Indonesia
NovelToon NovelToon
Qin Yuchen : Seni Dewa Naga

Qin Yuchen : Seni Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Di Tanah Soul Martial, hukum rimba adalah segalanya — hanya kekuatan yang menentukan hidup dan mati. Para kultivator menembus langit, para raksasa mengguncang bumi, dan setiap jiwa bermimpi meraih matahari serta bintang.

Namun, takdir berputar.Qin Yuchen, Raja Dewa yang pernah menguasai Alam Atas, jatuh ke jurang kehancuran. Dari abu kehancuran itu, ia bangkit kembali dalam tubuh seorang pemuda biasa di perbatasan barat, membawa rahasia terlarang: Seni Dewa Naga Kekacauan

Dengan seni ilahi itu, ia menapaki jalan berdarah — menantang langit, menundukkan bumi, dan menyingkirkan segala jenius yang berani menghalangi. Perjalanan menuju takhta tertinggi pun dimulai, sebuah kisah tentang kebangkitan yang akan mengguncang seluruh jagat raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Dua Pukulan Mematikan

Di bawah tatapan takjub semua orang, wajah Qin Yuchen tetap tenang. Setelah mengucapkan kata "terima", ia melangkah naik ke panggung pertarungan setapak demi setapak.

Lu Yunbei, murid cabang Keluarga Lu yang berada di Tahap Awal Alam Ketujuh Pemurnian Tubuh, adalah penegak hukum sekaligus pengikut utama Lu Chen.

"Qin Yuchen, harus kupuji keberanianmu atau kusebut kau bodoh? Tenang saja, karena kau bersedia menerima tantangan ini, aku akan bersenang-senang dulu denganmu. Tuan Muda Lu menyuruhku untuk tidak langsung membunuhmu. Akan ku patahkan tangan dan kakimu dulu, lalu perlahan-lahan ku remukkan setiap tulang di tubuhmu, baru ku akhiri hidupmu!" Wajah Lu Yunbei memerah, penuh kebencian.

Ucapan itu membuat banyak murid luar di bawah panggung berubah ekspresi. Terlalu kejam! Membunuh saja sudah cukup, tak perlu sampai menyiksa seperti itu meski dalam pertarungan hidup mati.

"Kalian orang-orang Keluarga Lu memang suka cara mati yang rumit begini. Baiklah, akan ku usahakan memenuhi keinginan kalian," balas Qin Yuchen dengan senyum tipis, tapi niat membunuhnya sudah membara.

"Kau mencari mati!" Wajah Lu Yunbei mengeras. Ia menghentakkan kaki kanan ke lantai panggung, tubuhnya menerkam maju seperti macan tutul, lima jari tangan kanannya melengkung membentuk cakar harimau.

*Wusss!*

Angin kencang berhembus saat cakar itu terlepas, membawa gelombang Qi seperti auman harimau di pegunungan — Cakar Harimau Hitam, jauh lebih matang dibanding milik Chu Chenyu waktu itu. Teknik ini sudah mencapai tahap sempurna. Kekuatannya luar biasa. Sekali gerakan ini mengenai, Qin Yuchen dipastikan tewas seketika.

Banyak penonton di bawah panggung mulai menatap Qin Yuchen dengan iba. Ucapannya tadi rupanya sudah cukup memprovokasi Lu Yunbei untuk langsung melepas jurus pamungkasnya. Pertarungan ini sepertinya sudah bisa ditebak hasilnya.

Qin Yuchen pasti mati.

"Cuma segini kemampuanmu?"

Suara sinis itu menggema di tengah panggung. Qin Yuchen tidak menghindar. Ia melangkah maju dengan kaki kiri, mengepalkan tangan kanan, lalu melayangkan satu pukulan sederhana — tanpa gerakan rumit sama sekali.

Tinju bertemu cakar.

Lalu terjadilah pemandangan yang membuat semua orang tercengang.

*KRAK!*

Suara tulang patah menggema nyaring. Seluruh tulang tangan kanan Lu Yunbei — dari jari hingga lengan — hancur berkeping-keping. Tubuh kurusnya terlempar ke belakang seperti karung robek.

Namun Qin Yuchen belum selesai. Tubuhnya melesat seperti anak panah, mengejar Lu Yunbei yang masih melayang di udara, lalu menghantamkan tinju kanannya dengan ganas.

*BUAGH!*

Pukulan itu tepat menghantam dada Lu Yunbei.

*BRUK!*

Tubuhnya jatuh ke lantai arena seperti meteor. Seteguk darah segar menyembur dari mulutnya. Dadanya melesak dalam, tulang rusuknya yang patah menembus jauh ke jantungnya.

Kekejaman di mata Lu Yunbei perlahan lenyap, digantikan ketakutan. Ia berusaha mengangkat dua jarinya, menunjuk ke arah Qin Yuchen, mulutnya bergerak tapi tak ada suara yang keluar selain darah yang mengalir deras dari hidung dan mulutnya. Dua detik kemudian, jarinya jatuh lemas. Kepalanya miring, dan napasnya berhenti untuk selamanya.

Seluruh arena mendadak sunyi mencekam.

Semua orang terpaku, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

Hanya dua pukulan. Lu Yunbei, seorang praktisi Alam Ketujuh Pemurnian Tubuh, tewas di tangan Qin Yuchen.

"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi barusan? Lu Yunbei benar-benar kalah?"

"Astaga, kalian masih yakin dia itu sampah? Sampah macam apa yang bisa membunuh ahli Alam Ketujuh hanya dengan dua pukulan?"

"Ternyata Qin Yuchen ini babi yang menyamar jadi harimau! Haha, pertarungan ini bakal seru. Kalau kekuatannya sehebat ini, jangan-jangan Lu Chen bukan tandingannya!"

Para penonton ternganga, seakan melihat hantu di siang bolong. Hasil ini benar-benar di luar dugaan semua orang — dan justru karena itulah suasana jadi semakin menegangkan. Kalau Qin Yuchen memang benar-benar sampah dan langsung dibantai, tontonan ini pasti membosankan.

Wajah Lu Chen memerah padam — bukan karena sedih atas kematian Lu Yunbei, tapi karena merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum.

"Lu Chen, Tuan Muda Lu, bukankah tadi kalian bilang mau memelintir tangan dan kakiku, menghancurkan setiap tulangku? Ayo, aku menunggu," ejek Qin Yuchen sambil melambaikan jari, memancing.

"Sampah she Qin, jangan kira dengan mengalahkan si bodoh Lu Yunbei kau sudah berubah jadi jenius! Hari ini akan ku ajarkan padamu bahwa orang biasa sepertimu tidak akan pernah bisa jadi burung phoenix. Kau masih jauh untuk menandingi ku!" Lu Chen melompat naik ke panggung.

Sesaat kemudian, aura dahsyat menyembur dari tubuhnya — Alam Kedelapan Pemurnian Tubuh!

Banyak murid di bawah panggung yang merasakan tekanan aura itu langsung terkejut. Selisih satu alam antara tingkat tujuh dan delapan memang tidak main-main — apalagi Lu Chen memang sudah sangat kuat sejak awal, bahkan di alam yang sama Lu Yunbei pun jauh dari sepadan dengannya.

Meski penampilan Qin Yuchen tadi mengagumkan, kini setelah kekuatan sesungguhnya Lu Chen terungkap, banyak orang kembali menatapnya dengan rasa iba. Sebagian besar yakin Qin Yuchen bukan tandingan Lu Chen.

Tapi tentu saja, Qin Yuchen sendiri tidak berpikir demikian.

Tak ada yang tahu bahwa ia sendiri sudah mencapai Alam Kedelapan Pemurnian Tubuh. Pagi tadi, ia sempat masuk kembali ke Ruang Naga Ilahi — hanya tiga jam kultivasi di sana sudah cukup mendongkrak levelnya dua tingkat sekaligus.

Dengan mengandalkan Seni Dewa Naga Kekacauan, teknik kultivasi agung dari Alam Atas, kekuatan fisiknya di Alam Kedelapan ini sudah setingkat lebih tinggi dibanding jenius murni sekalipun yang berada di Puncak Alam Kesembilan sekte luar. Soal kemampuan tempur, kalau ia benar-benar serius, para jenius puncak Alam Kesembilan itu bisa dibuat meragukan hidup mereka sendiri hanya dalam hitungan menit.

Di Alam Kedelapan Pemurnian Tubuh, Qin Yuchen mungkin belum tak terkalahkan di seluruh Benua Jiwa Terpencil, tapi setidaknya di wilayah terpencil Perbatasan Barat ini, posisinya sebagai nomor satu di ranah Pemurnian Tubuh sudah tak tergoyahkan.

Ia melirik Lu Chen dengan acuh tak acuh, lalu melontarkan satu kalimat yang langsung membuat lawannya meledak marah.

"Berisik. Kalau punya jurus pamungkas, cepat keluarkan. Jangan sampai kau mati dengan mata terbuka seperti anak buahmu itu."

"Sampah she Qin, karena kau begitu terburu-buru ingin bereinkarnasi lagi, akan ku kabulkan keinginanmu!" Wajah Lu Chen muram gelap. Dengan bunyi dentang, ia menghunus Pedang Qingfeng miliknya.

Pedang itu bukan pedang standar keluaran sekte, melainkan pusaka buatan khusus dengan berbagai material berharga tambahan — nilainya nyaris setara senjata jiwa tingkat terendah.

Dalam hati Lu Chen berpikir jernih: Qin Yuchen, kau hanya sedikit lebih kuat dalam tenaga dan sedikit lebih mahir dalam ilmu tinju. Tapi soal itu, aku tak kalah darimu. Sehebat apa pun tinju mu, mampukah menahan Pedang Qingfeng-ku?

Akan ku potong lenganmu jadi dua batang kayu, satu tebasan demi satu tebasan!

1
Ardi ansyah
saling support ka The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny. bantu saling berkembang
Pecinta Gratisan
bunuhlah
nanonano
mantap
Friska trisna
Semangat thor💪
Ardi ansyah: saling support kak The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!