Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Hati yang Mulai Terbuka
Kata-kata Arga menggema di ruangan itu, membuat suasana seketika membeku. Wajah Laras pucat pasi, matanya membelalak tak percaya, seakan tak mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari mulut pria yang ia puja selama bertahun-tahun.
"Arga... kau... kau tidak serius, kan?" suaranya bergetar, air mata mulai mengalir di pipinya yang merah padam. "Aku salah paham saja tadi... aku hanya... hanya ingin bicara baik-baik dengan Freya. Jangan usir aku, kumohon..."
Arga menggeleng perlahan, tatapannya tetap teguh dan tak sedikit pun goyah. Ia melangkah maju selangkah, berdiri tegak di hadapan Laras, namun tangannya tanpa ragu meraih jemariku, menggenggamnya erat seakan tak rela melepaskan sedikit pun.
"Aku mendengar semuanya, Laras. Aku mendengar setiap kata kebencian dan ancaman yang kau ucapkan padanya," suara Arga rendah namun berwibawa, dingin bagai es yang tak mencair. "Aku mengenal teman masa kecilku, tapi ternyata aku salah mengenal hatimu. Wanita yang aku kenal dulu tidak sepenuhnya seperti ini. Maaf... aku tak bisa lagi membiarkanmu berada di sini."
"Tapi Arga! Dia yang jahat! Dia yang telah memikatmu dengan cara-cara licik—!"
"Cukup!" potong Arga tegas. Matanya menatap tajam ke arah Laras, membuat wanita itu seketika terdiam ketakutan. "Freya tidak pernah melakukan apa pun padamu. Justru dia bersabar dan tetap bersikap baik meski kau terus memancing emosinya. Justru kaulah yang terus berusaha mencelakainya. Sekarang... tolong keluarlah dengan kemuliaan yang tersisa, sebelum aku meminta pengawal mengantarmu pergi."
Laras menatap Arga lekat-lekat, berharap ada sedikit pun keraguan di mata pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah ketegasan yang tak bisa dibantah. Perlahan, air matanya semakin deras, tatapannya beralih padaku—penuh kebencian dan sumpah serapah yang tak terucap. Dengan gigi gemeretak karena menahan amarah, ia berbalik perlahan, lalu melangkah keluar sambil menyeka air matanya dengan kasar.
Langkah kakinya terdengar berat dan cepat menjauhi kamar, hingga akhirnya pintu depan tertutup cukup keras. Suasana hening seketika menyelimuti ruangan, hanya menyisakan napas kami yang terdengar samar.
Aku baru saja akan melepaskan genggaman tangan kami, namun Arga justru mempererat genggamannya. Ia berbalik menatapku, dan saat itu... ketegasan di wajahnya perlahan luruh, berganti menjadi tatapan lembut yang bercampur rasa bersalah yang mendalam.
"Maafkan aku, Freya..." ucapnya pelan, jari-jemarinya perlahan menyentuh pipiku dengan lembut. "Selama ini... aku buta. Aku terlalu terjebak dalam bayang-bayang masa lalu dan prasangka, hingga tak menyadari siapa wanita yang sebenarnya berdiri di sampingku. Kau begitu sabar... begitu tegar. Sedangkan aku..."
"Sudahlah, Arga," potongku pelan, menatap matanya dalam-dalam. "Yang berlalu biarlah berlalu. Yang terpenting... kau sudah tahu kebenarannya."
Arga terdiam sejenak, lalu perlahan menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, erat, dan penuh dengan rasa sayang yang baru pertama kali kurasakan darinya. Daguannya bertumpu lembut di atas kepalaku, napasnya hangat menyapu helaian rambutku.
"Terima kasih..." bisiknya tepat di telingaku, suaranya terdengar berat dan penuh emosi. "Terima kasih telah tetap tinggal meski aku perlakukan begitu buruk sebelumnya. Mulai saat ini... tak ada seorang pun yang boleh menyakitimu. Tak akan kubiarkan siapa pun menyentuhmu sedikit pun. Kau istriku, Freya. Selamanya."
Jantungku berdegup kencang tak menentu. Perasaanku bergejolak hebat mendengar janji itu. Apakah ini nyata? Apakah Arga yang dingin dan tak tersentuh kini benar-benar jatuh cinta padaku?
Malam itu menjadi awal perubahan di antara kami. Arga tak lagi bersikap dingin atau menjaga jarak. Ia menemaniku sarapan setiap pagi, menanyakan hariku, mendengarkan ceritaku dengan saksama, dan selalu memastikan aku merasa aman di sisinya. Tatapan matanya kini penuh kelembutan, senyumnya tulus, dan setiap sentuhannya menyiratkan kasih sayang yang perlahan tumbuh subur.
Namun di tengah kebahagiaanku yang mulai terasa utuh, sebuah pemikiran menggelayuti hatiku. Laras belum menyerah. Wanita itu tak akan berdiam diri begitu saja setelah dipermalukan dan diusir. Dan... ada hal lain yang terus menggangguku. Kisah asli novel ini belum sepenuhnya berakhir. Masih ada ancaman lain yang kutinggalkan di belakang bayang-bayang masa lalu Arga.
Suatu sore, saat kami sedang duduk berdua di beranda menikmati senja, Arga tiba-tiba menggenggam tanganku erat. Tatapannya menerawang jauh ke arah langit yang berwarna jingga.
"Freya," panggilnya pelan. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Sesuatu yang seharusnya kukatakan sejak lama."
Aku menoleh padanya, menatap lekat-lekat. "Apa itu, Arga?"
Arga menarik napas panjang, lalu menatapku dalam dengan sorot mata yang serius namun lembut.
"Aku... mulai jatuh cinta padamu, Freya. Bukan karena kewajiban, bukan karena perjodohan semata... melainkan karena dirimu. Karena ketulusan hatimu, kesabaranmu, dan caramu menatapku seakan aku adalah satu-satunya pria di duniamu. Aku tak tahu kapan perasaanku berubah... tapi yang aku tahu, sekarang... kau adalah wanita yang paling berharga bagiku."
Detak jantungku seakan berhenti sejenak. Mataku berkaca-kaca menatapnya. Kata-kata yang selama ini kuharapkan, kini akhirnya terucap dari mulutnya dengan begitu tulus dan indah. Namun di tengah kebahagiaanku, hatiku justru terasa perih. Sebenarnya... aku bukanlah Freya yang ia kenal dulu. Aku hanyalah jiwa asing yang menumpang di tubuh wanita ini. Akankah Arga tetap mencintaiku... jika ia tahu siapa aku sebenarnya?
Aku menunduk dalam, menahan agar air mataku tak jatuh. Arga mengira aku terharu, ia justru memeluk bahuku lembut, mencium keningku penuh kasih. Namun hatiku justru semakin gelisah. Kebohongan ini... kapan akan berakhir? Dan apakah ketika kebenaran terungkap nanti... cintanya padaku akan hancur seketika?
Lanjut ke Bab 7? 😊 Sekarang makin berbunga-bunga tapi ada rahasia yang bikin gelisah nih~