Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat Datang, Si Bodoh

Nelia segera melangkah ke depan, berdiri melindungi Silvia di belakangnya.

“Siapa kamu?”

Pemuda itu menurunkan sedikit kacamatanya, lalu menatap Silvia yang berdiri di balik Nelia.

“Nona Silvia.”

“Lama tidak bertemu.”

Silvia meletakkan tangannya di bahu Nelia.

“Dia Adrian Vale.”

“Sahabatnya Chris.”

Nelia terdiam sejenak.

Nama itu...

Nama yang semalam ia dengar dalam rekaman suara Chris.

Dan entah kenapa…

Wajah pria itu terasa sedikit familier.

Adrian menganggukkan kepala dengan sopan.

“Senang bertemu denganmu, Nona Nelia.”

Mobil kembali melaju perlahan menyusuri jalan raya.

Suasana di dalam kabin begitu sunyi.

Yang terdengar hanyalah dengungan halus mesin.

Seseorang memilih diam.

Yang lain tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

Nelia menutup mata.

Dalam hatinya ia kembali mengumpat.

Chris...kamu benar-benar paling pintar dalam meninggalkan kekacauan untuk orang lain.

Matahari sore bersinar begitu hangat.

Lalu lintas semakin lengang.

Tak lama kemudian, Mercedes-Benz- G-Class itu berhenti di depan sebuah kawasan perkebunan pribadi yang luas di pinggiran kota.

Adrian melirik kaca spion.

“Nona Silvia.”

“Tolong buka sedikit jendelanya.”

Nelia langsung menggenggam lengan Silvia.

Tatapannya penuh kewaspadaan.

“Mau ngapain?”

Adrian tidak menjelaskan.

Ia hanya mengangkat dagunya ke arah gerbang.

“Lihat sana.”

Kamera pengawas di samping gerbang perlahan berputar.

Lensanya mengarah tepat ke dalam mobil.

Titik merah berhenti di wajah Silvia.

Bip—

Identitas berhasil dikenali.

Detik berikutnya...

Suara elektronik terdengar dari pengeras suara.

“Selamat datang di rumah, Si Bodoh.”

Bulu mata Silvia bergetar pelan.

Ia tetap menundukkan kepala.

Namun jemarinya perlahan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.

Hati Nelia ikut terasa sesak.

Pelan-pelan ia menggenggam tangan Silvia yang sedingin es.

Lalu mengusap punggung tangannya dengan lembut.

Mobil kembali bergerak memasuki halaman depan.

Di sepanjang jalan, hamparan bunga bermukaran di kedua sisi.

Mawar.

Tulip.

Melati.

Semuanya adalah bunga kesukaan Silvia.

Tatapan Silvia berhenti pada sebuah bangku kayu putih di samping air mancur.

Musim dingin tahun lalu…

Chris pernah duduk di sana.

Sambil mengupas jeruk untuknya.

Setelah memilih potongan yang paling manis, pria itu menyuapkannya ke mulut Silvia.

“Hei, Si Bodoh.”

“Jangan pilih-pilih makanan.”

“Ini bagus untuk kesehatanmu.”

Saat itu Silvia mengernyit karena rasa asamnya.

Ia mendorong kembali jeruk tersebut.

Chris hanya tertawa.

Ia memakan potongan itu sendiri.

Lalu memilihkan satu lagi yang paling manis untuk Silvia.

Bangkunya masih sama.

Air mancurnya masih tetap mengalir.

Namun…

Tak akan ada lagi seseorang yang duduk di sana sambil mengupas jeruk dan memanggilnya…

Si Bodoh.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah utama.

Adrian membuka sabuk pengamannya.

“Kita sudah sampai.”

Silvia berjalan ke depan pintu.

Dengan sangat terbiasa, ia menempelkan sidik jarinya pada pemindai.

Akses diterima.

Pintu terbuka perlahan.

“Selamat datang kembali, Nyonya Muda.”

Suara robot terdengar nyaring dari dalam rumah.

Seekor robot humanoid bermata biru berdiri menyambut mereka.

Adrian mengganti sepatuhnya dengan santai.

“Fray.”

“Apa menu makan malam hari ini?”

Robot itu menoleh kea rah Adrian, lalu balik ke Silvia.

Suara mekanisnya terdengar tenang.

“Tuan Muda tidak memberikan jadwal makan malam hari ini.”

“Tapi…berdasarkan kebiasaan Nyonya Muda…”

“Saya akan segera menghubungi Bibi Clara untuk membeli hidangan laut segar.”

“Makan malam diperkirakan siap pukul tujuh malam.”

Adrian mengambil sebotol air soda dari kulkas.

Lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu.

“Baik.”

Silvia mengambil sepasang sandal baru.

Lalu meletakkannya di depan Nelia.

“Pakai ini dulu.”

“Fray.”

Silvia menyerahkan tasnya kepada robot itu.

“Tolong antarkan koperku ke kamar.”

“Dengan senang hati, Nyonya Muda.”

Robot itu menerima tas tersebut.

Lalu menoleh kepada Nelia.

Layar di wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi tersenyum.

“Anda pasti Nona Nelia.”

“Tuan Muda dan Nyonya Muda sering membicarakan Anda.”

“Senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda.”

Robot itu kembali bertanya kepada Silvia.

“Apakah saya perlu menyiapkan kamar tamu untuk Nona Nelia?”

Silvia mengangguk pelan.

“Iya.”

“Baik, Nyonya Muda.”

Nelia menatap robot yang berjalan menjauh.

Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telingan Silvia.

“Sil…”

“Robot itu…”

“Hasil karya Chris.”

Jawaban Silvia terdengar singkat.

Nelia kembali menunjuk kea rah halaman luas di depan rumah.

“Semua ini…”

Silvia memandang keluar jendela.

“Semuanya miliki Chris.”

Nelia hanya bisa melongo.

Tatapannya kemudian beralih ke sebuah patung putih yang berdiri di sudut ruang tamu.

“Sil.”

“Kenapa ada patung di ruang tamu?”

Silvia menggeleng pelan.

“Aku juga tidak tahu.”

“Chris yang membelinya.”

Patuh putih itu berdiri anggun di sudut ruangan.

Chris pernah berkata bahwa benda itu adalah barang paling berharga di seluruh rumah ini.

Namun…

Silvia tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

Ia juga tidak pernah merasa penasaran.

Setelah berkata demikian, Silvia berjalan menuju dapur.

Ia membuka kulkas dengan sangat terbiasa.

Mengambil sebotol yogurt.

Tangannya berhenti sejenak di ganging pintu kulkas.

Ia menoleh ke arah Nelia.

“Nel.”

“Kau mau minum apa?”

Nelia melihat botol yogurt di tangan Silvia.

“Yogurt juga boleh.”

Sambil memandangi rumah mewah itu, Nelia masih belum bisa memahami satu hal.

Selama ini...

Bukankah mereka bertiga selalu bersamaan?

Ia hanya pergi selama setahun untuk pertukaran siswa.

Begitu kembali...

Chris dan Silvia sudah punya markas rahasia sendiri?!

Dasar pengkhianat!

Katanya persahabatan mereka bertiga akan selamanya berlangsung!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!