ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Kancing kemeja Luna kini telah terbuka lebar, memamerkan bagian atas tubuhnya yang mulus.
Hanya selembar bra renda berwarna merah muda yang kini membalut dan menahan keindahan buah dadanya yang padat dan berisi. Rasa malu mendadak menyeruak hebat, membuat tangan Luna refleks berusaha merapatkan kembali kemejanya.
Namun, belum sempat kemeja itu tertutup, Moreno lebih cepat mencekal kedua pergelangan tangan Luna, menahannya agar tetap terbuka.
"Kenapa ditutup lagi?" tanya Moreno datar, matanya tak lepas menatap keindahan di depannya.
"Gue... gue enggak terbiasa kayak gini, Reno!" cetus Luna dengan suara bergetar.
Moreno justru menatapnya makin lekat tanpa beban.
"Tapi gue suka liat lo telanjang. Lo keliatan seksi."
Mata Luna membesar sempurna. Pipi halus itu kini memerah sampai ke telinga, menahan malu yang membuncah.
"Lo... dasar cowok mesum!"
Moreno tersenyum nakal, sama sekali tidak merasa terhina.
"Ngapain harus malu? Ini bukan pertama kalinya gue liat tubuh lo. Apa lo lupa siapa yang gantiin baju lo semalam, hm?"
Luna bungkam. Jawaban menohok itu membuatnya hanya bisa menggigit bibir bawahnya erat-erat, bingung harus membalas apa lagi. Dengan sisa keberaniannya, Luna menatap Moreno tajam.
"Sekarang lo udah puas liat gue kayak gini, kan? Terus mau apa lagi?"
Moreno memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia merengkuh pinggang Luna makin erat, lalu berbisik tepat di depan bibir gadis itu.
"Tutup mata lo."
Luna mengerutkan kening, menatap Moreno penuh rasa heran.
"Kenapa gue harus tutup mata?"
Dengan senyum miring di wajah tampannya, Moreno menjawab santai namun sarat akan intimidasi,
"Banyak nanya. Gue cuma mau ngajarin lo... gimana caranya bikin gue puas."
Dengan ragu dan jantung yang berdegup kencang, Luna akhirnya memejamkan matanya perlahan.
Moreno yang menyaksikan kepatuhan itu tersenyum puas.
Tanpa membuang waktu lagi, tangan kokohnya terulur menarik tengkuk Luna, membawa wajah gadis itu mendekat, lalu mendaratkan ciuman menuntut tepat di atas bibirnya.
Moreno menekan pergerakan bibirnya begitu dalam dan dominan, menelusupkan lidahnya ke sela-sela mulut Luna yang sedikit terbuka, membuat seluruh aliran darah di tubuh gadis itu berdesir hebat.
Perlahan, di luar kendali logikanya, Luna mulai membalas dan mengimbangi ritme ciuman Moreno.
Reaksi pasrah dari Luna itu seketika membakar gairah Moreno hingga makin liar dan bersemangat.
Tangan Moreno yang melingkar di tubuh Luna mulai merayap naik, menggerayangi punggung mulusnya. Dengan gerakan lincah dan terbiasa, jemarinya membebaskan kait belakang bra merah muda itu hingga terlepas sempurna, membiarkan keindahan buah dada Luna menyembul bebas tanpa penghalang.
Moreno terus melumat bibir Luna tanpa memberikan jeda sedikit pun untuk bernapas. Di saat yang sama, telapak tangannya naik melingkupi buah dada Luna yang padat lalu meremasnya dengan lembut.
"Mmh..." Luna tersentak kaget. Sensasi asing yang menjalar di tubuhnya membuat Luna refleks ingin menarik wajah dan menjauhkan diri.
Namun, Moreno tidak membiarkannya lolos begitu saja. Ia makin erat mencengkeram tengkuk Luna, mengunci posisi kepala gadis itu, dan kembali melumat bibirnya dengan lebih dalam.
Sementara itu, ibu jari dan jemarinya yang bebas mulai bermain lincah di puncak kemerahan buah dada Luna, memilinnya perlahan hingga desahan halus lolos begitu saja dari bibir Luna akibat sensasi aneh yang ia rasakan.
Ciuman Moreno perlahan turun, meninggalkan bibir Luna dan beralih menelusuri leher jenjang gadis itu. Sementara jemarinya masih sibuk dan lincah mempermainkan puncak buah dada Luna.
Luna hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Hati dan logikanya berteriak menolak, membenci kenyataan bahwa ia berada di bawah kendali pria ini. Namun, di saat yang sama, tubuhnya seolah mengkhianatnya—bahkan merespon dan menerima setiap sentuhan dari Moreno.
Puas mencium dan menjilati area leher Luna hingga meninggalkan jejak kemerahan, Moreno menurunkan kepalanya lebih jauh ke area dada. Pria itu berhenti sejenak, menatap takjub keindahan pasangan gunung kembar di hadapannya yang kini terpampang polos tanpa sehelai kain pun.
Tanpa menunggu lama, bagaikan bayi yang kehausan, Moreno menunduk dan langsung menyesap salah satu buah dada Luna dengan rakus.
"Nghh!"
Tubuh Luna mengejang seketika saat sentuhan mulut Moreno yang hangat dan basah menyergap puncaknya.
Refleks, kedua tangan Luna naik, jemarinya meremas dan menjambak rambut blonde Moreno demi menahan sengatan sensasi yang menjalar hingga ke ujung kaki. Desahan halus kembali lolos begitu saja dari sela-sela bibirnya tanpa bisa ia cegah.
"Re... Reno, ber-berhenti..." bisik Luna terputus-putus di sela desahannya, mencoba memohon.
Namun, alih-alih berhenti, ucapan Luna justru makin memacu gairah Moreno. Pria itu terus bergantian mengulum, menyesap, dan memilin puncak buah dada Luna dengan ritme yang makin dalam dan menuntut.
Permainan panas itu membuat Luna berada di ambang frustrasi, antara nikmat yang menyiksa dan kepasrahan yang makin mengikis pertahanannya.
Sudah beberapa menit Moreno menikmati ritual panasnya di atas meja makan, hingga tiba-tiba nada dering ponsel Luna berbunyi sangat nyaring, memecah keheningan penthouse.
Suara itu seketika menarik Luna kembali ke alam sadarnya. Dengan napas memburu, Luna mendorong bahu Moreno pelan.
"Reno... berhenti dulu.. tolong. Aku ngkat teleponnya dulu, siapa tahu penting..."
Moreno perlahan mengangkat wajahnya dari dada Luna. Manik mata abu-abunya menatap Luna tajam dengan napas yang masih menggebu.
"Gue belum puas, Luna."
"Tolong, Reno..., izinin gue angkat dulu," mohon Luna dengan pandangan memelas.
Dengan dengusan kesal, Moreno meraih ponsel yang tergeletak di meja seraya menggerutu kasar.
"Bangsat... siapa sih yang berani ganggu kesenangan gue pagi-pagi begini?!"
Namun, begitu matanya menatap nama yang terpampang di layar, raut wajah Moreno seketika berubah makin keruh.
[ Adrian calling... ]
Moreno memutar ponsel itu dan memperlihatkan layarnya tepat di depan wajah Luna. Melihat nama panggilan tersebut, Luna spontan menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Tensi di ruangan itu mendadak dingin dan mencekam.
Moreno menyipitkan matanya, menatap Luna dengan pandangan penuh selidik.
"Ada urusan apa Adrian nelpon lo?"
"Gue... gue enggak tahu," sahut Luna terbata. "Mungkin cuma mau nanyain kabar..."
"Nanyain kabar?" ujar Moreno dingin, nada suaranya berubah sarkastik.
"Sejak kapan dia sepeduli itu sama lo, hm? Atau jangan-jangan lo sendiri yang seneng dihubungi sama dia?"
Luna yang sadar betul betapa berbahayanya jika amarah Moreno tersulut, menggeleng cepat.
"Enggak, Reno! Kita enggak sedekat itu!"
Moreno yang tiba-tiba kehilangan mood-nya melemparkan ponsel itu kembali ke atas meja secara kasar. Ia menatap Luna dengan intensitas menakutkan.
"Inget, Luna... jangan pernah lupa siapa pemilik lo. Jangan coba-coba lo selingkuh di belakang gue,"
ancam Moreno rendah.
Luna tertegun, bungkam seketika. Selingkuh...? Kata itu terdengar seperti lelucon absurd di telinganya. Memangnya sejak kapan mereka berpacaran hingga ia bisa dituduh selingkuh? Hubungan ini kan hanya paksaan dan penyanderaan!
Namun, enggan memperpanjang perdebatan konyol pagi ini, Luna hanya bergumam asal sambil menggerutu pelan.
"Iya-iya... bawel banget sih."
Mendengar kepatuhan pasrah dari Luna, senyum tipis kembali terbit di bibir Moreno. Sifat dominannya terpuaskan.
Dengan telaten, jemari Moreno bergerak merapikan kembali pakaian Luna—mengaitkan bra merah muda itu ke posisi semula, lalu membenahi kemeja gadis itu dan mengancingkannya hingga rapi.
Sebelum melepaskan kuncian tangannya di pinggang Luna, Moreno memajukan wajahnya, berbisik tepat di telinga Luna dengan nada yang menggoda.
"Nanti malam gue mau nyusu lagi... susu lo enak banget."
Seketika wajah Luna merah padam bagaikan kepiting rebus akibat rasa malu yang ditahannya.
Dengan cepat, ia bangkit berdiri dari pangkuan Moreno, melangkah mundur seraya menatap tajam dan mengumpat kesal.
"Brengsek lo, Moreno!"
Sementara itu, di kediaman keluarga Xander, Adrian yang sudah rapi mengenakan pakaian untuk pergi ke kampus tampak berdiri di balkon kamarnya. Pandangannya tak lepas dari layar ponsel yang terus menampilkan panggilan ke nomor Luna.
Sudah berkali-kali ia menekan tombol panggil, dan meski nada sambung terdengar nyaring, tak satu pun panggilannya diangkat oleh gadis itu.
Adrian menghembuskan napas berat seraya menurunkan ponsel dari telinganya.
"Kenapa enggak diangkat-angkat sih...?" gumam Adrian pelan pada dirinya sendiri. Dahi pria itu berkerut seraya melirik jam di pergelangan tangannya.
"Mungkin dia lagi sibuk... atau lagi dalam perjalanan ke kampus?" pikirnya berusaha mencari pembenaran.
Namun, di tengah kesiapannya untuk berangkat, pikiran Adrian perlahan berputar. Ia menyandarkan sebelah tangannya di pembatas balkon, menatap lurus ke luar dengan pandangan menerawang.
Sebuah pertanyaan mendadak bersarang di kepalanya—pertanyaan yang selama ini enggan ia akui.
Kenapa ia bisa begitu terobsesi untuk mencari tahu keberadaan Luna? Kenapa nama gadis itu terus mengusik ketenangannya belakangan ini?
Apakah ini semua murni hanya karena rasa benci dan dorongan untuk mengganggu Moreno—merebut apa pun yang menarik perhatian saudara tirinya itu? Atau... ada perasaan lain yang mulai tumbuh di luar kendalinya, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari?
Sambil mengepalkan tangannya rapat-rapat, Adrian menghentikan lamunannya. Ia menyambar kunci mobil di meja, lalu bergegas melangkah keluar kamar menuju kampus dengan rasa penasaran yang kian memuncak.