Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Gaduh di Apartemen
Senja baru saja turun menaungi langit ibu kota, menyisakan bias jingga kemerahan yang menerobos masuk melalui celah kaca jendela besar di unit apartemen Evita Desniati. Di dalam ruangan bernuansa minimalis itu, suasana terasa begitu pengap dan mencekam, kontras dengan ketenangan yang biasa Evita rasakan sebelum badai fitnah menghantam hidupnya.
Brak! Brak! Brak!
Suara gedoran pintu yang begitu keras dan brutal tiba-tiba memecah kesunyian sore itu. Gedoran tersebut diulang berkali-kali tanpa ampun, seolah seseorang di luar sana berniat merobohkan daun pintu apartemen bernomor 1404 tersebut.
Di ruang tengah, Pak Santoso dan Bu Yekti yang baru saja pulih dari rasa lelah akibat musibah kebakaran rumah mereka terperanjat kaget. Bu Yekti reflek memegang dadanya, sementara Pak Santoso langsung berdiri dengan wajah cemas menatap ke arah pintu masuk.
"Ayah, Ibu, tetaplah di kamar. Biar aku yang lihat," ucap Evita dengan suara tenang namun tegas, meski ia sudah bisa menebak siapa sosok yang mengamuk di luar sana.
Evita melangkah cepat menuju pintu utama. Tanpa ragu, ia memutar kunci pengaman dan langsung menarik gagang pintu untuk membukanya lebar-lebar.
Begitu pintu terbuka, sesosok pria berantakan dengan napas memburu langsung menerobos masuk tanpa diundang. Xander Wiryawan. Dasi di lehernya tampak longgar, kancing atas kemejanya terbuka, dan sorot matanya menyala-nyala oleh amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Rasa cemburu buta akibat foto-foto rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang disebarkan Viola pagi tadi telah merusak total sisa kewarasannya.
"Evita!" bentak Xander dengan suara menggelegar, mencengkeram kedua bahu istrinya dengan kasar hingga Evita meringis kesakitan. "Jelaskan padaku! Apa maksud dari semua foto-foto kotor ini, hah?! Jadi ini alasanmu jual mahal selama ini dan meminta cerai dariku?! Karena kamu sudah menjual diri pada Ma Yong Hua?!"
Evita mendesis pelan, menghempaskan tangan Xander dari bahunya dengan gerakan jijik yang luar biasa. Ia merapikan bajunya, lalu menatap pria yang masih berstatus sebagai suami sahnya itu dengan pandangan dingin setajam es.
"Lepaskan tangan kotormu, Xander," ucap Evita datar, tanpa secercah pun rasa takut di wajahnya. "Dan berhenti berteriak di rumahku. Orang tuaku sedang beristirahat di dalam."
****
"Rumahmu? Ini apartemen murahan tempat pelarianmu, Evita!" maki Xander lepas kendali, melangkah maju mendesak Evita hingga wanita itu terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. "Jangan ubah topik pembicaraan! Jawab pertanyaanku! Kamu benar-benar sudah bermain serong dengan konglomerat Ma Group itu di belakangku, kan?! Kamu mengkhianatiku setelah enam tahun pernikahan kita!"
Evita membuka matanya, menatap Xander dengan sorot mata penuh kehampaan sekaligus kejijikan yang mendalam.
"Terserah apa katamu, Xander," jawab Evita dingin, suaranya mengalir tanpa emosi. "Kamu mau percaya aku selingkuh, kamu mau percaya foto sampah itu, silakan. Aku tidak peduli lagi. Pikirkan apa pun yang ingin kamu pikirkan."
"Kamu...!" Xander terbata-bata karena kesal. Sikap Evita yang terlampau tenang dan dingin justru membuatnya semakin gila. "Kamu menantangku, hah?! Kamu pikir aku akan diam saja melihat harga diriku diinjak-injak begini?!"
"Kalau begitu, ceraikan aku sekarang juga," potong Evita tajam, menatap lurus tepat ke dalam bola mata suaminya. "Tanda tangani surat perceraian itu, Xander. Lepaskan aku dari ikatan pernikahan yang sudah busuk ini. Itu satu-satunya hal berguna yang bisa kamu lakukan sekarang."
Sebelum Xander sempat membalas ucapan telak tersebut, sebuah suara gemerincing langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat dari arah koridor luar lift terbuka.
"Wah, wah... Pemandangan yang luar biasa dramatis sekali," sebuah suara wanita bernada sinis dan manja tiba-tiba menyela dari ambang pintu apartemen yang masih terbuka lebar.
****
Xander dan Evita sontak menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
Di sana, berdiri sosok Viola Sanustika dengan senyuman iblis tersungging di bibirnya. Wanita itu mengenakan dress merah menyala yang sangat mencolok, berjalan masuk dengan penuh percaya diri tanpa diundang, seolah ia adalah nyonya besar di tempat itu. Diikuti oleh dua orang pria bertubuh tegap berbadan kekar berjas hitam di belakangnya, Viola sengaja datang untuk menyaksikan kehancuran akhir dari rumah tangga Evita.
"Viola? Sedang apa kamu di sini?!" seru Xander kaget, menatap wanita simpanannya dengan kening berkerut.
Viola tidak langsung menjawab Xander. Ia berjalan anggun mendekati mereka berdua, lalu tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya secara drastis dalam hitungan detik. Topeng sombongnya runtuh seketika, digantikan oleh akting cemerlang seorang wanita malang yang dizalimi. Mata Viola tampak berkaca-kaca, bibirnya bergetar pura-pura ketakutan, dan dengan gerakan dramatis ia langsung mencengkeram lengan Xander erat-erat.
"Xander... Tolong aku... Kumohon, lindungi aku..." rintih Viola dengan suara bergetar pura-pura panik, bersandar manja di bahu Xander.
Xander tertegun, merangkul refleks bahu Viola untuk menenangkannya. "Ada apa, Viola? Kenapa kamu bisa ada di sini? Dan kenapa kamu gemetar begitu?"
****
Viola mendongakkan kepalanya, menatap Xander dengan genangan air mata palsu yang tampak begitu meyakinkan. Jari lentiknya menunjuk lurus ke arah Evita yang berdiri dengan tatapan jijik.
"Xander, kamu harus tahu... Istrimu itu tidak sebaik dan sepolos yang kamu kira!" isak Viola pura-pura tersedu-sedu, membalikkan fakta dengan kelicikan tingkat tinggi. "Tadi... tadi beberapa orang berbadan besar suruhan Ma Yong Hua mendadak mendatangi apartemenku di kawasan Menteng! Mereka menghancurkan pintu atapku, mengancam akan menghancurkan seluruh aset bisnis keluargaku, dan menyiksaku kalau aku tidak mencabut berita fitnah tentang Evita!"
Mendengar kebohongan besar itu, Evita membelalakkan matanya tidak percaya. "Hei, wanita iblis! Jangan membalikkan fakta dan membuat drama murahan di sini! Siapa yang menyuruhmu...!" bentak Evita, kehilangan kesabarannya.
"Diam kamu, Evita!" potong Viola histeris, menepis ucapan Evita sambil semakin mengeratkan pelukannya pada Xander. "Kamu lihat sendiri, kan, Xander? Istrimu itu sudah bersekutu dengan taipan Ma Yong Hua! Bukan cuma mau menceraikanmu, tapi mereka berdua berencana ingin membuat perusahaanmu bangkrut total, memiskinkan kita berdua, dan melenyapkanku dari muka bumi ini! Evita itu wanita jahat, Xander! Dia menggunakan kekuasaan konglomerat itu untuk menghancurkan kita!"
****
Racun provokasi itu meresap sangat cepat ke dalam otak Xander yang sudah dikuasai oleh cemburu buta. Pria itu menoleh menatap Evita dengan kemurkaan yang meledak-ledak, percaya seratus persen pada kebohongan Viola.
"Jadi itu rencana busukmu di belakangku, Evita?!" murka Xander dengan suara menggelegar, menunjuk wajah istrinya dengan penuh kebencian. "Kamu tidur dengan Ma Yong Hua supaya kamu bisa membalas dendam dan memiskinkanku?! Biadab kamu, Evita! Ternyata kamu tidak ada bedanya dengan perempuan murahan di luaran sana!"
Suasana di dalam unit apartemen itu mendadak menjadi sangat riuh dan gaduh. Pak Santoso dan Bu Yekti yang tidak tahan mendengar putrinya difitnah separah itu akhirnya keluar dari kamar tidur dengan langkah gemetar.
"Jaga mulutmu, Xander!" seru Pak Santoso dengan suara parau namun tegas, membela putrinya sambil berdiri di samping Evita. "Jangan pernah berani memfitnah anak saya di rumahnya sendiri!"
"Bapak tidak usah ikut campur!" bentak Xander kasar pada pria paruh baya tersebut, membuat darah Evita mendidih seketika. "Anak Bapak ini sudah menduakan saya dengan konglomerat paling berbahaya di ibu kota! Keluarga kalian memang—"