelum hari pendaftaran.

Kami duduk di lantai ruang musik dengan dua cangkir teh. Aku baru selesai memainkan `Sepasang Kupu-Kupu`, kali ini tanpa penonton.

"Kau menanyakan itu setiap hari."

"Aku akan menanyakannya sampai tinta menyentuh kertas."

"Kalau aku mengatakan tidak?"

"Aku mengantarmu ke mana pun kau ingin pergi."

"London?"

Matanya turun ke formulir beasiswa di atas piano. "Bahkan ke London."

"Dan kalau aku mengatakan ya?"

"Aku menghabiskan sisa hidupku membuktikan bahwa kau bukan pengganti siapa pun."

Aku memeluk lutut. "Aku belum memaafkanmu atas keluargaku."

"Aku tahu."

"Mungkin aku tidak akan pernah bisa."

"Aku tahu."

"Lalu mengapa masih ingin menikahiku?"

Arkana mengambil cangkir dari tanganku dan meletakkannya di lantai. "Karena cinta tidak selalu datang setelah pengampunan. Kadang cinta hanya duduk di sebelah luka dan menunggu diizinkan tinggal."

Aku tidak punya jawaban yang lebih baik. Jadi aku menyandarkan kepala di bahunya, dan kami duduk sampai teh menjadi dingin.

Malam itu seharusnya menjadi awal hidup baru.

Sebaliknya, aku bermimpi tentang rumah lama.

Dalam mimpi, aku kembali berusia tujuh tahun. Asap memenuhi loteng. Ibu memelukku, Kakak berdiri di bawah tangga, dan ayah kandungku berlutut di depan Arkana. Semua terjadi persis seperti ingatanku sampai Arkana mengangkat wajah.

Dia mengenakan kemeja yang kupeluk beberapa jam sebelumnya.

Di jarinya ada cincin pernikahan kami.

"Pilih," katanya.

Ketika aku menoleh, Ibu tidak lagi memelukku. Ia berdiri di samping Ayah dan Kakak, ketiganya menatapku dari balik api.

"Kalau kau pergi bersamanya," kata Ibu, "siapa yang akan mengingat kami?"

Aku terbangun dengan jeritan tertahan.

Kamar gelap. Hujan tipis menyentuh kaca. Arkana tidur di sisiku, satu lengan terulur ke tempat tubuhku tadi berada. Wajahnya tenang, hampir muda, tanpa tatapan bos mafia dan tanpa keputusan yang membuat orang lain berlutut.

Mimpi itu masih menempel di kulitku.

Aku turun dari ranjang dan membuka laci pakaian.

Bungkusan pisau hitam berada di bawah tumpukan syal. Tidak pernah kubuka sejak malam pertama kami. Aku mengangkatnya, dan untuk pertama kalinya beratnya tidak terasa seperti rantai.

Terasa seperti jawaban.

Aku tidak memikirkan cara. Tidak menyusun langkah. Aku hanya tahu jika pernikahan terjadi besok, bagian hidupku yang dibangun dari tuntutan balas dendam akan berakhir. Aku harus memilih malam ini apakah akan menguburnya atau membiarkannya mengubur kami.

Aku pernah berada di depan pilihan serupa dua kali saat masih kecil. Pada usia sebelas tahun, aku mencampurkan sesuatu yang membuat teh Arkana pahit, lalu menumpahkan cangkir sebelum dia sempat minum. Pada usia tiga belas, aku menunggu di balik pintu dengan benda tajam, tetapi tanganku jatuh ketika dia pulang membawa obat untuk kakiku.

Setiap kegagalan kuberi nama lain. Kurang berani. Waktu tidak tepat. Penjaga terlalu dekat.

Tidak pernah kusebut alasan sebenarnya.

Aku telah mengenal kebaikannya sebelum cukup dewasa untuk memahami dosanya. Ia mengajariku membaca laporan sekolah, berdiri di luar kamar ketika mimpi buruk datang, dan duduk diam selama berjam-jam sampai aku mau menyentuh piano pertama. Semua kenangan itu tidak menghapus malam pembantaian. Namun malam pembantaian juga tidak mampu menghapus setiap pagi yang datang setelahnya.

Manusia seharusnya lebih mudah jika hanya memiliki satu wajah.

Arkana memiliki terlalu banyak. Pembunuh. Penyelamat. Pembohong. Lelaki yang memberikan jalan keluar. Lelaki yang masih menyimpan pistol dekat bantal, tetapi meminta izin sebelum tidur di sisiku.

Pisau dalam tanganku tidak tahu wajah mana yang harus dihukum.

Plastik pembungkus berdesis saat kulepaskan. Pisau tetap terlipat dalam genggaman.

Di ranjang, Arkana bergerak sedikit.

Aku menahan napas.

Dia tidak bangun.

Aku berdiri beberapa langkah darinya. Di bawah cahaya kota yang masuk melalui tirai, bekas luka di bahunya tampak pucat. Luka yang didapat ketika melindungiku dari peluru. Di sisi lain dadanya ada bekas lama yang tidak pernah dia ceritakan.

Begitu banyak orang telah mencoba membunuhnya.

Aku adalah satu-satunya yang dia izinkan berada sedekat ini tanpa penjaga.

Jemari membuka pisau.

Kilau logam muncul sebentar, lalu redup.

Wajah ibu hadir lagi dalam pikiranku, tetapi kali ini bukan dari mimpi. Aku mengingat malam terakhirnya. Dia punya kesempatan lari melalui atap bersama diriku. Namun ketika ayah kandungku turun menghadapi Arkana, Ibu tetap tinggal.

Aku pernah marah kepadanya karena pilihan itu.

Mengapa tidak membawaku pergi? Mengapa memilih mati di dekat lelaki yang kesalahannya mendatangkan musuh ke rumah kami?

Kini aku mengerti bagian yang paling menyakitkan.

Tidak ada perempuan yang ingin melihat lelaki yang dicintainya mati di depan mata, bahkan ketika lelaki itu bersalah. Cinta tidak membatalkan dosa. Cinta hanya membuat hukuman terasa seperti pisau yang harus menembus dua tubuh sekaligus.

Aku berjalan mendekat.

Satu langkah.

Aku mengingat Ayah berlutut.

Langkah kedua.

Aku mengingat Kakak jatuh.

Langkah ketiga.

Aku mengingat Arkana menekan tisu pada telapak tanganku seolah luka kecilku lebih penting daripada demamnya sendiri.

Aku berdiri di sisi ranjang.

Jika aku mengangkat tangan, mungkin keluarga yang mati akan menganggap utang selesai. Namun siapa yang akan menjelaskan kepada anak berusia sembilan tahun dalam diriku bahwa satu-satunya rumah yang masih ia kenal juga telah dihancurkannya sendiri?

Tanganku gemetar.

Pisau terangkat setinggi dada, tetapi tidak bergerak lebih jauh.

Arkana bernapas pelan. Dia tidak tahu bahwa seluruh hidupnya sedang ditimbang oleh perempuan yang akan dinikahinya beberapa jam lagi.

Air mataku jatuh ke punggung tangan.

Di meja samping ranjang, formulir pernikahan menunggu tanda tangan kami. Di laci, kotak cincin terbuka dan kosong. Masa depan berada di satu sisi tubuhnya, sedangkan seluruh kematian masa lalu berdiri di sisiku.

"Aku membencimu," bisikku.

Tidak ada jawaban.

"Aku membencimu karena membuatku mencintaimu."

Tanganku mulai turun.

Aku tidak sanggup. Bukan karena dosa-dosanya mengecil, melainkan karena cintaku telah tumbuh cukup besar untuk membuat kematiannya menjadi kematianku juga.

Ujung pisau menjauh dari tubuhnya.

Pada saat itulah mata Arkana terbuka.

"Larasati," panggilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!