Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Viktor
"Ma-maafkan aku Anne, jika pertanyaanku terlalu menyinggung masalah pribadimu, tidak seharusnya aku bertanya pertanyaan yang seperti itu." Davin menunduk dalam mengakui kesalahannya, ia menyesal karena telah melontarkan pertanyaan itu dan takut Anne akan marah.
"Tidak apa, ada banyak orang yang ingin
tahu soal itu, tapi aku tak masalah, ini sudah menjadi resiko ku sebagai seorang ibu," jawab Anne menjeda kalimatnya kemudian menatap Davin sambil tetap berjalan, "oh ya, ngomong-ngomong selamat ya atas pernikahanmu dengan Selina, tidak menyangka tiga bulan kita pisah kamu akan langsung melamarnya."
lanjut Anne.
Seketika Davin terdiam, dia tidak bisa menjelaskan apapun lagi pada Anne, ia sudah cukup melukainya saat keluarganya memilih untuk membatalkan pernikahan itu jadi kini ia tak mau menjelaskan atau membahas persoalan apapun mengenai pernikahan nya dengan Selina karena sudah pasti hal ini hanya akan membuat Anne makin terluka.
"Ah, lupakan, jangan berfikir yang aneh-aneh Davin, aku sudah melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita. Jadi hanya berniat memberimu ucapan selamat saja tidak bermaksud apa-apa." terang Anne memberi sedikit senyum untuk mencairkan ketegangan Davin.
Melihat senyum di bibir gadis itu kembali
terulas membuat Davin terenyuh hatinya seolah tersirami oleh kehangatan, bahwa ia telah lama tidak melihat senyum itu.
"Oh iya, jadi kamu bekerja di Montesano Corporation?" tanya Davin mengalihkan pembicaraan.
Anne pun mengangguk, "ya."
"Bekerjalah saja di perusahaanku Anne, aku akan memberimu posisi yang pantas untukmu."
Anne tertegun, mungkin karena Davin berfikir jika ia hanya bekerja sebagai office girl saat mereka bertemu di kantor.
Lagi pula itu bukan tawaran yang bagus, dengan Davin menawari pekerjaan di perusahaannya itu sama halnya dengan ia menjaringnya untuk masuk ke dalam masalah baru, ia tak mau berurusan dengan keluarganya apalagi Selina.
"Terimakasih atas tawarannya, tapi mohon maaf, aku sudah terikat kontrak kerja. Lagi pula, aku sudah merasa nyaman di sana. Bosku sangat baik teman-temanku juga baik." terangnya, dia hanya ingin menunjukan bahwa ia tak merasa kekurangan apalagi butuh bantuannya.
Davin hanya mengangguk-angguk.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi, masih
ada pekerjaan yang harus aku lakukan." ucap Anne bermaksud ingin mengakhiri pertemuannya ini.
"Sebentar," Davin mencegah tangan Anne.
Dia lalu menatap wanita itu dengan dalam, "aku tahu Viktor adalah orang yang penuh perhitungan, jadi jika suatu saat dia memecatmu tidak usah khawatir dan melamar lah kerja di tempatku."
Anne melirik cekalan pria itu dan melepasnya dengan tangannya secara pelan, "kamu tidak usah khawatir, tuan Viktor tidak akan melakukan itu." ucapnya tersenyum pucat, sebab dalam pikirannya kini muncul bayangan kejam pria itu yang akan terus-terusan menghukumnya.
Davin pun mengangguk dengan terpaksa, "baiklah Anne."
Anne pun pergi, tanpa meninggalkan kata-kata lagi dan Davin terdiam berusaha ikhlas melepas kepergian gadis itu.
***
Sementara di dalam sebuah ruangan yang di isi oleh seorang ayah dan dua anaknya, serta pengawal mereka yang berdiri tak jauh dari tempat duduk itu, Viktor menatap ayahnya dengan dalam setelah mereka melakukan percakapan serius.
Selesai meeting di kantornya tadi, Viktor
harus buru-buru pulang karena kedatangan tamu tak di undang itu, jika biasanya ia hanya mengabaikan mereka saat ayah dan adiknya itu menelepon, tapi kini ia tak bisa mengabaikan mereka lagi setelah mengunjunginya di rumah.
Jarak rumah mereka memang tak jauh, tapi kesibukan ayah juga adiknya itu hanya membuat mereka bisa berkunjung dua atau tiga kali dalam satu bulan.
"Kamu dengar kata papa?" ucap Tuan Vincent saat baru saja menasehati putranya.
"Ah sudahlah pa," Viktor menghela nafas
jengah tiap kali berbicara pada ayahnya pasti hanya satu yang di bahas.
"Oh ya aku sudah menangkap Nier." ucap Viktor ingin mengalihkan pembicaraan.
Tuan Vincent menyimak, "jadi bagaimana
apa dia telah menjual data itu pada perusahaan Ravencroft?"
"Aku tidak tahu apakah dia sudah menjual informasi itu pada perusahaan Ravencroft atau belum. Sementara ini Nier masih berkelit."
"Tapi aku tidak akan membiarkan nya hidup tenang setelah apa yang dia lakukan." Ucap Viktor pelan sambil menunduk menatap kosong meja di depannya, di saat itu ekor matanya justru menangkap pemandangan adiknya yang menjijikan.
Vina duduk dengan dua kakinya yang terangkat ke meja, sementara tangannya
mengupas kulit anggur yang kemudian dia santap, hal itu membuat kuku dan tangannya berwarna biru membuat Viktor ingin muntah melihatnya, tapi Vina tak peduli dia tahu kakaknya OCD dengan segala tingkah joroknya dengan itu juga ia sengaja memainkan anggurnya dan menelan di hadapannya bahkan menjilati jari-jarinya dengan rakus saat rasa manisnya tertinggal di sela jari-jari itu.
Viktor buru-buru memalingkan wajahnya melihat itu.
Sementara Vin yang berdiri di belakangnya sigap mengambil ember bersiap-siap jika bos nya mual.
"Vina hilangkan kebiasaanmu!" tuan Vincent memperingati putrinya untuk yang ke dua puluh kali hari ini, sambil menekan kakinya.
Gadis itu menurut menurunkan kakinya, namun ia tak tahu hal ini akan bertahan
berapa lama, dia kemudian terkekeh menatap penuh ledekan pada kakaknya.
Di saat itu ponsel Viktor tiba-tiba berdering, semua orang menatapnya termasuk Vina yang begitu penasaran dengan sosok yang menghubungi kakaknya.
Ketika Viktor melihat pihak perusahaan menghubunginya, dia pun segera bangkit dan menjauhi mereka, berfikir jika dia adalah penyelamatnya atas pertunjukan
adiknya itu.
"Ya, halo," jawab Viktor sambil berjalan menuju jendela dan membukanya sehingga percakapannya tak akan di dengar oleh ayah atau pun adiknya.
"Tuan, maaf sudah mengganggu waktu anda, tapi saya hanya ingin memberi tahu jika Anne baru saja meminta izin jika ada saudaranya yang kecelakaan." terang wanita bernama Enzi itu.
Viktor terdiam sejenak namun kemudian berbicara, "izinkan saja."
"Ya, dia sudah saya izinkan, saya
menghubungi tuan karena takut tuan akan memarahi saya."
"Tidak usah khawatir," balasnya dingin, tidak lama ia menutup panggilan itu.
Sementara Vina menyudahi memakan anggurnya, dia meminta para pelayan untuk membereskannya.
"Kalian bereskan ini, jangan sampai kakaku marah pada kalian saat ada noda yang tersisa." perintah Vina.
"Baik nona," jawab para pelayan itu.
Gadis itu pun bangkit memandangi Viktor yang di kejauhan, lalu berjalan menjauh dari ruangan itu untuk berkeliling ke rumah ini, sangat jarang ia bisa bermain-main.
"Vina kamu ingin kemana?" tuan Vincent khawatir putri nya itu akan mengacaukan kakaknya.
"Hanya berkeliling saja, pa." jawab Vina sambil berlalu.
Tuan Vincent menghela nafas.
Vina berjalan ke lantai dua rumah itu, saat Vin dan anak buah yang lain ingin mengikuti Vina, gadis itu pun menahannya.
"Tidak usah ikuti aku!" peringatnya, seketika itu mereka pun berhenti.
Vina menuju ruang santai dan duduk di sofa sambil menyalakan televisi.
Di saat itu pandangannya tak sengaja melihat ponsel lain milik Viktor, dia pun meraihnya dan langsung di perlihatkan
dengan aplikasi pesan.
Vina melihat nya dan terkejut melihat sebuah nama yang berada di paling atas pesan.
"Rentenir mata duitan," Vina membaca nama itu.
"Ka Viktor berhubungan dengan rentenir," Vina mengerjap kaget, "dia punya banyak uang, hartanya tidak terhingga tapi masih berhubungan dengan rentenir." Gumamnya.
la pun iseng mengirimi nomor itu pesan,
"berapa sisa hutangku?" sengaja karena ingin tahu apakah benar kakaknya memiliki hutang.
Namun belum sempat mendapat balasan
ponsel itu di rampas oleh Viktor, pria itu
menatap adiknya dengan kilapan dingin
penuh kemarahan.
Vina menatap tak berdosa wajah kakaknya, kemudian tubuhnya di tarik oleh Viktor untuk keluar dari sana.
Di sepanjang jalan Vina hanya berteriak,
tapi tak di pedulikan Viktor.
Pria itu mendesahkan nafasnya, kala melihat kelancangan Vina, buru-buru dia
melihat ponselnya untuk mengetahui apa yang telah adiknya itu lakukan.
Di saat ia melihat ponselnya ternyata Anne telah membaca pesan yang di kirim, tapi beruntungnya pesan itu tak terlihat aneh-aneh menurutnya.
***
Sementara itu, di sepanjang Anne kembali ke kantornya dia sibuk menghitung sisa utang yang di miliki gigolonya.
"Sepuluh juta, dua puluh juta, dua puluh
juta lagi, dua ratus juta, dan ..." Anne tersandung saat tengah berhitung total yang pria itu beri, kepalanya membentur sesuatu dan ia mengaduh, namun saat melihat sepasang kaki dia baru menyadari ia tersandung oleh seseorang ketika mendongak Anne melihat Max.
"Anne, siapa yang kecelakaan ku dengar kau meminta izin pada manager Enzi." ucap Max sangat khawatir.
Anne menoleh kanan kiri sebelum menjelaskan, dia lalu menarik Max ke tempat yang aman.
"Sebenarnya aku baru saja ke sekolahan anak-anak." ia mulai menjelaskan.
"Matteo dan Marco terlibat perkelahian, tapi apa kau tahu ... mereka bertengkar dengan anak Selina, di sana juga aku bertemu Davin, dan aku baru tahu jika mereka sudah menikah." ungkapnya sambil menundukan wajahnya.
Max kaget, dia jadi khawatir jika sesuatu
telah terjadi pada Anne saat mereka bertemu.
"Anak-anak tidak apa-apa kan?" Max sangat khawatir.
"Maafkan aku, aku tidak sempat memberimu tahu soal pernikahan mereka."
Anne menarik nafas, "anak-anak tidak apa-apa, kamu juga tidak usah khawatir, aku sudah tidak peduli dengan mereka." Anne acuh sambil berjalan kembali ke ... ia bingung tapi ia berputar untuk kembali ke pantry tugasnya masih belum berakhir.
Max melihat Anne yang sepertinya memang sudah benar-benar tak peduli dengan Davin.
Ia tahu bagaimana gadis itu jatuh lalu bangkit lagi maka ia tak akan lagi putus asa ketika hanya bertemu dengannya.