Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan dan kenyataan
Di dalam kantor kecil tempat presensi buruh, Devi berjalan menunduk dengan langkah kaki yang gemetar. Di tangannya, terselip sebuah amplop cokelat kecil berisi uang dua puluh ribu rupiah, upah dua hari kerjanya yang dipotong denda keterlambatan.
Bu Rini berdiri di dekat pintu keluar dengan tangan bersedekap, menatap Devi dengan pandangan puas dan kemenangan yang nyata. "Ayo cepat jalannya, Mbak Devi. Jangan bikin kotor area depan. Di luar sudah banyak truk mau masuk."
Devi tak menjawab. Ia mengusap pipinya yang basah dengan ujung jilbabnya, mencoba menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Saat kakinya baru saja menginjakkan ubin teras kantor depan hendak menuju gerbang, Pak Hendro keluar dari ruangannya dengan gaya melambaikan tangan mengusir.
"Ingat ya, Devi! Jangan pernah coba-coba melamar lagi di anak perusahaan kita yang lain!" gertak Pak Hendro keras-keras agar didengar oleh buruh lain. "Kita ndak butuh pekerja yang moralnya rusak!” lanjut Pak Hendro lantang.
Beberapa buruh yang sedang berjalan menuju area produksi spontan menoleh. Ada yang berhenti sebentar, ada pula yang pura-pura sibuk agar tidak terseret masalah. Namun, telinga mereka tetap menangkap setiap perkataan yang keluar dari mulut kepala mandor itu.
Devi berhenti melangkah.
Tubuhnya membeku.
Tangannya semakin erat menggenggam amplop cokelat berisi upah dua hari kerjanya. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan kembali mengalir membasahi pipinya.
“Moral saya rusak?” suaranya bergetar.
Pak Hendro mendengus.
“Kenapa? Merasa tidak terima?”
“Saya tidak pernah melakukan apa yang Bapak tuduhkan.”
Bu Rini yang sejak tadi berdiri di samping Pak Hendro langsung terkekeh sinis.
“Ah, masih saja pura-pura polos.”
Devi menatap perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.
“Saya tidak pura-pura, Bu.”
“Tidak usah sok suci!” potong Bu Rini. “Penampilanmu memang seperti perempuan baik-baik. Pakai jilbab, bicara pelan, wajah menunduk terus. Tapi ternyata ...”
Bu Rini sengaja menggantung kalimatnya.
Beberapa buruh mulai saling berbisik.
“Ternyata apa, Bu?” tanya Devi, nyaris memohon.
Bu Rini melangkah mendekat.
“Ternyata kamu perempuan gampangan.”
Devi seperti baru saja ditampar.
Wajahnya langsung pucat.
“Jangan bicara seperti itu, Bu.”
“Kenapa? Sakit hati?” Bu Rini tertawa kecil. “Semalam saja kamu sampai digerebek warga. Lalu apa yang terjadi? Kamu malah dinikahkan dengan seorang preman, kan?”
Bisik-bisik di antara para buruh semakin terdengar.
Devi menggeleng cepat.
“Bukan seperti itu kejadiannya.”
Pak Hendro menyela dengan suara mengejek.
“Lalu seperti apa? Coba jelaskan kepada semua orang.”
Devi membuka mulut, tetapi tenggorokannya terasa tercekat.
Ia tahu tidak ada satu pun orang di tempat itu yang benar-benar ingin mendengar penjelasannya.
“Semalam saya tidak melakukan apa-apa,” katanya akhirnya. “Saya hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Pernikahan itu juga terjadi karena keadaan. Saya tidak pernah—”
“Sudahlah!” bentak Pak Hendro.
Devi terdiam.
“Jangan membuat cerita seolah-olah kamu korban,” lanjutnya. “Kalau memang kamu perempuan baik-baik, kenapa sampai ada warga yang menggerebek?”
“Saya tidak tahu kenapa mereka datang!” jawab Devi, kali ini sedikit lebih keras. “Saya tidak melakukan kesalahan!”
Pak Hendro tertawa meremehkan.
“Lihat saja. Baru ketahuan sedikit sudah berani membantah.”
“Saya membela diri karena saya tidak bersalah, Pak.”
“Tidak bersalah?” Bu Rini menyahut. “Perempuan macam kamu memang pintar sekali mencari alasan.”
Devi menggigit bibirnya.
Ia ingin berteriak.
Ingin mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa pun tentang hidupnya. Mereka tidak tahu bagaimana ia berusaha bertahan hidup. Mereka tidak tahu betapa takutnya ia menghadapi kejadian semalam.
Namun, semua kata-kata itu seakan berhenti di tenggorokan.
Pak Hendro menunjuk ke arah gerbang.
“Sudah. Pergi dari sini.”
“Tapi, Pak ... saya sudah bekerja dengan baik selama ini.”
“Upahmu sudah diberikan, kan?”
Devi menunduk melihat amplop di tangannya.
“Sudah.”
“Berarti selesai.”
“Tolong beri saya kesempatan menjelaskan.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”
Bu Rini tersenyum mengejek.
“Kalau masih ingin bekerja, cari saja tempat lain. Tapi jangan berharap bisa masuk ke anak perusahaan kami. Nama kamu sudah kami catat.”
Devi menatap mereka dengan pandangan hancur.
“Saya hanya ingin bekerja, Bu.”
“Jangan jual cerita sedihmu di sini.”
Air mata Devi kembali jatuh.
Pak Hendro kemudian berbalik, seolah-olah keberadaan Devi sudah tidak penting lagi.
“Pergi!”
Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan sebelumnya.
Devi akhirnya hendak melangkah meninggalkan kantor.
Namun, sebelum pintu tertutup di belakangnya, ia sempat menoleh.
Di dalam hati, ia berjanji satu hal.
Suatu hari nanti, mereka akan tahu bahwa semua tuduhan itu adalah kebohongan.
Dan ketika hari itu tiba, Devi tidak akan lagi berdiri dengan kepala tertunduk seperti sekarang.
TRINGGG! TRINGGG! TRINGGG!
Suara dering telepon kabel di atas meja kerja Pak Hendro dan nada panggil khusus dari ponsel pintar di saku kemeja kremnya mendadak berbunyi serentak dengan nada yang sangat nyaring dan gawat.
Pak Hendro terhenti dari cerocosannya. Ia mengerutkan dahi heran, merogoh ponsel pintarnya. Begitu matanya membaca nama yang tertera di layar ponselnya [ BAPAK ARYO (DIRUT PT BUANA RAYA PUSAT) ]
wajah buncit Pak Hendro seketika berubah pucat pasi. Telepon langsung dari jajaran tertinggi direksi pusat adalah hal yang hampir tidak pernah terjadi seumur hidupnya bekerja di gudang cabang kecamatan ini.
Pak Hendro dengan gemetar menekan tombol hijau, mendekatkan ponsel ke telinganya seraya membungkuk-bungkuk refleks.
"S-selamat pagi, Bapak Direktur Utama! Ada petunjuk apa dari Pusat, Pak ...?" sapa Pak Hendro dengan suara yang dibuat sehalus dan sesopan mungkin.
Namun, belum sempat Pak Hendro menyelesaikan kalimatnya, suara teriakan murka dari Direktur Utama di ujung telepon melengking begitu keras hingga suaranya memantul keluar dari speaker ponsel dan terdengar jelas oleh Bu Rini serta Devi yang berdiri dua meter di depannya.
("HENDRO GOBLOK! APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN DI GUDANG KECAMATAN, HAH?!")
Pak Hendro tersentak kaget, lututnya mendadak lemas sampai memegang tepi meja. "M-maksud Bapak apa? Saya ... saya cuma menjalankan tugas operasional biasa, Pak ..."
("TUGAS OPERASIONAL MATAMU SOEK! KAMU BARU SAJA MEMECAT DAN MENGHINA ISTRINYA KOMANDAN DEVAN PRATAMA, PEMILIK TUNGGAL PRATAMA MEGA KONSTRUKSI YANG MEMEGANG SAHAM PABRIKMU!")
DEGGG!
Ponsel di tangan Pak Hendro nyaris terlepas dari genggamannya. Seluruh darah di wajah pria buncit itu tersedot habis dalam sekejap. Matanya membelalak lebar bagaikan mau melompat keluar dari kelopaknya. Ia menatap kaku ke arah Devi yang berdiri membisu di depan pintu.
Bu Rini yang mendengar teriakan dari telepon itu ikut membeku di tempatnya berdiri, wajahnya yang berias tebal berubah kelabu bagaikan kertas semen.
("DENGAR BAIK -BAIK HENDRO!") jerit suara Dirut di telepon dengan napas memburu panik. ("PINTU DEPAN PABRIKMU SEKARANG SUDAH DIDATANGI BELIAU SENDIRI! KALAU SAMPAI BELIAU MARAH DAN MEMBATALKAN INVESTASI HOLDINGS ... KAMU, RINI, DAN SELURUH KELUARGAMU SAYA PASTIKAN JADI PENGAMEN DI JALANAN SORE INI JUGA! MINTA MAAF SEKARANG PADA MBAK DEVI! MINTA MAAF SAMPAI BELIAU MAAFKAN!")
TUT ... TUT ... TUT ...
Sambungan telepon terputus.
Keheningan yang mencekam dan mengerikan seketika menyergap ruangan kantor depan gudang tersebut. Pak Hendro berdiri menyandar dinding dengan napas terengah-engah panik, peluh sebesar biji jagung menetes deras dari dahinya. Tangannya yang gemetar hebat menunjuk kaku ke arah luar gerbang.
Di sana, di balik pagar besi pabrik yang baru saja dibuka oleh satpam yang membungkuk-bungkuk cemas, sebuah sepeda motor bebek tua berwarna hitam melaju masuk dengan tenang.
Di atas motor tua itu, Devan mematikan mesinnya. Pria bertato naga yang mengenakan kemeja denim itu melepaskan helm teropongnya perlahan-lahan. Ia menatap lurus ke arah kantor depan, di mana Devi, Pak Hendro, dan Bu Rini berdiri terpaku bagaikan patung batu.
Devan mengulas senyum tipis yang dingin, sebuah senyuman penuh kuasa dari balik topeng preman yang kini siap menggoncangkan dunia siapa saja yang telah berani menyakiti istrinya.
semoga aja Devi mencerna baik baik
ingat loh, anak gadis di arak telanjang
kek manaa coba
rasanya mau bunuh diri saja
devan sudah menyelamatkan anak gadismu
dari pada keliling desa
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja