Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekor Di Hari Kedua

Di dalam kelas yang hening karena guru sedang menjelaskan di depan, Kenya melirik ke arah kursi sebelah.

Cowok dengan wajah datar andalannya itu masih sibuk menulis.

"Ar?" panggil Kenya setengah berbisik.

Archard menoleh. Ekspresinya sedatar papan gilasan, tanpa minat.

"Kata Cyriel semalam, Lo yang bawa gue ke mobil. Thanks, ya," ucap Kenya, agak gengsi tapi tahu diri. "Tapi lain kali, dibangunin aja. Gak usah digendong segala."

Archard tidak membalas. Merasa Kenya sudah selesai berbicara, ia kembali fokus ke buku pelajarannya.

Kenya mendengus kasar. Sialan, dikacangin, batinnya dongkol.

Malas berlama-lama di dalam kelas yang pengap dengan aura dingin Archard, Kenya langsung bangkit dari kursinya. Ia mengacungkan jari, meminta izin ke guru di depan untuk ke kamar mandi.

Saat melangkah membuka pintu kelas, mata Kenya tidak sengaja berpapasan dengan Silva. Gadis polos itu ternyata juga sedang menatapnya dari bangkunya.

Tanpa suara, Kenya menggerakkan bibirnya membentuk kata: ‘Ka-mar man-di.’Itu adalah kode rahasia mereka untuk mencuri start istirahat lebih dulu. Silva langsung mengangguk paham dengan mata berbinar.

Namun, Silva tidak bisa langsung menyusul keluar. Ia sengaja menjeda beberapa menit agar guru tidak curiga. Begitu dirasa aman, Silva baru beranjak dari kursinya hendak menyusul Kenya.

Baru saja dua langkah, sebuah tangan besar yang kekar langsung menyambar pergelangan tangannya. Menahannya dengan kuat tapi lembut.

"Mau kemana?" tanya Baffin pelan. Suaranya sengaja diredam karena guru masih berdiri di depan kelas.

"Kamar mandi," balas Silva polos.

"Aku temenin." Baffin sudah bersiap menggeser kursinya dan berdiri.

"Ih!" Silva langsung menahan bahu tunangannya itu. Wajahnya yang biasanya polos tanpa dosa, tiba-tiba berubah cemberut dan kelihatan kesal setengah mati.

"Kamu ngapain sih? Masa aku ke kamar mandi mau ditemenin juga? Kalaupun selama ini aku ceroboh, bukan berarti setiap saat aku bakal mecahin barang di toilet!" Lanjut Silva menyentak tangan Baffin dengan kasar.

Setelah buru-buru meminta izin kepada guru di depan, gadis itu langsung ngacir keluar kelas sebelum Baffin sempat membalas ucapannya.

Baffin hanya bisa menghela napas, menatap punggung tunangan ringkihnya itu dengan mata posesifnya.

Sementara itu, di tengah koridor yang sepi, langkah kaki Silva mendadak goyah. Dua orang siswi yang berjalan berlawanan arah tiba-tiba sengaja berjalan mepet dan menyenggol lengan Silva dengan sangat keras.

Bruk!

Silva hampir saja tersungkur ke lantai kalau saja ia tidak cepat-cepat menyeimbangkan badannya. Sambil memegangi lengannya yang agak ngilu, Silva berbalik dan menatap kedua pelaku.

"Eh, sorry, gak sengaja," ucap keduanya kompak. Mulutnya bilang maaf, tapi nada suara dan senyuman di bibir mereka sinisnya minta ampun.

Namun, Silva tidak langsung pergi atau menangis. Ia malah berdiri diam sambil menatap kedua cewek itu dengan tatapan polos yang menghujam.

"Kenapa? Gak percaya kalau kita gak sengaja?" tanya salah satu dari mereka, mulai tersinggung ditatap seperti itu.

"Muka kamu kelihatan gak suka sama aku. Mana mungkin gak sengaja," balas Silva dengan sangat jujur dan polos.

Mendengar kepolosan Silva yang terlalu blak-blakan, kedua cewek itu malah tertawa remeh. Salah satunya mengikis jarak, maju satu langkah mendekati Silva dengan tatapan mengintimidasi.

"Ternyata Lo cukup peka ya, anak baru," bisiknya tajam. "Tapi kalau Lo emang peka, harusnya Lo sadar kalau gak cuman kita berdua yang gak suka sama Lo. Tapi, semua orang di sekolah ini!"

"Terserah. Aku sekolah bukan cari Validasi." balas Silva Mulai memancing emosi.

Temannya yang satu lagi ikut menyambung dengan nada berapi-api, "Lebih tepatnya, jijik. Masih anak baru tapi capernya sudah kelewat batas. Mana nempel terus lagi sama Baffin. Pengen orang-orang lihat kalau Lo bisa deket sama dia? Ngerasa bangga Lo?"

Mendengar rentetan makian itu, Silva bukannya takut. Ia malah mengangguk pelan, sengaja memasang wajah paling polos sedunia untuk memancing amarah cewek di depannya."Iya, bangga. Banget, malah," jawab Silva santai.

Kalimat pendek dari mulut Silva sukses membuat lawannya langsung kehabisan kesabaran.

"Nantangin Lo?!"

Sret!

Tanpa babibu, cewek itu langsung menjambak rambut Silva dengan beringas. Gak mau kalah dan ogah diinjak-injak, jiwa terpendam Silva keluar.

Kedua tangan mungilnya langsung balas mencengkeram dan menjambak rambut cewek di depannya itu tak kalah kuat.

"Aw! Lepas gak?!"

Melihat temannya mulai kewalahan karena jambakan Silva ternyata sangat kuat, cewek satunya lagi tidak tinggal diam.

Ia langsung turun tangan, ikut menjambak rambut Silva dari samping demi membantu temannya. Koridor sekolah yang sepi itu mendadak ricuh oleh aksi saling jambak tiga orang gadis.

Di tempat lain, suasana di dalam toilet cewek tidak kalah panas. Ada lima orang siswi yang sedang berkumpul di depan cermin besar.

Bukannya buang air, mereka malah sibuk memoles lipstik sambil bergosip ria. Topik utamanya? Siapa lagi kalau bukan dua anak baru yang mendadak jadi buah bibir: Kenya dan Silva.

"Gila ya, baru hari kedua sekolah tapi kelakuannya udah kecentilan banget. Langsung ngumpul sama Baffin dan gengnya," cerocos salah satu cewek sambil memakai bedak.

"Udah gitu gak tahu diri bertaun-taun! Si Kenya itu, berani-beraninya numpahin tempat sampah ke badannya Kaisan tadi pagi. Caper murahan!" timpal yang lain.

"Temennya si Silva juga sama aja. Caper, sok lemah. Mana pas disuapin Baffin di kantin pake muka sok tertekan lagi. Padahal mah dalam hati kegirangan tuh."

"Yah, begitulah... namanya juga anak-anak kurang belaian." Mereka tertawa cekikikan bersama, merasa paling benar.

Di dalam salah satu bilik toilet, Kenya yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu mendengus kasar. Tangannya yang sedang memegang tisu mengepal kuat.

Ternyata orang-orang masih ramai membahas perihal dirinya yang menumpahkan sampah ke Kaisan tadi pagi. Dan sekarang, Silva yang polos pun ikut dibawa-bawa ke dalam mulut ember mereka.

Jiwa barbar Kenya yang terkenal galak langsung meronta-meronta.

Brak!

Kenya membuka pintu bilik toilet dengan sentakan keras, membuat kelima cewek yang sedang dandan itu langsung melonjak kaget.

Sambil memasang wajah sangar, Kenya berjalan santai lalu menyempil di antara mereka, menatap kelimanya bergantian lewat pantulan cermin.

"Ngomong langsung di depan orangnya. Gak berani?" tantang Kenya ketus.

Kelima cewek itu sempat tersentak kaget. Namun, setelah melihat kalau Kenya hanya sendirian, nyali mereka kembali tebal.

Mereka saling melirik, lalu memasang wajah meremehkan. Salah satu cewek yang badannya agak bongsor maju mendekat. Dengan jari telunjuknya yang bermani-pedi, ia menusuk-nusuk bahu Kenya dengan kasar.

"Lo pengen dapet perhatian apa sebenarnya dari sikap Lo tadi pagi, hah?" tanyanya menyebalkan. "Kalau emang Lo suka sama Kaisan, apa harus banget pake cara numpahin sampah ke badannya?"

Teman-temannya yang lain langsung tertawa mengejek, mengompori suasana.

Kenya sempat bergeser mundur sedikit karena tusukan jari telunjuk cewek itu di bahunya.

Namun, detik berikutnya, kesabaran Kenya habis.

Plak! Plak!

Dua tamparan keras mendarat mulus di pipi cewek yang menusuk bahunya tadi. Suaranya menggema keras di dalam ruangan toilet yang kedap.

Kalau kalian masih ngomong sembarangan pake mulut ember itu, tangan gue gak akan berhenti!" ancam Kenya dengan mata melotot galak.

"Lo apa-apaan sih?!" pekik cewek yang barusan ditampar Kenya. Wajahnya memerah padam menahan malu dan sakit.

Tanpa pikir panjang, ia langsung mendorong bahu Kenya dengan kasar hingga punggung Kenya membentur pintu bilik.

Kenya yang dasarnya sumbunya pendek jelas tidak tinggal diam. Ia maju lagi dan balas mendorong cewek itu sampai hampir terjungkal ke wastafel.

Melihat teman mereka diserang balik, empat cewek lainnya langsung meradang. Selain karena memang dari awal sudah tidak menyukai Kenya, ini adalah kesempatan bagus untuk memberi pelajaran pada anak baru yang sok jagoan ini.

Tanpa komando, mereka semua langsung mengeroyok Kenya bersama-sama.

Tapi tentu saja, mereka salah milih lawan. Kenya bukan tipe cewek menye-menye yang bakal menangis meratapi nasib saat dikeroyok.

Jiwa preman Kenya keluar total. Toilet cewek itu mendadak berubah jadi arena ring tinju bebas. Kenya bergerak beringas; ia menendang kering cewek di depannya, memukul rahang yang lain, menjambak dua rambut sekaligus, bahkan sampai menjedotkan kepala salah satu lawan ke dinding pembatas bilik dengan sadis.

Dug!

"Aduh! Sialan, kepala gue!"

Jeritan, cacian, dan suara hantaman barang-barang toilet beradu menjadi satu, menciptakan keributan luar biasa yang akhirnya memancing perhatian guru piket yang sedang berpatroli.

Beberapa waktu kemudian.

Aroma panas matahari siang itu terasa membakar kulit. Di tengah lapangan upacara yang luas, tepat di depan tiang bendera yang berkibar perkasa, berdiri delapan orang siswi dengan kondisi yang sama sekali jauh dari kata rapi.

Di sisi kanan, ada Silva dengan seragam yang agak berantakan dan rambut acak-acakan, berdiri di samping dua lawannya yang masih terus-terusan mendelik sinis padanya dengan sisa-sisa napas memburu.

Sementara di sisi kiri, ada Kenya yang berdiri tegak dengan wajah menantang tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Di sampingnya, lima cewek yang mengeroyoknya tadi tampak jauh lebih mengenaskan—ada yang memegangi kepalanya yang benjol, ada yang sudut bibirnya sedikit berdarah, dan sisanya meratapi rambut mereka yang rontok akibat jambakan maut Kenya.

Seorang guru BK berwajah garang berdiri di depan mereka sambil berkacak pinggang, menceramahi mereka habis-habisan dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru lapangan.

Karena ini baru hari kedua di tahun ajaran baru dan kepengurusan OSIS yang baru belum resmi terbentuk, urusan baku hantam antar-siswi ini terpaksa langsung ditangani oleh pihak sekolah tanpa ampun.

Kenya melirik Silva dari sudut matanya, lalu mengembuskan napas panjang. Hari kedua sekolah, dan kita udah berdiri di depan tiang bendera. Rekor, batin Kenya pasrah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!