Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Sensasi dingin yang menusuk kulit menjadi hal pertama yang merayap masuk ke dalam kesadaran Sena. Kelopak matanya terasa teramat berat, tetapi kepalanya yang pening memaksanya untuk perlahan membuka mata.
Namun, alih-alih berada di dalam kabin mobil Porsche-nya yang hangat, pemandangan di sekelilingnya telah berubah total.
Sena berada di sebuah ruangan bawah tanah yang sangat gelap dan lembap. Satu-satunya pencahayaan berasal dari sebuah lampu pijar kekuningan yang berkedip redup, tergantung tinggi di langit-langit beton yang berjamur. Sena mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi rasa kebas langsung menyengat bahunya.
Kedua tangannya terikat erat ke belakang pada tiang besi dingin menggunakan tali tambang tebal, sementara kedua pergelangan kakinya dililit rapat pada kaki kursi.
SRET!
Sena berusaha memutar tubuhnya, tetapi lilitan tali itu terlalu kuat hingga menggores kulit mulusnya. Belum sempat rasa paniknya memuncak, hidungnya mendadak dihantam oleh bau busuk dan amis darah yang begitu menyengat jauh lebih pekat daripada aroma darah di jalanan tadi malam.
Sena memutar pandangannya ke sekeliling ruangan remang-remang itu. Dan saat matanya menangkap apa yang ada di sudut ruangan
"AAAKKKHHH!"
Sena berteriak histeris hingga tenggorokannya terasa kering!
Tepat beberapa meter di depannya, tergeletak mayat pria berdarah dari jalanan tadi malam. Namun kondisi mayat itu kini jauh lebih mengerikan. Tubuhnya sudah tidak utuh lagi; potongan-potongan organ dan sisa daging yang koyak berserakan di atas lantai semen yang basah oleh cairan merah pekat. Pemandangan mengerikan itu persis seperti pembantaian di dalam rumah jagal.
Rasa mual yang amat dahsyat langsung menjejali perut Sena.
"Hueeeakkk! Uhuk... uhuk!" Sena terbatuk-batuk hebat, memalingkan wajahnya ke samping dengan mata berair, memuntahkan cairan bening dari perutnya yang kosong. Dadanya kembang kempis ketakutan. Ini... ini beneran sarang eksekusi psikopat itu!
KREEEKKK...
Suara engsel pintu besi berkarat yang berat berdenging nyaring di dalam ruangan sunyi itu.
Langkah kaki yang teratur dan tenang terdengar mengetuk lantai semen. Sena menahan napasnya, perlahan menengadahkan kepala dengan napas tersengal.
Sosok yang melangkah masuk ke dalam ruangan remang-remang itu bukan lagi pria ber-hoodie dan bermasker hitam. Kali ini, ia tampil dalam wujud aslinya.
Lucian Voss.
Pria itu mengenakan kemeja hitam yang gulungan lengannya dinaikkan hingga menyisakan otot lengan bawahnya yang kokoh. Tanpa tudung kepala, tanpa masker. Ketampanan wajahnya yang seperti pahatan patung Yunani terlihat sangat kontras dengan latar belakang ruangan pembantaian yang penuh noda darah.
Sena tidak terkejut melihat wajah itu—ia sudah tahu pasti siapa pelakunya sejak awal. Namun, melihat wujud asli Lucian berada di tempat seperti ini, rasa takut yang teramat nyata merayap dari telapak kakinya hingga ke ujung kepala. Tubuh Sena gemetaran hebat di atas kursi ikatan.
Lucian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dengan gerakan yang teramat tenang dan santai, pria itu menarik sebuah kursi kayu tua, meletakkannya tepat beberapa meter di depan Sena, lalu mendudukinya.
Ia menyandarkan punggung tegapnya, menyilangkan satu kakinya yang panjang, lalu menyambar sebuah pemantik api perak dari saku celananya.
KLIK!
Api kecil meliuk-liuk di dalam kegelapan. Lucian menyulut ujung sebatang rokok mahal yang sudah terselip di antara dua jemarinya yang jenjang. Ia menghembuskan asap putih tipis ke udara, membuat aroma tembakau berkelas bercampur dengan bau amis darah di dalam ruangan.
Di balik pekatnya asap rokok, sepasang mata sehitam malam milik Lucian menatap lurus ke arah Sena dingin, datar, dan mematikan.
Meskipun keringat dingin mengucur membasahi lehernya dan aroma amis darah hampir membuat perutnya terbalik, jiwa nekat Sena memaksanya untuk tidak menunjukkan kepanikan total. Ia menelan ludahnya yang terasa kering, mencoba menata napasnya yang terengah-engah. Di hadapannya, Lucian masih duduk santai di atas kursi kayu, menghembuskan asap rokok tipis ke udara dengan tatapan sedingin es.
Sena menyunggingkan senyum tipis yang agak gemetar.
"H-hai... Ganteng," sapa Sena dengan nada suara yang sedikit gugup, mencoba mencairkan atmosfer membekukan di dalam ruangan bawah tanah tersebut.
Lucian tidak berkedip. Iris matanya yang sehitam malam tetap terkunci padanya.
Melihat pria itu hanya diam, Sena malah memanfaatkan kesempitan itu untuk mengoceh, menyalurkan rasa takutnya menjadi rentetan curhatan absurd khas dirinya.
"Duh, bisanya ya di tempat kayak gini kita ketemu lagi," celetuk Sena sambil meringis pelan, mencoba menggeser pergelangan tangannya yang terikat kuat. "Gue maksudku, aku... aku tuh belum mau mati sekarang, tahu nggak?! Bayangin aja, aku ini masih muda, cantik, kaya raya, tapi belum pernah pacaran sama sekali! Jangankan pacaran, pegangan tangan sama cowok yang beneran tulus aja belum pernah! Masak iya perjalanan hidupku harus tamat di ruangan bau bangkai begini? Kan kagak lucu banget di batu nisan tertulis 'Mati Jomblo'!"
Sena mendesah heboh, matanya menatap Lucian dengan tatapan memohon yang campur aduk. "Mana kemarin baru aja tahu kamu udah punya pacar si Liona itu. Makin potek hati aku! Tapi sumpah deh, Ganteng, jangan bunuh aku dulu, ya? Minimal kasih kesempatan aku ngerasain pacaran dulu lah, walau bukan sama kamu—eh, tapi kalau sama kamu juga aku kagak nolak sih—"
TAK.
Lucian mematikan puntung rokoknya di tepi kursi kayu hingga percikan apinya padam seketika. Gerakan kecil itu seketika memotong rentetan ocehan Sena.
Ruangan itu kembali diselimuti kesunyian yang mencekam. Hawa intimidasi yang begitu kuat mendadak menekan dada Sena, membuat kata-kata di tenggorokannya tertahan begitu saja.
Lucian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Tatapannya menembus langsung ke dalam iris mata Sena, tidak ada sedikit pun celah untuk main-main atau humor di sana. Aura pembunuh dinginnya menguar sempurna, mutlak dan berbahaya.
"Jawab pertanyaanku," ujar Lucian.
Suara deep voice-nya terdengar teramat dingin, datar, dan berwibawa seseorang eksekutor yang tidak menerima bantahan atau kebohongan.
Lucian menatap tajam ke arah Sena, lalu mengajukan pertanyaan utama yang menjadi alasan mengapa gadis itu masih bernapas saat ini:
"Dari mana kau tahu namaku... Vex Noir?"