Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. KEKHAWATIRAN NADIRA

Suasana SMA Garuda Mulia belakangan ini dipenuhi oleh aura ketegangan yang pekat. Kalender di dinding kelas 12 IPA 2 sudah menunjukkan angka yang makin mendekati hari H: Ujian Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNBT) tinggal menghitung hari.

​Nadira duduk di bangkunya dengan wajah yang ditudungi kelelahan. Di atas mejanya, tumpukan buku kalkulus, pandangan soal-soal latihan Seni Rupa dan Desain, serta kumpulan kertas formula matematis berserakan.

​Sheila yang duduk di sampingnya menjatuhkan dahi pasrah ke atas meja. "Nad... tolong bawa aku keluar dari penderitaan ini! Otakku serasa udah mendidih gara-gara soal integral ini!"

​Nadira tertawa kecil meski matanya menyisakan lingkaran hitam tipis. "Sama, Sheil. Aku dari semalam cuma tidur empat jam gara-gara latihan bikin gambar portofolio sampai jam satu malam."

​"Tapi kamu enak ya, Nad..." gumam Sheila seraya menoleh, menatap sahabatnya iri. "Kamu punya tutor pribadi di rumah yang siap bantu dua puluh empat jam! Pak Abiyasa kan lulusan magister terbaik, pasti kalau ngajarin kalkulus langsung nempel di otak."

​Nadira terkekeh geli mengingat momen bimbingan belajarnya di rumah bersama Abiyasa. "Kamu nggak tahu aja, Sheil. Mas Abi kalau udah mode 'Guru Matematika' itu juuuuauh lebih galak daripada Pak Jaka! Salah hitung koma aja langsung disuruh mengulang satu lembar penuh!"

​"Tapi kan abis itu dicium!" goda Sheila seraya mengedipkan matanya nakal.

​Wajah Nadira seketika merona merah padam. "Sheila! Jangan ngomong sembarangan di kelas!"

​"Bercanda, Nyonya Besar!" seru Sheila tertawa heboh. "Tapi serius, Nad... kamu panik nggak sih menghadapi ujian minggu depan?"

​Nadira menghentikan jemarinya yang sedang memutar-mutar pensil. Rasa cemas yang sebenarnya ia sembunyikan mendadak merayap kembali ke dadanya. "Panik banget, Sheil. Aku takut nilaiku nggak cukup buat masuk Seni Rupa UG*... Aku takut bikin Mas Abi sama Ibu kecewa."

​"Tenang, Nad. Kamu udah usaha maksimal banget dua bulan ini. Pak Abiyasa pasti bangga sama kamu apapun hasilnya," hibur Sheila seraya menepuk pelan tangan sahabatnya.

​Sore harinya, pukul lima tepat, sedan Toyota Camry hitam terparkir di tempat biasa. Nadira melangkah masuk ke dalam kabin mobil dengan bahu terkulai lelah.

​Abiyasa yang sedang mengecek dokumen kerja di laptopnya langsung menutup perangkat tersebut begitu menyadari kehadiran istrinya. Pria itu menyadari raut wajah lesu dan lesu pada diri Nadira.

​"Capek?" tanya Abiyasa lembut. Tangannya terangkat, merapikan helai rambut Nadira yang menjuntai di pipinya.

​"Lumayan, Mas..." sahut Nadira pelan. Gadis itu tanpa ragu langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Abiyasa, melingkarkan tangannya di pinggang suaminya untuk menyerap kehangatan.

"Hari ini ada tiga kali try out berturut-turut di sekolah. Kepalaku serasa mau pecah."

​Abiyasa mengusap punggung Nadira dengan ritme teratur seraya mengecup singkat puncak kepala istrinya. "Pak Maman, kita tidak langsung pulang ke penthouse. Jalan ke arah kawasan Danau Sunter."

​Pak Maman melirik dari spion tengah seraya tersenyum ramah. "Baik, Pak Abiyasa."

​Nadira mengadahkan kepalanya bingung dari dada Abiyasa. "Lho? Mau ke mana, Mas? Bukannya malam ini jadwal aku les portofolio?"

​"Saya sudah membatalkan les malam ini," kata Abiyasa tenang.

​"Hah?! Dibatalin?!" Nadira membelalak kaget.

"Tapi Mas, Ujian Nasional tinggal lima hari lagi! Aku masih harus latihan bikin arsiran bentuk—"

​"Nadira," potong Abiyasa seraya memegang kedua bahu mungil istrinya, menatap mata bening Nadira dengan pendar kehangatan dan ketegasan yang mendalam. "Kamu sudah belajar tanpa henti selama dua bulan ini. Tubuhmu dan otakmu butuh istirahat. Kurang tidur hanya akan membuat performamu memburuk saat ujian nanti."

​"Tapi aku takut nggak lulus, Mas Abi..." cicit Nadira pelan, menyuarakan ketakutan terbesarnya. "Aku takut nilai portofolioku jelek dan aku gagal masuk UG*. Aku nggak mau bikin Mas Abi malu punya istri yang nggak masuk PTN."

​Abiyasa terdiam sejenak. Pria itu menatap intensitas kecemasan di mata istrinya. Dengan lembut, jemari Abiyasa menangkup kedua pipi Nadira, mengangkat wajah gadis itu agar menatap lurus ke dalam matanya.

​"Lihat saya, Nadira," perintah Abiyasa dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan tulus.

"Saya menikahimu bukan karena kamu harus menjadi mahasiswi UG* atau lulusan terbaik. Saya menikahimu karena kamu adalah Nadira—gadis yang membawa kehangatan di hidup saya."

​Dada Nadira berdesir hebat mendengar ketulusan kata-kata suaminya.

​"Masuk perguruan tinggi adalah impianmu, dan saya akan selalu mendukungmu," lanjut Abiyasa, ibu jarinya mengusap lembut pipi Nadira. "Tapi apa pun hasil ujianmu nanti, hal itu tidak akan pernah mengubah rasa bangga dan rasa cinta saya kepadamu. Kamu paham?"

​Air mata haru menumpuk di sudut mata Nadira. Kata-kata tegas nan penuh kasih sayang dari Abiyasa melenyapkan seluruh beban berat yang meremas dadanya beberapa minggu terakhir.

​Nadira mengangguk pelan seraya tersenyum manis. "Paham, Mas Abi..."

​"Bagus," ujar Abiyasa seraya mendekatkan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir manis Nadira. "Sekarang, malam ini adalah hari libur belajarmu. Kamu hanya boleh bersenang-senang dengan suamimu."

​Mobil berhenti di sebuah area kedai es krim dan jajanan tepi danau yang cukup ramai namun bernuansa santai. Lampu-lampu gantung menghiasi area taman luar ruangan.

​Nadira melangkah keluar mobil dengan mata berbinar. "Wah! Mas Abi tahu dari mana tempat ini? Kok ada es krim boba kegemaranku?!"

​Abiyasa melangkah di sampingnya seraya merengkuh pinggang mungil Nadira secara protektif. "Saya bertanya pada Sheila tadi siang."

​Nadira menoleh kaget seraya tertawa renyah.

"Mas Abi sampai telepon Sheila cuma buat nanyain tempat es krim?!"

​Abiyasa berdeham canggung, memalingkan wajahnya untuk menutupi rona samar di pipinya. "Saya hanya melakukan riset lokasi."

​"Gengsi banget ngaku!" goda Nadira seraya mencubit pelan pinggang Abiyasa.

​Mereka duduk di salah satu bangku kayu di tepi danau. Nadira menikmati porsi es krim boba ukuran besarnya dengan sangat gembira, sementara Abiyasa duduk di sampingnya seraya mengamati wajah ceria sang istri dengan tatapan meluap akan rasa cinta.

​"Mas Abi mau coba?" tawar Nadira seraya menyodorkan sendok berisi es krim dan boba ke depan bibir Abiyasa.

​Abiyasa menatap sendok itu ragu. Pria yang biasanya sangat menjaga pola makan itu akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Nadira.

​"Gimana? Enak, kan?" tanya Nadira penuh harap.

​Abiyasa mengunyahnya perlahan. "Terlalu manis. Tapi... lumayan karena kamu yang menyuapinya."

​"Gombal terus!" cibir Nadira gembira, lalu melanjutkan makan es krimnya.

​Di bawah remang cahaya lampu taman dan semilir angin danau yang sejuk, Nadira menyandarkan kepalanya di bahu tegap Abiyasa. Jemari kecilnya menyusup ke sela-sela jari Abiyasa di atas pangkuan mereka, menyatukan genggaman mereka dengan sangat erat.

​"Mas Abi..." panggil Nadira pelan.

​"Ya, Sayang?"

​"Makasih ya udah selalu mengerti aku. Kalau nggak ada Mas Abi, mungkin aku udah stres banget menghadapi ujian ini."

​Abiyasa mengencangkan genggaman tangannya, mengecup puncak kepala Nadira dengan lembut. "Tugas saya adalah menjadi tempatmu pulang dan bersandar, Nadira. Belajarlah dengan tenang, lalu serahkan sisanya pada saya."

​Nadira tersenyum sangat lebar di dalam dekapan suaminya. Malam itu, di tepi danau yang tenang, seluruh kecemasan akan masa depan menguap sepenuhnya. Nadira tahu bahwa apa pun rintangan ujian yang akan dihadapinya besok, ia memiliki benteng terkuat yang akan selalu menggenggam tangannya—sang CEO berhati dingin yang telah sepenuhnya menjelma menjadi cinta sejati dalam hidupnya.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!