Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: PERMAINAN DI LUAR KONTROL

Adrenalin dari kejadian di dapur rumah semalam masih menyisakan getaran halus yang tak kunjung surut di tubuh Aluna hingga keesokan harinya. Bukannya makin kapok atau melangkah mundur, ancaman bahaya yang baru saja mereka lewati bersama justru seolah membakar habis sisa pembatas moral yang ada di antara mereka. Sensasi terlarang itu kini makin memabukkan dan mengikat pikiran Aluna.

Hari Selasa sore, kegiatan ekstrakulikuler SMA Garuda telah usai. Lorong-lorong bangunan sekolah mulai lengang dari lalu lalang siswa yang berhamburan pulang. Aluna melangkah sendirian menyusuri tangga menuju perpustakaan di lantai dua untuk mengembalikan beberapa buku referensi pelajaran Ekonomi, tanpa menyadari langkah kaki Devan yang memperhatikannya dari jarak aman sejak dari area kantin.

Di dalam ruangan perpustakaan yang luas, sepi, dan berpendingin udara dingin itu, suasana begitu hening. Hanya ada seorang petugas perpustakaan di meja depan yang tampak tertidur lelap dengan kepala tertangkup di atas tumpukan dokumen. Aluna menyusuri lorong-lorong di antara deretan rak buku tebal berkayu jati yang tinggi dan berdebu tipis.

Saat Aluna berdiri di meniti ujung jari kakinya untuk menata buku referensi di shelf paling atas, sebuah bayangan tinggi mendadak menutupi pendar cahaya lampu di atas kepalanya dari arah belakang.

Srett.

Sebelum Aluna sempat menoleh atau mengeluarkan suara kaget, Devan sudah menyusupkan tubuh tegapnya tepat di belakang Aluna. Satu tangannya yang panjang terulur mendorong buku referensi milik Aluna masuk ke dalam rak, sementara tangan lainnya merengkuh pinggang mungil gadis itu secara refleks dan posesif, menekan tubuh mereka menyatu tanpa jarak.

"Kak Devan!" cicit Aluna tertahan dengan mata membelalak kaget. Ia berbisik sangat pelan dengan nada panik agar tidak menyenggol kesadaran penjaga perpustakaan di area depan. "Ini di sekolah... di perpustakaan!"

"Aku tahu," bisik Devan rendah tepat di ceruk leher Aluna. Suara berat Devan terdengar begitu serak dan sarat akan gairah tersembunyi yang ditahannya sejak pagi.

Dengan gerakan halus namun cepat, Devan membalikkan posisi tubuh Aluna hingga kini gadis itu menghadap langsung ke arahnya. Aluna terhimpit rapat antara dada tegap Devan dan deretan rak buku tebal. Devan memajukan wajahnya tanpa ragu, membungkam mulut Aluna dengan ciuman yang langsung membakar saraf-saraf mereka seketika.

Ciuman Devan kali ini sangat dalam, panas, menuntut, dan penuh dengan dominasi yang memabukkan. Sentuhan itu menyapu bersih seluruh kewarasan Aluna di tempat umum tersebut.

Aluna mencengkeram erat kain kerah seragam sekolah Devan, mencoba mempertahankan pertahanan fisiknya yang perlahan melumer akibat serbuan sentuhan mendadak itu. Jemari Devan yang hangat merayap berani di pinggul Aluna di balik juntaian rok seragamnya, mengangkat sedikit tubuh mungil adiknya agar makin merapat dan menempel pada dirinya.

Setiap desahan halus yang berusaha ditahan Aluna teredam sempurna di balik pagutan bibir Devan. Di antara sekat rak buku tebal yang sepi dan bayang-bayang bahaya jika ada siswa atau guru lain yang masuk, mereka membiarkan dorongan rasa memiliki itu mengambil alih sepenuhnya—sebuah permainan terlarang yang makin hari makin berjalan di luar kendali.

Ketika Devan akhirnya merenggangkan ciumannya, ia menatap Aluna yang terengah-engah dengan mata sayu penuh kepasrahan. Devan mengusap pelan bibir merona Aluna yang basah menggunakan ibu jarinya, lalu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh arti yang menegaskan bahwa Aluna tidak akan pernah bisa lepas atau lari dari genggamannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!