Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketua Kelas Dan Sekertarisnya
Dua puluh sembilan hari telah berlalu sejak Evan dan Auren resmi memakai seragam putih-biru yang masih terasa kaku di tubuh mereka. Di awal masuk sekolah, ruang kelas 7-B dipenuhi rasa canggung khas anak-anak yang baru lulus SD. Namun, segalanya berubah sejak pemungutan suara darurat satu bulan lalu yang menunjuk Evan sebagai ketua kelas dan Auren sebagai sekretarisnya.
Kini, kekompakan mereka berdua menjadi buah bibir satu angkatan. Apalagi, tiga hari lalu kelas 7-B baru saja menyabet piala besar sebagai Juara 1 lomba Mading kelas seangkatan kelas 7. Kemenangan itu bukan hal yang instan. Selama seminggu penuh, Evan dan Auren adalah dua orang yang rela pulang paling akhir. Mereka memotong kertas, menata artikel, dan memoles mading itu hingga larut sore. Kebersamaan intensif itu perlahan-lahan mengikis jarak di antara mereka, menyisakan sebuah kebiasaan baru yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Kebiasaan itu adalah ketukan dua kali dari jari telunjuk Evan. Tok tok. Sebuah kode rahasia tanpa suara.
Sore itu, suasana sekolah sudah mulai lengang. Sebagian besar murid kelas 7 sudah pulang atau pergi ke lapangan untuk ekstrakurikuler. Di dalam ruang kelas 7-B yang tenang, hanya terdengar suara ketukan jemari di atas papan tik dan gesekan kertas. Evan duduk di bangku paling depan sambil memangku laptop kakaknya yang sengaja ia bawa dari rumah, sementara Auren sibuk merapikan tumpukan berkas absensi bulanan di sebelahnya.
Auren sedang serius mencocokkan surat izin sakit dengan tabel absensi ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang keras namun pelan mengenai puncak kepalanya.
Tok! Tok!
Auren tersentak pelan lalu mendongak. Di depannya, Evan sudah berdiri sambil memegang penggaris besi, menatapnya dengan seringai jahil. Jari telunjuk tangan kanannya baru saja mendarat di jilbab/rambut Auren.
"Melamun terus. Laporannya sudah selesai belum, Ibu Sekretaris?" goda Evan. Ia lalu menarik kursi kayu di sebelah Auren dan duduk di sana. Jarak mereka mendadak pangkas menjadi begitu dekat, hingga Auren bisa mencium aroma minyak telon bercampur parfum kasual khas remaja laki-laki dari seragam Evan. Jantung Auren mendadak berdegup tidak karuan.
Bukannya langsung mengambil map itu, Evan malah memajukan tubuhnya. Telunjuknya bergerak lagi, kali ini mengetuk permukaan luar map biru itu sebanyak dua kali.
Tok! Tok!
"Oke, mari kita lihat," gumam Evan. Wajahnya berjarak sangat dekat dengan bahu Auren saat ia ikut membaca lembaran kertas di dalam map. Auren refleks menahan napas, tubuhnya mendadak kaku karena bisa merasakan kehangatan tubuh Evan yang berada tepat di sampingnya.
"Wah, tulisan kamu rapi banget, Ren. Bersih, nggak ada bekas tipe-x sama sekali," puji Evan tulus. Ia menoleh, membuat tatapan mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Evan tersenyum lebar hingga matanya menyipit menjadi garis melengkung. "Beruntung banget kelas 7-B punya sekretaris kayak kamu. Coba kalau aku yang disuruh bikin rekap tulisan tangan begini, pasti wali kelas kita udah pusing baca tulisan cakar ayamku."
Pipi Auren yang semula hanya sedikit merona kini benar-benar terasa panas. Ia segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan kotak pensilnya. "Kan emang udah tugas aku, Van. Kamu juga keren kok... pas presentasi konsep mading di depan para juri kemarin, kamu tenang banget. Makanya kelas kita bisa menang."
Mendengar itu, Evan tertawa kecil. Jari telunjuknya kembali beraksi. Kali ini, dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, ia mengetuk ujung hidung mungil Auren sebanyak dua kali.
Tok! Tok!
"Itu kan karena ide tata letak artikelnya dari kamu semua, Auren. Kita itu tim terbaik," ucap Evan santai, seolah ketukan di hidung tadi adalah hal paling normal di dunia, padahal tindakan itu sukses membuat seluruh pasokan oksigen di dada Auren rasanya menguap seketika.
Keesokan harinya, rutinitas sebagai pengurus kelas kembali mengikat mereka dalam kebersamaan yang padat. Hari itu ada pelajaran Seni Budaya di jam terakhir. Guru meminta setiap meja untuk mengumpulkan tugas menggambar perspektif secara berpasangan. Karena status mereka sebagai ketua dan sekretaris kelas yang duduk berdampingan di barisan depan demi memudahkan koordinasi dengan guru, Evan dan Auren otomatis menjadi satu tim.
Suasana kelas cukup bising dengan suara gesekan meja dan tawa anak-anak lain. Di meja mereka, Auren sedang fokus menarik garis lurus menggunakan penggaris panjang. Ia sangat berhati-hati karena kertas gambarnya harus bersih. Namun, karena terlalu bersemangat, ujung pensil 2B miliknya tiba-tiba patah dengan bunyi klek yang cukup nyaring.
Auren menghela napas pasrah. Ia bersiap membuka ritsleting tasnya yang tergantung di samping kursi untuk mencari rautan. Namun, kegiatannya terhenti ketika ia melihat tangan Evan bergerak ke arah mejanya.
Tok! Tok!
Evan mengetuk buku gambar Auren dua kali dengan telunjuknya, menarik perhatian gadis itu. Ketika Auren menoleh, Evan sudah menyodorkan sebuah pensil miliknya yang sudah diraut dengan sangat runcing dan sempurna.
"Pakai punya aku aja dulu, Ren. Biar garisnya nggak miring. Kamu bagian yang rapi-rapi aja, biar aku yang bikin sketsa kasarnya," kata Evan pelan.
"Eh? Terus kamu pakai apa?" tanya Auren ragu.
Bukannya menjawab dengan kata-kata, Evan justru meraih jemari Auren, meletakkan pensil itu di sela-sela jari Auren, lalu mengetuk punggung tangan Auren sebanyak dua kali dengan telunjuknya.
Tok! Tok!
Sentuhan kulit yang hangat itu mengirimkan sengatan halus yang membuat bulu kuduk Auren meremang. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam rongga dadanya, sampai-sampai ia takut Evan bisa mendengar suaranya.
"Aku punya pensil cadangan di kotak pensil. Udah, pakai aja, jangan banyak protes," sahut Evan sambil mengacak rambut belakangnya sendiri, menyembunyikan semburat merah tipis yang tiba-tiba muncul di telinganya.
Selama sisa jam pelajaran, Evan benar-benar menjaga posisinya. Tangannya tetap diletakkan di atas meja, sangat dekat dengan tangan Auren yang sedang menggambar. Sesekali, jika Auren salah menarik garis, Evan akan mengetuk meja Auren dua kali (tok tok!) sebagai peringatan lembut agar Auren lebih berhati-hati. Melewati jam pelajaran yang biasanya membosankan kini terasa begitu cepat dan menyenangkan karena kehadiran cowok itu di sisinya.
Momen-momen manis berselimut tugas kelas itu terus bergulir, mengikuti ke mana pun mereka pergi seolah-olah menjadi bayangan. Status sebagai ketua dan sekretaris kelas seolah menjadi "alasan legal" bagi mereka untuk selalu menempel satu sama lain tanpa ada teman-teman yang curiga secara berlebihan.
Hingga sore harinya, langit mendadak berubah menjadi abu-abu gelap. Hujan deras langsung mengguyur bumi tepat ketika Evan dan Auren baru saja selesai merapikan spidol kelas dan mengunci pintu ruang 7-B.
Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor lantai dua yang sudah sepi. Angin sore bertiup kencang, membawa tempias air hujan yang dingin dan menusuk pori-pori. Auren refleks mendekap buku agenda sekretaris di dadanya, tubuhnya sedikit menggigil karena seragam putih SMP-nya agak tipis.
Melihat hal itu, Evan menghentikan langkahnya di dekat tangga. Auren ikut berhenti dan menatapnya bingung. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Evan melepas jaket hoodie berwarna abu-abu longgar yang dikenakannya.
Sebelum Auren sempat memprotes, Evan sudah maju satu langkah, lalu menyampirkan jaket hangat itu ke atas kedua bahu Auren. Aroma khas Evan langsung membungkus tubuh Auren, menghalau rasa dingin dalam sekejap.
"Evan? Nanti kalau kamu yang kedinginan gimana? Rumah kamu kan jauh," ujar Auren khawatir, tangannya memegangi ujung jaket hoodie yang tampak sangat kebesaran di tubuh kecilnya.
Evan tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu menjangkau tas ransel yang digendong Auren di punggungnya. Jari telunjuk Evan mengetuk tas ransel itu sebanyak dua kali.
Tok! Tok!
"Aku kan ketua kelas, harus lebih kuat dari sekretarisnya," ucap Evan sambil menatap lekat ke dalam manik mata Auren. Tatapannya begitu hangat, sangat berbeda dari ketegasannya saat memimpin kelas yang berisik. "Kalau sekretarisku sakit, nanti siapa yang bantuin aku urus kelas 7-B? Lagian... aku emang nggak suka lihat kamu kedinginan kayak begini, Ren."
Kata-kata jujur yang polos namun mendalam khas anak kelas 7 itu sukses membuat pertahanan Auren runtuh. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat, menciptakan sensasi menggelitik yang manis di dalam dadanya.
Di bawah rintik hujan yang deras dan koridor sekolah yang sunyi, mereka berdua berjalan beriringan menuruni tangga. Mereka tahu, ketukan dua kali dan kedekatan ini sudah bukan lagi sekadar karena piala mading atau urusan struktur organisasi kelas. Ada sebuah perasaan baru yang sangat manis, yang pelan-pelan mulai mekar dan berakar di hati sang ketua kelas dan sekretarisnya.