Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.
Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.
8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.
Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.
Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.
"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Suasana di ruang rapat utama Kim Corp terasa berat, seolah oksigen di ruangan itu telah disedot habis. Meja konferensi panjang dari kayu mahoni mengilap di bawah lampu sorot, memantulkan wajah-wajah tegang para anggota Dewan Direksi.
Kim Seokjin duduk di kepala meja. Ia masih terlihat sedikit pucat, bekas luka di pelipisnya tertutup oleh rambut yang ditata rapi, namun posturnya tegak dan matanya tajam. Di sebelah kanannya duduk Namjoon dengan laptop terbuka, sementara Yoongi dan Hoseok berdiri di belakangnya seperti penjaga setia. Di sisi lain, Chanyeol dan Ken duduk dengan ekspresi tenang, menunjukkan solidaritas bisnis mereka.
Di ujung meja seberang, Xiumin dan Chen (Jongdae) duduk berdampingan. Wajah Xiumin dingin tanpa emosi, sementara Chen tampak gelisah, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme tidak teratur. Mereka tahu serangan digital mereka gagal total berkat Kyungsoo, dan upaya sabotase di kampus terhadap Taehyung juga buntu karena Jihoon. Kini, mereka hanya punya satu kartu terakhir: tekanan internal dari Dewan Direksi.
"Kita sudah membuang waktu terlalu lama untuk drama ini," buka Ketua Dewan, Pak Lee, seorang pria tua berwibawa yang memegang kendali suara terbesar dalam dewan. "Saham kita anjlok 8% minggu ini. Reputasi Kim Corp tercoreng. Dan sekarang, ada laporan tentang kecurangan akademik adik Tuan Jin di universitas. Ini semua mencerminkan ketidakstabilan kepemimpinan."
Jin menatap Pak Lee tanpa kedip. "Laporan tentang Taehyung adalah fitnah yang sudah dibantah secara resmi oleh pihak universitas pagi ini, Pak Lee. Sama seperti tuduhan korupsi terhadap saya yang terbukti palsu oleh audit independen. Jika Dewan ingin membahas 'ketidakstabilan', mari kita bahas siapa yang sengaja menyebarkan dokumen palsu tersebut."
Xiumin tertawa kecil, suara yang dingin dan meremehkan. "Hyung, kau masih bersikeras bahwa kau korban? Fakta berbicara lebih keras daripada kata-kata. Investor mulai ragu. Mereka butuh pemimpin yang stabil, bukan seseorang yang terus-menerus menjadi pusat skandal, baik itu kesehatan mental maupun hukum."
Chen menambahkan, mencoba terdengar logis, "Kami hanya menyarankan cuti sementara, Hyung. Demi kebaikan perusahaan. Biarkan wakil presiden yang menangani operasional sehari-hari sementara Hyung beristirahat dan membersihkan nama baik pribadi."
Namjoon segera menyela, suaranya tegas. "Cuti sementara adalah langkah pertama menuju pengambilalihan paksa. Kami tahu agenda kalian. Dan kami punya bukti."
Namjoon menekan tombol di laptopnya. Proyektor di dinding menyala, menampilkan grafik aliran dana dan komunikasi email yang terenkripsi.
"Ini adalah rekaman komunikasi antara server firma hukum milik sepupu Chen dan akun anonim yang menyebarkan artikel fitnah minggu lalu," jelas Namjoon. "Dan ini," ia mengganti slide ke tampilan CCTV lobi gedung Kim Corp, "adalah footage saat seseorang dari tim internal Xiumin mencoba memasukkan malware ke server utama kami tiga hari lalu. Gagal, tapi jejaknya tertinggal."
Ruangan menjadi hening. Beberapa anggota dewan saling berpandang, wajah mereka berubah serius. Tuduhan sabotase internal adalah perkara berat.
Xiumin tidak bergeming. Ia justru tersenyum tipis. "Bukti digital bisa dimanipulasi, Namjoon-ssi. Kau pikir Dewan akan percaya pada data dari pihak yang berkepentingan langsung?"
"Tidak hanya data," sahut Chanyeol, suaranya berat dan berwibawa. "Saya baru saja menerima konfirmasi dari tiga investor utama Asia. Mereka menarik dukungan mereka untuk proposal merger yang diajukan oleh kelompok Tuan Xiumin. Mereka lebih percaya pada integritas Kim Seokjin yang telah terbukti selama sepuluh tahun memimpin, daripada janji-janji kosong yang dibangun di atas fitnah."
Wajah Chen memucat. Merger itu adalah rencana besar mereka untuk mengambil alih kontrol saham mayoritas. Tanpa dukungan investor itu, posisi mereka lemah.
Pak Lee mengetuk mejanya. "Cukup. Saya belum melihat bukti konkret yang cukup untuk memberhentikan Tuan Jin secara permanen. Namun, situasi tetap kritis. Saya meminta Tuan Jin untuk memberikan pernyataan publik live besok pagi, membantah semua tuduhan secara langsung dan transparan. Jika beliau gagal meyakinkan publik dan saham tidak stabil kembali dalam seminggu, maka Dewan akan mempertimbangkan ulang struktur kepemimpinan."
Itu ultimatum. Jin mengangguk perlahan. "Saya akan melakukannya. Dan saya meminta agar audit forensik penuh dilakukan terhadap semua transaksi departemen yang dipimpin oleh Tuan Xiumin dan Tuan Jongdae selama enam bulan terakhir. Untuk memastikan tidak ada 'kebocoran' lain."
Xiumin mengeratkan rahangnya. Permintaan itu berbahaya bagi mereka. Tapi menolak akan terlihat mencurigakan.
"Disetujui," kata Pak Lee. "Rapat selesai."
Para anggota dewan mulai berdiri dan keluar ruangan. Xiumin dan Chen berjalan melewati Jin. Saat melewati kursi Jin, Xiumin berhenti sejenak, membungkuk sedikit, dan berbisik cukup keras untuk didengar Jin saja.
"Kau menang pertempuran ini, Hyung. Tapi perang belum berakhir. Ingatlah Taehyung. Dia masih di luar sana, sendirian di kampus. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja, bahkan pada ahli bela diri terbaik."
Mata Jin melebar, rasa dingin menjalar di tulang punggungnya. Ancaman itu terselubung, namun jelas.
Xiumin tersenyum licik sebelum melanjutkan langkahnya keluar, diikuti oleh Chen yang tampak lega namun masih waspada.
Setelah pintu tertutup, Jin menghela napas panjang, bahunya sedikit runtuh. Yoongi segera mendekat, meletakkan tangan di bahu Jin.
"Hyung, kau baik-baik saja?" tanya Yoongi khawatir.
Jin mengangguk, meski tangannya gemetar sedikit. "Dia mengancam Tae-ya."
Namjoon, yang masih menatap layar laptopnya, mengangkat kepala. "Apa maksud Hyung?"
"Xiumin mengancam Taehyung. Dia tahu Tae sedang rentan karena isolasi sosial di kampus. Jika mereka tidak bisa menyerang kita secara langsung, mereka akan menyerang titik lemah kita: keluarga."
Hoseok terlihat panik. "Haruskah kita membawa Taehyung pulang? Memindahkannya ke tempat aman?"
Jin menggeleng. "Tidak. Itu akan membuat Tae merasa lemah dan justru membahayakan mentalnya. Tae kuat. Dia punya Jungkook, Jimin, dan... Jihoon."
Mendengar nama Jihoon, Jin terdiam sejenak. Ia tahu Jihoon adalah adik Xiumin dan Chen, tetapi ia juga tahu betapa loyalnya Jihoon pada Taehyung.
"Kita harus memperingatkan Tae," kata Jin tegas. "Tapi jangan membuatnya panik. Beritahu dia untuk selalu bersama teman-temannya. Dan Namjoon-ah..."
"Ya, Hyung?"
"Lacak pergerakan Xiumin dan Chen. Aku ingin tahu apa rencana selanjutnya. Mereka tidak akan diam saja setelah kegagalan di kampus dan rapat ini."
Namjoon mengangguk serius. "Aku sudah memasang tracker pasif di mobil mereka sejak minggu lalu. Aku akan memeriksa datanya malam ini."
Di luar gedung, hujan mulai turun deras, menyamarkan suara kota Seoul yang sibuk. Di dalam mobil hitamnya, Xiumin menatap gedung Kim Corp yang menjulang tinggi.
"Mereka semakin dekat dengan kebenaran, Hyung," kata Chen cemas.
Xiumin menyalakan rokok, asap putih mengepul di dalam mobil. "Biarkan mereka merasa menang. Keesokan hari, saat Jin melakukan siaran langsung... kita akan berikan kejutan yang tidak bisa dibantah oleh data atau log server. Kejutan yang akan menghancurkan hatinya sepenuhnya."
Chen menelan ludah. "Apa yang kau rencanakan?"
Xiumin tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan niat jahat murni. "Kita akan gunakan 'kartu as' kita. Seseorang yang sangat dekat dengan Jin. Seseorang yang tidak akan pernah ia curigai."
Mobil itu melaju masuk ke dalam hujan, meninggalkan misteri yang mencekam di udara malam Seoul.