Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Princess

Waktu berjalan begitu cepat, dan musim dingin yang membekukan perlahan-lahan berganti menjadi musim semi yang hangat, membawa warna-warni bunga bermekaran di halaman Istana Hikari. Di dalam kamar tidur kerajaan yang megah berbalut pilar-pilar marmar dan ukiran emas bergaya barok, suasana pagi itu terasa jauh lebih tenang daripada bulan-bulan sebelumnya.

​Permaisuri—Sang Ratu—duduk di atas kursi goyang berlapis sutra merah muda. Di dalam dekapannya, Putri Miyura kecil tampak tertawa kecil, jemput mungilnya menggapai-gapai hiasan pita di gaun ibunya. Permaisuri menimang putrinya dengan lembut, senyum tipis terukir di bibirnya, seolah beban dan kepedihan luar biasa yang meremajakan jiwanya beberapa bulan lalu telah tertutupi oleh rutinitas baru ini. Di dunianya yang sekarang, ia tampak belajar menerima kenyataan bahwa ia hanya memiliki satu anak semata wayang—putri mahkotanya tercinta.

​Pintu kamar berderit pelan, dan Sang Raja melangkah masuk dengan jubah kebesarannya. Ia menghampiri istri dan putrinya dengan langkah tenang, lalu berhenti tepat di samping kursi goyang.

​"Pagi yang cerah untuk Kerajaan Hikari, Permaisuriku," sapa Sang Raja dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari biasanya. Ia membungkuk perlahan, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk mengelus pucuk kepala istrinya dengan penuh kelembutan. "Kulihat warnamu sudah jauh lebih baik hari ini. Senyum itu akhirnya kembali menghiasi wajahmu."

​Permaisuri mendongak, menatap suaminya dengan tatapan yang menyiratkan kedamaian rapuh. Ia menghentikan goyangan kursinya sejenak. "Terima kasih, Yang Mulia... Hari-hari berat itu memang hampir merenggut kewarasanku. Tapi melihat Miyura tumbuh dengan begitu sehat dan ceria setiap harinya... aku merasa semua badai itu perlahan reda."

​Sang Raja tersenyum tipis, sebuah ekspresi kelegaan terpancar dari wajah tegas seorang penguasa. Ia menurunkan tangannya, lalu beralih mengelus kepala Putri Miyura yang sedang asyik menggenggam ujung kain selimutnya.

​"Kau telah melakukan tugasmu dengan luar biasa sebagai seorang ibu negara, Permaisuri," bisik Sang Raja, matanya menatap lekat-lekat pada bayi perempuan berambut hitam legam itu. "Putri kita ini memiliki tatapan yang tajam. Ia ditakdirkan untuk memegang takhta yang besar, memimpin kerajaan ini dengan kemutlakan yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun."

​Mendengar kata-kata suaminya, bayangan kelam tentang anak laki-laki mereka yang dibuang di sayap barat sempat melintas sekelebat di benak Permaisuri. Namun, ia segera menepisnya, menarik napas dalam-dalam dan mengeratkan dekapannya pada sang putri.

​"Ya..." jawab Permaisuri lirih, suaranya nyaris berbisik di antara harumnya wangi bunga mawar yang memenuhi ruangan. "Ia adalah satu-satunya pewaris kita. Ia adalah pusat dari dunia ini... dan aku akan memastikan tidak ada satu hal pun di dunia ini yang berani merenggut apa yang menjadi haknya."

​Sang Raja mengangguk puas mendengar jawaban istrinya, menganggap keputusasaan sang Permaisuri di masa lalu telah sepenuhnya sirna digantikan oleh kebanggaan istana. Di bawah sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca besar berukir, keluarga kecil itu tampak begitu sempurna dan harmonis—menyembunyikan rahasia besar tentang seorang anak kembar yang hidup terbuang di balik bayang-bayang istana yang sama.

Hari demi hari berlalu di dalam kemegahan Istana Hikari, mengubah pola pikir dan cara pandang sang Ratu secara perlahan namun pasti. Racun pemikiran sang Raja—bahwa kekuasaan mutlak tidak boleh menyisakan celah sekecil apa pun untuk kelemahan dan keraguan—meresap ke dalam jiwa sang Ratu tanpa ia sadari.

​Suatu sore, di ruang baca pribadi istana yang dipenuhi rak-rak buku tua berukiran emas, Sang Ratu berdiri di dekat jendela besar bersama Raja. Di bawah sana, di halaman istana, Putri Miyura kecil yang kini mulai bisa berjalan tampak sedang bermain dengan mainan kayunya, dikelilingi oleh para pengawal yang berjaga ketat.

​Sang Ratu melipat kedua tangannya di depan gaun mewahnya, menatap sang putri dengan pandangan yang kini jauh berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Tidak ada lagi rasa bersalah atau bayangan pilu tentang anak laki-lakinya; yang tersisa di matanya hanyalah kilatan ambisi yang sama seperti suaminya.

​"Kau benar, Yang Mulia," ucap sang Ratu pelan, memecah keheningan ruangan dengan nada suara yang terdengar dingin dan datar. Ia menoleh menatap suaminya. "Dunia ini memang diciptakan untuk mereka yang kuat. Kerajaan Hikari tidak membutuhkan belas kasih atau keraguan di atas takhtanya."

​Sang Raja tersenyum puas, merangkul bahu istrinya dengan penuh kebanggaan. "Aku tahu kau memiliki darah penguasa yang mengalir deras, Permaisuriku. Kau tidak perlu membebani pikiranmu lagi dengan hal-hal masa lalu yang tidak penting. Lihatlah dia... putri kita tumbuh menjadi simbol kekuasaan yang sempurna."

​Sang Ratu mengangguk perlahan, sepenuhnya terserap oleh ilusi kesempurnaan dan kekuasaan mutlak yang ditanamkan suaminya, mengubur rapat-rapat rahasia tentang anak kembar yang telah ia buang ke sayap barat istana.

​Namun, apa yang tersembunyi dari pandangan sang Raja dan Ratu sama sekali tidak luput dari mata para pelayan yang bekerja di dalam istana.

​Di sebuah sudut koridor pelayan yang remang-remang di sayap barat, jauh dari kemegahan ruang tahta, dua orang pelayan senior—Nyonya Martha dan seorang pelayan pria bernama Julian—berdiri berbisik-bisik di samping tumpukan kain cucian linen yang besar. Wajah mereka menyiratkan ketegangan dan keprihatinan yang mendalam.

​"Apakah kau melihatnya tadi di ruang baca, Julian?" bisik Martha dengan suara bergetar, tangannya mencengkeram erat ujung kain celemeknya. "Sang Ratu... ia benar-benar telah melupakannya. Ia berbicara seolah-olah anak laki-laki itu tidak pernah ada di dunia ini. Ia kini sama dinginnya dengan Raja."

​Julian melirik ke sekeliling lorong dengan cemas, lalu mendekatkan wajahnya untuk memastikan tidak ada pengawal kerajaan yang mendengarkan percakapan terlarang itu. "Tentu saja aku melihatnya, Martha. Racun pikiran Raja telah merasuki jiwa sang Ratu sepenuhnya. Kekuasaan telah membuat mereka buta."

​"Lalu bagaimana dengan nasib Aragoto kecil?" suara Martha tercekat, air mata nyaris menetes di pelupuk matanya. "Ia tumbuh di balik dinding istana ini, hanya berjarak beberapa ratus meter dari ibu kandungnya sendiri yang kini memuja saudarinya sambil melupakan keberadaannya. Tidakkah ini terlalu kejam?"

​Julian menghela napas panjang, wajahnya tampak lelah menanggung beban rahasia besar tersebut. Ia menepuk pelan bahu Martha untuk menenangkan wanita paruh baya itu. "Hentikan, Martha. Jangan pernah ucapkan keraguan seperti itu di tempat terbuka. Kau tahu apa taruhannya jika rahasia ini terdengar oleh telinga pengawal istana? Kepala kita akan melayang dalam sekejap."

​Martha menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya hingga pucat. Ia tahu Julian benar. Di istana yang megah dan berkilau ini, kebenaran adalah dosa yang paling mematikan.

​"Kita tahu yang sebenarnya terjadi... kita tahu ada dua anak yang lahir malam itu," lanjut Julian dengan suara berbisik penuh kepedihan, matanya menatap kosong ke lantai batu yang dingin. "Tapi demi keselamatan kita sendiri, demi keselamatan anak itu, dan demi bertahan hidup di sarang para monster bermahkota ini... pilihan terbaik yang kita miliki hanyalah tetap diam."

​Martha menepis air mata yang hampir tumpah, lalu mengangguk kaku. Keduanya kemudian berbalik dalam kesunyian, memilih untuk memendam rahasia kelam tersebut di balik topeng kepatuhan dan senyum palsu sebagai pelayan setia Kerajaan Hikari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!