Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Ibu Tiri / Ruang Ajaib
Popularitas:26.2k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.

Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.

"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.

"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.

Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CIUMAN PERTAMA

Brak

"Bagaimana bisa penjagaan seketat itu bisa di masuki penyusup?!" Garel dengan suara bergetar ketakutan, berdiri di hadapan para komandan dan pengawal istana yang menunduk pucat pasi di aula utama.

Tidak ada yang berani bersuara, seluruh istana kini gempar bukan hanya karena kematian puluhan pengawal, melainkan karena kondisi Raja Salova yang ditemukan dalam keadaan tragis di kamar pribadinya.

Di dalam kamar kerajaan, tabib istana tampak mondar-mandir dengan keringat dingin bercucuran di pelipisnya, memeriksa tubuh sang raja yang terbaring kaku di atas tempat tidur nya.

Raja Salova sadar sepenuhnya, dia bisa mendengar setiap kata yang diucapkan orang-orang di sekitarnya, dia bisa merasakan nyeri luar biasa dari pergelangan tangan kirinya yang telah diperban kasar, serta sekujur punggungnya yang remuk. Namun, otot-ototnya terasa kaku, mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara erangan tertahan tanpa bentuk, sementara kedua matanya melotot lebar penuh amarah yang meluap-luap.

"Y-Yang Mulia... apa yang harus kita lakukan?" cicit Garel gemetar saat melangkah masuk ke kamar raja.

Karena raja lumpuh dan tidak mampu berbicara, kekuasaan tertinggi di istana mau tidak mau harus diambil alih sementara oleh Garel demi mencegah kepanikan rakyat menyebar ke seluruh negeri.

Di balik wajah cemasnya, Garel justru merasa ada kesempatan emas untuk mengamankan posisinya.

"Dengar! Perketat seluruh perbatasan! Kerahkan sisa pasukan pertahanan untuk bersiap siaga, tapi jangan ada yang berani melangkah ke wilayah Volis sebelum kita tahu pasti senjata apa yang digunakan iblis wanita itu!" perintah Garel tegas kepada para pengawal, meski kakinya sendiri masih gemetar ketakutan.

Sementara orang yang sudah melakukan kekacauan itu kini sedang menikmati perjalanan nya, menunggangi kuda nya dengan kecepatan sedang.

"Malam ini adalah malam terbaik setelah aku terbangun di dunia ini," batin Aleta tersenyum miring.

Langit malam yang tadinya bertabur bintang mendadak berubah gelap gulita, awan hitam tebal bergemuruh rendah, dan tak lama kemudian, tetesan air hujan yang besar mulai turun.

BYURRR

Hujan deras langsung turun seketika tanpa tanda-tanda, mengguyur tubuh Aleta dan Liam yang masih berada di tengah perjalanan pulang menuju kediaman Volis.

"Sialan, malah hujan, padahal baru saja aku keramas tadi," gerutu Aleta pelan sambil mendengus kesal, menyeka tetesan air di wajahnya dengan punggung tangannya.

Liam yang berkendara tepat di belakangnya langsung mempercepat laju kudanya, menyusul dan berhenti tepat di samping Aleta.

"Cari tempat berteduh sekarang! Hujan di hutan ini dingin sekali, bisa-bisa kamu demam," ucap Liam dengan nada khawatir, setengah berteriak di tengah derasnya suara air hujan.

"Demam? Jangan remehkan ku, Jendral, aku tidak selemah itu," jawab Aleta santai, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat.

Liam mendengus kesal, laju kuda mereka sudah tidak bisa bertahan lama karena jalanan mulai licin, tanpa banyak bicara, Liam langsung menarik tali kekang kudanya mendekat ke arah kuda Aleta.

"Jangan keras kepala, Aleta, di depan ada gubuk tua peninggalan pemburu, kita berteduh di sana dulu," ajak Liam tegas, lalu memimpin jalan menuju sebuah gubuk kayu reyot yang tak jauh dari pinggir jalan hutan.

Sesampainya di sana, mereka langsung turun dari kuda dan berteduh di bawah teras gubuk.

Aleta melipat kedua tangannya di dada, menggigil kecil meski dia berusaha menutupinya.

Pakaian yang dia kenakan basah kuyup dan menempel erat di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna.

Liam yang berdiri di sampingnya melirik sekilas, lalu buru-buru melepas jubah tebal miliknya dan menyampirkan nya ke bahu Aleta tanpa meminta persetujuan.

"Pakai ini, tubuhmu kedinginan," ucap Liam singkat, mencoba bersikap dingin meski telinganya tampak sedikit memerah karena malu.

Aleta mengerutkan keningnya, menatap mantel tebal yang masih menyisakan kehangatan dan aroma tubuh Liam yang khas, dia mendongak menatap suaminya yang kini hanya mengenakan kemeja tipis yang juga basah dan menempel di dada bidangnya.

"Kalau aku pakai jubah mu, nanti kamu malah masuk angin, Jendral," ucap Aleta dengan nada mengejek tipis, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring.

Liam mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan tajam namun mematikan milik istrinya itu.

"Urus saja dirimu sendiri, aku seorang jendral perang, hujan seperti ini tidak ada apa-apanya dibanding darah di medan pertempuran," jawab Liam berlagak angkuh, meski dia sendiri sempat bergidik pelan diterpa angin malam.

Aleta terkekeh pelan, suara tawanya lolos begitu saja di tengah gemuruh suara hujan, wanita itu mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Liam, sengaja menggoda pria di depannya.

"Oh ya? Tapi telingamu merah begitu, yakin tidak kedinginan, suami?" bisik Aleta tepat di dekat telinga Liam dengan nada menggoda.

Liam langsung menoleh kaget, mendapati wajah Aleta hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajahnya.

Deg

Deg

Deg

Jantung Liam berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena rasa takut seperti saat menghadapi musuh, melainkan karena debaran asing yang tiba-tiba menyerang dadanya.

"Aleta... jangan mulai," desis Liam tertahan, mencoba menjaga wibawanya sebagai seorang jendral perang.

Aleta tersenyum puas melihat reaksi salah tingkah dari pria garang di depannya itu, dia menarik kembali tubuhnya, lalu merapatkan jubah Liam ke tubuhnya sendiri sambil menatap lurus ke dalam mata suaminya.

"Terimakasih untuk jubahnya, Jendral. Ternyata di balik sifat galakmu, kamu perhatian juga ya," puji Aleta tersenyum kecil.

Liam mendengus pelan, mengalihkan pandangannya kembali ke luar gubuk sambil merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya terpesona oleh wanita berbahaya di sampingnya ini.

"Diam lah dan tunggu sampai hujannya reda, Marchiones," jawab Liam salah tingkah, sementara Aleta hanya tersenyum lebar menikmati momen langka itu.

Liam masih berdiri mematung di samping Aleta, matanya tanpa sadar melirik ke arah bibir istrinya yang sedikit terbuka.

Aleta yang menyadari tatapan intens suaminya itu mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum miring penuh tantangan.

"Kenapa lihat-lihat terus, Jendral? Ada yang aneh dengan wajah ku?" tanya Aleta dengan nada menggoda, sengaja memiringkan kepalanya sedikit.

Glek

Liam menelan ludahnya susah payah, pria itu mendengus pelan, lalu melangkah lebih dekat .

Tiba-tiba Liam menangkup kedua pipi Aleta dengan kedua tangannya, dan tanpa ragu lagi, pria itu mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Aleta.

Cup

Aleta sempat terbelalak kaget sedetik, mata elangnya membelalak lebar karena tidak menyangka pria galak itu akan bertindak se-berani ini, tapi alih-alih menolak atau menghindar, sudut bibir Aleta justru melengkung membentuk senyuman tipis.

Jiwa modern di dalam tubuhnya sama sekali tidak protes, justru menikmati kehangatan yang tiba-tiba meluap di tengah dinginnya malam.

Ciuman yang awalnya terasa kaku dan menuntut itu perlahan berubah menjadi lembut, Liam mengecup bibir Aleta dengan lembut, seolah menumpahkan seluruh kekhawatiran dan rasa cemas yang sedari tadi mencengkeram dadanya saat wanita itu nekat menyusup ke istana sendirian.

Aleta memejamkan matanya perlahan, kedua tangannya melingkar di leher Liam, membalas ciuman suaminya.

1
Septi Wijaya
Aleta tiada lawan donggg😍
miss blue 💙💙💙
jadi makin penasaran sama liam 🤔🤔🤔😅😅😅
Maria Lina
makasih ya thor ud up pagi"ya thor🙏🙏🥰🥰
Septi Wijaya
ish ish jenderal liam ini... katanya kismin kok punya banyak koin emas.... bohhong yaaaa😬
Tiara Bella
kena menta pastinya si lady serra....
Anbu Hasna
Garel atau Geral?
Septi Wijaya
yg ada serra justru akan makin dipermalukan di acara sendiri 🤣🤣
miss blue 💙💙💙
ngomongin jiwa modern, apa gak bikin liam makin penasaran 🤣🤣🤣🤣
miss blue 💙💙💙
julian itu anak kandung liam apa bukan kak? gak pernah ada cerita sebelumnya, bahkan ibu kandung julian juga. apa aq yg gak merhatiin cerita sebelumnya ya?? 🤔🤔🤔
miss blue 💙💙💙: sipp kak 👍👍👍
total 2 replies
miss blue 💙💙💙
kok aq curiga liam itu kaisar atau putra mahkota kekaisaran, mungkin dia di angkat anak oleh marques volis sebelumnya 🤔🤔🤔🤔
kaylla salsabella
jiwa modern🤔🤔🤔🤔 pasti Liam mikir🤣🤭🤭
kaylla salsabella
sombong itu wajib🤣🤣🤭🤭🤭
kaylla salsabella
la itu tahu kamu garel
Maria Lina
makasih ya thor ud up double"nya🙏🙏😍😍☕️☕️
IG : hofi03_skrniii: kembali kasih sayangggg🤍
total 1 replies
kaylla salsabella
kenapa jadi gariel mondar-mandir🤣🤣
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍😍😍
kaylla salsabella
lanjut thor
Ita Xiaomi
Lady Serra lg mengundang bahaya.
IG : hofi03_skrniii: minta di cincang dia kak😁
total 1 replies
Tiara Bella
Aleta membalas wanita gila itu dengen tenang dan cantik....
Tiara Bella
wow ini yg ditunggu² para pembaca...Pepet trs liam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!