"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Gelombang sensasi panas yang menjalar di sekujur tubuh Snow mendadak membeku sewaktu tangan tegap Arthur bergerak makin menuntut, berusaha menarik dan melucuti celana bagian bawah yang melekat di tubuh wanita itu. Kesadaran Snow kembali terhentak kasar dari kabut gairah yang sempat menguasainya.
Dengan sisa-sisa tenaga dan dorongan amarah yang memuncak, Snow memiringkan kepalanya tajam lalu mendaratkan gigitan yang amat keras tepat di otot bahu kiri Arthur yang tertutup kemeja tipis.
Nggg!
Gigi-gigi tajam Snow membenam dalam, merobek serat kain hingga menembus kulit bahu pria itu.
"Argh!" Arthur meringis menahan sakit yang menusuk tajam, reflex melepaskan kuncian tangannya di atas kepala Snow serta menarik jemarinya keluar dari inti sensitif milik wanita itu.
Plak!
Snow mengibaskan tangan Arthur secara brutal, mendorong dada bidang pria itu hingga terdorong beberapa langkah ke belakang. Snow merapikan gaun dan pakaian bawahnya yang kusut dengan jemari bergetar hebat. Wajahnya merah padam, sepasang matanya membelalak lebar memancarkan amarah dan kehebohan emosi yang luar biasa.
"Kau memperlakukanku seperti seorang jalang murahan, Arthur!" jerit Snow dengan suara parau yang menahan tangis kehinaan.
Arthur berdiri mematung.
Bahunya yang tergigit terasa berdenyut nyeri, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan tikaman kalimat Snow di dadanya. Rupa garang dan cemburu gila di wajah Arthur seketika luntur, berganti menjadi raut penyesalan yang teramat dalam. Pria itu mengambil satu langkah mendekat dengan telapak tangan terangkat memohon.
"Tidak, Sayang... aku sama sekali tidak menganggapmu seperti itu," bisik Arthur dengan suara lembut yang bergetar hebat. Matanya memancarkan kepedihan murni. "Aku mencintaimu, Snow... sangat mencintaimu. Kumohon... maafkan aku... aku hanya..."
Arthur menelan ludahnya yang terasa pahit, berusaha memajukan kembali tubuhnya untuk meraih pinggang Snow.
"Sudah kukatakan... CERAIKAN SAVEA!" potong Snow tegas, menatap lurus ke dalam retina mata Arthur dengan tatapan dingin bagaikan es yang membendung gerakan pria itu.
Kalimat perintah itu bagaikan dinding tebal tak kasat mata yang menghentikan langkah Arthur secara mendadak. Pria tegap berseragam militer itu membeku di tempatnya. Senyap membungkus kamar mewah Sayap Timur itu selama beberapa saat, hanya diselingi oleh deru napas keduanya yang tak teratur.
Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hubungan rumit mereka, pertahanan takhta dan harga diri Pangeran Arthur runtuh sepenuhnya.
Arthur perlahan menarik dirinya mundur dari hadapan Snow. Langkah kakinya terasa amat berat sewaktu ia berjalan mendekati tepi ranjang king size berukir emas. Pria tegap itu meloloskan helaan napas yang amat berat dan sarat akan beban berton-ton, lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
Arthur duduk membelakangi Snow yang masih berdiri dengan pakaian yang setengah terlepas dan rambut berantakan.
Pria itu meremas rambut gelapnya dengan kedua tangan, menundukkan kepala dalam-dalam saat rahasia paling kelam dalam hidupnya menuntut untuk diuraikan.
"Aku tidak bisa menceraikannya begitu saja, Snow..." suara Arthur terdengar amat lirih, pecah di tenggorokan bagaikan desahan jiwa yang tersiksa. "Bukan karena aku mencintainya... tapi karena aku berhutang nyawa dan kebebasan padanya."
Snow mematung di tempatnya berdiri, merapikan gaunnya sembari menatap punggung tegap suaminya yang tampak begitu rapuh dari belakang.
"Savea pernah mengaku atas kesalahanku... dan merelakan dirinya untuk masuk ke penjara demi aku," lanjut Arthur menguraikan kejujuran yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun di dunia ini.
Dada Arthur naik-turun dalam ritme kepanikan yang teramat pekat.
"Tiga tahun lalu... di malam yang penuh keputusasaan... aku mengendarai mobil dalam keadaan tidak stabil setelah dikasih Obat perangsang oleh Savea," bisik Arthur, suaranya bergetar hebat. "Aku menabrak seorang wanita di pinggir jalan daerah pinggiran kota. Dan orang itu... tewas seketika di tempat."
Deg.
Jantung Snow terasa berhenti berdetak saat mendengar perincian waktu dan lokasi tersebut.
"Demi Tuhan, Snow... aku ingin bertanggung jawab!" jerit Arthur pelan, menengadahkan wajahnya yang basah oleh peluh dingin ke langit-langit kamar. "Aku ingin menyerahkan diriku ke pihak kepolisian malam itu juga! Tapi Savea... Savea dengan tenang mengatur segalanya. Dia menyembunyikan barang bukti, mengganti posisi pengemudi, dan menyerahkan dirinya ke kantor polisi sebagai pelaku tabrak lari itu!"
Arthur mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih rapat.
"Savea membuatku terjebak dalam hutang budi yang teramat besar. Dia mendekam di penjara selama tiga bulan atas nama kesalahanku... Dan setelah dia keluar, dia menggunakan rahasia kelam itu untuk mengikatku. Dia mengancam akan membocorkan fakta bahwa Pangeran Ashford adalah seorang pembunuh jika aku tidak menikahinya..."
Arthur menunduk kembali, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.
"Aku seorang pembunuh, Snow..." rintih Arthur penuh kehancuran emosional. "Aku pembunuh... dan aku berhutang kebebasanku pada Savea. Savea masuk penjara... hanya karena diriku..."
Deg!
Kata-kata itu bergaung bagaikan ledakan bom di dalam kepala Snow.
Dunia di sekitar Snow serasa berputar liar dan kehilangan gravitasi. Seluruh persendian di tubuhnya meluruh seketika, membuat wanita itu harus berpegangan kuat pada daun pintu di belakangnya agar tidak roboh ke lantai marmer.
Suara tenggorokan Snow tercekat. Sepasang matanya membelalak lebar, memancarkan kaget, rasa tidak percaya, dan kehancuran mendalam yang tiada taranya.
Tetesan air mata yang amat panas mendadak meledak keluar dari sudut matanya, mengalir deras membasahi pipi cantiknya yang pucat pasi.
Jadi... Kau pelakunya, Arthur...? jerit batin Snow dalam keheningan yang membunuh. Kau... Pria yang selama ini kuizinkan menyentuh tubuhku... Pria yang kuberi kasih sayang... adalah orang yang sudah merenggut nyawa ibuku?!
Dada Snow bergejolak hebat oleh kombinasi amarah dan rasa kepedihan yang menyayat-nyayat jiwanya. Bayangan wajah ibunya yang terbujur kaku berdarah-darah di atas aspal dingin tiga tahun lalu berputar ulang di kepalanya dengan begitu jelas.
Kau membunuh ibuku, Arthur... Kau adalah dalang utama di balik penderitaan dan ketidakadilan yang menimpa ibuku selama ini! Dan wanita iblis bernama Savea itu... hanya bidak yang mengambil keuntungan dari pembunuhan yang kau lakukan!
Air mata Snow menetes kian deras, membasahi bibirnya yang bergetar. Selama ini, Snow mengira Savea-lah satu-satunya iblis yang bertanggung jawab atas kematian sang ibu dalam kecelakaan itu. Namun kenyataan pahit yang baru saja keluar dari mulut Arthur merobek seluruh prasangkanya.
Pria yang Dicintainya... pria yang menjadi ayah dari anaknya... adalah pembunuh berdarah yang sebenarnya.
Snow menyapu air matanya dengan punggung tangan secara kasar. Ia menarik napas panjang, membuang seluruh keterkejutan emosionalnya, lalu melapisi kembali paras cantiknya dengan topeng es yang teramat dingin dan tajam.
"Arthur..." sebut Snow dengan nada suara yang begitu datar, lirih, namun menusuk hingga ke tulang sumsum.
Arthur menghentikan rintihannya. Pria itu perlahan memutar tubuhnya, mendongak menatap Snow yang berdiri mematung di dekat pintu.
Snow menatap lurus ke dalam sepasang mata Arthur yang memerah berair, lalu melontarkan satu pertanyaan tenang yang amat mematikan:
"Apakah orang yang kau tabrak hingga tewas malam itu... adalah seorang pelayan dari Mansion Mewah keluarga Hawthorne?"
Deg!
Sensasi dingin seketika menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala Arthur. Wajah sang Pangeran Blackwood memucat pasi bagaikan mayat. Matanya membelalak lebar menatap Snow dengan riak kebingungan gila.
"Bagaimana... Bagaimana kau bisa tahu, Honey...?" ucap Arthur dengan suara yang hampir tak terdengar, lidahnya serasa kelu membeku.
Dengan gerakan yang amat perlahan dan hati-hati, seolah takut menyakiti Snow lebih jauh, Arthur bangkit dari ranjang. Pria itu melangkah mendekati Snow, lalu berlutut di hadapan wanita itu untuk merapikan dan memasangkan kembali pakaian bawah Snow yang sempat berantakan.
Jemari tegap Arthur bergetar hebat saat membenahi gaun Snow.
Snow tidak menolak perlakuan itu. Ia hanya berdiri tegap bagaikan patung marmer, membiarkan Arthur merapikan pakaiannya, sembari menatap puncak kepala pria yang berlutut di bawah kakinya dengan tatapan dendam kesumat.
"Wanita pelayan yang kau tabrak dan kau tinggalkan di jalanan malam itu..." bisik Snow, suaranya parau dan bergetar hebat oleh air mata yang kembali menetes. "...dia adalah ibuku, Arthur. Pelayan itu... adalah mommy ku."
Hah?!
Jemari Arthur yang sedang membenahi kancing gaun Snow seketika berhenti total. Pria tegap itu mendongakkan kepalanya secara mendadak, menatap wajah Snow dengan raut wajah yang sepenuhnya hancur dan diliputi ketakutan luar biasa.
...----------------...
Happy reading 🦋 author Up besok lagi ya kak reader 🥰