Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Dari Es
Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom hotel bintang lima malam itu memancarkan kilau keemasan yang megah, memantulkan kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir elite ibu kota.
Ratusan pasang mata dari para pebisnis papan atas, investor asing, hingga pejabat negara tertuju ke satu titik fokus di atas podium utama.
Di sana, berdiri seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun.
Senja Kala...
Mengenakan gaun haute couture berwarna abu-abu gelap dengan potongan tegas namun tetap anggun, Senja memancarkan pesona yang membuat siapa pun enggan berpaling.
Rambut hitam pekatnya disanggul rapi tanpa ada sehelai pun yang mengikat salah. Postur tubuhnya tegap sempurna, ekspresi wajahnya tenang bagai danau tanpa riak, dan suaranya mengalun lewat mikrofon dengan nada yang pas, tegas, berwibawa, namun tetap memesona.
Di umurnya yang tergolong masih sangat muda, Senja melontarkan ide-ide ekspansi bisnis dan analisis pasar global dengan begitu lugas. Ia menguasai panggung tanpa cela, membius semua hadirin yang mendengarkannya. Setiap kalimat yang keluar dari bibir bergincu tipis itu seperti untaian kata yang dirancang oleh seorang maestro.
Ketika Senja menutup presentasinya dengan sebuah senyuman tipis yang sangat terukur dan anggukan kecil yang elegan, ruangan megah itu sejenak hening sebelum akhirnya pecah oleh gemuruh tepuk tangan.
Prok... Prok... Prok...
Beberapa pengusaha senior bahkan berdiri dari kursinya untuk memberikan standing ovation. Decak kagum terdengar bersahut-sahut di seluruh sudut ballroom.
"Luar biasa. Putri keluarga Anjasmara benar-benar tidak ada tandingannya."
"Cantik, cerdas, anggun. Seperti tidak memiliki cela sama sekali."
"Siapa pun pria yang beruntung mendapatkannya kelak, dia seperti memenangkan lotre kehidupan."
Pujian demi pujian mengudara, membumbung tinggi mengagumi sosok Senja Kala. Namun, di balik senyum santun dan tatapan matanya yang tampak tenang di atas podium, tidak ada sedikit pun rasa bangga atau kehangatan yang merambat di dada wanita itu.
Jantungnya berdetak datar. Ia sudah terlalu terbiasa menjadi pusat perhatian, terbiasa memainkan peran sebagai manusia sempurna yang diciptakan untuk memanjakan mata dunia.
Bagi semua orang di ruangan itu, Senja adalah mahakarya. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah sebuah patung porselen mahal yang dipajang untuk dinikmati keindahannya.
Setelah sesi presentasi usai, Senja berjalan berdampingan dengan kedua orang tuanya menuju area privat di sudut restoran hotel yang telah disterilkan dari tamu lain. Prasetya Anjasmara, sang papa, berjalan dengan langkah lebar penuh keangkuhan, sementara ibunya, Rahma, mengekor di samping dengan tatapan penuh penilaian.
Mereka duduk di meja makan yang tersaji mewah. Makanan premium kelas dunia tersaji di hadapan mereka, namun atmosfer di meja itu jauh dari kata hangat. Keheningan yang menekan langsung menyelimuti meja tersebut begitu para pelayan undur diri.
Lalu, teguran itu datang....
Bukan pujian atas tepuk tangan riuh ribuan orang tadi, melainkan suara berat dan dingin yang memecah udara.
"Kamu jangan terlalu kaku seperti itu, Senja!" Ujar Prasetya seraya melipat kedua tangannya di atas meja. Matanya menatap tajam ke arah Senja, seolah sedang meneliti sebuah barang produksi yang cacat.
"Di bagian pertengahan presentasi tadi, jeda napasmu terlalu panjang saat beralih ke slide finansial. Itu membuatmu terlihat ragu walau cuma satu detik."
Senja tidak membantah. Punggungnya tetap tegap rata dengan sandaran kursi, dadanya dibusungkan secara terukur, dan pandangannya lurus.
"Kamu harus sempurna!" Sambung mamanya, Rahma, dengan nada tak kalah tajam.
"Kamu tahu kan kalau kamu itu pusat perhatian? Kamu membawa nama besar keluarga Anjasmara. Di lingkungan kita, kamu tidak boleh punya salah sedikit pun. Sedikit saja kesalahan kecil yang kamu buat, itu akan menghancurkanmu, dan menghancurkan reputasi keluarga ini!"
Tidak ada dekapan hangat setelah keberhasilan besar. Tidak ada ucapan 'kami bangga padamu'. Sejak kecil, Senja tidak dididik dengan kasih sayang, melainkan dengan standar militer dan ekspektasi yang mencekik. Jika ia berbuat benar, itu adalah kewajiban. Jika ia berbuat salah, itu adalah bencana.
"Aku akan memperbaikinya, Pa... Ma" Jawab Senja lembut, suaranya tenang tanpa nada protes sedikit pun. Sebuah respons otomatis yang sudah terpatri di dalam otaknya sejak ia bisa bicara.
"Bagus. Kamu harus selalu introspeksi setiap kali selesai tampil" Balas Prasetya datar, memotong daging steak di piringnya tanpa memandang sang putri.
Pria paruh baya itu meminum sedikit air putih sebelum melanjutkan bicaranya dengan nada yang amat mendikte.
"Oh ya, jangan lupa lusa kita ada pertemuan penting di restoran privat dengan keluarga Argantara."
Senja membiarkan jeda sejenak sebelum merespons. Keluarga Argantara. Salah satu dinasti konglomerat terbesar di negeri ini, penguasa rantai bisnis properti dan energi yang pengaruhnya setara atau bahkan melampaui keluarga Kala.
"Baik, Pa" Sahut Senja pendek.
"Kamu harus terlihat memukau di sana" Tekan Prasetya lagi, menatap Senja dengan tatapan penuh ancaman implisit.
"Papa tidak mau kamu buat kesalahan sekecil apa pun di depan mereka, karena di pertemuan itu, kita akan membahas secara resmi perjodohan kamu dengan Alfa Argantara!"
Rahma menimpalinya dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata.
"Alfa seusiamu, dua puluh delapan tahun. Dia tampan, berpendidikan tinggi di luar negeri, dan merupakan calon tunggal penerus Argantara Group. Pernikahan ini akan mengunci dominasi bisnis kita secara mutlak. Jadi, pastikan kamu bersikap seperti wanita paling sempurna di hadapannya dan orang tuanya."
"Baik, Pa. Baik, Ma" Senja kembali mengangguk kecil. Anggukan yang patuh, bagai boneka kayu yang digerakkan oleh benang-benang kendali.
Prasetya menyapu bibirnya dengan serbet kain mahal, lalu berdiri dari kursinya.
"Kami ada janji dengan relasi lain di lantai atas. Habiskan makananmu, lalu langsung pulang. Jangan membuat rumor yang tidak-tidak di luar."
"Baik, Pa."
Tanpa menepuk bahunya, tanpa tersenyum, kedua orang tua itu berbalik dan melangkah pergi ditinggal pengawal pribadi mereka. Langkah kaki mereka menjauh, meninggalkan Senja sendirian di meja makan yang terlalu luas itu.
Keheningan melingkupi area privat tersebut. Suara denting alat makan dari kejauhan melandai menjadi bising samar yang tak berarti.
Senja masih duduk di posisi yang sama. Punggungnya tegap lurus tanpa menyentuh sandaran kursi, bahunya sejajar sempurna, kedua tangannya terlipat rapi di atas pangkuan, dan dagunya terangkat anggun, posisi duduk formal yang diajarkan secara paksa padanya sejak usianya masih lima tahun.
Namun, di balik pose sempurna yang bagaikan patung mahakarya itu... tatapan mata Senja Kala kosong.
Cahaya di matanya redup, tak ada kehidupan, tak ada binar kebahagiaan. Manusia-manusia di luar sana melihatnya sebagai wanita paling beruntung di dunia, memiliki segalanya, bergelimang harta, kecantikan, dan kecerdasan.
Namun tidak ada seorang pun yang tahu bahwa ia tinggal di dalam sebuah rumah megah yang terasa seperti sangkar emas tanpa pintu keluar. Rumah di mana pelukan tidak pernah ada, dan kata-kata manis digantikan oleh tuntutan dingin.
"Perjodohan...?" Bisiknya dalam hati. Suara batinnya bergema hampa di dalam dada yang sesak.
Alfa Argantara. Pria yang kerap muncul di majalah bisnis nasional. Pria dari strata sosial yang sama dengannya, yang konon memiliki wibawa besar dan ketampanan luar biasa di usia yang sama dengannya.
Senja menarik napas pelan melalui hidungnya, meredam emosi yang bergejolak samar di dasar jiwanya. Harusnya ia merasa takut, atau setidaknya marah karena hidupnya kembali diatur dan ditransaksikan demi kepentingan pundi-pundi bisnis keluarganya. Tapi anehnya, tidak ada rasa marah yang muncul. Rasa lelah yang teramat sangat telah mematikan sebagian besar emosinya.
Di tengah kehampaan itu, sebuah bayangan terlintas di benak Senja. Bayangan tentang sebuah kehidupan lain. Kehidupan yang sangat sederhana, yang selalu ia dambakan setiap kali ia menangis dalam diam di dalam kamar mewahnya yang dingin.
Ia tidak menginginkan harta berlimpah, tidak menginginkan gelar wanita paling berintelektual, dan tidak peduli dengan takhta dinasti bisnis. Yang ia inginkan dari dulu hingga sekarang hanyalah satu hal, sebuah rumah.
Bukan rumah dalam artian bangunan marmer berlapis emas, melainkan sebuah rumah yang hangat. Tempat di mana ia bisa melepas semua topeng kesempurnaannya. Tempat di mana ia bisa disambut dengan senyuman tulus saat pulang, tempat ia bisa mendekap dan didekap dengan rasa kasih sayang yang murni, tempat ia bisa membangun kehangatan bersama seorang suami dan anak-anaknya kelak.
Senja memejamkan matanya perlahan. Jemarinya yang bertaut di atas pangkuan meremas kain gaunnya sendiri, pelan namun erat.
Pernikahan dengan Alfa... mungkinkah ini takdir yang ia tunggu-tunggu?
Senja tidak mengenal Alfa secara pribadi, namun ia tahu pernikahan ini berarti ia harus pindah dari rumah orang tuanya. Pernikahan ini adalah tiket lepasnya dari cengkeraman Prasetya dan Rahma. Jika ia bisa menjadi istri yang baik untuk Alfa, jika ia bisa membangun hubungan yang manis dengan pria itu, bukankah ia akhirnya bisa memiliki keluarga kecil yang selama ini hanya ada dalam mimpinya?
Senja membuka matanya kembali. Tatapannya yang tadi kosong kini menyimpan secercah binar harapan yang rapuh.
"Mungkin... mungkin ini adalah satu-satunya jalan untukku keluar dari sangkar emas ini." Bisiknya lirih pada keheningan malam.
Senja menegakkan kepalanya sedikit lebih tinggi. Ia tidak tahu bahwa keputusan dan harapannya malam ini akan menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang yang akan menyayat hatinya hingga tak berbekas, sebuah takdir yang akan mengujinya hingga ke batas paling akhir dari sebuah pengorbanan.
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.