Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 #Bau busuk yang tercium

Beberapa saat kemudian....

​Mobil sedan mewah yang dikendarai Gibran membelah gerbang besi tinggi Kediaman Besar Aditama. Pria bertubuh tegap itu melangkah masuk menelusuri lorong rumah mewahnya, berniat untuk sekadar mandi dan berganti pakaian segar sebelum bergegas kembali pergi menemui Bening dan Kaivandra.

​Sisa-sisa amarah usai meluapkan emosi pada Heru masih tercetak jelas di garis rahangnya yang kaku. Kilatan mata Gibran tajam menggelap. Di dalam kepalanya, pertanyaan besar yang sama terus berputar tanpa henti bagai kaset rusak, Siapa sesungguhnya sosok berdarah dingin yang tega mempermainkan hidupnya dan menghancurkan rumah tangganya tujuh tahun lalu?

​Sementara itu, di ruang tengah yang megah, Wira Aditama berdiri kaku di dekat jendela besar. Hatinya diliputi rasa cemas dan gelisah luar biasa sejak mendapat kabar bahwa Heru telah diamankan oleh orang-orang Gibran. Namun, sebagai seorang penguasa yang terbiasa bersilat lidah, pria tua itu memaksakan raut wajahnya tetap tenang dan tenang. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Heru pasti akan menuruti ancaman kejamnya untuk menutup mulut.

​Mendengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa, Wira memutar tubuhnya. Ia menyambut kedatangan putra tunggalnya dengan raut wajah berwibawa yang dibuat-buat.

​"Gibran..." panggil Wira dengan suara berat yang menuntut penjelasan. "Kamu dari mana saja? Kenapa semalaman kamu tidak pulang ke rumah? Apa kamu... kembali bersama wanita pengkhianat itu lagi?"

​Langkah kaki Gibran mendadak terhenti di tengah ruangan. Pria itu memutar tubuhnya pelan, menatap sang ayah dengan sorot mata yang sarat akan kelelahan emosional dan amarah yang tertahan.

​"Papa..." ujar Gibran dengan suara rendah namun tajam menembus udara. "Bening bukan seorang pengkhianat. Aku sudah tahu segalanya tentang apa yang terjadi tujuh tahun lalu."

​Wira tertegun sejenak. Alis tebalnya berkerut, memasang raut wajah terkejut yang berpura-pura sempurna.

​"Apa maksudmu, Gibran?" tanya Wira dengan nada meremehkan.

​"Bening hanya dijebak, Papa!" tembak Gibran tegas, memajukan tubuhnya selangkah. "Pria di kamar hotel itu... dia hanyalah orang bayaran yang disewa oleh seseorang untuk berpura-pura menjadi selingkuhan Bening!"

​Mendengar penuturan itu, sudut bibir Wira mengembang tipis secara tak kasat mata. Dari sikap dan cara bicara Gibran yang tampak berapi-api namun masih meraba-raba, Wira tahu pasti satu hal, Gibran belum menyadari sama sekali bahwa dirinya lah dalang utama di balik jebakan keji itu.

​Didasari oleh rasa percaya diri itu, Wira kembali mengalirkan racun kebohongan dari bibirnya, berusaha memengaruhi pikiran putranya.

​"Gibran, kenapa kamu bisa begitu mudah percaya padanya?" pangkas Wira dengan raut kaku yang dibuat-buat prihatin. "Bisa saja Bening dan pria itu memang bekerja sama sejak awal untuk membodohimu lagi sekarang! Wanita miskin itu cuma mengincar hartamu!"

​"CUKUP, PA!"

​Suara bentakan keras Gibran seketika menggelegar menghantam dinding-dinding ruang tengah Kediaman Aditama. Urat-urat di leher sang CEO menegang kaku, dadanya naik turun menahan gumpalan frustrasi yang membakar ulu hatinya.

​"Cukup, Papa terus-menerus menjelekkan Bening!" lanjut Gibran dengan napas memburu. "Kenyataannya, memang ada seseorang yang sedang mempermainkanku selama tujuh tahun ini! Seseorang yang dengan sangat kejam merusak kebahagiaan dan keutuhan keluargaku!"

​Wira bersedekap dada, membalas tatapan tajam putranya dengan sorot mata yang angkuh. "Sadarkan dirimu, Gibran! Kamu ini seorang CEO berotak dingin, tapi di hadapan wanita itu kamu mendadak buta dan tidak rasional! Dia bisa saja hanya memanfaatkan kepolosan anakmu untuk mengikatmu kembali!"

​Gibran membeku di tempatnya. Kata-kata doktrin yang dilontarkan ayahnya justru terasa seperti pemicu yang menyalakan percikan kejanggalan baru di dalam benaknya.

​Pria itu menatap Wira lurus-lurus. Ingatannya berputar kembali pada masa lalu, betapa gigihnya sang ayah menolak keberadaan Bening sejak awal, betapa senangnya Wira saat mengusir Bening tujuh tahun lalu, dan betapa tajamnya kebencian yang dilontarkan sang ayah tiap kali nama Bening diungkit.

​Napas Gibran tertahan. Sebuah prasangka liar dan amat mengerikan mendadak terlintas di dalam benaknya, membekukan seluruh aliran darahnya.

​Gibran mengambil satu langkah mendekat, menatap wajah ayahnya dengan pendar mata yang mendadak berubah menjadi dingin dan penuh kecurigaan yang membahayakan.

​"Papa..." bisik Gibran dengan suara parau yang sarat akan intrik berbahaya. "Kenapa... kenapa dari dulu aku merasa Papa memang sangat ingin aku berpisah dari Bening?"

​Wira menyipitkan matanya. "Apa maksudmu bicara begitu pada Papamu sendiri?!"

​"Jawab aku, Papa!" gertak Gibran, menatap Wira tanpa rasa gentar sedikit pun. "Apa... apa Papa ada hubungannya dengan rencana busuk yang menghancurkan rumah tanggaku tujuh tahun lalu?!"

Jantung Wira Aditama serasa berhenti berdetak seketika. Muka tua itu sempat memucat, namun sebagai pemain politik dan bisnis ulung, ia sekuat tenaga menahan ekspresi wajahnya agar tidak runtuh di hadapan sang putra.

"Gibran! Jangan hanya karena wanita miskin itu kamu sampai kehilangan akal sehat dan tidak sopan pada Papamu sendiri!" gertak Wira dengan nada tinggi yang dibuat-buat murka, berusaha menutupi kepanikannya. "Atas dasar apa kamu menuduhku?! Apa buktinya jika Papa yang melakukan ini semua?!"

Gibran tidak membalas gertakan itu dengan amarah. Pria tegap itu justru melangkah mendekat, menatap lurus-lurus ke dalam iris mata sang ayah dengan pendar mata yang teramat dingin dan intimidatif.

"Kenapa Papa langsung menanyakan bukti... jika Papa memang merasa bukan pelakunya?" bisik Gibran rendah, namun telak menusuk ulu hati Wira.

Wira mengepalkan tangannya rapat-rapat, rahangnya mengeras kaku. "Kamu yang memulai menuduh Papa lebih dulu, Gibran!"

"Aku akan mencari kebenarannya sampai ke akar-akarnya, Pa..." pangkas Gibran dengan nada suara datar namun penuh janji yang mematikan. "...dan semoga saja, apa yang Papa katakan barusan itu memang benar."

Tanpa menunggu balasan lagi, Gibran berbalik melangkah lebar menaiki tangga menuju lantai dua. Setiap pijakan langkahnya diiringi benih kecurigaan baru yang kini sepenuhnya berpusat pada satu nama, Wira Aditama.

***

Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas siang.

Di kamar rawat inap rumah sakit, selang infus yang menempel di tangan kiri Bening akhirnya telah dilepas. Hari ini, kondisinya dinyatakan membaik dan ia diperbolehkan untuk pulang.

Ruangan bernuansa putih itu tidak lagi sepi. Selain Dokter Arfan yang sibuk memeriksa rekam medis Bening untuk terakhir kali, ada Erika juga disana. Erika tampak lincah membantu merapikan pakaian dan barang-barang Bening ke dalam tas.

Di sela-sela kegiatannya, Erika diam-diam memperhatikan situasi. Tadi, sebelum Arfan masuk, Bening sempat menceritakan segalanya, soal Gibran yang kini sudah mengetahui kenyataan masa lalu dan memohon untuk merajut kembali rumah tangga mereka. Dan kini, Erika menyaksikan sendiri betapa perhatiannya Dokter Arfan pada sahabatnya itu. Cinta segitiga yang benar-benar rumit, batin Erika seraya menggeleng pelan.

Dokter Arfan berdiri tepat di samping ranjang Bening, menatap wanita itu dengan binar hangat.

"Bening, kalau nanti di rumah ada apa-apa, kamu bisa langsung hubungi saya ya?" ujar Arfan lembut. "Mungkin kalau merasa pusing lagi, atau ada keluhan lain."

"Iya, Mas Arfan. Terima kasih banyak ya atas perhatiannya," jawab Bening ramah dengan senyum tipis.

Arfan menatap Bening sejenak, lalu memisahkan diri dari tugas dokternya. Pria berjas putih itu menurunkan volume suaranya, membawa percakapan ke ranah yang jauh lebih pribadi.

"Bening... maaf jika saya terkesan terlalu ikut campur..." bisik Arfan dengan raut wajah serius. "Tapi... kalau kamu merasa tertekan atau terancam dengan kehadiran mantan suamimu itu... saya bisa membantu. Saya bisa berpura-pura menjadi kekasih atau calon suamimu di depannya agar dia menjauh."

Deg.

Bening membelalak kaget mendengar penawaran berani itu. Di sudut ruangan, gerakan tangan Erika yang sedang memasukkan pakaian ke dalam tas seketika terhenti total. Erika menoleh cepat dengan mata melebar tak percaya.

Namun, sebelum Bening atau Erika sempat melayangkan sepatah kata pun untuk merespons, suara pintu yang terdorong kasar memotong udara.

"Tidak perlu repot-repot, Dokter..."

Suara bariton yang dingin nan pekat itu menggema dari ambang pintu. Gibran Aditama melangkah masuk dengan balapan kemeja baru yang rapi. Pria itu tidak datang sendirian,.tangan kanannya menggenggam jemari kecil Kaivandra yang baru saja dijemputnya dari sekolah.

Gibran berjalan mendekat, menyebarkan aura dominan yang amat mematikan. Pandangan matanya menyapu Arfan dari atas sampai bawah dengan sunggingan senyum remeh yang tajam.

"...jasamu bukankah hanya untuk mengobati fisik pasien?" sindir Gibran halus namun amat pedas di telinga. "Atau... dokter sekarang sudah berganti profesi menjadi aktor sandiwara?"

Bening menahan napasnya, sementara Arfan menegakkan tubuhnya dengan rahang mengeras.

Di antara ketegangan pekat dua pria dewasa yang saling melempar tatapan membunuh itu, Kaivandra, bocah kecil yang polos hanya mengedipkan matanya bulat-bulat, menatap bergantian ke arah Papa, Mama, dan Dokter Arfan tanpa mengerti sedikit pun perang dingin yang baru saja meletus di hadapannya.

1
Ariany Sudjana
kan sudah ada kaivandra, berarti bukan malam pertama dong 🤣🤣
sunaryati jarum
Sudah ada jagoan tidak perlu malam pertama,masih banyak malam/Drool//Drool//Drool/
sunaryati jarum
Selamat sudah sah
sunaryati jarum
Kalian bakal terseret Rama dan Astari
Lisa
Happy wedding Gibran & Bening..bahagia selalu ya..
Ariany Sudjana
congrats yah Gibran dan bening, tetap waspada yah
sunaryati jarum
Emak kira Kai dan ibunya diberi pengawalan yang ketat, ternyata tidak.untung Kai cerdas dan pemberani,serta ingat nasehat ibunya
sunaryati jarum
Astaga kirain ulah Astari, ternyata ulah dokter.Dokter Arfan seharusnya kamu senang Bening bahagia dan Kai memiliki orang tua utuh yang saling mencintai
sunaryati jarum
Semoga segera Kai segera diketemukan
sunaryati jarum
Memangnya berhasil, Gibran tidak bodoh dia memiliki pengawal berlapis untuk istri dan putranya.Jika kau lakukan rencana busukmu bukan Gibran yang hancur tapi kalian sendiri
Ariany Sudjana
skak mat, kamu keceplosan ngomong rencana jahat kamu sendiri Arfan? Gibran masih ada yang harus ditangkap tuh, Astari dan suaminya, suruh Toni bertindak, supaya Astari dan Rama masuk penjara sekalian
Ariany Sudjana
katanya Gibran CEO, punya anak buah, masa ga bisa menemukan keberadaan pelaku penculikan kaivandra?
bening juga bodoh, percaya sekali sama Arfan, padahal hatinya iri dan dengki
Lisa
Ternyata dokter Arfan ini jahat juga mau merebut Bening..Gibran kamu harus selidiki siapa dalang di balik kasus itu.
Lisa
Cpt Gibran tolong Kai..bisa kambuh tuh alerginya..
Ariany Sudjana
Gibran ini bodoh, sudah tahu situasi belum aman,kok percaya sekali sama orang lain, katanya punya anak buah yang bisa di andalkan, kok kecolongan sih
sunaryati jarum
Apa bukan orang tua kandungnya Gibran? Atau dulu ada trauma dengan orang tidak punya?
Ariany Sudjana
dasar Rama bodoh, percaya sekali dengan omongan pelacur murahan yang ga tahu diri dan serakah .... semoga rencana jahat mereka bisa dipatahkan Gibran
Lisa
Moga aj Gibran mengetahui rencana jahatnya Rama..
Ariany Sudjana
betul sekali, kamu harus tegas bening, menurut kamu berteman, tapi beda dengan Arfan, ybs berharap jadi suami kamu
Ariany Sudjana
harusnya bening tegas, bicara sama Gibran, posisi Arfan itu teman atau apa, supaya Gibran tidak salah paham
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!