Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kue Mewah dan Rasa Minder yang Mengusik
Kepanikan Auren yang belum menyiapkan kado apa pun semakin menjadi-jadi seiring berjalannya jam pelajaran pertama. Sepanjang guru menjelaskan di depan kelas, fokus Auren benar-benar terbagi. Ia melirik Evan yang duduk di sebelahnya. Cowok itu sesekali terbatuk kecil, menahan pening di kepalanya akibat kehujanan kemarin sore demi melindungi Auren. Rasa bersalah di dalam dada Auren kian menumpuk dan menyesakkan.
Kringgg!
Bel istirahat pertama akhirnya berdentang nyaring. Baru saja Auren hendak memberanikan diri membuka suara untuk mengucapkan selamat ulang tahun secara personal, pintu kelas 7-B mendadak digeser dengan kasar hingga menimbulkan bunyi debuman keras.
"Selamat ulang tahun, Evan!"
Suara melengking itu seketika merebut perhatian seluruh isi kelas. Balisya melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, memamerkan senyum paling manis yang ia punya. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah kotak kue transparan berukuran besar. Di dalamnya, terlihat sebuah kue tart bertingkat yang dihias sangat mewah dengan lelehan cokelat premium, taburan buah beri segar, dan lilin angka 15 yang berlapis warna emas berkilau.
Beberapa anak di kelas langsung bersorak heboh melihat kedatangan Balisya dan kue mewahnya.
Balisya berjalan lurus ke arah meja Evan, sengaja berdiri di antara meja Evan dan Auren, hingga secara fisik memisahkan jarak di antara mereka berdua. Ia meletakkan kue itu tepat di depan Evan dengan gerakan anggun.
"Ini kue khusus yang aku pesan dari toko kue terkenal di pusat kota buat kamu, Van. Aku tahu hari ini kamu ulang tahun," ujar Balisya dengan nada suara yang sengaja dibuat manja, matanya berbinar menatap sang ketua kelas. "Dipotong ya? Anak-anak kelas juga boleh ikut makan, kok."
Evan menatap kue mewah itu dengan pandangan datar yang sulit diartikan. Tidak ada binar bahagia atau keterkejutan yang berlebihan di wajah tampannya. "Terima kasih, Balisya. Tapi ini terlalu berlebihan."
"Ih, enggak apa-apa dong! Buat juara satu kelas kita, mana ada kata berlebihan," sahut Balisya cepat. Matanya kemudian melirik sinis ke arah Auren yang duduk terdiam di kursinya. "Lagipula... sebagai teman dekat, masa hal kayak gini dibilang berlebihan? Beda ya sama orang yang ngakunya kompak setiap hari, tapi di hari penting kayak gini malah kelihatan tangan kosong dan enggak siap apa-apa."
Sindiran tajam Balisya menembus tepat ke ulu hati Auren.
Auren menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas pulpen di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa minder yang luar biasa seketika merayap dan menguasai hatinya. Balisya benar. Gadis itu bisa memberikan kue yang begitu indah dan mahal, sementara dirinya? Jangankan kado mewah, ucapan selamat pun belum sempat ia sampaikan karena terlalu panik dan ceroboh melupakan tanggal.
Auren merasa dirinya sama sekali tidak berguna sebagai orang yang selalu dipanggil "Aurenku" oleh Evan. Merasa atmosfer di kelas terlalu menyesakkan, Auren perlahan berdiri dari kursinya.
"Aku... aku ke kamar mandi sebentar," pamit Auren dengan suara bergetar kecil, bahkan tanpa berani menatap Evan. Ia langsung berjalan cepat setengah berlari keluar dari pintu kelas, menahan air mata yang mulai mengenangi pelupuk matanya.
Evan yang menyadari perubahan raut wajah Auren langsung menegakkan tubuhnya. Sorot matanya yang semula tenang berubah menjadi tajam dan dingin menatap Balisya. Tanpa memedulikan kue mewah di mejanya atau seruan Balisya yang memanggil namanya, Evan mendorong kursinya ke belakang dan langsung melangkah lebar keluar kelas untuk mengejar sekretarisnya.